Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 56


__ADS_3

"Aaarrrkkkhh... Ini sangat nikmat sekali Kevin hahahaha" Nana dengan sengaja menjewer kedua pipi Kevin yang terlihat sangat menggemaskan. "Kamu tau Kevin, alkohol disini sangat nikmat sekali. Kamu tidak percaya?".


"Iya, aku mempercayainya" Kevin melepaskan kedua tangan Nana. Lalu meminta kepada si bartender agar ia memberikan untuknya juga, "Kapan kamu kemari?".


"Mmmm, sudah sangat lama. Aku bahkan tidak mengingatnya lagi".


"Benarkah? Tapi kamu baru beberapa bulan disini. Kenapa kamu berkata kalau sudah sangat lama sekali".


"Hehehehe" Nana tertawa kembali. "Aku juga bingung kenapa aku berkata sudah sangat lama sekali. Yang penting aku sudah lama datang kemari. Terus, kenapa kamu kemari Kevin? Bukankah tadi kamu sedang menari dengan wanita-wanita cantik itu?".


Kevin tersenyum, "Aku sudah selesai menari".


"Benarkah?".


"Mmmm.. Atau kamu mau menari juga dengan ku".


"Tidak, aku tidak tau menari".


"Kenapa kamu tidak mau mencobanya dengan ku? Kamu tenang saja, aku akan mengajari mu".


"Terima kasih, aku memang tidak suka menari" Nana menurunkan kedua kakinya dari kursi. "Aku ke toilet sebentar".


"Kamu bisa sendiri?".


"Mmmm.. Aku bisa sendiri" lalu Nana berjalan mencari toilet untuk ia buang air kecil. Namun Nana bukannya berjalan mencari toilet, ia malah mendatangi sang Dewa yang tengah asik menghisap rokok panjangnya membuat Dewa sedikit kaget melihat kehadirannya berada di hadapannya.


"Hehehehe.. Ternyata kamu disini Dewa bersama dengan wanita-wanita cantik ini. Kenapa kamu tidak memberitahu ku?".


"Dia siapa Dewa?" tanya Tania melihat Nana yang sudah mabuk. "Kamu mengenalnya Dewa?".


"Hey, tentu saja Dewa mengenal ku. Aku ini sekretarisnya sekaligus calon ist...


"Sedang apa kamu disini?" potong Dewa mematikan puntung rokoknya menatap Nana dengan serius.


"Itu, aku datang bersama dengan Kevin. Dia mengajak ku kemari dan aku malah bertemu dengan mu" Nana mendudukkan diri di sebelah salah satu wanita tersebut. "Dan juga, kenapa kamu meninggalkan ponsel mu Dewa? Wanita itu, wanita itu telah mengambilnya".


"Sebaiknya kamu pergi saja!" Tania berkata hendak membawa nana pergi dari sana. Tetapi Nana malah menolaknya, "Kamu itu hanya seorang pekerja, tidak pantas kamu duduk disini bersama dengan atasan mu".


"Kenapa? Aku rasa tidak ada yang salah. Bukankah begitu Dewa hehehehe".

__ADS_1


"Kamu sudah mabuk, kamu bisa saja membuatnya marah".


"Biarkan saja" ucap Dewa menghentikan Tania. "Kamu mau minum bersama dengan ku?" dengan senang hati Nana langsung mengangguk. "Berikan dia anggur ini".


"Tapi Dewa".


"Berikan saja".


Hingga akhirnya dengan keterpaksaan Tania memberikan anggur tersebut di gelas kosong yang Dewa berikan kepada Nana.


"Wah, aroma anggurnya sangat nikmat sekali mmmmm.. Aku sangat menyukainya".


"Minumlah" ucap Dewa.


"Tentu saja, terima kasih" sambil mencium aroma anggur tersebut, Nana langsung meneguknya seperti yang tadi ia lakukan membuat mereka yang melihat Nana tertawa merasa lucu. "Kenapa? Kenapa kalian tertawa seperti itu?" tanyanya.


"Hahahaha... Kamu sangat lucu sekali. Bagaimana bisa kamu langsung meneguk anggur semahal itu, begitu saja? Hahahaha Dia benar-benar lucu".


"Benarkah?" sahut Nana merasa baik-baik saja meskipun mereka sedang meledek dirinya. "Kalau begitu, berikan satu gelas lagi nona cantik".


"Wah, tapi dia sangat kuat juga yah".


"Dewa, kamu tidak seharusnya melakukan ini? Nanti dia bisa saja jadi bersikap kurang ajar kepada mu. Lihatlah, bahkan dia...


