
Hujan yang sejak pagi mengguyur bumi baru saja berakhir, menyisakan tetesan ringan yang membasahi lantai balkon sebuah rumah. Seorang gadis dengan gaun putih, berdiri menatap langit sore yang sendu. Cahayanya baru saja terlihat setelah seharian tertutup awan gelap yang membawa hujan deras, entah mengapa ia merasa bahwa sore itu seolah mewakili hatinya. Sedikit resah walau ia tahu justru seharusnya merasa lega.
"Apa yang kamu pikirkan, Keira?"
tanya seorang wanita yang rupanya memperhatikan gadis itu sejak beberapa lama.
Keira, nama gadis itu, tak menoleh maupun menjawab. Wanita itu mendekat, dipandanginya wajah Keira dari samping lalu ia membelai rambutnya.
"Akhirnya hari ini datang juga," kata wanita itu dengan ekspresi lega. Ia terus membelai rambut Keira dengan rasa sayang.
"Berbahagialah sayang, kamu berhak bahagia."
Keira menoleh menatap wanita di sebelahnya.
"Seandainya ...."
"Kak ... Kita harus segera pergi...."
Teriakan seorang gadis di pintu kamar memutus perkataan Keira. Belum sempat ia menjawab, gadis itu sudah menyusul ke balkon.
"Oh, rupanya Ibu ada di sini. Ayah mencari Ibu, pergilah sebelum taringnya keluar!" ucap gadis itu sembari menambahkan taring dengan jari di bibirnya.
Keira tertawa lalu mendorong wanita di sampingnya.
"Pergilah duluan, Bu," katanya pelan sembari merapikan gaun ibunya. Wanita yang dipanggil ibu itu tersenyum.
"Baiklah, Ibu pergi lebih dulu. Dizza, kamu temani kakakmu, ya."
"Siaaap, Bu!" Gadis bernama Dizza serta merta memberi hormat pada ibunya, Ny Kusuma. Wanita itu hanya tertawa lalu bergegas menemui suaminya.
Dizza mengamati Keira lalu tersenyum.
"Seandainya aku mewarisi setengah saja dari kecantikan kakak."
Keira tertawa. "Tentu saja kamu tak akan bisa cantik seperti Kakak," katanya sambil melipat tangannya di dada.
"Ya aku tahu, semenjak aku sekolah, semua temanku selalu bilang 'Wahh kakakmu cantik sekali' Kakak tahu, waktu itu rasanya aku ingin mematahkan leher mereka yang mengatakannya."
Keira tertawa karena mengganggap kata-kata Dizza tak masuk akal.
"Kemarilah!" Keira meraih tangan adiknya.
"Kamu nggak akan pernah bisa cantik seperti Kakak, karena kamu sudah terlahir cantik seperti ibumu," kata Keira. Dizza merenung sepersekian detik.
"Aku bahkan nggak pernah ingat wajah ibuku. " Dizza termenung sesaat.
"Tapi aku nggak peduli. Cantik atau tidak, aku adalah adikmu. Anak Ayah dan Ibu. Tanpa mengurangi rasa hormatku untuk ibu yang melahirkanku, aku menyayangi kalian semua!" kata Dizza ceria.
Keira mengangguk sambil tertawa. Tiba-tiba ponselnya yang tergeletak di meja berdering, nama Bara berkedip-kedip di layarnya.
"Jangan diangkat!" teriak Dizza. Keira mengernyitkan dahinya lalu mengagkat ponselnya.
"Hmm ... ya ... baiklah ... sampai jumpa."
Keira menutup ponselnya sementara Dizza mengerucutkan bibirnya.
"Aku menjadi iri pada Kak Bara. Dia sudah merebut satu-satunya kakak perempuanku."
Keira tertawa lalu menjentikan jarinya di dahi Dizza sembari berkata,"Kamu sungguh berlebihan!"
Dizza mengaduh lalu tiba-tiba memeluk Keira.
"Kak, aku sungguh merasa aneh. Kakak hanya bertunangan tapi mengapa aku merasa akan kehilangan Kakak?
Mungkin aku sedikit grogi padahal bukan aku yang bertunangan. Jantungku ...."
Keira langsung melepas pelukan Dizza.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya cemas.
Dizza menggeleng.
"Apa yang kamu rasakan? Apa sebaiknya kita memanggil dokter?"
Dizza menggeleng lagi.
"Aku ... hanya cemas ... Aku bahagia tapi aku cemas, entahlah ...." Dizza memandang Keira lalu tertawa. Keira memukul pundak Dizza karena kesal, ia mengira Dizza kembali sakit.
