No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Mata-Mata


__ADS_3

Dizza pulang ke rumah lewat tengah malam karena ia tak ingin bertemu dengan Keira. Dengan mengendap-endap dia masuk ke halaman rumah. Penjaga rumah kesal karena Dizza membuatnya tak bisa istirahat.


"Non, jangan keluar malam terus, bahaya. Kasihan yang nungguin setiap hari, Non."


Dizza mengomel.


"Ke mana Pak Yudi? Dia nggak pernah ngomel."


"Pak Yudi cuti."


Dizza hanya setengah mendengarkan. Dia masuk ke dalam rumah dengan hati-hati, tampa menyalakan lampu, ia berjalan, langkahnya terhenti saat ia melihat lampu di lantai dua masih menyala.


Dizza mengatur dirinya untuk bersikap tak acuh. Dia yakin Keira sedang menunggunya. Dizza bersiap untuk mengabaikan Keira bila kakaknya kembali menegurnya, ia melangkah namun ternyata tak ada siapa-siapa di ujung tangga. Dizza menghela napas lega, untuk sementara ia tak ingin bertemu Keira karena setiap kali melihat wajah Keira ia akan luluh.


Baru saja berjalan selangkah, ia melihat Keira sedang duduk di sofa. Dizza ingin segera pergi sebelum ia menyadari bahwa Keira tak melihatnya. Ia tertidur. Dizza perlahan mendekat. Keira benar-benar sedang tidur sambil memangku ponselnya. Tirai balkon bergerak-gerak, hawa dingin langsung menyergap masuk. Dizza bergegas menutup pintu dan tirai. Ia mengamati wajah Keira lalu ia melirik ponsel Keira yang bergetar.


Beep-Beeep.


Dizza segera kabur, tapi ternyata Keira masih terlelap. Naluri detektif Dizza beraksi, ia kembali untuk mengintip siapa yang menelpon Keira di tengah malam.


Keamanan.


Mata dizza membulat.


"Keamanan?"


Lalu sebuah pesan masuk, Dizza bisa membaca pesan yang muncul di layar.


Pesan dari kontak bernama Keamanan


"Non, Nona kecil sudah pulang."


Dizza tertawa kesal.


Ia teringat ucapan penjaga tadi.


Kasihan yang nungguin tiap hari, Non.


"Jadi setiap hari Kakak menungguku pulang?" Dizza mengumpat dalam hati.


"Sudah kubilang jangan menjadi malaikat, mengapa Kakak terus melakukannya?"


Dizza meninggalkan Keira sendirian.


***


Hari ini Dizza sudah membulatkan keputusannya, ia memasukan barang-barangnya ke dalam koper. Pagi-pagi sebelum yang lain turun sarapan, Dizza menemui ayahnya sambil menggeret kopernya.

__ADS_1


"Ada apa Dizza? Kamu mau berlibur?"


Tuan Kusuma menatap Dizza heran.


Selama bertahun-tahun tinggal bersama Dizza, ia sudah terbiasa menghadapi berbagai kelakuannya. Dizza memang bukan anak kandungnya, tapi karena rasa bersalahnya pada Ayuni dan sebagai syarat untuk membawa Keira kembali, ia berjanji pada Ayuni akan menjaga Dizza seperti anaknya sendiri. Dan bertahun-tahun tinggal bersama, Tuan Kusuma selalu merasa Dizza adalah anaknya sendiri.


Berbeda dengan Zea, ia tidak terima atas perlakuan Baskoro pada Lestari dan Keira, dia tak mungkin menerima Zea sebagai anaknya.


"Aku mau pindah ..."


"Pindah?Ke mana?" Tuan Kusuma merasa bingung.


"Aku ingin tinggal terpisah dengan kalian."


Kusuma memandang Dizza dengan bingung.


Saat itu Lestari masuk ke dalam ruangan Kusuma dan berteriak histeris mendengar Dizza ingin pindah. Keira yang baru saja keluar kamar bergegas menemui mereka.


"Ada apa ini?" tanya Keira.


"Adikmu ingin pindah ...."


"Aku bukan adiknya ...." Dizza meralat.


Kusuma dan Lestari menduga Dizza sudah mengetahui yang sebenarnya. Keira shock, ia tak menyangka Dizza akan berbuat sejauh itu. Kusuma tak bicara apa pun.


"Kamu mau pindah ke mana?" tanya Keira khawatir.


"Kakak nggak perlu menungguku pulang." Dizza berkata sambil berlalu.


Lestari menyusul Dizza keluar dan membujuknya untuk membatalkan kepergiannya. Keira mengikuti ibunya.


"Kenapa Ibu melakukan ini?" tanya Dizza, ia tiba-tiba merasa muak.


"Apa maksudmu? Tentu saja karena ibu mengkhawatirkanmu." Keira menjawab.


Dizza memandang Keira dan Ibu bergantian.


