Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 76


__ADS_3

Setelah selesai, mereka segera pergi meninggalkan rumah sakit. Dan saat tengah perjalanan, Dela melihat seorang pedagang kaki lima menjual buah-buahan yang begitu sangat segar dan juga buah rujak.


"Dewa berhenti!" ucap Dela. Lalu menunjuk kearah si pedagang, "Kamu melihat si penjual itu Dewa? Aku ingin sekali membeli buah-buahannya dan juga aku pengen makan rujak. Bisakah kamu membelinya untuk ku?".


Dewa lalu turun dari dalam mobil tanpa menjawab pertanyaan menghampiri sipedagang kaki lima.


"Permisi!" ucap Dewa dengan suara bass-nya membuat si pedagang langsung tersenyum senang.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?".


"Saya mau membeli semua buah yang berbeda jenis dalam bentuk satu bungkusan masing-masing. Dan juga saya mau rujak itu, tolong bungkus dua porsi".


"Baiklah, mohon di tunggu".


"Mmmm" kemudian Dewa melihat Dela keluar dari dalam mobil berjalan kearahnya. "Kenapa kamu harus keluar?".


"Kenapa kamu tidak memilihnya Dewa? Mereka bisa saja menaruh yang sudah tidak bagus" Dela melihat si pedagang memasukkan buah-buahan tersebut di dalam kantong plastik. "Maaf Bu, boleh tidak saya memilihnya? Saya mau memilih sendiri".


"Akh, tidak apa-apa. Silahkan" jawab di pedagang memberikan plastik tersebut di tangan Dela. Lalu Dewa memilih menunggu si penjual rujak yang sedang menyiapkan pesanannya hingga pesanan itu selesai.


"Terima kasih ya mas" ucapnya.


"Mmmmm" balas Dewa tidak lupa membayar semua barang beliannya. Kemudian melihat Dela, "Apa ini semua sudah cukup?".


Tersenyum, "Sudah Dewa. Terus itu untuk siapa? Kenapa kamu membeli dua?".


"Ini untuk Nana" jawab Dewa memberikan di tangan Dela. Setelah itu mereka kembali masuk ke dalam mobil, namun berbeda halnya dengan Dela saat Dewa lagi-lagi menyebut nama Nana di hadapannya. Itu membuat ia langsung tidak bersemangat dan merasa kesal ingin sekali ia rasanya melenyapkan Nana dari muka bumi ini.


Begitu mereka berada di dalam mobil, Dewa sempat melirik wajah Dela yang terlihat masam membuat ia bertanya sebelum menjalankan mobilnya.


"Ada apa? Kenapa kamu terlihat kesal seperti itu?".


"Hhhmmss... Kamu sangat menyebalkan sekali Dewa" Dela mencoba mengalihkan arah pandangan matanya. "Kenapa sih, disaat seperti ini kamu harus selalu menyebutkan nama wanita itu? Sudah ku katakan, hormon ibu hamil itu selalu berubah-ubah, apalagi saat kamu menyebut nama wanita itu. Itu membuat aku rasanya ingin menangis".


Dewa terdiam melihatnya dari samping, "Kamu menangis?".

__ADS_1


"Tidak" jawab Dela menghapus air matanya yang baru saja menetes. "Sebaiknya kamu jalankan saja mobil ini, aku sedang tidak ingin di ajak bicara dengan mu".


"Maafkan aku jika itu membuat mu terluka".


"Lupakan saja".


Tidak lama setelah itu Dewa menjalankan mobil sportnya meninggalkan lokasi mereka membeli buah tersebut. Kemudian Dela melirik Dewa yang sedang fokus menyetir, ia melihat pria itu sama sekali tidak merasa bersalah setelah apa yang ia lakukan, wajah Dewa terlihat tampak biasa-biasa saja membuat ia semakin membenci Nana.


"Wanita itu benar-benar sudah berhasil merebut Dewa dari ku. Dan sekarang apa yang aku lakukan? Aku malah terlihat begitu sangat bodoh" Dela beberapa kali mengumpat dalam hati. Ia benar-benar sangat marah kepada Nana, sampai-sampai rasanya ia ingin sekali menyewa seseorang untuk melenyapkan Nana agar ia bisa memiliki Dewa sampai selama-lamanya.


