
sebulan telah berlalu di mana hisyam dan keluarga nya mendatangi rumah Nana untuk Tasya, hari ini untuk pertama kalinya Nana merasa senang setelah satu bulan berlalu baru hari ini perasaannya terasa ringan,
seakan beban telah hilang dari pundaknya, Nana menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya secara perlahan, melangkah ke depan menuju mobil kesayangan nya yang senantiasa mengantarkan kemana saja
entah kenapa hari ini dia selalu ingin tersenyum setelah satu Minggu senyuman itu hingga dari bibirnya,
* * *
hisyam sudah berkali-kali mendatangi tempat tinggal dan kantor tempat Nana bekerja, namaun dia belum punya keberanian untuk bertemu langsung dengan Nana dia hanya terus-terusan mengikuti kemana saja Nana pergi, namun setiap dia hendak menghampiri Nana rasa bersalahnya akan selalu datang,
setelah semalam mengumpulkan kata-kata yang akan di ucapkan pada Nana mungkin ini lah saatnya yang tepat untuk menemui Nana,
hisyam turun dari mobilnya setelah melihat Nana masuk kedalam mobilnya, hisyam berdiri di tengah jalan yang akan di lewati Nana
Nana yang kaget menginjak rem mobil secara mendadak
" hey apa yang kau lakukan, apa kau nak bunuh diri, tapi tolong jangan di hadapan mobil aku," kata Nana kaget lalu keluar dari mobil nya,
secara perlahan hisyam membalikan badannya menghadap pada Nana
" Syam ada sesuatu nak cakap pada Nana," kata hisyam, melihat hisyam yang berada di depan mobil Nana,
Nana membalikan badannya dan hendak meninggalkan hisyam, tapi hisyam lebih cepat menangkap tangan Nana,
" Syam mohon dengar kan cakap Syam dulu setelah itu silahkan kan Nana putus kan apa yang Nana mau dan Syam pun tak akan ganggu Nana lagi," kata hisyam
" apa lagi Syam, masih tak puas ke terus-terusan siksa aku," kata Nana membelakangi hisyam
" Syam minta maaf soal malam itu, tapi percayalah Syam tak ada maksud tertentu pada Tasya, Syam hanya tak ingin mengecewakan umi saja," hisyam menjeda sebentar kata-kata nya,
" sebenarnya Syam dah berjanji pada umi kalau Syam akan bawa Nana balek jumpa umi, tapi Syam gagal, itu sebabnya umi meminta Syam datang untuk melihat Tasya," hisyam belum selesai tapi telah di potong oleh Nana
" dan kau setuju itu, kau pasti tau apa maksud umi," kata Nana
" Syam minta maaf soal itu, tapi Syam betul betul tak ada niat pada Tasya," kata hisyam
__ADS_1
" tapi karna sebab itu kau telah memberikan harapan pada Tasya dan keluarga ku," kata-kata yang biasa nana katakan berganti seketika
" Syam minta maaf tapi tolong jangan katakan itu," kata hisyam,
" oke Syam akan katakan pada umi dan Abah tentang hubungan kita, mereka pasti akan mengerti dan akan membantu kita, oleh sebab itu Syam butuh Nana kita sama-sama beritahu umi Abah dan mama nana pasti mereka tidak akan menghalangi hubungan kita," kata hisyam memegang tangan Nana
" jangan Syam kau tak boleh lakukan itu, coba pikirkan tentang perasaan Tasya dan om Rahman bila mereka tau, pasti mereka akan berfikir yang bukan-bukan lagi dengan aku," kata Nana
Hisyam baru mau menjawab Nana lagi tapi Nana mengangkat tangan, tanda tak nak di bantah lagi,
" maaf Syam tapi aku aku harus pergi sekarang," kata Nana lalu berjalan menuju mobil dan melaju meninggalkan hisyam sendiri yang masih berdiri di sana,
di dalam mobil air mata Nana baru keluar sebisa mungkin dia terlihat tegar tadi di hadapan hisyam,
tidak Nana tak boleh menangis lagi, semua yang terjadi adalah kehendak Allah Nana yakin di balik semua itu pasti akan ada hikmahnya,
