Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 51


__ADS_3

"Thomas hahahaha.. Thomas malam ini aku sangat bahagia sekali. Kamu tau enggak alasannya apa?".


"Apa? Ayo katakan kepada ku".


"Baiklah, aku akan memberitahu mu Thomas. Sebenarnya.. Sebenernya Dewa baru saja melamar ku Thomas hahahaha".


"Apa? Dewa melamar mu".


"Mmmm, Dewa baru saja mengajak ku menikah Thomas. Ya Tuhan, rasanya aku belum bisa mempercayai ini semua. Ini benar-benar serasa kaya mimpi Thomas, aku seperti sedang bermimpi tiba-tiba Dewa berkata seperti itu".


Kemudian Eva melihat Thomas tersenyum bahagia membuat ia penasaran, "Ada apa Thomas?".


"Uummcchh" Thomas mencium bibir Eva. "Sayang, Dewa baru saja melamar Nana".


"Apa?" kaget Eva. "Kamu serius Thomas kalau Dewa melamarnya?".


"Iya, Nana baru saja memberitahu ku. Ya Tuhan, aku tidak menyangka kalau Dewa memikirkan perkataan ku".


"Kamu memang bilang apa sama Dewa sampai-sampai dia tiba-tiba berniat ingin menikah?".


"Aku juga tidak menyangka kalau dia akan menuruti perkataan ku Eva. Aku hanya mengatakan sebaiknya dia menikah saja agar dia segera memiliki keturunan".


"Masa iya hanya begitu saja?" Eva tampak tidak semudah itu mempercayainya.


"Iya, aku hanya mengatakan itu saja. Makanya aku juga tidak menyangka kalau Dewa tiba-tiba berubah pikiran".


"Tapi syukurlah kalau memang pintu hati Dewa sudah terbuka ingin menikah. Aku senang mendengarnya".


"Sama, aku juga sangat senang sekali mendengar kabar gembira ini" ucap Thomas membawa sang istri kedalam pelukannya dengan sangat erat. "Dan semoga saja begitu mereka menikah, mereka berdua segera memiliki keturunan" namun saat mengatakan hal tersebut, Thomas malah menjatuhkan air mata tanpa sepengetahuan sang istri.


Lalu Nana keluar dari dalam kamar masih dengan senyuman itu yang tidak bisa ia hentikan sampai sekarang ini.


"Ya Tuhan, aku bahagia sekali aku benar-benar bahagia sekali akhirnya aku dan Dewa akan segera menikah hahahaha".


KRRUUKKK.. KRRUUKKK..


"Sangking bahagianya aku malam ini, aku sampai lupa untuk mengisi perut ku yang sudah terasa lapar" Nana menyentuh perut datarnya. "Baiklah, sekarang kita akan kembali ke dapur untuk membuat spaghetti itu. Sebelum itu, cacing-cacing dalam perut ku mohon bersabar yah".


.


Sedangkan Dewa, begitu ia meninggalkan Nana di meja makan, ia langsung masuk ke dalam kamar dan saat ini ia sedang termenung sambil menikmati angin malam diatas balkon dengan sebatang rokok di tangan kanannya.

__ADS_1


"Hhuuuffffff..." beberapa kali Dewa membuang asap rokoknya. Lalu ia tertawa, setelah itu ia menangis seperti anak kecil kehilangan kasih sayang orang tua.


Tok... Tok...


"Dewa" panggil Siska dari luar sana karna Dewa mengunci pintu kamarnya. "Dewa ini aku Siska. Kamu sedang apa? Kenapa kamu mengunci pintu kamar mu?".


Tok.. Tok...


"Dewa! Tolong kamu buka pintunya sebentar. Aku ingin bicara dengan mu".


Tok... Tok..


Sudah beberapa kali banyaknya Siska mengetuk pintu kamar sang Dewa, tetapi tidak satu jawaban pun ia terima dari dalam sana membuat ia merasa heran ada apa dengan Dewa? Kenapa Dewa tidak mau menjawabnya.


Kemudian Siska menuruni anak tangga, lalu bertanya kepada salah satu pelayan yang ia lihat.


"Dewa dimana?".


"Ada nona, tuan ada di dalam kamarnya".


"Kamar? Tapi kenapa kamarnya malah terkunci dan juga Dewa tidak mau menjawab panggilan saya".


"Maaf nona, soal itu saya kurang tau".


