No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Anak Haram


__ADS_3

"Aku akan dipecat." Keira memberi kabar pada Evan yang menjemputnya.


"Apa artinya kamu menjadi miskin?" tanya Evan.


Keira tertawa seketika.


"Mungkin, akan lebih miskin dari pada kamu yang mengembalikan semua saham Oshi."


Evan menggandeng Keira.


"Nggak apa-apa. Lets Read masih bisa membiayai hidup kita bahkan kalau kita memiliki 2 anak sekali pun!" Evan menghibur.


"Anak siapa?" tanya Keira kesal.


Evan tersenyum jahil, "Anak kita dong sayang ...."


"Kapan aku bilang mau punya anak denganmu?" tanya Keira.


"Hmm, nggak usah bilang juga aku tahu." Evan bersikeras sembari merangkul Keira yang hanya tertawa.


Mereka berhenti di danau buatan milik Kusuma. Keira mengajak Evan duduk menikmati angin.


"Aku bertengkar dengan Dizza di sini." Keira bercerita.


"Aku nggak menyangka, aku sanggup memukulnya." Keira mengingat kejadian itu.


"Mengapa kamu memukulnya?"


"Dia mengatakan kejujuran yang nggak bisa aku terima."


"Tentang apa?" tanya Evan penasaran.


"Menjual diri demi perusahaan." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Keira.


Evan tertegun lalu menatap Keira yang masih memandang gedung Kusuma Centre.


"Lalu sekarang kamu menjual perusahaan demi dirimu," Evan menyambung.


"Kamu mengorbankan perusahaan demi kita?"


Keira tertawa lalu kembali bicara.


"Mungkin dulu aku akan berpikir begitu. Memikirkan diri sendiri adalah egois."


"Lalu mengapa kamu berubah pikiran?"


Keira memandang Evan.


"Karena melihatmu kembali membuatku jadi egois. Aku nggak mau kehilangan dirimu lagi." Keira menjawab jujur.


"Lalu apakah kita sedang bahagia di atas penderitaan ribuan karyawan itu?" Evan menunjuk gedung Kusuma Centre.


Keira menyandarkan kepalanya di bahu Evan. "Mereka benar tentang prosedur penyelamatan itu. Kita harus menolong diri kita dahulu sebelum memakaikan masker oksigen ke orang lain. Aku sekarang melakukannya. Aku sedang berusaha menolong diriku sendiri agar bangkit dan bahagia. Lalu aku akan menolong mereka semua. Semoga aku bisa memakaikan masker oksigen tepat pada waktunya."


"Bersemangatlah, kamu pasti bisa." Kata Evan penuh semangat.


"Mengapa bersandar di bahumu rasanya menyenangkan? Aku mengantuk, " kata Keira sambil menguap.


"Tidurlah ... Oh ya siapa yang memberitahumu tentang prosedur penyelamatan itu?"


"Siapa lagi? Tentu saja adik-adikku. Mereka hebat, kan?"


"Mengapa kamu selalu memuji kedua makhluk itu?"


"Karena mereka adikku!" Keira menjawab pasti sambil tertawa.


Evan ikut tertawa ia cukup bahagia melihat Keira bisa tertawa lagi. Ia menunduk lalu mendaratkan sebuah ciuman. Keira tak membalas, ia memilih tidur.


****


Keira sedang membolak-balik beberapa berkasnya di rumah. Ia merasa bingung karena kehilangan sebuah dokumen.


"Zea, apa kamu melihat Map Kakak yang berwarna merah?" Keira menelpon Nada. Nada berpikir mengingat-ingat


"Map merah, aku nggak ingat, Kak."


Lalu terdengar suara Dizza berteriak dari belakang.


"Apa Kakak mencari map merah yang di apartemen Kak Evan?"

__ADS_1


"Apa Kakak meninggalkannya di sana?" Keira bertanya tak yakin. Ia merasa sudah membereskan semua berkas perkerjaannya dari apartemen itu.


Dizza mengambil alih telepon di tangan Nada.