"Kak, berhentilah mencemaskan aku atau orang lain," kata Dizza serius. Keira memandang Dizza lalu tertawa.
"Kak, Kakak harus bahagia ...." sambung Dizza.
"Dizza, mengapa kamu terus mengatakan hal-hal aneh? Tentu saja Kakak akan bahagia. Apa kamu pikir ini pertunangan paksa? Kakak bertunangan dengan laki-laki pilihan Kakak sendiri, lantas haruskah Kakak merasa nggak bahagia?" tanya Keira heran.
Dizza mengangkat bahu. "Entahlah ... aku hanya merasa perlu mengatakannya. Ahh, aku ingin memeluk Kakak sekali lagi. Berjanjilah Kakak akan selalu menjadi kakakku meskipun sudah bertunangan atau pun menikah!" kata Dizza seraya memeluk Keira lagi.
"Omong kosong apalagi Dizza?" tanya Keira kesal.
"Berjanjilah Kakak akan bahagia dan berhenti mencemaskan banyak hal."
__ADS_1
Keira tertawa. "Tentu saja Kakak akan bahagia, " katanya riang namun di balik pelukan Dizza dia menggengam sebuah kalung dan di balik tawa riangnya ia menyembunyikan sebuah perasaan sedih. Benarkah aku bisa bahagia?
*
Pesta pertunangan antara Keira dan Bara berlangsung cukup meriah. Walaupun Keira berulang kali menyatakan keinginanya untuk menggelar acara secara sederhana, namun ibu, ayah tirinya serta keluarga Bara bersikeras menggelar acara spesial.
Tuan Kusuma dan Ny Kusuma terlihat sangat bahagia menyambut para tamu, begitupun dengan keluarga Bara, Tuan dan Ny Wijaya sangat bahagia melihat putranya akan segera menikah.
Bara dan Keira terlihat sangat serasi. Keira memandang Tuan Kusuma dari kejauhan. Ayah tirinya terlihat tertawa beberapa kali, Keira merasa sedikit kesal. "Kau menang lagi!" umpatnya dalam hati.
Keira memang benar, Tuan Kusuma memang merasa menang. Sejak awal dia menginginkan Keira menikah dengan Bara, agar bisnisnya semakin jaya dengan dukungan keluarga Bara. Pertunangan ini adalah awal yang sangat baik.
"Sayang, kenapa? Kamu lelah?" tanya Bara.
Keira menoleh menatap Bara sesaat lalu mengangguk pelan.
"Aku mau keluar sebentar," jawab Keira seraya melangkah keluar ruangan.
Bara menarik tangan Keira. "Aku ikut," kata Bara sambil mengedipkan matanya.
Keira tersenyum sangat manis lalu keduanya berjalan keluar ruangan. Tuan Kusuma melirik keduanya yang bergandengan lalu tersenyum puas.
"Uuh ... pesta sederhana macam apa ini?" keluh Keira sambil memegang kepalanya yang mulai pening. Lelah karena tersenyum pada semua tamu yang hadir.
"Perlu kugendong?" tawar Bara genit.
"Kamu gila!" Keira menepis tangan Bara dengan kesal.
Bara tertawa lalu mengajak Keira masuk ke tangga darurat. Ia pun sebenarnya merasa lelah dengan pesta yang berlangsung.
Mereka duduk di tangga darurat tanpa berkata apa pun, larut dalam pikiran masing-masing.
"Kamu bahagia, kan?" tanya Bara pada Keira yang terlihat memikirkan sesuatu.
"Ada yang kamu pikirkan?" tebak Bara ketika Keira tak juga menjawab.
Keira menggeleng. Bara memeluk bahu Keira lalu ia meyandarkan kepala Keira di bahunya.
"Tidurlah," kata Bara dengan suara lembut.
Keira berusaha memejamkan matanya namun gagal. Kepalanya terlalu penat untuk tidur.
Beberapa saat berlalu Keira menegakkan kepalanya lagi lalu berkata dengan sedikit kesal, "Mereka menang."
"Kamu nggak suka?" tanya Bara.
"Bagian mana menurutmu yang nggak kusuka?" Keira balik bertanya sembari memandangi wajah Bara.
Spontan Keira terkekeh geli.
"Keira ...." Bara menggenggam tangan Keira dan menatap matanya.
"Bisakah kamu mengabaikan mereka? biarlah mereka merasa menang dan melakukan perjanjian apa pun di antara mereka? Bisakah kita menutup mata untuk mereka dan menjalani kehidupan kita sendiri?"
