
“ Gak usah lebay , aku ini kerja nyari uang bukannya main . Coba kalo dulu kamu mau mendengar kan aku , untuk tidak dulu berhenti kerja . Mungkin aku juga punya banyak waktu seperti dulu buat kamu , jika kamu nurut sama suami . “ alasan yang di berikan fahri tentu saja sedikit tidak masuk akal , karena selain Lala tidak pernah menuntut nafkah sepeser pun pada fahri , masa suaminya sama sekali tidak mau mengerti keadaan Lala yang tengah ngidam parah waktu itu .
“ Maaf mas , kamu dari dulu juga kerja tapi tetap aku kan yang memenuhi semua kebutuhan kita sehari-hari . Apa pernah aku mengeluh nafkah dari mu ? tidak sama sekali mas . Dan sekarang kamu bilang kerja nyari uang , sekarang aku tanya kemana uang gajian kerja kamu selama ini ? apa pernah kamu memberikan nya padaku sebagai nafkah mu selama ini ? tidak mas “ untuk pertama kalinya Lala menumpahkan keluh kesahnya yang selama ini dia pendam sendiri . Tapi dalam hati nya , Lala terus beristighfar karena sudah berani melawan suaminya . “ Astagfirullah , maafin hamba karena sudah berani melawan dan berbicara keras dengan mas fahri . “ batin Lala .
Fahri malah tersenyum sinis , tanpa terenyuh sedikit pun hatinya saat Lala mulai berani dan sedikit memberontak . Semenjak si tuan muda memilih jalan nya sendiri dengan menikahi adik ipar nya , fahri merasa tugasnya untuk menjauhi Lala dari si tuan muda sudah selesai . Jadi buat apa lagi fahri berpura-pura menjadi suami yang perhatian pada Lala , jika dirinya sudah berhasil membuat Lala tidak lagi dekat dengan si tuan muda . “ Oh jadi kamu gak ikhlas , mau itung - itungan sama suami sendiri . “ alibi fahri , padahal fahri sendiri sudah lelah menjadi suami bayaran , karena tanpa Lala ketahui fahri pun memiliki keluarga lain .
“ Bukan seperti itu mas , aku hanya ingin mas datang ke rumah Ayah dan menjemput ku pulang , ayah sama sekali tidak membolehkan aku pulang sendiri sebelum mas menjemput ku . “ balas Lala , Inilah salah satu alasan Lala mendatangi tempat kerja sang suami . Mungkin kalo suaminya masih memberinya kabar atau menyempatkan waktu sebentar saja untuk mengunjungi nya , Ayah pasti tidak terus menerus menanyakan keberadaan fahri .
****
Sementara di rumah sakit , Arga masih menunggu Reyna di depan pintu ruangan operasi . Arga terlihat seperti keluarga pasien yang sedang melakukan operasi di dalam , karena Arga terlihat lebih panik dari keluarga pasien yang sedang menjalani operasi di dalam . Orang - orang yang melihat pun menyangka Arga adalah suami si pasien yang sedang melakukan operasi sesar di dalam , karena Arga terus mondar - mandir di depan pintu ruangan operasi . Berbanding terbalik dengan keluarga pasien yang terlihat tenang , dengan duduk di kursi tunggu . “ Sabar dan banyak - banyak berdo'a anak muda , istrimu di dalam sedang berjuang untuk melahirkan buah cinta kalian berdua . “ ujar seorang pria yang seumuran kakeknya .
Mungkin kakek itu menghampiri Arga , karena Arga terlihat sangat mencemaskan seseorang yang tengah menjalani operasi . “ Maaf kek , bukan istriku yang lagi operasi di dalam . “ balas Arga , saat ada laki-laki yang seumuran kakeknya mengira , orang yang sedang melakukan operasi sesar adalah Reyna istri nya
__ADS_1
Mendengar penjelasan Arga , si kakek itu pun malah tersenyum bangga pada Arga . “ Ya sudah siapa pun itu yang sedang menjalani operasi di dalam , semoga tidak ada masalah dengan ibu dan bayi nya . Meskipun orang yang sedang berjuang di dalam itu bukan siapa-siapamu anak muda , seperti nya kamu sangat mencintai nya . “ ujarnya dengan menepuk pundak Arga .
