
hari ini Nana sangat sibuk itu karna sudah mendekati tutup buku, maka semua berkas-berkas bulan ini harus terkumpul semua di meja ka Merisa sang bos perusahaan
Nana mengerahkan semua tenaganya bahkan semalam Nana lembur hisyam yang menjemput pun sampai ketiduran di dalam mobil, karena menunggu dirinya,
Nana yang sedang sibuk sengaja matikan nada ponsel miliknya, karena tidak mau terganggu,
ponsel milik Nana dari tadi kelap-kelip tak di hiraukan nya, dia mengira bila yang menelfon itu adalah teman-teman nya,
hingga waktu istirahat tiba Nana baru beranjak dari tempat duduk kebanggaan nya, Nana merentangkan kedua tangannya meluruskan otot-otot yang dari tadi melengkung
di raih nya tas tangan yang dia bawa di masukan ponsel miliknya ke dalam tas Tampa memeriksa nya terlebih dahulu,
Nana berjalan keluar dia tau pasti Mira sudah menunggu kedatangan di depan ruang kerjanya,
" ha betul kan aku cakap, pasti dia menunggu di depan ruang kerjanya," kata Nana sendiri
" kau cakap dengan siapa, merinding aku tau" tanya Mira sambil bergidik ngeri seolah-olah Nana sedang berbicara dengan mahluk tak ada wujud,
Nana tertawa kencang melihat tingkah Mira yang mengira bahwa dirinya sedang bergaul dengan mahluk tak tampak wujud nya
berbeda dengan Mira, yang semakin ketakutan melihat tingkah Nana dia berfikir bila Nana betul-betul sedang kemasukan mahluk halus,
Nana semakin menakut-nakuti sahabatnya itu dengan cara melotot kan matanya ke arah Mira,
Mira yang memang sangat penakut pun, hampir pingsan di buatnya,
tak tahan melihat nya Nana pun menyudahi sandiwara nya,
" apa lah kau ni macam tu je takut," kata Nana di selah-selah tawanya,
" Nana.. kau tipu aku ye," kata Mira sambil memukul pelan tangan Nana,
tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari dalam ruangan Mira, yang mengagetkan Mira dan Nana, mereka berdua berlari meninggalkan dari ruang kerja Mira itu,
" kalian kenapa ni, berlari macam di kejar setan je," tanya ka Merisa
" memang, ada hantu lah ka, kak ruangan Mira," kata Mira
Ka Merisa tertawa mendengar keluhan adiknya
" mana ada hantu siang bolong macam ni”kata ka Merisa
" betul ka Mira tak tipu, bila akak tak percaya cakap Mira akak tanyakan pada Nana " kata Mira
" tak de lah kak mana ada hantu siang-siang macam ni," kata Nana
__ADS_1
" ha pas tu yang kau ikut lari kenape," tanya Mira pula
" sebab terkejut ," kata Nana singkat
" na itu lah terkejut sebab hantu tu," kata Mira lagi
" iss tak de lah aku terkejut bukan karena hantu tapi karna tikus yang jatuh kan benda tu," kata Nana meresa geli dengan tikus
" ha nanti akak suruh petugas kebersihan membersihkan ruangan kau ini pasti kau ceroboh membuang bekas makan kau sembarangan," kata ka Meri lalu pergi berlalu dari hadapan Nana dan Mira
" Jum kita ke kantin jua aku dah lapar ni, waktu istirahat kita terbuang dua puluh menit tau," kata Mira sambil melihat jam di tangannya
" ini semua pasal kau tau," kata Nana
" iss mana ada pasal aku, kau lah yang berlakon segala," kata Mira tak mau kalah
" ye lah pasal aku, aku minta maaf," kata Nana
" iih maaf aja tak cukup," kata Mira memiliki ide di kepalanya
" haa trus kau nak aku buat apa," tanya Nana dia tau pasti sahabat nya itu akan meminta sesuatu,
" kau harus belanja aku makan sampai puas," kata Mira sambil mengacungkan jari tunjuk di hidung Nana
" Iis kau ni makan saja yang di ingat, tak takut badan tu melar lagi ke," tanya Nana
" aku baru minta belanja makan, bukan shopping, kau dah merambat sana-sini," kata Mira
" dasar kedekut, kau belanja aku makan sebulan pun tak kan buat kau jatuh miskin," kata Mira lagi
mereka beradu kata sambil berjalan ke arah kantin hingga tak terasa Mereka berdua sampai di tempat tujuan
" oke kau pesan apa aja yang kau suka tapi ingat jangan nak buat makan tu terbuang sia-sia," kata Nana
" siap bos ," kata Mira mengangkat tangan tanda hormat
" sekalian pesan buat aku juga, aku malas nak berakjak," kata Nana
yang di angguki oleh Mira, Nana tersenyum melihat tingkah laku Mira yang tak pernah berubah,
Nana yang duduk sendiri menunggu Mira dan makanan datang, teringat ponsel miliknya yang tak pernah dia tengok sejak tadi,
begitu ponsel di nyalakan mata Nana melotot melihat panggilan dari mama nya
" jadi mama yang dari tadi menelfon,yah Allah bodohnya Nana tak tengok," kata Nana pada dirinya sendiri
__ADS_1
Nana berniat menelfon ulang mama nya, tapi belum sempat Nana menelfon, Maria sudah lebih dulu menelfon nya,
" halo assalamualaikum mama," kata Nana
" walaikumsalm, Nana kemana saja ni penat mama telfon dari tadi," suara Maria terdengar samar-samar sebab bising kak sana
" maaf mama tadi Nana sibuk, " kata Nana merasa menyesal telah mengabaikan mamanya,
" Nana kak mana sekarang ni," tanya Maria
" Nana sedang istirahat, ni baru nak makan, mama kak mana tu bising sangat," tanya Nana
" mama Tenga temani om Rahman nak jumpa kawan lama ," kata Maria
" mama boleh tau Nana kak mana sekarang," tanya Maria lagi
" Nana masih di tempat kerja mama," kata Nana
" iye maksud mama letak tempat kerja Nana tu kak mana,"tanya Maria lagi
" Citi indo company, yang berada di jalan raya Selatan," kata Nana
" oke kalau macam tu, mama tutup dulu telfonnya," kata Maria lalu mematikan telfon
Nana mengangkat bahunya merasa heran, tadi dia fikir ada hal penting yang terjadi sehingga mamanya menelfon berulang kali,
" dah selesai kan, Jum kita makan dah lapar sangat ni," kata Mira yang sedari tadi menunggu Nana selesai dengan telfonnya
mereka berdua makan Tampa bersuara, sebenarnya Nana masih cemas dengan mama nya,
entah kenapa rasanya tak biasa mama seperti itu, membuat selera makan Nana berkurang
" hai kenapa pula," tanya Mira yang melihat Nana hanya mengaduk-aduk makanan di piring nya
" entah lah aku kepikiran mama," kata Nana
" apa jadi dengan mama kau," tanya Mira
" entah, tiba-tiba mama menelfon, pas tu di mati kan," kata Nana
" dah tak paya nak pikir sangat, habis kan makanan tu, " kata Mira so' bijak
yah walaupun Mira orang nya belak-belakang tapi sebenarnya dia baik dan perhatian kepada temannya,
itu lah yang di suka Nana, Mira selalu ada menemani nya dan sifat kocak Mira lah yang selalu menghibur Nana kala Nana sedang dalam masalah,
__ADS_1
* * * * *