Keira menghela napas. Tentu saja seharusnya hal itu yang dia lakukan. Hidup bahagia bersama Bara tanpa harus memikirkan apa yang ayah tirinya lakukan. Bukankah dia mencintai Bara dan Bara juga mencintainya?
"Keira, lupakan semua yang membuatmu sedih. Aku berjanji kita akan bahagia," lanjut Bara. Keira akan menjawab namun Bara mendekatkan wajahnya.
"Tak usah menjawab. Aku tahu kita akan bahagia." Bara semakin mendekat lalu ia menyentuh pipi Keira. Ia tahu seberapa sering pipi itu basah oleh air mata Keira. Ia ingin mengganti air mata luka itu dengan air mata bahagia.
"Kamu hanya perlu percaya padaku."
Keira menurut, ia tak menjawab. Dibiarkannya Bara mencium keningnya lalu beralih ke bibirnya. Dalam beberapa detik keduanya sudah berciuman dan ....
"Aaaaaa ... maafkan ... maafkan!" pekik seorang gadis. Keira tersentak, refleks ia mendorong Bara.
Seorang gadis sedang membawa bunga bediri di anak tangga di bawah mereka. Mereka bertiga salah tingkah. Bara menutupi kekesalannya dengan membentak gadis itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini?!"
Gadis itu mundur karena kaget, Keira menutupi rasa malunya dengan membuang muka, tak mau melihat gadis yang memergoki mereka bermesraan di tempat ini.
"Maaf, saya nggak sengaja. Saya nggak melihat apa-apa. Silahkan diteruskan!" kata Gadis itu sembari bersiap pergi.
"Tunggu, bunga itu untuk siapa?" tanya Bara.
"Ini untuk pasangan yang bertunangan di lantai 10. Tn Bara dan Nona Keira. Maaf saya salah jalan karena lift sedang penuh saya ...."
Gadis itu terus bicara sementara Bara dan Keira hanya menatapnya serius.
"Astaga! Apakah itu kalian?" tanya gadis itu ketika menyadari pasangan di depannya hanya menatapnya.
"Kemari, berikan bunga itu padaku dan pergilah," kata Bara pelan. Gadis itu hanya diam menatap Bara.
"Tapi bagaimana aku tahu kalau kamu memang Tuan Bara?" tanyanya curiga.
Keira tertawa kecil melihat Bara sibuk meladeni pengantar bunga yang lugu.
"Kemari, berikan bunga itu padaku," kata Keira singkat.
__ADS_1
Seperti terhipnotis, gadis itu menyerahkan buket bunganya pada Keira.
"Kemarilah!" Keira meraih Bara untuk mendekat padanya.
"Kamu bisa mengambil foto kami menerima bunga ini dan berikan pada atasanmu. Katakan bahwa kamu memberikannya secara langsung pada kami."
Gadis itu terdiam sesaat, entah mengapa dia seakan tersihir oleh setiap kata yang diucapkan wanita di hadapannya.
"Ayo, tunggu apalagi?" tanya Keira tak sabar.
Gadis itu segera mengambil ponsel dan memotret keduanya.
"Sekarang kamu bisa pergi," kata Bara mengusir.
Gadis itu segera pergi sebelum menyempatkan menatap Keira sekali lagi.
Bara menatap Keira, ia akan mendekat untuk melanjutkan aktifitas mereka yang sebelumnya terganggu namun Keira menolak. Ia mendorong Bara pelan.
"Lupakan, kita terlalu lama pergi. Mereka pasti menunggu kita."
Keira berjalan mendahului Bara yang menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal. Ia mengumpat kesal pada gadis pengantar bunga.
**
Nada, nama gadis pengantar bunga itu, mengumpat sepanjang jalan. Ia kesal karena lift yang penuh, ia harus mengantar bunga dengan berjalan kaki lewat tangga darurat. Terlebih kesal lagi karena ia harus bertemu dengan pasangan yang menurutnya mesum.
"Tak bisakah mereka menunggu sampai di rumah? Ah, benar-benar tak tahu malu!"
"Sedang apa kamu?" tiba-tiba langkahnya terhenti oleh suara berat yang menunggunya di ujung mini market.
"Kakak mengagetkanku! " seru Nada kesal.
"Kaget bagaimana? Kamu yang terlalu serius mengumpat sepanjang jalan," keluh pria yang dipanggil kakak.
"Ah, apa aku terlihat mengumpat?" tanya Nada heran. Dia merasa hanya mengumpat dalam hati.
"Tentu saja kamu mengumpat dalam hati!" seru pria itu.
Nada tertawa. "Kakak selalu tahu apa yang aku lakukan," sambungnya lagi.
