No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
NRWT 2: Ulang Tahun


__ADS_3

Nada merenung di tempat persembunyiannya, sebuah rumah kecil yang dia sewa untuk menjauh sementara.


Sebenarnya dia merasa bersalah tapi karena gengsi dia enggan mengunjungi Keira apalagi Dizza. Alih-alih meminta maaf, dia justru sengaja mengabaikan semua pesan dari kakaknya.


Saat sedang melamun menatap ponselnya yang beberapa hari dia matikan, terdengar gedoran di pintu. Dahi Nada perlahan mengerut, setengah waspada dia berteriak, "Siapa?"


Tapi tak ada jawaban melainkan gedoran yang semakin keras, Nada merasa pintunya sedang ditendang hingga emosinya meningkat. Sambil menghentakan kaki, Nada membuka pintu secara tiba-tiba. Sontak penendang pintunya terjerembab masuk ke dalam rumah.


"Brengsek kamu, Nad!" Suara makian melengking di malam yang tenang.


Nada berkacak pinggang, matanya melotot menatap Dizza yang berusaha berdiri.


"Kamu yang brengsek, kenapa menggedor rumah orang?!"


"Kalau nggak digedor, memangnya kamu mau buka pintu?" tanya Dizza sambil mengamati rumah.


"Manager nggak bertanggung jawab, bisa-bisanya kamu ninggalin cafe tanpa kabar. Mau dituntut?" omel Dizza kesal.


"Kamu tahu dari mana aku tinggal di sini?" tanya Nada mengalihkan pembicaraan.


"Apa yang Dizza nggak tahu? Cuma nyari kamu nggak butuh keringat, Nad!" sombong Dizza sambil menghempaskan diri di lantai. Padahal Dizza mengerahkan semua kemampuannya untuk mencari Nada.


"Ngapain sih, minggat segala, Nad?" tanya Dizza.


"Siapa yang minggat?"


"Terus apa namanya kabur tanpa kabar? Kamu tuh nggak kasihan sama kakak? Dia nyariin kamu sampe sakit lagi. Kamu kan, tahu selama hamil dia nggak boleh stres."


"Kakak sakit? sekarang gimana?" tanya Nada cemas.


"Kalau khawatir, kamu tengoklah," kata Dizza kesal sampai matanya melotot tajam.


Nada tak berkomentar, dia jelas khawatir tapi dia masih enggan bertemu anggota keluarganya.


"Salah kakak ke kamu itu apa?" tanya Dizza lagi.


Nada tahu Keira tidak bersalah, dia yang memiliki perasaan sensitif dan iri pada kehidupan Dizza yang sebenarnya tidak memiliki hubungan darah tapi lebih dekat dengan kakak dan ibunya daripada dia yang justru memiliki hubungan darah.


"Kekanakan banget kamu, Nad!" kata Dizza.


Nada menatap Dizza dengan kesal lalu membuka pintu lagi, "Pulang deh, Za. Aku mau menenangkan diri, bukan dengerin ceramah kamu!"


Dizza bergeming hingga Nada menjerit kesal, "Pulang, nggak?!"


"Dasar egois!" Dizza mengumpat.


Nada hampir membanting pintu tapi daun pintu tertahan oleh sebuah tangan dan sebuah suara mengagetkannya.


"Kalau marah itu jangan terlalu pake urat, Nad!"


Nada menoleh lalu seketika terkejut karena di depannya berdiri Evan bersama Keira yang sedang membawa kue ulang tahun.


"Kakak?"


"Happy birthday sayang!" ucap Keira sambil tersenyum manis.


Nada tak mampu berkomentar, dia bahkan tak ingat kalau hari ini dia berulang tahun.


"Happy birthday, Nad!" Dizza menepuk punggung Nada sambil tertawa.


"Kakak nggak boleh masuk, nih?" tanya Keira.


Nada segera menyingkir memberi jalan untuk Keira dan Evan lalu pasrah mengikuti Dizza yang menggiringnya ke sebelah Keira untuk meniup lilin.


"Buat permintaan dulu, Nad!" Dizza mengingatkan, Nada hanya memelototinya lalu mengucap permintaan dalam hati sambil meniup lilinnya.


"Kak, aku ...."

__ADS_1


Keira menyerahkan kue kepada Dizza lalu menyentuh rambut Nada sambil tersenyum,


"Jangan marah lagi, ya?" pinta Keira kemudian dia memeluk Nada dengan rasa sayang sembari berbisik, "Kamu mau hadiah apa?"


