
Nana berjalan menuju mobil nya sendiri dia tak mungkin satu mobil dengan hisyam sebab itu akan membuat masalah baru dalam hidupnya,
Nana melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah mamanya, di ikuti mobil hisyam di belakangnya, mereka harus pergi dari pekarangan rumah mama Nana sebelum ada yang melihat mereka,
Nana berhenti pas lampu lalu lintas berwarna merah, hisyam tetep berada tepat di belakang mobil Nana,
Maria dan Rahman yang baru pulang juga berhenti di lampu merah yang sama dengan Nana dan hisyam, saat lampu sudah berganti menjadi hijau Nana melajukan kembali mobilnya melewati mobil Maria mamanya,
Maria tak sengaja melihat ke samping saat mobil Nana melewati mobilnya di ikuti mobil hisyam di belakangnya,
" macam mobil Nana lah," katanya pada dirinya sendiri sambil tersenyum, tak lama kemudian mobil hisyam pun melewatinya,
" tu mobil hisyam bukan," tanya Maria pada dirinya sendiri, merasa heran pasalnya
kedua orang itu sekarang berada di kota Maloy tak mungkin tiba-tiba berada di Kuala kot's,
" awak cakap sesuatu," tanya Rahman,
Maria hanya menggeleng kan kepalanya sambil memegang perutnya,
" kenapa sakit perut lagi," tanya Rahman lagi
Maria hanya mengangguk dia masih memikirkan tentang mobil Nana dan hisyam yang dia lihat,
" nak saya antar jumpa dokter," tanya Rahman lagi dan di jawab gelengan lagi oleh Maria,
" ha ha ha, awak ni macam budak-budak je takut jumpa dokter," Rahman menertawakan tingkah istrinya itu, sebab sudah dua hari ini dia mengeluh sakit pada bagian perut,
namun bila nak di ajak jumpa dokter ada aja alasan yang di berikan nya,
Rahman memarkir mobilnya di tempat biasa setelah mereka sampai, Maria turun dan berjalan ke samping mencari bi jah,
__ADS_1
" bi jah Nana ada singgah tak tadi," tanya Maria
bi jah kelabakan pasalnya nana tak nak mamanya tau, soal ini by
by
" iya nyonya," biar bagai manapun dia tak bisa berbohong pada Maria
" sendiri atau ada orang lain yang datang lagi bi jah," tanya Maria lagi,
..." kalau soal tu saya tak tau," kata bi jah lagi biar lah soal itu Nana yang nenjelas kan semua, bi jah tak mau ikut campur dengan urusan...
mereka, entah mengapa Maria merasa gelisah,
* * *
Nana berjalan lebih dulu memasuki taman kota, yah mungkin di sini lebih cocok untuk berbicara secara leluasa,
" Syam dah cakap pada kak Ros tentang kita dan kak Ros akan bantu kita untuk bicara pada umi dan Abah," kata hisyam
" apa yang nak di bicarakan lagi Syam semua dah jelas," kata Nana
" tapi Syam tak nak bila Tasya yang akan menjadi istri Syam, satu-satunya orang yang Syam mau itu ada lah Nana, dan Syam yakin hingga saat ini perasaan Nana masih sama pada Syam," kata hisyam
" perasaan itu dah hilang Syam bersamaan dengan datangnya kau dan keluarga mu malam itu, sejak saat itu perasaan aku dah berubah menjadi benci," kata Nana berusaha meyakinkan bahwa dia dah tak ada rasa lagi pada hisyam
" bohong itu tak mungkin Syam tak percaya itu Nana, Syam mohon Nana beri Syam kesempatan, untuk berjumpa pada mama Nana Syam yakin bila mama Nana tau pasal kita dia pasti akan mendukung kita,"
" jangan Syam aku mohon jangan lakuin itu," kata Nana
" tapi hanya mama Nana yang bisa bantu kita Nana,"
__ADS_1
" Syam kau adalah orang yang paling di nanti nanti oleh Tasya, coba pikir kalau mama tau pasal kita mama pasti akan membela kita dan om Rahman juga pasti akan membelah anaknya,," kata Nana
" dan rumah tangga mama aku yang menjadi taruhan di sini Syam, aku tak akan biarkan itu terjadi, aku tak mungkin bahagia di atas penderitaan mama aku syam," kata Nana lagi menaikkan suaranya
Hisyam terduduk lemas di atas rerumputan nan hijau apa serumit itu mengembalikan Nana lagi,
" Syam nyesel Nana, Syam nyesel, syam tak bisa terima ini," kata hisyam lemas
" Syam antara kita hanya tinggal masa lalu masa depan Syam sekarang adalah Tasya, terima dia sebagai pengganti Nana,anggap Tasya adalah takdir Syam yang di kirim Allah, jaga dia seperti Syam jaga Nana karena walau bagai mana pun Tasya adalah adik Nana," kata Nana, sakit mengatakan dan merelakan orang yang paling kita sayang tapi dia harus lakukan itu, agar Syam mau menerima Tasya,
" bila Syam masih sayang pada Nana lakukan semua ini untuk Nana, lupakan Nana dan terima Tasya sebagai pengganti Nana," kata Nana lalu pergi dari sana
hilang sudah harapan hisyam untuk kembali pada Nana, mama Nana adalah satu-satunya orang yang bisa membantu nya untuk meluluh kan Nana namun sekarang itu semua sudah tak mungkin lagi,
Hisyam mengacak-ngacak rambutnya kepala nya pening tujuh keliling,, apa memang ini takdir nya tapi kenapa harus Tasya, setelah mereka menikah nanti status Nana akan berubah menjadi kakak ipar hisyam
apa hisyam bisa melewati ini semua berhadapan dengan Nana setiap hari tapi sebagai adik ipar Nana, ya Allah sakit sungguh sakit,
Hisyam berteriak sekencang kencangnya, membuat semua orang yang ada di sana melihat ke arah nya,
Nana yang tadinya pergi pun melihat kearah hisyam yang berteriak keras, dia tadi tidak benar benar pergi meninggalkan hisyam dia hanya pergi menjauh dari nya,
Nana menangis tersedu-sedu menyaksikan nya, rasa bersalah nya tiba-tiba datang menghantui nya,
" maaf kan Nana Syam, Nana tak ada maksud untuk melukakan Syam tapi, Nana pun tak ada pilihan lain Nana tak mungkin pempertaru kan rumah tangga mama Nana," kata Nana pada dirinya sendiri,
lama hisyam terduduk termenung di tempat itu, memikirkan semua yang Nana kata kan, membetulkan kata-kata Nana tadi, anak mana yang tega menghancurkan rumah tangga mama nya dan berbahagia di atas derita orang tua nya, bila dia berada di posisi Nana dia pun akan melakukan hal yang sama dengan yang Nana lakukan,
biarlah Tuhan yang mengatur semua nya dia hanya berdoa agar Nana bisa bahagia walau Tampa bersama nya,
hisyam bangun dari tempat duduk nya menghela nafas dalam dalam mengatur perasaan nya dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu,
__ADS_1
sesampainya di tempat di mana dia dan Nana memarkir kan mobil, mobil Nana sudah tak ada di sana itu artinya Nana sudah pergi dari sana sejak tadi, sebelum masuk ke dalam mobil hisyam sekali lagi mengatur nafas nya sebisa mungkin dia akan terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang, walaupun hati hancur biarlah hanya dia dan Tuhan yang tahu,