"Berikan saja seperti yang aku katakan" ucap Dewa memotong hingga akhirnya Tania menuang anggur itu kembali di gelas kosong Nana.


"OMG! Aku benar-benar sangat menyukai anggur ini" sebelum meminumnya, Nana kembali menikmati aroma anggur tersebut dan sedikit belajar cara menikmati sebuah anggur agar wanita-wanita itu tidak menertawakannya kembali. "Aarrkkhhh.. Aku menyukainya Dewa, aku yakin anggur ini pasti sangat mahal sekali".


"Bahkan gaji satu bulan mu saja tidak mampu untuk membeli satu botol anggur ini" ucap Tania memberitahunya.


"Benarkah? Wah, itu artinya anggur ini benar-benar sangat mahal sekali" Nana melihat gelas anggurnya yang masih berisi. "Jika aku tidak kemari, seumur hidup aku tidak akan pernah merasakan anggur enak ini".


"Hahahaha" lagi-lagi mereka tertawa melihat kedua pipi Nana yang sudah memerah seperti merah tomat. "Siapa nama mu?".


"Aku?" Nana menujuk dirinya. "Kalian bertanya siapa nama ku?".


"Iya, beritahu kami siapa nama mu".


"Aaakkhh.. Baiklah, aku akan memberitahu kalian siapa nama ku...

__ADS_1


"Nana" Kevin tiba-tiba muncul di hadapan mereka. "Kamu kenapa bisa disini Nana?".


"Kevin?" Nana memicingkan kedua matanya untuk memastikan kalau pria yang tengah berdiri dihadapannya itu adalah benar Kevin.


"Iya, ini aku. Sedang apa kamu disini? Bukannya tadi kamu mau ke toilet?".


"Hehehehe... Iya Kevin. Tapi saat aku berjalan menuju toilet, aku malah bertemu dengan Dewa. Terus kamu kenapa ada disini? Jangan bilang kamu mencari ku".


"Benar aku kemari mencari mu" jawab Kevin menarik nafas panjang. "Aku pikir sesuatu terjadi kepada mu, ternyata kamu malah disini".


"Maafkan aku Kevin membuat mu khawatir".


Sedangkan Dewa yang sedang menyaksikan keduanya hanya diam saja sembari mendengarkan percakapan diantara mereka. Hingga akhirnya ia melihat Kevin membantu Nana bangkit berdiri dari atas sofa.


"Dia mau membawa Nana kemana dengan keadaan seperti ini?" batin Dewa masih memperhatikan keduanya dengan diam. Setelan itu Kevin melihatnya dan meminta maaf atas kesalahan yang baru saja Nana lakukan kepadanya. Namun Dewa tidak perduli, yang ia khawatirkan saat ini kemanakah Kevin akan membawanya pergi.


"Ayo Nana, aku akan mengantar mu pulang".


Mendengar hal tersebut, Dewa langsung membuang rokoknya yang masih tersisa banyak semakin memikirkan kemana Kevin akan membawa Nana pulang sedangkan Nana tinggal bersama dengannya.


"Ada apa Dewa?" tanya Tania.


"Sepertinya aku harus pulang".


"Pulang?" tanya mereka bersama. "Bukannya kamu selalu menginap disini setiap kali kamu datang kemari Dewa?".


"Ada hal penting yang harus aku lakukan" jawab Dewa segera pergi meninggalkan mereka sampai ia sudah menjauh dari arah pandangan mata Tania bersama dengan teman-temannya.


"Tumben, tidak seperti biasanya Dewa pergi begitu saja" gumam mereka kembali.


"Iya".


Hingga akhirnya Dewa telah keluar dari dalam club tersebut dengan arah pandangan matanya yang masih tertuju kepada Kevin yang sedang membopong tubuh Nana menuju mobilnya di parkir.


"Biarkan aku berjalan sendiri saja Kevin. Aku masih bisa berja... Aakkhhh".


"Kamu lihat sendiri, bagaimana bisa aku membiarkan mu berjalan sendiri dengan keadaan seperti ini? Kamu bisa terluka".


Nana tertawa, "Jangan khawatir, aku sudah terbiasa terluka. Kenapa kamu sangat mengkhawatirkan aku?" Kemudian Nana melihat kedua mata Kevin menatap kedua manik matanya dengan intens, "Ada apa Kevin? Ka-kamu.. Tidak!" Kevin hendak mencium bibirnya, tetapi Nana dengan cepat segera membuang wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2