“ Terimakasih kek sudah berempati padaku . “ balas Arga , Karena tidak ingin membuat kakek di hadapan nya semakin salah mengira lagi dan bisa segera meninggal kan Arga .
Setelah kepergian laki-laki seumuran kakek nya , Arga kembali mondar - mandir di depan ruang operasi dengan mata terus melihat jam di pergelangan tangannya , karena sudah hampir jam 2 tapi para dokter belum juga keluar dari ruang operasi . “ kenapa gak selesai - selesai , apa mereka gak lapar ? yang lain mah bodoamat . Tapi yang aku pikirin itu istriku , dia pasti kelaparan karena melewatkan makan siang nya . “ gumam Arga , tanpa mau duduk sedikit pun .
Melihat Arga melewati makan siang nya , salah satu keluarga pasien pun mendekati Arga dan memberikan satu bungkus nasi pada Arga . “ Mas ini ada nasi padang , makan lah terlebih dulu. “ ujar keluarga pasien , saat melihat Arga seperti setrikaan di depan pintu operasi . Keluarga pasien tahu , jika Arga adalah salah satu suami dari dokter yang tengah menangani anaknya di dalam .
Arga menolak tawaran makanan dari keluarga pasien , karena memikirkan nasib istrinya di dalam yang melewatkan makan siang nya juga . “ makasih bu , tidak perlu repot - repot . Saya mau nunggu istriku selesai bertugas , biar bisa makan bareng istriku saja . “ tolak Arga .
Arga menggaruk leher nya yang tidak gatal , Arga merasa tidak enak karena ibu pasien itu terlihat marah setelah Arga menolak pemberian nya.
Lampu operasi terlihat mati , tanda nya operasi nya telah selesai .
__ADS_1
Cek lek
Muncullah salah satu dokter perempuan , diikuti istrinya dengan wajah capeknya setelah keluar dari ruang operasi dan juga sahabat laki-laki dari istrinya yang melangkah bersamaan . Keluarga pasien terlihat langsung mendekati dokter nya , sedangkan Arga langsung mendekati Reyna dan berdiri di tengah - tengah istrinya , juga sahabat laki-laki dari istrinya untuk menjadi pembatas antara istrinya dengan dika , agar sahabat laki-laki dari istrinya itu tidak terlalu dekat dengan istrinya . “ jenong duluan . “ Dika yang mengerti bagaimana posesif nya suami dari sahabat nya , pun langsung menjauh dari pasangan yang super menyebalkan .
“ Pergi sana jauh - jauh . “ balas Arga dengan suara kecil tapi Reyna tentu masih bisa mendengar ucapan sang suami . “ Sayang kita langsung cari makan , kamu kan belum makan siang . “ Arga pun langsung menggandeng tangan Reyna .
Reyna melepas tangan Arga yang menggandeng nya dan memilih memasukkan kedua tangan nya pada saku jasnya yang berwarna putih . “ Aku kira kamu sudah pulang . “ balas Reyna .
“ Yang kamu masih marah . “ ujar Arga saat Reyna melepas gandengan tangan nya .
“ Tidak , kenapa juga aku marah . “ balas Reyna . “ Makan siang nya di kantin rumah sakit ini saja , bentar lagi ada pasien - pasien lain yang harus di periksa . “ balas Reyna dengan wajah dingin nya .
“ Kenapa gak nyari makan di luar sih yang , kalo kita makan di kantin yang ada aku gak nafsu makan nya karena bau obat .
__ADS_1
Bersambung