"Ada di dapur nona, dia sedang memasak sesuatu untuk ia makan".


Siska lalu menghampiri Nana yang sedang sibuk memasak untuk makan malamnya tampa ia sadari kalau Siska tengah memperhatikan dirinya.


"Eerrmm.. Kamu sedang apa?".


"Astaga!" kaget Nana melihat Siska berdiri di hadapannya dengan wajah serius. "Ada apa Siska?".


"Dewa, kenapa Dewa mengunci pintu kamarnya dari dalam? Dan juga kenapa Dewa tidak menjawab panggilan ku sedari tadi? Bahkan Dewa mematikan ponselnya".


Nana memgeryitkan dahi, "Aku kurang tau, tapi hari ini dia memang tidak masuk kantor".


"Kenapa Dewa tidak masuk kantor?".


Nana mengeleng kepala, "Satu harian ini Dewa bersama dengan Thomas. Cuman aku tidak tau kemana perginya mereka karna Dewa dan Thomas tidak memberitahu ku".


"Benarkah?".

__ADS_1


"Mmmmm".


Nana melihat Siska tampak berpikir, "Dia terlihat sangat khawatir sekali" batin Nana. "Terus, bagaimana kalau sampai dia tau Dewa baru saja melamar ku? Apa yang akan terjadi dan apa yang akan ia lakukan? Ia terlihat seolah-olah dia masih perduli sekali terhadap Dewa? Tapi jika di pikir-pikir, untuk apa juga aku harus perduli terhadapnya? Kan dia sendiri yang dulu pergi meninggalkan Dewa. Kenapa aku jadi memikirkannya".


Tidak lama kemudian Siska melihat Nana kembali, "Kamu ikut aku sekarang juga".


"Kemana?".


"Menemui Dewa, aku khawatir jika sesuatu terjadi kepadanya".


Tampa menolak ajakan Siska, Nana segera mengikuti langkah kakinya dari belakang menuju lantai atas kamar sang Dewa.


"Ayo lakukan, siapa tau saat kamu yang mengetuk pintu kamar Dewa. Dia akan mau membukanya".


"Baiklah" Nana pun mencoba seperti yang Siska katakan dengan mengetuk pintu kamarnya sampai berulang-ulang kali. "Dewa, kamu sedang apa di dalam? Siska ingin bicara dengan mu. Bisakah kamu buka pintu ini sebentar saja?".


Tetap saja tidak ada jawaban dari dalam sana.


"Tidak berhasil, mungkin dia sedang istirahat. Jadi biarkan saja dia..


"Tidak, malam ini juga aku harus bicara dengan Dewa. Ini menyangkut masa depan hubungan kami berdua".


DOORR.. DOORR.. DOORR..


"Dewa aku mohon tolong buka pintu ini. Aku ingin bicara dengan mu sebentar saja Dewa, aku mohon tolong buka pintuny...


Ceklek!


"Aakkhhh" Siska kaget ketika pintu tersebut terbuka secara tiba-tiba. Kemudian ia melihat Dewa berdiri dihadapannya dengan wajah datar, "Akhirnya kamu membukanya juga Dewa" ia tersenyum menerobos masuk ke dalam kamar sang Dewa. Namun sebelum ia masuk, tangan kekar Dewa telah duluan menahan lengannya.


"Katakan disini saja. Aku sedang tidak ingin di ganggu" ucap Dewa membuat Siska merasa sedikit sakit hati mendengar nada bicara sang Dewa.


"Dewa! Ada apa dengan mu Dewa? Kenapa kamu terlihat sedang marah kepada ku? Apa aku baru saja melakukan kesalahan?".


Dewa menarik nafas, "Sudah ku katakan kalau aku sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun. Jadi tolong katakan disini saja, apa yang ingin kamu bicarakan?".


Nana terdiam melihat keduanya begitu sangat menegangkan sekali sehingga ia tidak berani ikut campur, namun ia masih tetap berdiri disana sambil memperhatikan mereka.


"Kenapa kamu jadi diam? Aku akan memberikan waktu 5 menit mulai dari sekarang".


Bukannya menjawab Dewa, Siska malah menatapnya dengan mata berkaca-kaca merasa sakit mendengar nada bicara Dewa yang begitu sangat datar dan dingin.

__ADS_1


"Atau kamu sudah selesai?".


Deng!


__ADS_2