"Lalu mengapa Ibu tidak melalukan hal yang sama saat anak kandung Ibu pergi?"


Keira dan Lestari tertegun. Dizza menatap keduanya.


"Aku akan kembali bila aku sudah bisa mengatur perasaanku." Lalu Dizza berlalu begitu saja. Keira berusaha menenangkan ibunya.


***


Evan mendengarkan setiap kata yang diucapkan pria di hadapannya.

__ADS_1


"Jadi Pak, Tuan Kusuma mengancamnya?"


Pria di hadapannya terlihat bingung.


"Berdasarkan potongan-potongan informasi yang ada, sepertinya seperti itu."


"Cukup sulit mendapatkan informasi dari Nona Besar. Ia jarang sekali bicara. Saat sendirian di dalam mobil, biasanya ia merenung atau tertidur. Saat ia bersama Tuan Kusuma, Ny Lestari atau Nona Kecil, ia hanya menjawab seperlunya."


"Suatu kali saya pernah mengantar Tuan Kusuma dan Nona Besar ke kantor. Tuan Kusuma mengatakan 'Mereka sudah pergi, apa kamu tahu?'


Nona Besar hanya menjawab. 'Aku tidak tahu.' Saya rasa mereka membicarakan kalian."


"Tuan Kusuma memberi perintah bahwa Nona Besar tidak boleh bertemu siapa pun kecuali anggota keluarga, Tuan Bara, dan rekan bisnis yang diketahui Tuan Kusuma. Nona Besar benar-benar tidak bisa pergi ke mana pun dengan bebas. Setiap hari ia hanya ke kantor, rumah dan pergi dengan Tuan Bara. Bila terpaksa harus pergi, Tuan Kusuma atau Tuan Bara selalu menyiapkan orang untuk menemani Nona Besar, tepatnya mengawasi. Bahkan Tuan Kusuma tidak mengijinkan Nona ke rumah sakit, mereka memanggil dokter ke rumah untuk memeriksa luka operasi itu. Waktu Nona Besar pendarahan, ia bersikeras untuk pulang kerumah, sepertinya ia takut ke rumah sakit. Nona Kecil yang bersikeras membawanya ke rumah sakit terdekat. Itu pun kami semua diminta berbohong pada Tuan Kusuma."


"Sebenarnya mengapa Tuan Kusuma melarang ke rumah sakit?" Evan ikut heran.


"Saya mendengar desas desus bahwa ibu Tuan Bara tidak mau ada pemberitaan lagi mengenai calon menantunya. Ia tidak mau publik kembali membicarakannya. Untuk itu dia mengusulkan Tuan Kusuma agar Nona Keira menerima perawatan berjalan di rumah."


"Jadi sebenarnya ia pulang ke rumah dalam keadaan belum sembuh total?" tanya Evan.


Pria di hadapannya mengangguk-angguk.


"Siapa yang mengatakan itu pada Bapak?"


"Setiap ada waktu istirahat para penjaga bergosip seperti perempuan."


"Jadi itu penyebab ia mengalami pendarahan?"


Pria itu terlihat berpikir.


"Setelah keluar dari rumah sakit, saya pernah mengantar Nona ke kantor. Awalnya dia bilang hanya sebentar, ia masuk ke kantor dengan salah satu penjaga. Ternyata ia lama tidak keluar. Penjaga itu mengirim pesan bahwa sepertinya Nona Besar masih lama karena Tuan Kusuma meninggalkan Nona untuk rapat dan Nona masih menunggu di dalam ruangan."


Evan menunggu cerita selanjutnya, pria itu menggeser duduknya.


"Sudah sejam jam berlalu, penjaga itu mengirim pesan agar saya menggantikannya menjaga pintu ruangan Tuan Kusuma karena dia akan ke toilet. Saya naik ke ruangan untuk menggantikannya, tepat saat itu Tuan Kusuma kembali, saat ia membuka pintu, saya melihat Nona Besar berlutut di lantai. Saya masih ingat Tuan Kusuma berteriak marah bahwa Nona bisa terluka."


Evan mendengar keseluruhan cerita dengan tak percaya.


"Saat Nona mengalami pendarahan, saya baru menyadari bahwa mungkin penyebabnya adalah karena dia berlutut lebih dari sejam dalam kondisi belum sembuh total, di tambah lagi dengan perjalanan panjang ke makam ...."


Tiba-tiba Nada masuk ke dalam rumah Evan.


"Kak, aku datang membawa makanan ... Oh maaf aku nggak tahu kalau Kakak sedang menerima tamu," Nada dan pria itu saling pandang. Pria itu tersenyum. Nada memandang Evan penuh tanya.


"Ini Pak Yadi, supir Kusuma sekaligus yang mencari informasi tentang keluarganya."


Nada memandang Evan tak percaya.

__ADS_1


"Kakak mengirim mata-mata di rumah mereka?"


__ADS_2