.


Hingga sekarang mereka telah tiba di kantor tepat jam makan siang, Dewa lalu melangkah duluan sedangkan Dela baru saja keluar dari dalam mobil.


"Dewa!" panggilnya. "Kamu kenapa meninggalkan aku begitu saja?" lalu ia melihat Dewa langsung berhenti. "Kamu..


"Apa lagi? Bukankah kita sudah tiba?" tanya balik Dewa dengan nada suara lelah.


"Iya, tapi...


"Ada apa?" tiba-tiba suara seorang pria bertanya dari belakang membuat Dela langsung memutar tubuhnya. Kemudian pria itu tersenyum yang tak lain adalah Kevin, "Kenapa wajah mu terlihat sangat marah seperti itu?".


Namun Dela bukannya menjawab, wanita itu malah menatapnya dengan wajah sinis.


"Bukan urusan kamu, minggir!".


Kevin lalu menaikkan kedua bahunya sambil berkata dalam hati, "Dasar wanita aneh".


Tetapi saat Dela sudah menjauh dari hadapannya, tiba-tiba wanita itu menghentikan langkahnya melihat kepadanya kembali.


"Kenapa?" tanya Kevin.


"Kamu kemari".


Kevin tersenyum, "Kenapa aku harus kesana? Bukannya kamu sendiri yang pergi meninggalkan ku begitu saja?".

__ADS_1


Dengan kesal Dela lalu berjalan menghampirinya kembali sambil memberikan pukulan tepat di lengan Kevin membuat pria itu langsung menjerit kesakitan.


"Rasakan" ucap Dela.


"Aarrkkhhh.. Kenapa kamu malah memukul ku? Itu sangat sakit, bahkan pukulan mu seperti pria saja".


"Aku tidak perduli" Dela membuka pintu mobil Dewa, lalu mengambil semua buah tersebut dari dalamnya dan memberikan di hadapan Kevin. "Kamu bawa ini semua ke dalam ruangan ku".


"Ini apa?" Kevin kaget melihat buah tersebut begitu sangat banyak sampai membuat ia kewalahan.


"Jangan banyak bertanya, kamu seperti reporter saja" Dela berjalan duluan pergi meninggalkan Kevin yang masih berdiri disana melihat buah plastik itu begitu sangat banyak. "Ayo buruan, jadi laki-laki jangan letoi".


"Apa? Kamu barusan bilang apa?".


"Jadi laki-laki jangan letoi seperti perempuan" jawab Dela menekan tombol lift tampa perduli dengan wajah Kevin yang memerah ingin sekali memberikan pelajaran kepadanya yang sudah berani mengatai dirinya laki-laki letoi.


"Kamu yah, berani sekali kamu berkata seperti itu kepada ku" Kevin kemudian membuang kantong plastik buah Dela di hadapannya. "Inih, kamu bawa sendiri ke dalam ruangan mu. Kamu pikir aku pembantu mu?".


Dela pun langsung menatapnya dengan mata tajam, "Oh, jadi kamu berani melawan atas mu sendiri? Cepat bawa ini sekarang juga ke dalam ruangan ku. Kalau tidak..


"Kalau tidak kenapa?".


Ting!


Pintu lift terbuka, "Bawa ini sekarang ke dalam ruangan ku. Kalau tidak, hari ini juga aku akan menendang mu dari perusahaan. Kamu masih berani?".


Kevin tersenyum menyeringai, "Kamu pikir dengan semudah itu kamu bisa memecat ku dari perusahaan ini? Hahahaha.. Lakukan saja kalau kamu bisa" Kevin masuk duluan ke dalam lift dan pergi meninggalkan Dela yang masih berdiri disana dengan sangat marah.


"Yah..!! Yah..!! Awas kamu! Lihat saja nanti, aku benar-benar akan memecat mu dari perusahaan ini. Aarrkkhhh" tidak terima di perlakukan seperti itu oleh bawahannya sendiri, Dela akan menemui Dewa menyuruh ia memecat Kevin hari ini juga dari perusahaan.


Ting!


Pintu lift terbuka, ia kemudian tersenyum berjalan menghampiri meja kerja Nana, namun sayangnya ia malah tidak menemukannya berada disana.


"Dimana dia?".

__ADS_1


__ADS_2