
mentari pagi yang cerah telah memancarkan sinar nya, tapi tak dengan hati Nana yang sudah tiga hari ini selalu mendung bagai kan akan turun hujan,
hisyam yang selalu santai dalam menanggapi hal tersebut membuat Nana semakin geram hati pada hisyam, susah sangat kah untuk datang menjelas kan tentang perihal yang berlaku,
jauh sangat kah tempat Nana sehingga hisyam tidak bisa datang untuk menemui Nana secara langsung, mahal sangat kah yang harus hisyam bayar bila nak betendang ke tempat Nana,
berbagai pikiran berkecamuk dalam benak Nana, siapa sangka Nana tak selembut sutra tak sedingin salju, bah kan hati Nana pun bisa berubah menjadi keras sekeras batu.
Nana yang sedang duduk di depan komputer hanya memandang pekerjaan nya saja, hati dan pikiran nya berada jauh di luar kantor hatinya semakin hari semakin resah,
memikirkan masalah yang tiada habisnya,
* * *
kediaman Maria
mobil yang di tumpangi Maria dan Rahman memasuki pekarangan rumah, dia baru tiba setelah tiga hari berlibur,
BI Ijah datang dari dalam rumah, dengan berjalan tergopoh-gopoh orang tua itu keluar menyambut kedatangan majikan nya yang baru kembali setelah menghabiskan waktu bersama selama tiga hari,
" macam mana kabar Nana nyonya," tanya bi Ijah
" Alhamdulillaah sehat, Nana kirim salam pada BI jah," kata Maria
" walaikumsalm," bibir nya tersenyum menjawab salam dari Nana, BI Ijah memang sangat menyayangi Nana seperti sayangnya seorang ibu pada anaknya, mengingat BI Ijah yang hanya tinggal sebatang kara di kota ini,
" Oia BI Tasya mana " tanya maria yang tak melihat anak sambung,
" Ade kak kamar dia keluar cuma bila perlu sesuatu," terang Bi Ijah, Maria melirik suami nya yang lebih dulu masuk meninggalkan dirinya dan bi Ijah yang masih bercakap-cakap,
" Tasya ada menyusah kan bi Ijah tak," tanya maria pada orang tua yang sudah di anggap seperti ibu oleh Maria,
"bikin susah tu tak, cuma dua hari ini Tasya marah-marah terus tanpa sebab, pa lagi pas tau nyonya dan tuan pergi ke kota Maloy," terang bi Ijah lagi
" oke lah bi kalau macam tu saya masuk ke dalam dulu," kata Maria dan berjalan masuk ke dalam,
Maria langsung menuju kamar pribadinya bersama Rahman, di pandangi seluruh isi kamar tapi tak di dapati suaminya di dalam kamar
__ADS_1
" mungkin ke kamar Tasya kot's," kata nya lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri,
* * *
Tasya sedang menangis tersedu-sedu di depan papanya,
" papa jahat papa dah tak sayang kan Tasya lagi," katanya sambil terus menangis di depan papanya bahkan dia TDK ingin melihat papanya
"papa dah lupa janji papa pada Tasya," katanya lagi di selah-selah tangisnya
Maria yang sudah berdiri di depan pintu siap untuk membuka pintu kamar Tasya menghentikan langkahnya mendengar suara Tasya dari dalam kamar,
" sayang tak macam tu, Tasya dengarkan dulu cakap papa," kata Rahman membujuk putri kesayangannya,
" apa yang papa nak cakap, papa datang temui Nana kan, papa jahat papa lupa kan janji papa pada Tasya katanya papa tak kan terima Nana sebagai anak papa," kata Tasya sambil terus menangis
" papa janji pada Tasya tak kan terima Nana sebagai anak papa, tapi apa yang papa lakukan diam-diam papa datang temui Nana bersama perempuan tu," kata Tasya berapi-api
Maria yang masih berdiri di depan pintu bagai kan tertimpa batu besar mendengar percakapan antara anak dan papa itu hadiah yg di beli untuk Tasya hampir saja terlepas dari tangga nya,
" sayang papa dan mama tak datang untuk Nana papa ke Maloy karna memang papa ada meeting dengan clean, bahkan papa tak jumpa dengan Nana," kata Rahman
" dengar cakap papa, papa sayang kan Tasya tak mungkin papa lupa pada janji papa," kata Rahman, yang membuat Maria lemas tak bertenaga
" betul," tanya Tasya
" betul sumpah," kata Rahman
" Tasya tau tak dengan siapa papa jumpa kak Maloy tu," kata Rahman lagi yang membuat Tasya menoleh melihat kearah papanya
" papa jumpa dengan om Omar abah nya hisyam, Tasya masih ingat tak," tanya Rahman
" om Omar dan aunty Farah tu," tanya Tasya air mata yang tadi mengalir deras kini berubah menjadi senyuman manis
lain dengan Maria yang sedari tadi berdiri di depan pintu, merasa tak kuat lagi dan memilih pergi dari situ,
" iya itu, papa jumpa dengan mereka," kata Rahman
__ADS_1
" papa jumpa hisyam juga tak macam mana sekarang dia papa, dia ingat Tasya tak, dia tanya pasal Tasya tak papa," tanya Tasya bertubi-tubi
" slow jangan lah keroyok papa dengan pertanyaan tu, " kata Rahman sambil tertawa
melihat semangat putri nya
" papa, jawab aja lah," Tasya memeluk tangan papanya dengan manja,
" sebenarnya papa tak sempat nak cakap dengan hisyam sebab sekarang tu dia nampak sibuk je" kata Rahman sambil mengelus kepala anak nya rasa sayang nya sangat tinggi pada putri satu-satunya nya
" Hisyam dah kerja ke papa," tanya Tasya rasa penasaran nya pada hisyam sangat tinggi
" iya dia sekarang dah jadi manajer," kata Rahman
perbincangan antara papa dan anak itu teru berlangsung,
* * *
Maria yang sudah sampai di kamar nya langsung membuang badannya di atas kasur empuk miliknya,
Maria menangis membayangkan semua kata-kata Tasya dan Rahman hatinya sakit bagai kan teriris sembilu,
ternyata ada perjanjian yang tidak di ketahui nya selama ini, dia menerima Tasya seperti anak kandung nya sendiri bahkan kadang dia lebih mementingkan Tasya daripada Nana anak kandung nya sendiri
ternyata kebaikan ketulusan dan kasih sayang yang telah dia berikan, di balas dengan sebuah perjanjian yang sangat tak masuk akal
perjanjian yang Rahman tak di bolehkah menerima Nana anak kandungnya sendiri,
hati ibu mana yang tak sakit mendengar suami nya sendiri tak mau menerima anak kandung nya, sakit sangat sakit mendengar dan melihat kenyataan ini,
Maria bangun mengambil ponsel miliknya di lihat nya foto-foto kebersamaan nya dengan Nana saat dulu dia belum menikah dengan Rahman, kebahagiaan Maria dan Nana sangat terlihat di sana
" Nana maaf kan mama sayang," katanya di usap nya foto Nana yang sedang tersenyum manis , mungkin ini alasan kenapa Nana menentang pernikahan nya dulu, Nana sudah memiliki perasaan tentang ini semua,
air matanya jatuh mengingat kebersamaan nya dulu dengan Nana walau pun mereka hidup hanya berdua tapi kebahagiaan mereka tidak berubah, menyesal sudah tidak bisa ibarat kata nasi sudah menjadi bubur,,
* * * *
__ADS_1