"Siapa yang kamu umpat? Kenapa kamu lama sekali?" tanya pria itu sembari memberikan helm pada Nada.
"Tak ada, bukan hal penting. Hanya sepasang kekasih mesum," jawab Nada enteng. Pria itu terkekeh.
"Lupakan, mari bersenang-senang!" teriak Nada sembari naik ke boncengan motor. Mereka tertawa lalu menghilang di tikungan menuju tempat bersenang-senang.
Tempat bersenang-bersenang versi Nada dan Evan adalah sebuah kedai barbeque yang murah meriah. Tempatnya agak terpencil dan hanya bisa ditemukan dengan kendaraan roda dua atau berjalan kaki. Mereka biasa menghabiskan waktu di tempat itu untuk makan dan sekedar bercerita.
Mereka bukanlah saudara kandung, juga bukan sepasang kekasih walaupun Nada terkadang berharap bisa menjadi kekasih Evan. Ia sering mengutarakannya pada Evan yang hanya dijawab dengan jentikan jari di dahinya.
"Setelah ini Kakak mau ke mana?" tanya Nada sambil menyeruput minumannya.
"Aku akan pergi selama beberapa hari. Jadi kumohon jangan melakukan hal-hal aneh selama aku pergi."
Nada menggeram kesal,"Kakak pikir aku akan melakukan apa?" tanya Nada tanpa rasa bersalah.
Evan membanting sendoknya di meja, Nada mengelus dadanya karena kaget.
"Seminggu yang lalu kamu mengatakan hal yang sama sebelum menjambak rambut anak paman Kit. Dan sebelumnya kamu juga mengatakan hal yang sama saat kamu tanpa sadar menggelindingkan motor Willy!" teriak Evan kehabisan sabar.
Nada hanya diam merengut.
"Tapi itu kan, salah mereka ...."
"Nad, bersikaplah manis seperti layaknya perempuan. Jangan terlalu sering terpancing emosi. Bagaimana bisa kamu mendapatkan pacar kalau begini terus?!"
Nada bersandar di dinding kedai.
"Haruskah aku mendapat pacar? Masa lalu saja aku nggak ingat, adakah pria yang mau dengan wanita yang tak ingat asal asulnya?" tanya Nada lirih.
Evan memandang Nada. "Kenapa kamu pedulikan masa lalumu yang tak kamu ingat? Seharusnya kamu bahkan bersyukur bisa melupakan masa lalu," keluh Evan.
Nada menatap Evan lalu keduanya terdiam. Mereka adalah dua orang yang berbeda yang entah mengapa dipertemukan Tuhan.
Evan adalah orang yang mengutuk masa lalunya yang seandainya bisa ia rela menukar dirinya dengan Nada yang justru kehilangan ingatan akan masa lalunya.
Seandainya ia yang kehilangan ingatan, tentu ia lebih bahagia tanpa harus terbayang kepedihan setiap saat. Tentu ia tak akan menyimpan dendam yang teramat dalam.
Sebaliknya, Nada selalu berusaha mengingat bagian dari masa lalunya yang hilang. Ia selalu berusaha mencari tahu kebenaran dari potongan memori yang singgah di setiap ingatannya.
Nada mengalami kecelakaan saat berusia 11 tahun, ia tak ingat apa pun kecuali mimpi buruk tentang kebakaran yang sering menghantuinya. Kebakaran dan sosok samar seorang kakak yang dinantikannya. Hanya petunjuk itu yang dia punya selain sebuah kalung yang selalu tersimpan di dalam tas.
Setelah mengalami kecelakaan, Nada hanya tahu bahwa dia adalah anak angkat dari pasangan yang sempat membawanya ke luar negeri. Naas, pasangan itu meninggal dalam kecelakaan pesawat lima tahun kemudian. Meninggalkan Nada seorang diri dengan seribu tanda tanya tentang asal usul Nada sesungguhnya.
Alih-alih mendapat warisan, rupanya pasangan itu hanya meninggalkan hutang. Nada tak pernah tahu kalau ayah dan ibu angkatnya ternyata memiliki masalah keuangan serius. Karena tak memiliki kerabat, adik dari Ibu angkatnya mengirim Nada ke panti asuhan tanpa sepeser pun bekal. Di sanalah ia bertemu dengan Evan. Seorang anak laki-laki yang menyimpan banyak misteri. Evan berdiri lalu membayar makanan mereka.
"Ayo pulang, ada hal yang harus segera kuselesaikan."
Nada mengemasi barang-barangnya. Ia menatap punggung Evan yang berjalan lebih dulu keluar kedai.
__ADS_1
"Apa yang Kakak sembunyikan?" tanya Nada dalam hati.