
selamat hari ulang tahun pernikahan sayang,
sungguh Allah sangat menyayangi aku
dengan mempertemukan aku dengan seorang
imam dan guru yang terbaik untuk mengajar kan kesabaran,
engkau adalah mujahid yang paling indah dan tak kan pernah aku lepas akan aku ikat erat dirimu dengan ketakwaan dan cinta yang tulus dari hati ini selamanya.
**
hari ini tepat satu tahun berjalan pernikahan Nana dan hisyam selama itu pula kebahagiaan selalu menyertai rumah tangga mereka,
pagi ini Nana bangun dengan hati yang bahagia wajah nya berseri-seri, menyiapkan sarapan untuk suami tercinta nya, adalah hal yang paling menyenangkan bagi Nana,
Nana berencana akan buat kejutan kecil-kecilan untuk suami nya malam nanti,
" abang sarapan dah siap ni, jum kita sarapan dulu," teriak Nana,
" iya sayang kejap lagi," hisyam menjawab dengan berteriak juga dari dalam kamarnya,
dia sedang memakai bajunya,
" emmm wanginya sedap sangat lah sayang," Hisyam datang dan langsung memeluk pinggang istrinya dari belakang,
" tak de lah cuma nasi lemak dan tonyam je," terang Nana
" Abang,, Abang ingat tak hari ni hari apa," tanya Nana berharap hisyam ingat tentang hari ini
" ingat," jawab hisyam singkat
" hari apa," tanya Nana lagi,
" hari Rabu," jawab hisyam pula, sebenarnya hisyam tau kalau hari ini adalah hari jadi pernikahan mereka tapi dia masih ingin merahasiakan hal itu,
" Abang Nana tau itu bang, oke hari ini hari Rabu, lalu ada apa di hari ini " tanya Nana lagi berusaha mengingatkan pada suaminya lagi,
" Abang tak tau sayang yang Abang tau hari ini hari Rabu," hisyam Masi pura-pura tidak mengingat,
" iss Abang ni, oke kalau tak ingat hari nya tak pe tapi mungkin Abang ingat tanggal nya," tanya Nana lagi
__ADS_1
" tanggal yah kalau Abang tak salah tanggal ni tanggal tujuh belas lah sayang," jawab Hisyam pula,
" iss apa lah Abang ni hari tak tanggal pun tak," Nana membalikan badannya merajuk,
" oke, oke, Abang minta maaf sayang, sekarang kata kan hari ini hari apa dan tanggal berapa dan ada apa sayang," tanya hisyam menguji apa kah Nana akan memberi tahu kepada nya atau tak,
" tak pe kalau Abang tak ingat, mari kita sarapan dulu," suara Nana berubah tak seceria tadi,
" sayang ayo lah, Abang betul-betul tak ingat sayang," Hisyam mencoba merayu Nana tapi Nana sedikit menghindar,
Nana meletakkan piring yang telah di isi dengan nasi lemak, tonyam dan lauk pauk lainnya, di hadapan hisyam suaminya,
" sayang tak makan ke," tanya hisyam sebab melihat piring Nana masih kosong,
" Nana tengah diet, takut kalau Nana gendut Abang pun akan lupa bila Abang dah punya bini," Nana mencoba menyindir hisyam
" sayang itu tak kan terjadi Abang sudah punya sayang tak mungkin Abang lupa pada sayang bagai mana pun bentuk tubuh sayang, Abang akan selalu mencintai sayang," kata hisyam
Nana yang merajuk tetap saja merajuk, setelah mengatakan itu hisyam menyuap nasi kedalam mulutnya,
membiar kan Nana pada pikiran nya sendiri,
' maaf kan Abang sayang Abang tak maksud membohongi sayang, kata hisyam dalam hati, kalau dia mengatakan sekarang itu artinya bukan suprise kan,
* * *
" Abang," panggil Liana saat melihat Rudi siap berangkat kerja
Rudi menghentikan langkahnya menunggu Liana melanjutkan kata-katanya Tampa bersuara dan Tampa berbalik melihat pada Liana,
" Liana nak pergi belanja nanti," kata Liana
" pergi lah, nanti aku terasfer duit ke rekening mu," kata Rudi siap untuk berangkat lagi,
" Abang nak di belikan sesuatu," tanya Berliana
mencoba mencair kan suasana,
" tak terima kasih, aku nak berangkat sekarang takut lambat," setelah mengatakan itu Rudi melangkah pergi dari hadapan Liana,
Liana keluar untuk mengantar kepergian suaminya suami yang tak pernah menganggap nya sebagai istri,
__ADS_1
air mata Liana mengalir membasahi pipi, selama sepuluh bulan harinya dia habiskan hanya merenungi nasip yang dia tak tau kapan ada terangnya,
Liana menutup pintu lalu masuk kedalam menuju meja makan, Liana sudah berusaha menjadi istri yang baik dengan bangun pagi untuk menyiapkan sarapan untuk suami nya
tapi tak sekali pun Rudi melirik masakan Liana, Rudi selalu berangkat pagi Tampa sarapan dan pulang malam setelah makan di luar,
" bapak kapan penderita Liana akan berakhir, kenapa bapak menyerahkan liana pada orang yang tak mencintai Liana," Liana menangis di hadapan nasi dan lauk pauk yang telah di masak nya,
setiap hari dia melakukan itu, menangis merenungi nasibnya yang tiada habisnya,
makanan yang harus nya nikmat di mulut terasa keras dan pahit, seakan ada duri di dalam makanan yang dia makan saat ini,
* * *
setelah menyelesaikan semua tugas rumah Nana beranjak masuk ke dalam kamar mandi, dia akan pergi berbelanja untuk menjalankan rencananya malam nanti,
" Abang Nana nak keluar belanja siang nanti," pesan dia ketik lalu di kirim pada suaminya,
setelah mandi Nana bersiap untuk berangkat menggunakan mobil nya sendiri,
Nana memperhati kan semua belanjaan yang sudah dia ambil dan di masukan ke dalam troli mana tau masih ada yang kurang,
karena sama-sama asyik memilih barang hingga tak memperhatikan sekitarnya,
brukk Nana menabrak seorang wanita yang mungkin saja seumur dengan nya,
" maaf cik saya tak sengaja tak perasaan pula ada orang," kata Nana
" tak cik saya pun juga salah, maaf kan saya juga," Berliana juga meminta maaf dengan mengatupkan kedua tangannya,
" tak pe, kenalkan nama saya Nana," Nana ngulur kan tangan untuk berkenalan,
" Berliana biasa di panggil Liana," Liana menyambut uluran tangan Nana dengan tersenyum manis,
" sedang belanja juga," tanya Nana basa basi
" iya," jawab Liana singkat,
" baik cik saya ke sana dulu, masih ada yang saya nak cari," kata Berliana sebab dia baru saja sampai dan belum membeli apa-apa,
" oke, sampai jumpa lagi," kata Nana, dan di sambut anggukan kepala oleh Berliana,
__ADS_1
* * * * *