Nana menghapus air matanya dengan kasar tapi tetap saja air mata itu tak mau berhenti, Nana mengurangi kecepatan mobilnya sebab sudah dekat dengan kantor dia tak mau di tanya berbagai macam lagi pada Mira,
setelah merasa cukup baik Nana melajukan kembali mobilnya, tak lama kemudian dia sudah sampai,
Nana melangkah masuk ke dalam ruangan nya dalam ruangan itulah dia menghabiskan waktu nya seharian selama 5 tahun ini,
nana menyapu pandangan nya keliling ruang kerjanya, harus kah dia meninggal kan semua ini, tapi bila dia tetap berada di sini maka hisyam akan terus-menerus menemuinya,
Nana menghela nafasnya dan mulai mengemasi semua barang-barang miliknya dalam ruangan itu, dan di masukin ke dalam dus yang sudah dia sediakan, terakhir Nana mengambil bingkai foto Nana saat pertama kali bekerja di perusahaan itu,
berat rasanya ingin meninggalkan tempat itu apa lagi kak Merisa dan Mira sangat baik pada Nana,,
sebelum pergi Nana meletakkan surat pengunduran dirinya di atas meja kerja, lalu bergegas meninggalkan tempat itu, sebelum ada yang melihatnya,
Nana menoleh dan melihat sekali lagi pada kantor yang banyak memberikan nya kenangan dia sudah menganggap kantor itu tempat yang paling nyaman baginya,
walau bagai mana pun caranya Nana menahan air mata nana tetep keluar juga, Nana masuk kedalam mobil dan melaju pergi dia harus pergi dari kota ini secepat mungkin,
sebelum Nana sampai di rumah nya Nana terlebih dahulu pergi ke pinhome properti, KPR dia akan menjual rumah nya terlebih dahulu
__ADS_1
selesai dengan urusan menjual rumah Nana bergegas pergi dari sana dan kembali melajukan mobil nya pergi dari sana,
* * * *
Merisa berulang kali membaca surat pengunduran diri dari Nana rasa kaget dan tak percaya pasalnya Nana adalah salah satu karyawan terbaiknya dan selama ini Nana selalu profesional dalam bekerja,
Marisa bertanya-tanya apa kah selama ini Nana dalam masalah tapi Mira tak pernah cerita sekali pun,
" haa Mira pasti tau pasal ini," Marisa baru teringat pada adiknya itu, pasti adik nya tau apa alasan Nana mengundurkan diri sebab mereka adalah sahabat dekat,
" panggil Mira keruangan saya sekarang," perintah nya pada asistennya,
tak lama kemudian Mira datang dengan santai dan langsung duduk di hadapan kakak nya,
Merisa memerhatikan adik nya itu tampak tenang dan sepertinya dia juga tak tau soal Nana,
" ada apa akak panggil Mira," tanya Mira masih dengan tenang,
Merisa tak menjawab Mira tapi dia memberikan surat pengunduran diri Nana pada Mira,
Mira menerima surat tersebut membuka dan membacanya,
petapa terkejutnya Mira mata nya melotot sampai hampir keluar dari kelopaknya,
" apa ni kak tak mungkin Nana mengundur kan diri, ini tak mungkin," kata Mira kaget
Mira berlari keluar dari dalam ruangan Merisa menuju ruangan Nana, dia masih ingat betul tadi waktu dia datang dia melihat mobil Nana terparkir di depan, pasti ada yang salah di sini,
sesampainya di depan ruangan Nana Mira berhenti sebentar untuk mengatur nafas nya, biasanya dia tak akan mengetuk pintu bila dia ingin bertemu dengan Nana, tapi berbeda dengan sekarang
tok tok tok
Mira sebisa mengatur sesaknya, karna tak ada suara dari dalam akhirnya Mira membuka sendiri pintu ruangan itu,
Mira menyapu pandangan nya keseluruhan ruang tak ada yang berubah, tetap rapi dan bersih seperti biasa, senyum kecil terpancar di wajah Mira, mungkin masih ada harapan, dan surat yang di terima kak Meri itu salah
__ADS_1
...****************...