No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Perpisahan


__ADS_3

"Sungguh tidak adil!" Dizza menjerit-jerit histeris membaca berita di koran.


Putri Group Kusuma berbagi kasih dengan para penghuni panti jompo.


Di tengah meluasnya kabar ia menjadi wanita simpanan, ternyata Keira berada di pinggiran kota untuk berbagi kasih dengan orang-orang tua. Di tengah keterbatasannya yang belum pulih pasca insiden penusukan oleh saingan bisnis Kusuma, ia tetap membantu orang-orang yang membutuhkan.


Dizza menununjukan foto Keira yang tertawa dengan penghuni panti jompo.


"Aku yang bersusah payah, Kakak yang disorot!"


Keira tertawa melihat kekonyolan Dizza. Berita itu dibuat memang untuk mengimbangi berita buruk tentang dirinya sebelum mereka bertemu langsung dengan wartawan saat konfrensi pers.


"Kak, apa sudah siap?" Dizza terlihat khawatir.


Keira mengangguk, ia sedang menunggu Bara menjemputnya, mereka akan segera mengakhiri rumor itu hari ini.


"Sayang, kamu ingin pergi sekarang?" Bara bertanya pada Keira. Ia sedang memakai dasi karena terburu-buru ia tak sempat memakainya dari rumah.


Keira berdiri lalu segera membantu Bara memakai dasi dengan benar. Bara menatap wajah Keira yang sangat dekat dengannya. Dizza segera pergi, entah mengapa ia menjadi tak suka melihat kedekatan Keira dan Bara.


"Apakah saat koma ia mengikuti kelas akting di alam bawah sadar?" Dizza menggerutu.


Bara masih menatap wajah Keira lalu ia memegang tangan Keira yang masih merapikan dasinya.


"Ada apa?" tanya Keira.


Bara mengeluarkan cincin pertunangan mereka yang dulu dilepas Keira. Perlahan ia mengambil tangan Keira lalu memasangkannya kembali di jari manis Keira.


Keira tersenyum."Terima kasih karena menerimaku kembali," ucap Keira tulus.


"Aku tahu hatimu belum sepenuhnya menjadi milikku. Tapi karena sebentar lagi kita akan menikah, aku akan memiliki dirimu seutuhnya. Aku nggak akan melepaskanmu lagi. Jadi kumohon, walau kamu belum membuka hatimu, jangan lari, jangan pergi lagi."


Keira menatap Bara lalu tersenyum.


Aku sudah tidak punya tujuan untuk lari. Langkahku akan berhenti disini.


Aku akan belajar membuka hatiku.


Bara mendekat lalu mencium kening Keira.


"Eeheeem!" Dizza muncul kembali. Bara refleks menjauh dari Keira tapi Keira malah berpura-pura tak mendengar kehadiran Dizza, ia menarik Bara dan mencium bibirnya.


Bara dan Dizza terkejut. Bara sampai melotot karena kaget. Namun detik berikutnya ia menikmati ciuman itu dan membalasnya. Mereka berciuman seolah-olah Dizza tak berada di sana.


Dizza membuka mulutnya karena terkejut, ia tak pernah melihat kakaknya melakukan hal itu di rumah.


"Sungguh tidak pantas!" Dizza mengumpat, menutup matanya lalu pergi. Ia berpapasan dengan ayah dan ibunya yang akan masuk ke ruangan tempat Keira dan Bara berciuman.


"Jangan ke sana!" Dizza menghalangi kedua orang tuanya.


"Ada apa?" tanya Ny Lestari bingung.


"Pokoknya jangan ke sana, sungguh memalukan!"


"Ada apa?" tanya Tuan Kusuma kesal.


Ibu berhasil melewati Dizza dan saat melihat Bara dan Keira, ia segera berbalik, ia menarik tangan Kusuma.


"Kita tunggu di luar saja."


Bara tersenyum memandangi wajah Keira lalu ia kembali mencium kening Keira sebagai penutup.


