
Berada di taman belakang rumah sakit, Thomas dan Eva sedang duduk disana sambil menenangkan pikiran mereka masing-masing. Kemudian Eva bertanya, "Kenapa kamu tidak memberitahu aku selama ini kalau Dewa sedang sakit?".
Thomas menarik nafas, "Aku tidak mau membuat mu khawatir dan itu juga atas permintaan Dewa sendiri, dia tidak mau membuat orang disekitarnya merasa sedih".
"Tapi mau bagaimana pun, harusnya kamu tetap harus memberitahu aku Thomas. Sedikit banyaknya aku pasti akan memberikan solusi, tapi sekarang semua sudah terlambat, nyawa Dewa telah berada di ambang kematian" Eva merasa kecewa.
"Maafkan aku Eva, aku tidak tau kalau akhirnya akan seperti ini".
"Ini membuat hati Nana benar-benar sangat hancur. Kenapa disaat ia ingin hidup bahagia, orang yang dia sayang harus pergi meninggalkannya untuk selamanya. Dunia benar-benar tidak adil".
Thomas lalu membawa Eva ke dalam pelukannya, "Jika Tuhan benar-benar ada, aku berharap Tuhan memberikan satu kesempatan hidup bagi Dewa".
.
3 hari berlalu...
Eva melihat Nana masih tetap setia menemani Dewa di dalam ruangan tersebut. Kemudian ia masuk ke dalam, lalu bertanya sebaiknya Nana beristirahat, tetapi wanita itu malah bersikeras kalau ia tidak butuh istirahat dan ia masih tetap akan selalu berada disana meskipun Eva sudah berulang kali mengingatkan dirinya.
"Tapi kamu butuh istirahat Nana. Lihatlah, tubuh mu bahkan tampak mengurus. Bagaimana jika nantinya Dewa membuka mata melihat mu seperti ini? Kamu tidak mau kan membuat dia sedih?".
Nana terdiam, lalu menatap Eva dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tidak perduli mbak, yang aku mau Dewa segera membuka mata dan melihat ku kalau aku selalu disini bersama dengannya".
"Kamu tidak usah khawatir Nana, apapun yang terjadi Dewa akan tau kalau kamu selalu disini bersama dengannya. Tapi Dewa juga tidak mau kalau kamu sampai jatuh sakit, itu akan membuat dia tambah sedih. Sekarang pergilah beristirahat sebentar, biar aku saja yang menemani Dewa sampai kamu merasa baikan".
"Tidak mbak, aku akan tetap disini berada disebelah Dewa sampai dia membuka mata. Ini sudah yang ketiga harinya".
Hingga pada akhirnya Eva membiarkan Nana tetap berada disana meskipun ia sudah berusaha untuk memaksanya beristirahat.
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
"Iya Thomas, aku baru saja tiba di rumah sakit" jawab Eva memberitahu.
"Syukurlah, lalu bagaimana dengan Nana? Apa kamu sudah menyuruhnya istirahat?".
"Dia tidak mau Thomas, dia tidak mau jauh-jauh dari Dewa saat ini".
"Ya sudah kalau begitu, kamu jangan lupa mengingatkan dia untuk tetap mengisi nutrisi tubuhnya".
"Mmmm, kamu jangan khawatir".
__ADS_1
"Ya sudah, aku tutup dulu".
Setelah itu Eva menaruh ponsel itu kembali di dalam tas, lalu ia berjalan mendekati Nana yang tak henti-hentinya menggenggam jemari tangan Dewa dengan lembut.
"Kamu sudah makan Nana?".
"Mmmm, aku sudah makan mbak".
"Benarkah? Atau kamu ingin sesuatu untuk di makan? Aku akan membelinya untuk mu".
"Tidak usah repot-repot mbak, aku tidak ingin makan apa-apa".
"Kamu yakin? Kalau tidak aku akan memesan sesuatu untuk kita makan berdua".
"Terserah mbak saja".
Eva pun segera memesan berbagai jenis makanan untuk ia makan dan juga untuk Nana hingga beberapa menit kemudian pesanan mereka tiba disana. Eva lalu menerimanya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada si kurir.
