
"Pelan-pelan saja, tidak akan ada yang mengambilnya dari mu" Dewa melihat Nana begitu sangat lahap mengunyah setiap kali gigitan masuk ke dalam mulutnya sampai-sampai ia terlihat takut jika orang lain mengambil darinya.
"Enak Dewa, aku sangat suka. Dari mana kamu membelinya mmmm? Bumbunya begitu sangat nikmat sampai aku tidak ingin berhenti mengunyah".
Dewa tersenyum, "Kalau kamu masing ingin, aku akan membelinya untuk mu".
"Hey" Nana melihatnya. "Kamu serius mau membelinya lagi untuk ku? Itu akan merepotkan mu".
"Tidak apa-apa, yang penting kamu suka dan senang aku akan membelinya lagi untuk mu".
"Hehehehe... Terima kasih Dewa, aku hanya bercanda saja. Ini sudah lebih dari cukup kok dan juga aku tidak mau merepotkan mu atau.. Bagaimana kalau pulang dari kantor kita singgah kesana?" Nana melebarkan senyuman di wajahnya. "Kamu tidak keberatan kan?".
"Baiklah, sepulang nanti kita akan kesana".
"Wah, kamu benar-benar suami idaman sekali Dewa" dengan mata berbinar-binar ia lalu mengeluarkan sebuah pertanyaan kepadanya. "Tapi, bisakah aku bertanya Dewa?".
"Mmmmm, kamu ingin menayangkan apa?".
"Tapi kamu harus berjanji dulu yah kalau kamu tidak akan tersinggung mengenai pertanyaan ini".
"Mmmmm".
"Kenapa kamu tiba-tiba bersikap manis seperti ini? Maaf!".
Dewa tidak menjawab dan ia malah menunjukkan senyuman di wajahnya.
"Aku serius Dewa, sejak kita berdua menikah kamu begitu sangat manis kepada ku. Tidak seperti dulunya, dan itu membuat aku terkadang bertanya-tanya dalam hati ku. Atau memang yang sebenarnya, inilah kamu?".
"Kamu tidak menyukainya?".
"Hey, tentu saja aku menyukainya dan merasa wanita paling bahagia mendapatkan suami perhatian seperti kamu hehehehe.. Astaga, bahkan aku tidak bisa berhenti tersenyum, terima kasih Dewa, terima kasih sudah menjadi suami idaman buat aku".
"Katakan saja apa yang kamu inginkan dari ku".
"Benarkah?".
"Mmmm".
__ADS_1
"Kalau begitu, teruslah bersama dengan ku dan jangan pernah tinggalkan aku sampai selama-lamanya, bahkan sampai tua nanti. Bisakah kamu berjanji akan hal itu Dewa?".
Lagi-lagi Dewa tersenyum, "Apa kamu hanya menginginkan itu dari ku? Aku punya segalanya, rumah, villa, apartemen, uang dan masih banyak lainnya. Apa kamu tidak menginginkan salah satunya?".
"Tidak, aku sama sekali tidak menginginkan itu semua. Yang aku inginkan hanya kamu Dewa, hanya kamu sampai tua nanti bersama dengan anak-anak kita kelak".
"Dasar bodoh! Wanita mana yang tidak mengingat harta untuk kelangsungan hidup mereka sampai tua nanti?" Dewa mengeleng kepala mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Kemudian menunjukkan sebuah villa di hadapannya, "Kamu mau kesini?".
Nana melihatnya, "Kenapa?".
"Kamu tidak suka?".
"Aku suka".
"Besok kita akan kesana".
"Benarkah?" lagi-lagi kedua mata Nana berbinar-binar tak karuan saat Dewa mengatakan kalau mereka akan kesana. "OMG! Kamu serius Dewa? Kamu serius besok kita akan kasana?".
"Mmmmm, kita akan kesana dan menghabiskan waktu sebanyak 3 hari".
Hingga jam makan siang kerja telah selesai, Nana lalu keluar dari dalam ruangan Dewa melihat Kevin sedang menunggu dirinya di depan meja kerjanya.
"Kevin?".
Pria itu tersenyum, "Kamu dari mana saja Nana? Sedari tadi aku menunggu mu. Kamu sudah makan siang?".
"Sudah, terus kamu ngapain disini menunggu ku? Kamu ada keperluan?".
