
" baik lah sebab nana tak punya jawaban nya maka biar saya yang memutuskannya," kata Rahman Maria dan Nana saling pandang mereka berdua menunggu jawaban apa yang akan di berikan oleh Rahman,
Hisyam dan keluarga nya juga saling pandang mereka harap-harap cemas dengan jawaban yang akan di berikan oleh Rahman,
bukan apa-apa mereka semua tahu bahwa Rahman tak pernah menyukai Nana dan mereka juga tau bila Rahman sangat menginginkan hisyam menjadi suami Tasya
" saya..menerima lamaran hisyam tuk Nana," kata Rahman, sontak membuat semua orang yang ada di sana mengucap syukur
" Alhamdulillah," kata mereka semua bersamaan, dan hisyam lah di sini orang yang paling bahagia,
" baik kalau macam tu dari sekarang kita dah boleh menentukan tanggal dan waktu yang baik nya macam mana," tanya umi Farah tak ingin menunda-nunda lagi
" oh tentu itu, perkara baik macam ni tak boleh nak tunda-tunda," kata om Rahman lagi yang membuat Maria dan Nana sekali lagi serempak memandang kearah nya,
" oke semua tu kami serahkan kepada pihak pempuan yang menentukan keputusan tanggal dan waktu, asal jangan lewat awal bulan yang akan datang sebab nampaknya Hisyam pun dah tak sabar nak mempersunting putri awak," kata Abah omar sedikit bercanda
semua yang ada di sana menertawakan hisyam Maria bersyukur Rahman suaminya sudah betul-betul berubah, sekarang tinggal satu yang ada di pikirkan nya Tasya dimana kah gadis itu berada sekarang, betapa bahagia nya mereka bila Tasya juga ada bersama mereka,
" Tasya kak mana kau nak, balek lah Tasya semua orang menunggu mu," ucap Maria dalam hati,
maria memandang suaminya yang sedang tertawa bersama dengan keluarga hisyam dia tahu saat ini Rahman hanya berpura-pura untuk bahagia,
pada hal jauh di lubuk hati nya dia sedang menghawatirkan Tasya anaknya, dia pun juga sama khawatir nya, dia berjanji akan mencari Tasya hingga ketemu,
* * *
Nana sedang bersantai di dalam kamarnya, setelah makan malam dia langsung naik ke kamarnya, dia berencana untuk tidur lebih awal malam ini,
dreett dreett dreett
ponsel Nana bergetar, Nana tersenyum melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponsel,
" halo Syam," kata Nana suara nan terdengar nyaring,
" Nana kak mana ni," tanya hisyam
" dalam bilik, kenapa," tanya balik
" Nana keluar kejap, Syam ada kak depan ni," kata hisyam
" haa.. Syam jangan nak tipu lah," kata Nana sedikit kaget, dan berjalan ke arah jendela, menyingkap gorden dan mengintip dari atas,
__ADS_1
" iss syam tak tipu, betul, Syam rindu Nana lah sebab tu Syam datang nak jemput Nana kejap keluar yuk," kata hisyam sambil berdiri di samping mobilnya depan rumah Nana,
" Syam buat apa malam-malam kak situ, " tanya Nana, dia masih mengintip lewat jendela kamarnya,
" nak jumpa Nana lah Syam rindu kan Nana, Nana keluar sekarang yah," kata hisyam
" tadi siang kan dah jumpa," kata Nana sebenar nya Nana pun rindu juga Syam, ucap nya dalam hati,
" Nana tak kesian ke kak Syam banyak nyamuk ni, dingin pula," kata hisyam memelas minta di kasihanilah
" haa kalau macam tu masuk lah," cabar Nana
" tak paya lah, Nana saja yang keluar sekarang," kata hisyam lagi,.
terdengar Nana mengeluh lalu berkata,
" baik syam tunggu kejap," kata Nana
" tak paya nak bersolek nanti Syam tak bisa tidur lagi," kata hisyam
" dah lah tu tak paya nak menggoda terus," kata Nana sambil mengenakan kerudungnya,
Nana tersenyum lalu mematikan kan telfon, dan berlari turun, Nana mengendap-endap berharap tak ada yang melihat nya,
" nak keluar kejap, hisyam ajak," kata Nana
sambil memegang dada nya pasalnya terkejut tadi,.