"Maaf Kak, aku yang menyimpannya karena Kakak meninggalkannya di bawah meja. aku lupa memberi tahu Kakak"


"Di mana kamu menyimpannya?"


"Di apartemen Kak Evan, di atas lemari kamar Kakak. Di dalam kotak sepatu kedua yang berwarna putih!"


"Mengapa kamu menyimpannya sedemikian rupa?" tanya Keira heran.


"Karena kupikir map itu sangat berharga. Maafkan aku." Dizza menjawab lugu.


Keira segera berlari mengambil kunci mobil menuju apartemen Evan. Ia menelpon Evan tapi tak diangkat, ia mengirim pesan.


Aku mampir ke apartemenmu, dokumenku tertinggal di sana.


Evan tak membaca pesan Keira, ia sibuk bekerja di Lets Read, Keira menelpon lagi ketika Evan akan mengangkat telepon, batrai ponselnya habis. Evan mencari charger tapi ia menyadari ia meninggalkannya di apartemen.


"Pak, kami butuh tanda pengenal Bapak untuk memproses kerja sama dengan suplier."


Evan mencari dompetnya, ia baru ingat juga meninggalkannya di apartemen.


Evan segera menuju apartemen. Ia tak menyadari Keira juga sedang berada di apartemennya. Evan masuk ke dalam dan segera mencari dompet dan charger di ruang tengah kemudian ia mendengar suara-suara dari dalam kamar.


Evan berjalan perlahan ke arah kamar Keira dan ia tertegun melihat Keira sedang berdiri di atas kursi, memanjat untuk mengambil barang di atas lemari. Keira tak sadar Evan sedang memandanginya. Ia mengumpat Dizza yang meletakan mapnya di tempat


yang sulit dijangkau.


Keira berjinjit dan tangannya berusaha menggapai map di atas lemari membuat baju atasannya terangkat, memperlihatkan kulit bagian pinggang dan perutnya.


Evan terpana melihatnya lalu Evan menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri.


Keira menoleh dan terkejut melihat Evan, ia tak menyadari sebelah kakinya tak berpijak pada kursi, tubuhnya oleng dan ia nyaris terjatuh.


Evan yang melihatnya akan terjatuh refleks menangkap Keira. Mereka jatuh berpelukan di lantai. Keira mengaduh dan mengumpat kesialannya.


"Apa yang kamu lakukan? Mengapa nggak bilang kalau ke sini?" tanya Evan kesal.


"Apa kamu nggak membaca pesanku?" tanya Keira.


"Ponselku mati, aku mengambil charger dan dompet."


"Aku mengambil dokumen ini, Dizza menyimpannya di atas sana."


Keira berusaha bangun, Evan membantunya, saat itu ia melihat atasan Keira tersingkap memperlihatkan perut Keira dan bekas jahitan luka tusukan.


Keira melihat arah pandang Evan lalu bergegas menutup perutnya tapi Evan perlahan menyingkap kembali atasan Keira. ia bahkan meraba bekas jahitan itu. Luka akibat menyelamatkan Evan.


"Apakah masih terasa sakit?" tanya Evan.


"Nggak. Sudah nggam terasa," Jawab Keira.


Evan memandang Keira dengan serius.


"Lalu bagaimana kalau luka yang di hatimu?" Evan bertanya hati-hati.


Keira memperbaiki posisi duduknya lalu memegang dadanya.


"Terkadang sesekali masih terasa sakit, tapi bukankah itu arti kita hidup? untuk sesekali mengingat rasa sakit?" tanya Keira sembari memandang Evan.


"Aku sudah nggak apa-apa." Keira melanjutkan sambil tersenyum.


Evan menatap Keira, tangannya kembali menyentuh perut Keira, ia mendekat lalu perlahan mencium Keira yang tidak bisa menolaknya.


"Maafkan aku karena melukaimu ...." Evan berkata lirih.


"Aku sudah memaafkanmu," jawab Keira.


Mereka kembali berciuman. Awalnya dengan sangat lembut tapi berubah penuh gairah, Evan mendorong Keira dengan pelan ke tempat tidur.


