
Nana sedang bersiap-siap dia akan menghadiri dinner bersama Rey dan teman-teman nya malam ini, Nana tak tau siapa saja yang akan datang, Maria sudah pulang dari tadi, Nana belum mau ikut pulang bersama dengan mamanya, tapi dia berjanji akan pulang setelah merasa puas berada di pulau ini,
Nana melirik jam di tangannya sudah pukul tujuh, dia pun dah siap untuk keluar, Nana berjalan ketempat di mana mereka akan dinner bersama,
dari jauh Nana melihat sudah ada Rey dan beberapa temannya di sana, Nana mempercepat langkahnya dengan tersenyum menghampiri Rey, tapi langkahnya terhenti dengan suara yang sangat di kenalnya
" Nana.." teriaknya Nana menoleh melihat ke belakang, Mira berlari memeluk Nana
" Mira Rudi kalian ada di sini juga," tanya Nana girang karena girang nya dia sampai tak sadar berlompat-lompat kecil,
mereka bertiga berjalan beriringan memasuki tempat yang sudah di hias oleh Rey dan teman-teman nya,
mereka semua duduk bersama dan bercerita apa aja yang mengundang kelak tawa, namun tawa itu terhenti dengan datang nya seseorang yang sangat di hindari oleh Nana, Nana menghela nafas panjang,
ya dia adalah hisyam, hisyam juga di undang untuk datang ke tempat itu, semua yang ada di tempat menoleh pada hisyam Tak terkecuali Nana,
Rey berdiri menyambut kedatangan hisyam dan mempersilahkan hisyam duduk di tempat yang telah di sediakan, hisyam hanya mengangguk,
mereka kembali melanjutkan cerita yang tadi sempat terputus namun Nana sudah tak fokus lagi dia Sekarang kebanyakan tertunduk Mira menggenggam tangan Nana di bawah meja demi menguatkan sahabat nya,
Nana yang sudah tak bisa menahan rasa meminta diri pada yang lain dengan alasan akan ke belang sebentar,
Mira berdiri hendak menyusul Nana tapi di tahan oleh Rudi, sebab ini adalah kesempatan hisyam, " biar kan mereka menyelesaikan masalah mereka, kita cukup mendoakan mereka oke," kata Rudi
tidak tinggal diam hisyam segera berlari mengejar Nana, mengikuti langkah Nana dari belakang,
Nana berlari keluar dari tempat itu, air matanya sudah berada di pelupuk mata siap untuk keluar, Nana duduk di bangku dekat pantai cahaya lampu yang tak terlalu terang membuatnya merasa sedikit tenang berharap tak ada yang bisa melihat nya melihat air mata nya,
Nana menangis tersedu-sedu entah kapan, masalah dalam hidupnya akan berakhir, sanggup kah dia melihat hisyam bersama wanita lain apa lagi wanita itu adalah Tasya adik tiri Nana sendiri, ya tuhan sungguh membayangkan nya saja Nana tak sanggup bagai mana dengan kenyataan nya,
" menangis lah sayang," hisyam tiba-tiba sudah berdiri di samping Nana mengelus kepala Nana, Nana mengangkat kepalanya melihat hisyam, tangisan Nana semakin jadi,
hisyam duduk di samping Nana menarik kepala Nana ke dalam pelukan hisyam,
__ADS_1
" menangis lah sayang, menangis sepuas nana dada Syam siap menjadi sandaran Nana kapan pun Nana mau," kata hisyam
tangisan Nana semakin menjadi-jadi, setelah puas menangis dan baju hisyam basah oleh air matanya dia baru sadar
" Syam buat apa kak sini, siapa bagi tau Syam Nana ada kak sini," tanya Nana, ni pasti pasal Rey, kata Nana dalam hati,
" kami," teriak Mira, Rudi, dan Rey, teman-teman dan sahabat Nana, Nana menoleh melihat semua teman-teman Nana sudah berdiri dekat dengan mereka,
" ciieee CLBK ni Yee," teriak Mira
" apa sih, macam budak remaja je," kata Nana malu-malu,
" nah kan dah akur tu, apa kata kita kembali lagi kedalam rugi tau duit aku terbuang sia-sia," kata Rey bergurau,
" apa lah kau ni kedekut sangat," bukan Nana tapi Mira yang berkomentar,
yah begitulah mulut Mira selalu tak ada remnya
" ambil semua duit kau aku pun tak butuh, iya kan sayang," kata Mira sambil memeluk tangan Rudi tunangan nya,
" alah pamer kemesraan lah tu, tau lah kita ni jomblo lagi, tak paya nak pamer kemesraan macam tu jiwa jomblo aku meronta-ronta," kata Rey lagi
" bila kalian terus begaduh macam ni kita kapan nak masuk perut aku dah lapar ni," Rudi yang biasanya diam saja ikut berkomentar,
semua jadi tertawa dan berjalan masuk kembali ke dalam, semua makan sudah terhidang di sana mereka tinggal menyantap makanan yang sudah ada,
Nana dan hisyam sudah kembali normal seperti biasa,
" tapi Syam gimana dengan tasya dan om Rahman," tanya Nana saat mereka berjalan berdua menuju rumah sewa Nana,
" Nana tak perlu risau kan tentang itu, di sini Syam yang lelaki jadi Syam yang harus memilih bukan Tasya, lagian malam tu Syam dan keluarga Syam cuma datang silaturahmi bukan melamar Tasya" kata hisyam
" tapi Nana khawatir dengan mama, takutnya mama yang kena dampak nya," kata Nana
__ADS_1
" kita doakan saja semoga tak terjadi apa dengan mama yah," kata hisyam menguatkan Nana,
" kita dah sampai tu rumah sewa Nana," kata Nana,
" pas tu malam ni Syam tidur kak mana," tanya Nana,
" mana saja boleh depan rumah Nana pun boleh," kata hisyam
" iss jangan depan rumah Nana tak boleh, apa cakap orang nanti," kata Nana memukul lengan hisyam
Hisyam tertawa senang, memang ya bila kita bersama dengan orang yang kita cintai menderita pun kita tetap merasa senang,
" kak hotel lah Syam sebenarnya dah sampai siang tadi tapi teman-teman Nana tak nak bagi tau Syam tempat tinggal Nana," kata Syam
" oke kalau macam tu Nana masuk dulu sampai jumpa esok hari," kata Nana melambaikan tangan sebelum menutup pintu,
hisyam membalas lambaian tangan Nana lalu pergi dari sana,
hisyam bersenandung kecil berjalan menuju hotel tempatnya menginap, hatinya berbunga bunga saat ini,
akhirnya dia bisa meluluhkan kembali hati Nana yang telah beku, dia harus berterima kasih kepada Rey dan teman-teman nya,
tadi siang saat Rey menelfon nya dia sempat marah pada Rey sebab salah satu terjadinya kesalafahaman dan mau nya hisyam mengikuti rencana umi nya adalah Rey,
sebab Rey mengajak Nana balik kampung membuat Hisyam salah faham dan menerima permintaan uminya, tapi setelah Rey menjelaskan bahwa Rey dan Nana hanya berteman biasa
dan dia mengajak hisyam untuk datang ke sini Syam baru percaya, bahwa betul antara mereka tak lebih dari kawan biasa,
* * *
Hay Hay Hay
kesayangan author kuat kan author dengan dukungan-dukungan kalian agar dapat berfikir lebih jernih lagi,
__ADS_1