Nada tersenyum, melepas pelukan Keira lalu menyentuh perutnya," Keponakan." jawabnya ringan.


"Jaga kesehatan, Kak. Ngeliat Kakak sehat, hidup bahagia itu sudah hadiah buat aku. Jangan cemaskan aku, oke?"


Dizza seketika tersedak lalu mencibir,"Sok manis, kamu, Nad! Baru aja beberapa hari lalu kamu bikin Kakak sakit!"


"Za!" Evan menegur Dizza kemudian menimpali, "Emosi kamu tuh, Nad, lain kali dijaga." katanya sembari mengacak rambut Nada hingga Keira tertawa.


Nada mengerucutkan bibirnya karena merasa bersalah, lalu dengan malu-malu dia menatap Keira, "Kak, maaf ya. Aku nggak bermaksud begitu sama Kakak. Aku ...."


"Nih, kado buat kamu!" lagi-lagi Dizza menyela sembari menyerahkan sebuah kotak yang tidak dibungkus.


"Ngasih kado romantis sedikit, Za! Masa nggak dibungkus, sih?"


"Boro-boro bungkus, aku nyampe sini aja sudah syukur. Kakak nggak sabaran nungguin aku pengen cepat ketemu kamu!"


Nada menggaruk kepalanya lalu teringat bahwa semua tamunya masih berdiri, sambil nyengir dia mempersilahkan semuanya untuk duduk.


"Makanan datang!" tiba-tiba Dizza


berseru nyaring lalu berjalan menuju pintu untuk menemui kurir makanan. Berikutnya mereka semua duduk di lantai sembari menikmati makanan yang dipesan Dizza sembari bercanda dan tertawa.


Nada merasa sangat bahagia walau hati kecilnya bertanya-tanya kemana perginya Lestari.


"Zea, kamu balik ke cafe, ya?" pinta Keira saat hanya tinggal mereka berdua di dalam rumah. Evan sudah lebih dulu menuju mobil sementara Dizza menunggu Keira di depan pintu.


"Iya, nanti aku balik. Kakak nggak


usah khawatirkan aku, aku ..."


"Bagaimana bisa Kakak nggak mengkhawatirkan kamu?" tanya keira dingin.


"Kamu tahu kalau yang terancam bukan cuma kakak, kan, Zea? Dia... walaupun dia ayah kandungmu, dia bisa menyakiti kamu juga. Kakak nggak mau kamu kenapa-kenapa,"


"Nanti aku kembali, Kak," Zea mengalah karena tidak mau membuat Keira gelisah.


Keira perlahan tersenyum lalu memeluk Nada, "Kakak pulang ya, kamu beneran nggak mau hadiah apa pun?"


"Ibu," jawab Nada pendek. Keira seketika terdiam tapi Nada tiba-tiba tertawa.


"Aku tahu ibu nggak pernah ingat hari ulang tahun anak-anaknya, jangan cemas Kak, aku cuma bercanda. Titip salam untuk ibu, ya?"


Keira tersenyum lalu meletakkan sebuah amplop di lantai.


"Apa ini, kak?"


"Hadiah," jawab Keira singkat lalu berdiri untuk pulang.


"Zea, kamu tahu Kakak sayang kamu, kan?" tanya Keira sebelum meninggalkan Nada.


Nada seketika tertawa lalu mengangguk, "Tahu, Kak! Udah ah, jangan mendramatisir! Kakak pulang aja, istirahat."


Keira memeluk Nada sekali lagi lalu berbisik, "Jangan pernah berpikir yang aneh-aneh. Kalau kamu tahu Kakak sayang sama kamu, cukup ingat Kakak tiap kali kamu mau bertingkah aneh. Kakak nggak akan bisa hidup tenang kalau kamu kenapa-kenapa."


"Bertingkah aneh gimana, Kak?" tanya Nada tanpa rasa bersalah.


Keira melepas pelukan lalu menarik telinga Nada."Besok pulang! Bawakan Kakak makanan dari cafe ke rumah. Kalau kamu nggak datang, Kakak akan minta Dizza membakar tempat ini!"


Nada menatap Keira dengan mata melotot, "Kakak beneran mirip Kusuma!" katanya tanpa sadar membuat Dizza tertawa.


"Like father like daughter!" seru Dizza.