"Na, lihatlah... Aku membeli berbagai jenis makanan begitu sangat banyak. Kemarilah, mari kita makan bersama".
Nana lalu melirik Eva yang sedang berada di atas sofa dengan makanan yang begitu sangat banyak.
"Ayo kemari, aku tau kamu pasti sudah lapar".
"Lihatlah, aku benar-benar membelinya begitu sangat banyak. Aku yakin kamu pasti sangat suka".
"Terima kasih mbak" jawab Nana menyebar salah satu roti tersebut.
"Iya Nana, makanlah".
.
1 minggu berlalu, akhirnya Dewa membuka mata membuat Nana meneteskan air mata merasa begitu sangat bahagia.
"Jangan menangis seperti itu, kamu membuat ku sedih" ucap Dewa membuat Nana semakin menumpahkan air matanya sembari menggenggam jemari tangannya. "Aku baik-baik saja, jangan khawatir".
"Kamu sangat jahat! Kamu sangat jahat Dewa hiks.. hiks.. Kamu berkata seperti itu seolah-olah aku tidak tau yang sebenarnya".
"Maafkan aku".
"Tidak! Aku tidak akan pernah memaafkan mu sebelum kamu menepati janji mu".
__ADS_1
Dewa tersenyum, "Janji apa?".
"Jangan pura-pura lupa, aku sudah berkata kalau aku tidak akan pernah memaafkan mu sebelum kamu menepati semua kata-kata mu kalau kita berdua akan hidup menua bersama sampai selama-lamanya".
"Benar, tentu saja sayang. Kita berdua akan hidup sampai menua bersama. Bukankah begitu Thomas?".
"Mmmmm" jawab Thomas tidak berani menatap Dewa yang begitu sangat kurus.
"Ada apa dengan kalian semua? Aku sudah membuka mata harusnya kalian bahagia".
Eva lalu tertawa agar Dewa tidak tambah merasa sedih, "Tentu saja kami bahagia Dewa, bahkan kami bertiga benar-benar sangat bahagia sekali akhirnya kamu membuka mata" jawabnya. "Lalu bagaimana perasaan mu sekarang ini? Apa kamu benar-benar merasa baikan?".
"Mmmm, aku merasa begitu sangat baikan. Terima kasih sudah merawat ku selama berada di rumah sakit".
"Tapi kamu harus jauh lebih berterima kasih kepada Nana yang tidak mau berpisah dari mu meskipun itu hanya satu menit saja".
Dewa langsung menatap Nana, "Benarkah itu? Terima kasih Nana, terima kasih sudah selalu berada disisi ku sampai kamu terlihat begitu sangat lelah. Aku mencintaimu".
"Kalau kamu benar mencintai ku, aku mau kamu segera pulih dan buktikan kalau kamu benar-benar mencintai ku".
"Baiklah, aku akan berusaha untuk segera pulih demi kamu. Tapi sebelum itu, aku mau melihat mu tersenyum untuk ku, bisakah aku melihatnya".
Hingga pada akhirnya Nana tersenyum dengan air mata menetes.
"Aku jauh lebih mencintai mu Dewa dan aku tidak mau kehilangan kamu, teruslah sehat sampai kita menua bersama".
"Mmmm, kita akan selalu bersama sampai hari tua nanti".
Lalu Thomas dan Eva pergi meninggalkan kedua orang itu membiarkan mereka berada di dalam sana.
Kemudian Dewa meminta Nana mencium bibir pucat pasinya, dan tampa menolak Nana langsung menciumnya dengan sedikit intim sampai membuat pria itu begitu sangat menyukainya.
"Rasanya seperti sudah bertahun-tahun saja Nana".
"Apanya?".
"Mencium bibir mu".
"Setiap hari aku selalu mencium bibir mu bahkan setiap menit".
Dewa melebarkan senyuman di wajahnya, "Kamu melakukannya?".
__ADS_1
"Mmmm, aku selalu melakukannya dan berharap saat itu juga kamu membuka mata".
"Terima kasih istri ku, aku tidak menyangka kalau kamu akan melakukan hal itu. Bisakah kamu memeluk ku?".