
BI Ijah tidak tega melihat keadaan Nana yang sedang sakit makan di luar,, namun Nana tetap memaksa kan diri untuk keluar kamar
Nana duduk di meja makan dengan menopang kepalanya yang sedang sakit
BI Ijah datang dengan membawa makanan di tangannya,, dari aromanya saja sudah bisa di pastikan bahwa itu sangat enak,, jika biasanya Nana sangat berselera makan jika ada SOP iga kesukaannya ,,
tapi tidak sekarang,, dia hanya melihat makanan yang ada di depan nya,,
Tasya datang dan langsung nyerocos kaya keteta api
"enak yah jadi Nana apa apa tinggal minta semua pasti turutin kemauan kamu" mulut Tasya mulai bertingkah
Nana hanya mendengar kan Tampa mau membalas ocehan Tasya
"ini BI Ijah juga kalau soal Nana tampa di minta nyiapin semuanya,, tapi kalau Tasya yang suruh ada aja alasannya" tambah Tasya lagi
"Tasya mau apa biar bibi buatin" kata BI Ijah
"tak payah Tasya bisa sendiri,, bibi bukan pelayan Tasya" sindir Tasya lagi
dia langsung masuk kedapur entah dia mau buat apa,,
"liat aja kalau papa pulang akan aku aduin kalian biar tau rasa" bebek Tasya Sorang diri dia sedang membuat jus lemon
"Nana tak payah dengar cakap Tasya ya" kata. BI Ijah
Nana hanya tersenyum kecil ini adalah rumahnya rumah peninggalan papanya,, tapi serasa dirinya lah yang menumpang di sini.
__ADS_1
Tasya keluar melewati Nana yang sedang makan dengan BI Ijah
"emang cocok kalian berdua dah seperti Mak dan anak aja" ejek Tasya sambil tertawa ,,
namun tak di hiraukan oleh Nana dia meneruskan makanya Tampa mau peduli dengan apa yang di ucapkan Tasya.
setelah makan Nana kembali kekamar tamu yang akan menjadi kamar pribadi nya,,kepala nya sangat sakit dia akan tidur agar sakitnya berkurang pikir Nana
saat Nana bangun Maria sudah duduk Di samping Nana sambil mengusap kepala Nana
"kenapa pulang tak bagi tau mama,, BI Ijah bagi tau mama kata Nana sakit, nak ke hospital" tanya Maria
"ingat nak surprise mama tadi ,taunya Nana yang kena surprise" Jawab Nana
"mama minta maaf pasal kamar Nana Tasya merengek sangat nak kan kamar tu,, mama tak nak begaduh dengan om Rahman" Maria meminta maaf karna tidak bisa mempertahan kan kamar kesayangan nya,
"tak apa, Nana kan tak lama Kat rumah ni Nana hanya datang bertamu ja" kata-kata Nana menusuk hati Maria,,
"itu dulu saat papa masih hidup,,sekarang sudah beda ceritanya mama,,sekarang Nana hanya tamu di rumah ini," kata Nana
"tidak sayang Nana jangan cakap macam tu ini rumah Nana milik Nana" kata Maria lagi
"ooohh yahh ada kah seorang pemilik rumah sebesar ini tidur di kamar tamu semua barang-barang kesayangan nya di kunsikan ke gudang,,?" tanya Nana
Maria makin menangis tersedu-sedu dia merasa bersalah tidak bisa mempertahan kan hak Nana,,dia merasah bersalah pada almarhum suaminya
"mama tak payah nak susah-susah,,Nana hanya sebentar mungkin bila esok Nana dah baikan Nana akan balik Kat Maloy" Jawab Nana
__ADS_1
"kenapa cepat sangat,,tak rindu Kat mama lagi ke" tanya Nana lagi
"sebab Nana rindu lah Nana balik,, tapi Nana tak menduga semua milik Nana dah di ambil orang termasuk mama",,sakit hatinya mengatakan itu tapi itulah kenyataannya
"jangan macam ni Nana,,kita ke hospital ya mama antar sekarang" tawar Maria
tapi blum sempat Nana menjawab BI Ijah telah muncul di balik pintu kamar Nana
"nyonya tuan memanggil anda" kata BI Ijah
"pergi lah mama Nana ada BI jah yang menemani di sini" kata Nana
"oke tunggu kejap ye,,nanti mama balik lagi,," kata Maria
"tak payah lah mama,,apa lagi Nana letih nak berehat" tolak Nana
Maria tidak menjawab lagi dia hanya melangkah keluar meninggalkan kamar yang di tempati Nana sekarang
"apa yang saya cakap saat tuu Nana pasti akan marah sebab kamar kesayangan anda berikan pada putri anda sebabnya putri saya yang terluka" Maria marah pada suaminya
"kejap lagi elok lah tu tak paya nak besar-besar kan masalah kecil" Rahman berkata acuh tak acuh dengan masalah Maria
"Anda kata masalah kecil,, rumah ni rumah Nana peninggalan almarhum papanya,, dia berhak atas rumah ni,"cakap Maria lagi
"Anda jangan manja kan sangat anak anda tuu,, tadi Tasya mengadu bila Nana dah singgung kan dia tadi," bukannya mengerti Rahman malah balik marah pada Maria,
Tasya tersenyum mendengar perdebatan antara mama dan papa nya,, dia sebenarnya tak suka pada Maria tapi dia harus pura-pura menerima Maria sebagai ibu sambungnya demi papa,,
__ADS_1
karna papa nya telah berjanji akan menuruti semua keinginannya Tasya
* * * *