
semua mata tertuju pada perempuan cantik memakai kerudung dan baju kebaya modern, yang memasuki pesta matanya meliar mencari seseorang,
Nana belum bisa melihat dengan jelas wajah perempuan itu, tapi betapa terkejutnya dia saat melihat perempuan itu berlari memeluk Maria mama Nana,
" Tasya, betul ke ni Tasya anak mama," tanya Maria mendekap wajah cantik Tasya dengan kedua tangan nya,,
" mama Tasya minta maaf, ampun kan semua kesalahan Tasya mama," Tasya menangis dalam pelukan Maria,
Tasya melepas pelikan Maria dan terduduk ingin menyentuh kaki Maria tapi dengan cepat Maria mengangkat kembali tubuh Tasya dan membawa nya kembali kedalam pelukannya,
" maaf kan Tasya mama Tasya banyak salah pada mama," katanya lagi,
Rahman belum melihat kedatangan Tasya di pesta itu, dia masih sibuk berbincang-bincang pada tamu dan teman-teman nya yang ada di sana,
salah satu kerabat dekat datang menghampiri nya, dan memberi tau bila Tasya ada datang di pesta ini,
Tampa permisi lagi Rahman langsung berlari untuk menemui anak semata wayangnya itu,
" tak sayang, Tasya tak salah, jangan pergi lagi mama dan papa sayang kan Tasya kami, tak sanggup bila harus kehilangan Tasya untuk yang kedua kalinya," kata Maria air matanya masih mengalir deras di pipinya
Rahman berjalan pelan menghampiri dua perempuan yang sangat di sayangi nya, perlahan tapi pasti dia mengusap kepala Tasya yang tertutup oleh kerudung,
tadinya dia tak percaya orang yang sedang di peluk istri nya itu adalah Tasya anak nya, anak semata wayang yang dia besar kan dengan kedua tangan nya sendiri,
" papa,, maaf kan Tasya, Tasya minta ampun, Tasya janji tak buat lagi," kata Tasya mendongak ke atas, melihat siapa yang mengusap kepalanya, Tasya masuk ke dalam dalam pelukan papanya saat melihat papanya berada di belakangnya,
Rahman mengusap punggung Tasya, dia tak tau harus berkata apa yang pasti saat ini dia sangat bahagia,
semua orang yang hadir di sana sampai meneteskan air mata, melihat keharuan keluarga Nana,
Nana sudah menangis sesenggukan di dalam pelukan hisyam suaminya, Nana melepaskan pelukannya dan berjalan pelan kearah Tasya, mama, dan papa nya,
Nana mengusap punggung Tasya, Tasya mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Nana,
" terima kasih sudah mau datang di acara akak," kata Nana, Tasya berbalik dan masuk kedalam pelukan Nana, tangisan yang tadi sudah mulai redah kini kembali terdengar pilu di telinga,
" Tasya pun nak minta maaf pada akak, dan Abang hisyam, maaf kan Tasya yang selalu kasar pada akak, dan terima kasih sebab akak dan abang sudah mau bersusah paya mengingat kan Tasya," kata Tasya dan mengalihkan pandangan pada hisyam yang berada di belakang Nana,
" dalam ikatan saudara tak ada kata maaf dan terima kasih, akak tak pernah salah kan Tasya, siapa pun yang ada di posisi Tasya mungkin akan melakukan hal yang sama," kata Nana mendekap pipi Tasya,
__ADS_1
" dengar akak, kita satu keluarga, kita tak boleh di pecah kan oleh rasa ke egoisan, akak sayang kan Tasya, Tasya adalah adik akak satu-satunya," kata Nana tulus,
Rahman terlihat terkejut mendengar kata-kata Tasya, selama ini Nana dan hisyam tak terlihat mencari keberadaan Tasya, mungkin dia tak akan percaya bila dia mendengar ini dari orang lain,
