
senyum kecil terpancar di wajah Mira, mungkin surat yang di terima oleh kak Meri salah, dan bukan dari Nana Mira berjalan mendekat ke kursi yang biasa digunakan Nana, tapi tunggu dulu sepertinya ada yang kurang di meja itu tapi apa,..
Mira memperhatikan dengan seksama, ' haa iya aku ingat bingkai foto Nana tak ada di atas mejanya, perasaan Mira kembali berkecamuk apa Nana benar-benar pergi,
" tidak Nana tak boleh pergi," kata Mira lalu berdiri hendak pergi tapi kak Marisa tiba-tiba datang menghampiri Mira,
" Mira akak dah tanya pada petugas yang berjaga di luar, katanya tadi Nana sempat datang lalu pergi lagi," kata kak Merisa
" kak aku harus bertemu dengan Nana," kata Mira gelisah,
" pergi lah cari dia dan tanyakan padanya apa alasannya mengapa dia mengundur kan diri," kata kak Meri sambil mengusap-usap bahu adik nya,
Mira bergegas keluar sebelum terlambat, dia harus bertemu dengan Nana, Mira melajukan mobilnya menuju tempat tinggal nana,
sesampainya di depan rumah Nana Mira sudah tak melihat mobil Nana di sana tapi Mira Masi tak putus asa Mira belum puas bila sebelum menyaksikan nya sendiri jadi dia tetap masuk untuk memastikan,
tapi sayang sungguh sayang perasaan Mira bertambah hampa tak kala mendapati
rumah itu sudah tergembok, itu artinya Nana sudah pergi, Mira terduduk lemas di depan rumah Nana, tak lama kemudian hisyam juga datang
Hisyam menghampiri Mira yang sedang duduk tertunduk di depan rumah Nana, Mira menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan nya
" Mira,, apa kau buat kak situ," Mira tak menjawab pertanyaan Hisyam
Hisyam melangkah mendekati pintu rumah Nana, menekan bel rumah Tampa memperhatikan bahwa rumah itu tergembok
" kau ada mata ke, apa kau tak nampak rumah tu dah tak ada orang," Mira sudah tak bisa menahan rasa marahnya pada hisyam
" maksud you," tanya hisyam tak mengerti dengan apa yang Mira katakan
" ini semua pasal kau, kau yang menyebabkan Nana pergi, kenapa Syam tak puas lagi ke kau sakiti kau siksa dia," kata Mira marah
" aku tak mengerti, Nana pergi kemana," kata hisyam masih merasa bingung
" tak payah nak sok belakon, sebab aku tak kan terkesan lagi, aku peringatkan pada kau bila kau coba-coba sakiti Nana lagi kau akan berhadapan langsung dengan aku," Mira melangkah pergi hendak meninggalkan hisyam
__ADS_1
" Mira katakan apa maksud kau cakap nana pergi, Nana pergi kemana," tanya hisyam sambil menahan tangan Mira
" Nana dah pergi Nana dah berhenti dari perusahaan kakak aku, puas kau sekarang dah hancur kan hidup dia," kata Mira dan berlalu pergi Tampa memperdulikan hisyam lagi,
sekarang hisyam lagi yang terduduk lemas setelah Mira pergi dari sana, dia belum sepenuhnya percaya bahwa Nana sudah pergi dari sana bahkan Nana berhenti dari pekerjaannya,
* * *
kak Marisa menunggu Mira di dalam ruangan Mira dia tak sabar untuk segera mengetahui apa yang terjadi pada Nana,
selama Nana bekerja dengan nya Nana tak pernah sekali pun membuat kesalahan malahan Nana selalu membantu semua pekerjaan yang dia minta dengan senang hati,
itu lah sebabnya Merisa sudah menganggap Nana seperti adik nya sendiri apa lagi Nana dan mira sangat dekat selama ini,
Mira datang dengan raut wajah yang sangat lesu dari wajah Mira kak Meri sudah tau bila Mira Gagal menemukan Nana,
" Mira terlambat kak nana dah pergi," kata Mira terduduk lemas, kak Marisa cuma bisa menguatkan adik nya dengan cara mengusap-usap punggung mira,
* * *
tapi sebelum pergi mencari tempat tinggal yang baru Nana ingin pulang dulu sebentar dia rindu pada bi jah dan mama nya,
Nana memarkir mobilnya di depan rumah nya, tidak ada mobil mama atau om Rahman di sana itu artinya hanya ada bi jah sendiri di rumah
bi Ijah yang sedang membersihkan bunga-bunga yang berjejer rapi di samping rumah berdiri melihat mobil Nana memasuki halaman,
bi jah berjalan mendekati mobil nana, Nana keluar dari dalam mobil dan langsung memeluk bi jah, bi jah menuntun nana untuk duduk di kursi samping rumah,
" macam mana keadaan Nana sekarang," tanya bi jah khawatir
" Nana baik-baik saja bi jah, bi jah tak perlu risau kan Nana," kata Nana tersenyum semanis mungkin,
" mama tak balek lagi ke bi jah," tanya Nana,
" Nana tumbuh dan besar di hadapan bi jah, Nana tak payah nak tipu bi jah, sebab walau pun Nana tak bagi tau, bi jah tetap tau bila Nana masih dalam masalah saat ini," kata bi jah
__ADS_1
" bi Ijah sebenarnya Nana dah berhenti kerja kak Maloy," terang Nana
" dan sekarang Nana nak cari tempat tinggal baru yang sekiranya cocok untuk Nana," sambung Nana lagi,
" kenapa harus cari tempat tinggal yang baru kenapa tak tinggal kak sini dengan mama, ini rumah Nana ini hak Nana," kata bi jah
" tak pe bi jah Nana tak nak membuat seasana semakin keru," kata Nana lagi,
pip, suara kelakson mobil membuat Nana dan bi jah menoleh dan melihat siapa yang datang, betapa terkejutnya Nana melihat hisyam sedang berdiri di depan rumah Nana sekarang
bagai mana bila ada yang melihatnya,
hisyam berjalan menghampiri Nana dan bi Ijah hisyam mengulur kan tangan pada bi jah dan menciumnya takzim,
" Tasya tak ada kak rumah kau boleh datang lagi nanti," kata Nana sinis
" Syam tak ada perlu dengan tasya, Syam datang kesini untuk jumpa dengan mama Nana ada,?" kata Hisyam dengan serius
" Syam jangan buat suasana semakin keru aku mohon," kata sambil mengatupkan kedua tangannya
" justru Syam datang untuk memperjerni yang terlanjur keru," kata hisyam lagi
" Syam aku mohon pergilah lah dari sini sebelum ada yang melihat mu," kata Nana khawatir
" Syam tak akan pergi sebelum bertemu dengan mama Nana," kata hisyam bersikeras
" Syam tolong mengerti posisi aku Syam, aku tak nak mama dan yang lain melihat mu berada di sini," kata Nana terus memohon pada hisyam
" baik lah tapi aku ingin kita bisa bicara berdua," kata hisyam
Nana kelabakan dia tak tau nak jawab apa, dia melihat kearah bi jah untuk meminta bantuan bi jah mengangguk kan kepala nya mengijinkan mereka berdua pergi,
" oke," kata Nana lalu melangkah menuju mobilnya, dia tidak akan satu mobil dengan hisyam, sebab akan menimbulkan masalah baru dalam hidupnya,
...****************...
__ADS_1