
nana telah siap untuk merebahkan diri di atas tempat tidur empuk miliknya, saat mama nya menelfon dirinya, sebenarnya dia merasa heran semenjak mama nya telah menikah lagi mama nya belum pernah menelepon nya malam-malam begini
" halo assalamualaikum ma," kata Nana saat mengangkat telfon dari maria, lama Nana menunggu jawaban dari Maria namun tak ada
" mama ada apa ni," kata Nana cemas apa lagi saat mendengar Isak tangis mama nya hatinya semakin resah
" mama jangan buat Nana risau," kata Nana cemas
" sayang maaf kan mama," hanya itu yang mampu Maria katanya lalu mematikan sambungan telfon,,
yang membuat Nana semakin mencemaskan keadaan mama nya
"mama ada apa dengan mama, ya Allah lindungilah mama ya Allah, Nana akan selalu mendoakan mama semoga mama selalu bahagia dan maaf kan Nana yang tidak bisa ada di dekat mama saat mana membutuhkan Nana,"
tadi Nana sudah sangat mengantuk dan siap untuk merebahkan tubuhnya, namun setelah mama nya menelfon mata yang tadinya mengantuk kini tdk lagi, pikiran nya kini di penuhi dengan mama nya,
masalah nya dengan Hisyam seakan hilang dari ingatan nya dan berganti dengan mama nya, ya Allah kapan masalah akan selesai,,
* * * *
Maria berpura-pura tidur saat mendengar suara pintu di buka dari luar, dia yakin bahwa itu adalah suaminya Rahman, tapi saat ini Maria sedang marah pada suaminya itu, dia bukan tak menghormati suaminya tapi dia masih sangat kecewa pada suaminya itu
Rahman yang baru saja masuk kedalam kamar mengira bahwa istri nya benar-benar telah tidur
" mungkin dia kelelahan dalam perjalanan," Gunem Rahman yang masih dapat di dengar oleh Maria
Rahman berlalu masuk ke dalam kamar mandi dia akan menggosok gigi terlebih dahulu sebelum tidur
Maria yang mendengar suara pintu kamar mandi terbuka lalu tertutup lagi, pelan-pelan membuka matanya, kembali namun itu hanya sebentar sebelum dia tertidur betul,
* * *
tidur Nana tak selesa semalam dia terus saja memikirkan tentang mama nya takut terjadi sesuatu pada mama nya,
setelah menyelesaikan tugas dari sang pencipta, Nana berniat menghubungi nomor bi Ijah untuk menanyakan hal mama nya,
dering pertama tak diangkat mungkin masih sholat kot's pikir Nana, menunggu beberapa saat kemudian Nana menelfon kembali,
" halo.. assalamualaikum Nana," suara bi jah terdengar nyaring dari sebrang sana, berarti bi Ijah tak tahu menahu tentang mama nya,
__ADS_1
" walaikumsalm, bi macam mana kabar bibi," tanya Nana lewat telepon
" Alhamdulillah bibi baik, Nana sendiri macam mana, sehat?" tanya bi Ijah
" Alhamdulillah Nana pun sehat, bi Nana nak tanya pasal mama boleh," tanya Nana menyampai kan maksud sebenarnya menelfon
" boleh apa dia," tanya bi Ijah balik
" bibi nampak mama olok tak," tanya Nana
" elok, mama Nana kan baru bertolak dari Maloy Nana tak jumpa ke," tanya bi Ijah heran pula
" iya Nana ada jumpa mama tapi cuma sebentar je," kata Nana
" tapi semalam mama telfon macam ada masalah saja," kata Nana lagi
" iya ke tapi smalam nampak elok je, nanti bibi cari tau baru kabari Nana oke," kata bi Ijah
" oke kalau macam tu, tapi bibi kabari Nana terus ye," kata Nana lalu mengakhiri pembicaraan mereka
nana baru saja meletak kan ponsel miliknya namun ponsel itu berbunyi kembali, Nana mengambil dan melihat nama pemanggil,
Tersenyum sinis lalu meletakkan kembali ponsel miliknya Tampa berniat mengangkat tlfon dari hisyam,