Keira hanya tertawa lalu meninggalkan Nada yang menatapnya berjalan beriringan dengan Dizza. Hatinya kembali merasa kosong saat meilhat Dizza dengan manja bergelayut di lengan Keira.

__ADS_1


Like father, like daughter


Ucapan Dizza yang dilontarkan tanpa sengaja terngiang di telinga Nada dan seketika ekspresinya berubah.


Sementara Keira berjalan tanpa ekspresi, dia teringat bahwa ibunya tak pernah sekalipun melupakan hari ulang tahunnya.


**


Nada baru saja akan membuka amplop yang ditinggalkan Keira ketika terdengar ketukan di pintu kagi, mengira yang datang adalah Dizza, Nada segera membuka pintu tapi tak ada seorang pun di luar melainkan hanya sebuah kotak kecil yang diletakkan di depan pintu.


Lagi-lagi dahi Nada berkerut memandang kotak bertuliskan sebuah ucapan.


"Selamat ulang tahun anakku."


Dengan senyuman lebar Nada mengambil kotak itu lalu menutup pintu dengan riang.


Nada duduk bersandar menatap ponsel pemberian Dizza dan tiket liburan dari Keira. Terakhir Nada menatap kotak yang ditinggalkan di depan pintunya. Sambil mengulum senyum, Nada membuka kotak kecil itu lalu matanya menyipit.


Sesaat Nada mengerutkan dahi, bingung.


Ditatapnya sekali lagi kotak kecil yang tidak berisi apa pun selain selembar kartu bertuliskan sebuah pesan.


"Darah tidak akan pernah salah."


Tiba-tiba terdengar suara halus di pintu, Nada seketika duduk tegak karena merasa ada yang masuk ke dalam rumahnya. Perlahan dia berdiri tapi detik berikutnya dia hanya bisa memekik kaget dan jatuh pingsan.


**


"Ibu keterlaluan!" Keira meradang saat melihat Lestari sedang sibuk di dapur untuk membuatkannya dimsum padahal hari sudah sangat larut.


."Kamu kenapa, sayang? Jangan marah-marah, kandungan kamu itu ...."


"Bu, berhenti terlalu mencemaskan aku!" jerit Keira kesal.


Lestari terdiam lalu meletakkan dimsum di dekat Keira.


"Bagaimana Ibu tidak cemas, ini sudah hampir tengah malam dan kamu bukannya tidur malah datang marah-marah. Jelaskan ada apa, Keira? Atau, makan dulu ini, kemarin kamu bilang kangen dimsum buatan ibu, kan?"


Keira menatap dimsum di meja dan seketika hatinya bertambah perih. Lestari selalu menuruti semua permintaannya tapi Ibunya nyaris tidak pernah memberikan apa pun pada Zea.


"Bu, kapan hari ulang tahunku?" tanya Keira membuat Lestari heran.


"Kamu kenapa, Keira? Ibu ingat hari ulang tahunmu, jangan khawatir. Mengapa kamu menanyakannya sekarang?"


Keira hanya terdiam hingga Lestari tertawa, "Ah, kamu ini, sudah sebesar ini dan hampir menjadi seorang ibu masih memikirkan ulang tahun. Tenang saja, Ibu nggak pernah lupa hari ulang tahunmu. Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?"


Keira tertawa sinis dan kembali bertanya,"Lalu bagaimana dengan hari ulang tahun Zea?"


Lestari seketika terdiam lalu begitu menyadari bahwa hari itu hari ulang tahun Zea, dia tergopoh mencari ponselnya.


"Ah, maafkan Ibu lupa. Ibu akan menelponnya," Lestari segera menekan nomor telepon Zea


Keira masih menanti kesungguhan ibunya menelpon Zea, tapi hingga lima kali


panggilan, teleponnya tak diangkat.


"Aneh, kemana anak itu?" tanya Lestari heran.


Keira menatap ibunya lalu melirik jam di tangannya, "Lima menit lagi ulang tahunnya berlalu," kata Keira dingin.


Lestari mendongak menatap Keira yang tidak bisa menyembunyikan kemarahannya.


"Selama dua puluh empat jam ini, apa saja yang Ibu lakukan?" tanya Keira masih dengan nada datar.


"Keira, Ibu ...."


"Bu, dia masih anak Ibu!" seru Keira sambil menghentakan kaki dan pergi meninggalkan Lestari yang terduduk dengan lemas.

__ADS_1


"Zea, maafkan Ibu," lirihnya sambil kembali mencoba menelpon Nada.


__ADS_2