
" sabar lah Syam coba dulu cakap baik-baik pada Tasya mana tau dia mau mengalah bila tau Syam dan Nana saling mencintai," kata kak Ros mencoba untuk mencari pencerahan,
" itu tak mungkin kak Ros, Tasya dan Nana tak pernah akur sebagai adik kakak, bahkan Tasya selalu merampas semua milik Nana," kata hisyam menjelaskan tentang hubungan Nana dan Tasya,
" iya ke, biar betul si Tasya tu," kata kak Ros tak percaya
" tapi akak nampa mereka baik-baik saja malam tu," tanya kak Ros,
" mungkin dia belakon sebab tak nak kita tau bila dia itu busuk," kata hisyam,
" huss tak baik cakap macam tu Syam ," kata kak Ros sambil membaringkan farel ke tempat tidur nya,
" tapi itu memang benar kak Ros, Tasya itu munafik, pokonya Syam tak mau dengan tasya, lebih baik Syam membujang seumur hidup dari pada Syam harus nikah pada Tasya," kata hisyam meluapkan emosi nya,
" ee tak baik cakap macam tu, kalau Syam jadi bujang lapuk Nana tak akan mau lagi pada Syam," kak Ros tersenyum geli melihat tingkah adik bungsu nya itu,
" lebih baik sekarang Syam banyak banyak berdoa, agar hati Nana dapat Syam luluh kan kembali, bila Nana dah kulu maka tak ada lagi yang perlu kita khawatir kan, sebab Nana pun anak om Rahman juga walaupun hanya anak sambung," saran kak Ros membuat mata hisyam terbuka luas kenapa tak kepikiran oleh nya
Hisyam memati kan ponsel nya secara sepihak tanpa permisi dan langsung bergegas mengganti bajunya dengan pakaian kerja, tapi sebelum itu dia akan pergi ke tempat Nana dulu mungkin ini belum terlambat untuk menjemput Nana
dia melirik jam yang melekat di tangannya menunjukan pukul tujuh lewat, biasanya Nana akan sampai di kantor nya jam delapan kurang berarti masih ada waktu walau pun sedikit,
dia tau mungkin Nana akan menolaknya tapi apa salahnya mencoba, hisyam melakukan mobilnya menuju tempat tinggal Nana, sesampainya di sana rumah Nana terliat sepi tapi mobil Nana pun sudah tidak ada
' apa Nana dah berangkat,' pikir hisyam dengan lemas hisyam menyalakan kembali mobilnya mau tak mau dia harus kekantor nya dulu dan sebisa mungkin dia akan menyisihkan dulu masalah nya dia harus profesional dalam bekerja,
__ADS_1
...****************...
Nana berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya, harusnya besok baru habis masa cutinya tapi dia sangat bosan tinggal di rumah, jadi dia memutuskan untuk masuk hari ini,
Mira yang melihat Nana masuk ke dalam ruangan nya, merasa heran karena ini masih hari cuti Nana tapi kenapa dia datang sekarang
" good morning," sapa Mira lalu duduk di depan Nana
" morning," kata Nana singkat dia tau sebentar lagi dia akan di rundung pertanyaan dari Mira
" are you oke" pertanyaan pertama Mira
" yes im oke," jawab Nana
" kau bukan pembohong yang baik Nana aku bisa membaca dari wajahmu, ada apa cakap pada ku," kata Mira
namun Tampa Nana duga Mira berjalan kedekat Nana dan melepas kaca mata Nana
dan betul saja mata Nana masih merah dan bengkak, itu sebab nya di menggunakan kaca mata untuk menutupi nya
" apa ini Nana, ini sudah menjawab pertanyaan aku yang kau sedang dalam masalah besar," kata Mira,
Mira menarik tangan Nana lalu menduduk kannya di sofa,
" kau tak sendiri Nana masih ada aku di sini cakap pada aku," kata-kata Mira membuat air mata Nana kembali tumpah, sebisa mungkin dia ingin menyembunyikan semua ini pada Mira sahabat nya itu namun itu semua sia-sia karena Mira bisa membaca raut wajah Nana,
__ADS_1
" hisyam, hisyam akan menikahi adik tiri aku," kata Nana terbata-bata
" apa.. tak mungkin Nana pasti kau salah menduga, aku kenal kau orang bukan sehari dua hari, tapi kita kenal dah bertahun-tahun lamanya, dan aku sangat yakin Syam masih sangat mencintai mu," kata Mira tak percaya
" seandainya aku hanya mendengar kabarnya saja mungkin pun aku sama dengan kau, tapi Mira aku melihat dengan mata kepala aku hisyam datang dengan keluarga nya untuk melihat Tasya adik tiri aku," kata Nana
" percaya atau tak, tapi ini lah kenyataan nya bahwa kami tak berjodoh, bahkan sebentar lagi dia akan menjadi adik ipar ku adik ipar ku Mira," Nana menangis pilu di dalam pelukan Mira,
" Hisyam aku tak sangka kau Setega itu, kau tenang saja nanti bila aku jumpa dia aku akan berikan dia pelajaran yang setimpal," kata Mira dengan nada emosi,
" Mira aku tak kisah bila dia nak menikah dengan perempuan lain, tapi kenapa harus Tasya, kau tau kan bagai mana perasaan aku saat ini, aku tak kisa bila dia akan menikahi perempuan lain asal jangan Tasya tolong aku tak sanggup membayangkan nya saja aku tak sanggup bagai mana aku harus menghadapinya Mira kata kan," Nana mengguncang bahu Mira,
Mira ikut meneteskan air mata tak terbayang olehnya bagai mana sakit yang di rasakan oleh Nana andai kan bisa dia sangat ingin membantunya tapi dia pun tak tau harus berbuat apa, apa lagi ini juga menyangkut dengan keluarga Nana,
" kau yang sabar aku yakin kau wanita yang tangguh, Allah tak akan memberi cobaan di luar kemampuan hambanya, yakin lah semua akan baik-baik saja, semua akan indah pada waktunya," Mira terus mencoba untuk menenangkan Nana,
" kenapa selalu aku yang di uji kenapa harus aku Mira kenapa," hu hu huu Nana terus menangis sesenggukan dalam pelukan Mira baju Mira sudah basah oleh air mata Nana namun Mira tak kisah asal kan dapat menenangkan sahabatnya itu apa lah arti sebuah baju
" kau tau saat aku melihat hisyam dan keluarga nya datang," Nana berhenti untuk mengatur nafas nya,
" saat dia dan keluarganya datang dia terlihat tenang-tenang saja, apa mungkin dia sudah tak mencintai aku lagi apa dia dah melupakan perjuangan kami Mira kata kan aku mohon," hu huu huu...tangisan Nana semakin terdengar pilu hati wanita mana yang tega mendengar nya,
" aku tak tau nak cakap apa tapi kau harus tau aku akan selalu ada saat kau butuh kan, sekarang kau pulang lah, apa lagi ini kan masih hari cutimu kau tak perlu kerja dulu apa lagi dengan keadaan mu yang seperti sekarang ini,"
" kau pulang dulu nanti saat pulang dari kantor aku akan menemui mu," kata Mira sambil menghapus air mata Nana dengan tisu yang terletak di atas meja ruangan Nana,
__ADS_1
Nana mengangguk mungkin Mira benar dia belum bisa bekerja dalam keadaan seperti ini, pekerjaan nya pun tidak akan beres malah mungkin dia hanya akan membuat kesalahan,
mau tak mau Nana keluar lagi dari kantor untuk pulang,