selesai dengan ritual mandi Nana melangkah ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri nana memang ter biasa dengan sarapan nasi, makanya badan Nana termasuk badan ideal tak kurus kerempeng,
* * *
hari ini Maria bangun lebih awal dari biasa nya dia langsung masuk ke kamar mandi Tampa membangun kan suaminya terlebih dahulu rasa sakit yang di rasakan menghilangkan rasa hormat nya pada Rahman suaminya
tapi walau begitu dia tetap menyiapkan pakaian kerja suaminya walau TDK membangun kan nya,
Rahman mengucek matanya saat mendengar alarm di ponselnya, di liriknya Maria yg sedang bersolek di depan cermin meja hiasnya
Rahman kaget melihat jam yg sudah menunjukkan 7;30 menit di ponselnya
" kenapa awak tak bangun kan saye " tanya Rahman berjalan ke arah Maria namun tak di ubris oleh Maria, Rahman baru saja ingin menyentuh bahu Maria yang sedang duduk di kursi meja hias nya
namun tak sempat sebab Maria sudah lebih dulu berdiri dan keluar dari kamar meninggalkan Rahman dengan seribu pertanyaan di pikiran nya
__ADS_1
Maria berjalan melewati meja makan dan terus melangkah ke dapur
" bi, bila tuan tanya pasal saya bilang saya dah berangkat duluan ada miting penting pagi ini dan tak bisa nak tunda," habis mengatakan itu Maria langsung berlalu pergi,
" nampak nya Nana benar ada yang tak beres dengan nyonya," kata bi Ijah
bi Ijah menyiapkan semua makanan dan menata nya di atas meja, hanya dua piring yang bi Ijah siap kan sebab majikan sesungguhnya dah berangkat lebih dahulu,
telah selesai mandi Rahman keluar, seperti biasa kamar sudah bersih baju kerja sudah di siapkan di atas tempat tidur,
Rahman tersenyum tadi dia mengira bahwa maria marah pada nya, tapi melihat dia tetap menyiapkan pakaian dan perlengkapan nya, buru-buru Rahman memakai semua pakaian nya dan keluar
Maria pasti sudah menunggunya di meja makan untuk sarapan bersama,
namun saat sampai di meja makan dia heran sebab tak menemuka Maria di sana bahkan meja makan itu masih kosong sebab Tasya pun belum terlihat,
" bi, bi Ijah," panggil Rahman
bi Ijah yang mendengar namanya di panggil cepat-cepat melangkah keluar,
" iya tuan," tanya bi Ijah sambil menunduk kan kepalanya tanda sopan nya pada suami dari majikan nya itu,
" mana Maria," tanya Rahman yang tak melihat ke arah bi Ijah sedikit pun,
" maaf tuan tadi nyonya berpesan agar menyatakan pada tuan bila nyonya dah berangkat sebab ada rapat penting yang tak bisa di tunda pagi ini," kata bi Ijah tetap dengan kepala tertunduk
" berangkat duluan, tak biasanya," tanya Rahman pada dirinya sendiri, tak lama kemudian Tasya datang,
penampilan nya biasa aja bahkan masih mengenakan baju tidur mungkin dia tak kemana mana hari ini,
" selamat pagi papa, mana mama tak nampak pun," tanya Tasya sambil mengedarkan pandangan nya keliling ruang makan,
" pagi sayang, mama berangkat lebih dulu ada miting penting katanya," kata Rahman
" Tasya tak kerja ke," tanya Rahman sambil melihat Tasya yang masih dengan baju tidur nya,
" tak, malas lah papa, Tasya hari ini nak berdiam di rumah je," kata Tasya manja
Rahman hanya mengangkat bahu nya, acuh tak acuh dengan apa yang anak nya lakukan,
__ADS_1
Rahman segera menghabiskan makanan nya lalu berdiri siap tuk pergi ke kantor nya,
berkat bantuan dari Maria sekarang kantor milik nya sudah stabil kembali bahkan lebih maju dari sebelumnya,