tapi dia dengar ini dari mulut Tasya sendiri, Rahman memeluk hisyam dan berterima kasih pada hisyam, dan Tampa di duga Rahman juga menarik Nana kedalam pelukan nya,
Rahman memeluk anak dan menantunya, dia sangat bersyukur memiliki anak dan menantu yang baik seperti Nana dan hisyam,
air mata Maria yang tadi sudah surut kini mengalir kembali, tangisan haru tangisan bahagia yang dia rasakan membuat air matanya tak mau berhenti mengalir,
melihat itu Tasya kembali memeluk mamanya, sungguh ini adalah kebahagiaan yang tiada Tara,
* * *
kak Ros, kak Yuna, Nana, dan Tasya, sibuk membantu bi jah di dapur mempersiapkan makan malam, hari resepsi Nana dan hisyam akan di gelar esok hari,
hanya Hisyam yang tinggal duduk diam menopang dagu memperhatikan nana yang sibuk membantu mempersiapkan makan malam, para tamu undangan sudah pulang semua
yang tertinggal hanya kerabat dekat dan dan keluarga hisyam dan Nana je,
" tak paya nak curi-curi pandang dah jadi milik awak pun," kata kak Ros yang melihat hisyam asyik memperhatikan Nana,
" iya lah kak Ros, Syam nak jaga Nana Syam takut Nana di ambil orang," kata hisyam, ikut menimpali
" alah cakap saja kau tu tak nak jauh-jauh dengan Nana kan," kata Yuna
" haa tu kak Yuna tau pun," kata hisyam
muka Nana sampai merah menahan malu sebab di buat candaan oleh suami dan iparnya,
" dah la tu kak, kesian kak Nana muka dia sampai merah padam tau," kata Tasya ikut berkomentar,
semua orang yang ada di dapur itu serempak melihat ke arah Nana tak terkecuali hisyam,
" ini semua pasti sebab Syam tak nak keluar dari sini," kata kak Ros pura-pura simpati
" sayang, kenapa dengan muka sayang," tanya hisyam,
" Syam kau keluar saja lah, kesian si Nana tak selesa sebab ada Syam kak sini," kata kak Ros menghalau hisyam
__ADS_1
" kenapa pula Syam tak nak jauh-jauh dari bini Syam tau," hisyam bersikeras
" Syam dalam dapur ni kau seorang je wanita kami semua ni pria," lagi-lagi kak Yuna mengundang gelak tawa mereka semua,
" amboi apa bising sangat ni," kata bang Farid yang tiba-tiba datang menyelamat kan hisyam
" haa untung Abang datang jadi aku tak sendirian lagi," kata hisyam girang
" haa ini bang pengantin baru asyik-asyik buat pembahasan," kata kak Ros
" tak pe lah sayang kita pun dulu macam tu juga," kata bang Farid,
semua orang menertawakan kak Ros, tadinya nak kenakan orang malah terkena sendiri,
" hari ni gerah sangat lah, Syam rasanya nak mandi badan lengket semua," kata hisyam mengibas-ngibas kan leher bajunya,
" pergi lah mandi mumpung kamar tamu tak ada yang pakai," kata Nana spontan
" kamar tamu, kamar Nana kan ada, kenapa suruh Syam guna kamar tamu," tanya kak Yuna
" boleh ke Syam guna kamar Nana," kata Nana bodoh tak tau apa-apa,
semua orang yang ada di dapur tu tertawa menertawakan Nana,
" Syam ni suami Nana, jangan kan kongsi kamar kongsi bantal pun boleh," kata kak Ros,
" Nana lupa kak Ros bila Syam ni dah jadi suami dia," kata hisyam berjalan kearah Nana dan memeluk bahu Nana,
" iya lah ambil bini kau tu, Nana baik kau teman kan suami kau bawa dia keluar dari sini tak kelar-jelar kami memasak bila ada dia pengacau je," omel kak Ros,
Nana semakin salah tingkah di buat nya, nak tolak dah jadi suami di biarkan tambah menjadi-jadi akhirnya Nana pasrah je,
* * *
Hay Hay Hay
semua pengemar Nana gadis yang tangguh, terima kasih Masi setiap pada Nana gadis yang tangguh,
jangan lupa tinggalkan jejak kaian,
__ADS_1