
Nana berlari ke pintu dapur rasa rindu nya pada mama tak bisa di tahan lagi,
" mama," Nana berhambur memeluk Mama
Maria yang tidak siap sedikit terjatuh tapi setelah sadar bila yang memeluk nya adalah anak semata wayangnya, Maria pun balik memeluk dengan erat, matanya basah karna haru,
" belakon lah tu," kata Tasya tak suka dia juga keluar untuk memastikan bila semua pesanan nya sudah di beli,
" kenapa tak bagi tau bila nak balek," kata Maria
" saja nak bagi surprise buat mama dan bi jah," kata Nana mencium pipi mamanya
lalu beralih mencium tangan Om Rahman takzim walau bagai mana pun dia tetap papa tiri Nana,
" mama semua yang Tasya pesan ada," tanya Tasya agar perhatian Maria beralih pada nya,
" ada semua ada dalam bek besar tu," kata Maria menunjuk bek pelastik berwana merah,
" besarnya bek nya mama tolong bantu lah, tak kan Tasya nak angkat sendiri kot's," kata Tasya
sedang kan Rahman sudah berlalu masuk setelah bersalaman dengan Nana tadi,
" Tasya coba angkat dulu itu tu tak berat-berat sangat," kata Maria menggandeng tangan Nana masuk dalam rumah Tampa mempedulikan Tasya yang sedang geram dengan nya sebab tak di perhatikan macam Nana,
bi jah di bantu dengar pak Ali yang biasa membersihkan rumput di halaman, memasukan semua belanjaan ke dalam dapur,
" pak Ali angkat bek tu masuk dalam Tasya nak tata semua bunga-bunga hias tu," kata Tasya lalu melangkah pergi dengan angkuh nya,
Maria dan Nana hanya tersenyum melihat Tampa mau berkomentar,
" cakap pada mama kenapa tiba-tiba balek," tanya Maria sambil membelai rambut putri nya
" tak senang ke bila Nana balek," tanya Nana cemberut,
" senang senang.. sangat " kata Maria cepat
" ma siapa nak datang macam semua orang sibuk sangat," tanya Nana
" ohh itu, anak dari kawan lama om Rahman dengan keluarga nya akan datang liat Tasya, bila cocok mereka akan di kawin kan lah," kata Maria
" oke mama keluar dulu kejap pasti kan yang Tasya buat," kata Maria berdiri meninggalkan Nana dengan bi jah,
__ADS_1
* * *
Hisyam termenung di dalam kamarnya mengingat kembali kata umi semalam
" jadi Syam tak bisa bawa Nana balek jumpa umi," tanya umi semalam saat hisyam sedang di sidang keluarga, di depan nya ada umi dan Abah dan di samping nya ada kak Ros dengan suaminya,
hisyam tak dapat berkata-kata dia hanya bisa diam membisu,
" berarti Syam setuju untuk ikut dengan umi pergi liat Tasya anak om Rahman," tanya umi
Syam hanya diam saja tak tau nak cakap apa,
lidahnya keluh untuk bercakap, pikiran nya hanya ada Nana bagai mana mungkin dia pergi untuk melihat orang lain sedangkan hati dan perasaannya sudah terisi penuh dengan Nana
" Syam dengar cakap umi," tanya umi
" iya umi, Syam dengar," kata hisyam
" lalu bagai mana Syam mau ikut umi jumpa Tasya anak om Rahman," tanya umi untuk yang kedua kalinya,
Hisyam mengangguk, tak ada jawaban lain selain mengikuti kemauan umi lagian ini kan baru sekadar pertemuan biasa silaturahmi bukan lamaran, biar lah dia ikuti dulu kemauan umi, soal jawaban iya atau tidak urusan belakang pikir Syam,
tok tok tok
" apa ni Syam, mana Nana kenapa tak balek dengan Nana, kenapa Syam iya kan apa yang umi cakap semalam," tanya kak Ros emosi