" dah malam esok je tak baik anak perawan keluar malam-malam," omel Maria
" kejap je mama, janji Nana dah ada kak rumah sebelum jam sepuluh," kata Nana memohon pada mama nya
" pergi lah asal jangan pulang malam sangat, tak baik di pandang mata tetangga," giliran Rahman yang bersuara
" terima kasih..papa," kata Nana masih canggung dengan sebutan papa,
Rahman hanya mengangguk, Nana langsung berlari keluar untuk menemui hisyam, hati nya gembira, akhirnya Rahman papa tiri nya sudah berubah dan mau menerimanya sebagai anak,
" amboi cantiknya calon bini Syam," goda hisyam
" apa lah merepek saja," kata Nana memukul lengan hisyam dan tersipu malu,
__ADS_1
" aduhh sakit tau, sejak bila calon bini Syam ni pandai main pukul-pukul," kata Syam lagi
" jadi jalan atau tak, bila tak jadi aku masuk lagi sekarang," ancam Nana
" jadi lah, silah kan masuk tuan putri,"kata hisyam membukakan pintu mobil untuk Nana,
* * *
seorang wanita cantik mengenakan kerudung putih dan gaun pengantin sedang duduk di kursi tunggu, dia sedang menunggu giliran untuk di panggil naik ke atas panggung,
" giliran selanjutnya, Tasya Malik, beserta pasangannya kami persilahkan naik ke atas panggung," suara reporter terdengar nyaring di pendengaran,
Tasya bersama pasangan modelnya berjalan naik keatas panggung, ini adalah kompetisi pameran keluarnya baju terbaru di butik ternama di kota Kuala,
berjalan bergandengan tangan, sambil bergaya Tasya terlihat sangat cantik di atas panggung dengan gaun pengantin keluaran terbaru,apa lagi di pasangkan dengan seorang mode pria yang juga sangat handsome,
Kilauan lampu menyertai langkahnya,membuat baju yang di kenakan Tasya bertambah gemerlang, puluhan reporter mengabadikan foto Tasya,
Tasya tersenyum tapi hatinya menangis seandainya mereka tau bahwa senyum itu palsu, seandainya mereka tau bahwa saat ini hatinya tak sebahagia wajah nya,
setelah selesai pemotretan Tasya lekas turun dari panggung dengan terburu-buru hingga membuat nya tak sadar menginjak gaun yang di kenakan,
Tasya hampir terjatuh menyentuh lantai tapi tangan kekar seseorang menyelamatkan Tasya dari musibah itu, adegan pandang memandang pun terjadi, sehingga sorak dan tepuk tangan menyadarkan mereka akan apa yang terjadi,
" sorry," kata pria tampan yang menyelamatkan Tasya
" no,,no,, i thank you," kata Tasya dengan malu melepas kan diri dari pelukan pria tadi,
lalu bergegas pergi dari sana mungkin karna dia kurang fokus hingga terjadi insiden tersebut,
dengan cepat Tasya melepas gaun pengantin tersebut lalu pergi dari sana, Tampa melepas kerudungnya, dia ingin cepat-cepat sampai di apartemen nya,
jantung nya masih berdebat hebat, belum perna Tasya merasakan perasaan yang seperti ini sebelum nya, Tasya memegang dadanya yang masih rancak berdebar,
* * *
Hay Hay Hay
reader setia Nana gadis yang tangguh,
author ingin meminta sedikit dukungan dari kalian agar otak ini lancar untuk perfikir
__ADS_1
dukung karya author dengan cara
like, like, like, komen, komen, komen, vote, vote, vote, dan "pencen" juga iklan hadiah atau gift nya oke👍🙏