"Tidak, aku hanya ingin mengajak mu makan siang bersama. Ketepatan aku membawa bekal dari rumah, kalau kamu tidak keberatan, bisakah kamu membantuku menghabiskan bekal ini. Sayang, jika nantinya ini terbuang".
Nana melihat bekal tersebut begitu cukup banyak, "Ya ampun Kevin, sayang sekali jika bekal ini nantinya terbuang. Tapi maaf Kevin, kebetulan aku sudah makan siang dan aku merasa begitu sangat kenyang sekali. Tidak bisakah kamu memberikan kepada yang lainnya saja? Rekan kerja kamu gitu? Siapa tau salah satu diantara mereka belum makan siang. Kamu tanya saja dulu mereka".
"Mereka semua sudah makan siang di kantin Nana, hanya aku yang belum".
Nana lalu melihat kesedihan di wajah Kevin membuat ia merasa apa yang sedang pria itu rasakan saat ini, tetapi ia juga tidak bisa melakukan apa-apa selain menolak makanan tersebut, ditambah ia sudah makan dan juga ia tidak enak kalau sampai Dewa keluar dari dalam ruangannya melihat mereka sedang makan bersama, ia harus menjaga perasaan itu.
__ADS_1
"Sekali lagi aku minta maaf ya Kevin, aku tidak bisa dan aku begitu sangat kenyang sekali. Bahkan perut ku seperti ingin meledak".
Kemudian Kevin memasukkan bekal itu kembali di dalam kotaknya, "Tidak apa-apa kalau begitu, aku pergi dulu".
"Akh tunggu sebentar" Nana mengusap lengannya dengan lembut. "Sekali lagi aku minta maaf ya Kevin, aku tidak bermaksud menolak kebaikan mu, hanya saja aku merasa kenyang sehingga aku tidak bisa memakan bekal itu bersama dengan mu".
"Tidak apa-apa, tidak usah merasa tidak enak seperti itu".
"Mmmmm".
Tidak lama setelah Kevin pergi meninggalkannya membawa kotak bekal itu kembali, Nana langsung mendudukkan diri diatas kursinya dengan penuh rasa bersalah telah menolak ajakan baik Kevin.
"Maafkan aku ya Kevin, seandainya kamu tau yang sebenarnya, kamu pasti tidak akan menunjukan wajah kecewa seperti itu".
"Wah, sepertinya kamu sedang duduk santai" Dela tiba-tiba muncul di depan meja kerjanya dengan senyuman sinis. "Dimana Dewa? Ayah dari bayi yang aku kandung".
Dengan sangat malas Nana melihat kepadanya, "Kenapa tidak kamu cari sendiri saja keberadaan ayah dari bayi mu itu? Aku sedang sibuk".
"Wah, semakin hari kamu semakin leluasa ya melawan ku. Apa karna Dewa menikahi mu secara diam-diam?".
"Bukan urusan kamu" jawab Nana dengan sombongnya. "Mau kami berdua menikah secara diam-diam atau secara blak-blakan. Itu urusan kami dan pernikahan kami sah secara agama maupun negara".
Dela kemudian menatapnya dengan tajam.
"Kenapa? Kamu tidak suka? Kamu iri? Kamu cemburu?" Nana tertawa. "Tidak salah, aku sangat beruntung sekali bisa mendapatkan cintanya Dewa meskipun dia baru mengenal ku".
"Yaarrrkkhh!! Kamu yah! Kamu sangat kurang ajar sekali! Bisa-bisanya kamu...
"Ada apa ini?" tiba-tiba Dewa keluar dari dalam ruangannya mendengar suara Dela yang begitu sangat lantam. "Sedang apa kamu disini?".
"Dewa!" dengan mata berkaca-kaca Dela menunjukkan wajah kesedihan di hadapannya. "Lihat wanita itu Dewa, dia sangat berani sekali menghina ku dengan mengatakan kalau bayi yang aku kandung ini adalah anak haram".
"Apa?" Nana membulat mata tidak percaya kalau Dela akan berkata seperti itu kepada Dewa. "Ya Tuhan, kamu..
"Apa benar, apa yang baru saja Dela katakan Nana?" ucap Dewa menatapnya dengan serius.
"Tidak Dewa, itu semua tidak benar. Apa yang baru saja dia katakan itu semua tidak benar, tolong percaya kepada ku".
__ADS_1
"Bohong, dia berbohong kepada mu Dewa. Dia benar-benar mengatakan seperti itu kepada ku makanya aku berteriak di wajahnya hiks.. hiks..".