" Syam tak tau nak cakap apa kak Ros, Nana marah pada Syam dan Nana memutus kan hubungan kami," kata hisyam jujur,
" kenapa bisa macam tu, pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga Nana memutuskan Syam," tanya kak Ros heran
" sebenarnya ini semua salah Syam, Syam selalu tak pikir kan perasaan Nana dan tak pernah meminta pendapat Nana Syam selalu memutus kan sendiri Tampa persetujuan dari Nana," kata hisyam lalu menceritakan semua yang terjadi pada kak Ros,
* * * *
Nana masih membantu bi jah, urusan kue dah kelar sekarang beralih pada masakan untuk makan malam, Nana dengan lincah membantu bi Ijah mempersiapkan semuanya,
Tasya masuk ke dapur entah apa yang akan dia ambil yang pasti dia terlihat sibuk saat ini,
" semua kue dah jadi bi jah," tanya Tasya, lalu mencicipi satu persatu kue yang di buat bi jah,
" bagus semua nya enak-enak," kata Tasya entah sadar atau tak yang pasti saat ini Tasya sedang tersenyum, yang biasa senyuman itu sangat mahal,
__ADS_1
" bi jah nampak dia tadi tersenyum," tanya Nana
" iya ke bi jah tak nampak pasti lah, itu pasti sebab dia sedang berangan," kata bi jah
" berangan, berangan apa bi jah," tanya Nana lagi
" berangan sedang di pinang dengan pangeran tampan yang membawa tongkat dengan mahkota yang menutupi rambut putih nya," kata bi jah yang mengundang gelak tawa Nana
" itu bukan pangeran melain kan kakek tua yang membawa tongkat dengan rambut putih lah bi jah," kata Nana kembali tertawa
" sebab bila dia muda dan tampan pun tak kan bertahan lama dengan sikap dia yang judes dan semaunya akan membuat suaminya nanti cepat tua," kata bi jah lagi Nana tertawa lepas mendengar candaan bi jah
Maria tersenyum melihat Nana dan bi jah tertawa terbahak-bahak, dah lama sangat dia tak nampak Nana tertawa lepas macam sekarang ini,
" apa yang lucu sangat ni," tanya Maria ikut dudu di samping Nana
kontak dengan itu ketawa Nana dan bi jah seketika berhenti,
" tak ada apa pa mama," kata Nana menghapus sisa-sisa air yang mengenang di pelupuk matanya tadi, Maria berdiri melihat makan yang di masak bi jah memastikan semuanya sesuai dengan yang diharapkan
" habis tu Nana mandi dan bersiap juga yah," kata Maria
" buat apa mama orang tu kan nak liat Tasya bukan Nana," kata Nana meras malas
" tak macam tu sayang, mama pun nak kenal kan anak mama pada mereka," kata Maria lagi mengelus pipi anaknya
" anak mama ni bila lagi, Nana dah dewasa sekarang kapan nak kenalkan boy friend Nana pada mama," tanya Maria lagi,
" tak pa lah mama belum saatnya bila nanti dah tiba saatnya Nana pasti kenalkan pada mama," kata Nana, 'macam mana Nana nak bawa dia pada mama bila dia saja tak perna mau memperjuangkan Nana,' kata Nana dalam hati,
Dulu dia bercita-cita akan datang bersama hisyam dan mengenal kan hisyam sebagai teman lelakinya, tapi itu semua musnah sebelum tak terwujud, hisyam memusnahkan semua itu,
" dah tinggal semua tu, biar bi jah yang selesaikan, Nana pergi mandi sekarang dan bersolek elok-elok," kata bi jah
" tak payah lah bi Ijah nanti orang salah sangka macam mana," kata Nana
" kau orang kan punya Nama tak kan dia tak tau nama Tasya kot's" kata bi jah
" tak payah nak deggil, pergi sana," usir bi jah
mau tak mau Nana melangkah masuk dalam kamarnya dengan malas,
__ADS_1
* * * *