Mereka masih melanjutkan berciuman lalu Evan memandangi wajah Keira sambil mengulum senyum penuh arti, meminta persetujuan dari wanitanya untuk menyentuh lebih dalam.


Keira perlahan mengangguk, ia mencintai pria di hadapannya, ia tidak akan menolaknya.


Evan kembali mencium Keira dengan lembut, sebelah tangannya menggengam tangan Keira dengan erat, sebelah tangan lainnya berusaha melepas kancing-kancing atasan Keira.


Keira memejamkan matanya menikmati sentuhan Evan, dia lupa bahwa ia sedang terburu-buru mencari dokumen.

__ADS_1


Keira membuka matanya lalu memegang pipi Evan. Ia masih tak percaya Evan benar-benar telah kembali.


"Aku mencintaimu." Keira berbisik.


Evan membalasnya dengan ciuman.


Keira hanyut dalam ciuman itu, ia teringat bagaimana bisa pencarian dokumen berakhir di tempat tidur, lalu ingatannya semakin mundur, ini semua terjadi karena Dizza atau memang takdir? Tiba-tiba ia teringat akan pembicaraan terakhirnya dengan Dizza dan Nada.


Aku hanya nggak pernah membayangkan akan menjadi anak haram.


Kita nggak bisa memilih dari siapa kita lahir, bagaimana kita lahir


Keira tersentak.


Apa yang aku lakukan?


Aku nggak bisa memilih terlahir sebagai anak di luar nikah.


Tapi bukankah aku bisa memilih untuk tidak melahirkan anak di luar nikah?


Aku nggak bisa mencegah orang tuaku melahirkan aku akibat dosa mereka, tapi aku bisa mencegah diriku menjadi orang tua yang melahirkan anak karena dosa.


Keira menatap wajah Evan. Ia sangat mencintainya, tapi hatinya bimbang. Ia tak kuasa menolak Evan.


"Ada apa?" tanya Evan yang menyadari perubahan ekspresi Keira.


Keira menggigit bibirnya lalu mendorong Evan.


"Maafkan aku, " ucap Keira malu. Ia duduk begitu saja.


"Aku ... aku ... nggak bisa melakukannya."


Evan terkejut mendapat penolakan Keira, ia duduk di sebelah Keira.


"Maafkan aku, Van. Aku hanya ...."


"Kamu belum siap?" tanya Evan khawatir, ia mengira Keira teringat traumanya.


"Maafkan aku bila menyakitimu ...."


"Bukan. Aku baik-baik saja. Hanya saja ... aku ... aku merasa bersalah bila melakukannya sekarang." Keira berkata jujur.


Evan memandang Keira yang membuang muka.


"Apa kamu akan meninggalkanku karena hal ini?" tanya Keira to the point.


Evan tertawa, ia berusaha memadamkan perasaannya. Evan merapikan kembali atasan Keira hingga menutupi bahunya kembali.


"Aku nggak akan meninggalkanmu! Kembalilah ke rumah, bawa dokumenmu. Maafkan aku." Evan berkata tulus.


Keira menatap Evan takjub.


"Kamu nggak tersinggung, kan?" Keira memastikan.


"Pergilah sebelum aku berubah pikiran."


Keira tertawa lalu secepat kilat ia mengambil dokumen dan berlari menjauh dari Evan sambil memasang kembali kancing bajunya yang terbuka.


Evan tersenyum sendiri, baru beberapa detik berlalu, Keira kembali lagi.


"Aku mencintaimu." katanya sambil mengedipkan mata.


Evan tertawa lalu berbaring kembali.


Ternyata yang aku cintai adalah wanita dewasa.


Sungguh dia jauh lebih dewasa dari aku.


Seketika aku merasa kekanakan


dan bahagia.


Keira mengemudikan mobilnya dengan hati lega.


Terima kasih sayang, kalian menyelamatkanku lagi.


Terima kasih cinta karena mencintaiku apa adanya.


Keira pulang membawa setumpuk kertas dan kebahagiaan.

__ADS_1


**


__ADS_2