Keira juga tersenyum. Ia melirik ke arah Dizza dan kedua orang tuanya. Ia tahu bahwa ia membuat tontonan yang tak pantas di lihat mereka, tapi ia yakin, itulah yang ingin mereka lihat.


*


Bara melindungi Keira dari serbuan para wartawan. Ia tak menjawab satu pun pertanyaan mereka. Dari arah berlawanan, Evan datang. Sesaat mereka saling pandang sampai Bara merangkul Keira dan mengajaknya masuk ke ruangan lebih dulu.


"Jadi apakah rumor itu tidak benar?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak benar. Keira adalah wanita baik-baik." Bara menjawab.


"Apakah kalian masih bertunangan?"


"Tentu saja, hubungan kami baik-baik saja. Kami bahkan akan segera menikah." Bara mengangkat tangannya dan Keira, menunjukan cincin pertunangan mereka.


"Nona Keira, apa anda bisa menjelaskan mengapa ada begitu banyak foto kebersamaan anda dengan Tuan Evan? Apakah benar anda memanfaatkan pesona anda sebagai wanita untuk merayu pewaris grup Oshi?"


"Tidak benar. Nona Keira tidak pernah merayu saya. Hubungan kami sebatas rekan bisnis. Foto-foto itu tentu saja foto saat kami bertemu membicarakan bisnis." Evan menjawab.


"Tapi mengapa anda berdua bertemu di luar kota bahkan apartemen?"


Keira dan Evan teringat bahwa mereka pernah bertemu di luar kota saat dia mengunjungi panti asuhan Zea.


"Mereka tidak berdua. Saya ada disana." Bara menjawab, ia menunjukan foto saat ia dan Keira menghabiskan waktu di tempat yang sama.


"Lalu mengapa anda berdua berada di apartemen Evan?"


Sejenak hening.


"Mereka tidak berdua. Saya berada di sana." Tiba-tiba Nada muncul di hadapan publik.


Keira kaget melihat Zea. Wartawan itu beralih pada Nada.


"Siapa anda? Apa hubungan anda dengan Tuan Evan?"


Nada menatap Keira lalu menjawab, "Saya adalah orang yang selama ini hidup bersama Evan."


Suasana menjadi riuh, mereka tak tahu bahwa Evan ternyata memiliki kekasih.


"Apa kau kekasihnya atau tunangannya?"


Nada masih menatap Keira dengan tajam.


"Kami akan segera bertunangan."


"Apakah ini hanya settingan untuk membersihkan nama Nona Keira? apakah anda benar kekasih Evan?"


"Nona Keira, mengapa anda tidak berkata apa pun? Apa ada yang ingin anda sampaikan?" para wartawan itu masih mengejar jawaban Keira.


"Maaf, dia masih dalam pemulihan. Saya rasa semua sudah cukup jelas. Terima kasih atas kehadiran kalian semua, kami mohon pamit." Bara mengajak Keira pergi lebih dulu.


Keira memandang Zea lalu ia memakai kacamata hitamnya untuk menghindari kilatan cahaya kamera. Ia mengikuti langkah Bara, meninggalkan Zea, Evan dan pata wartawan.


"Tuan Evan, apakah anda benar-benar tidak memiliki perasaan apa pun pada Nona Keira?"


Sejenak Evan terdiam, para wartawan itu masih memburunya meskipun Keira dan Bara sudah pergi.


"Tidak ada. Saya tidak memiliki perasaan apa pun padanya."


KLIK.


Dizza mematikan layar televisi.


"Mengapa mereka semua menjadi gila?" Ia menggumam tak jelas.


"Siapa yang gila?" tanya Ny Lestari.


"KAKAK!" Dizza ingin meneriakan isi hatinya, tapi ia diam saja.


"Apakah konfrensi pers itu sudah ditayangkan? Ibu belum sempat melihatnya."


"Sudah, lebih baik tidak usah melihat. Yang penting semua baik-baik saja." Jawab Dizza.


Ny Lestari memandang Dizza dengan heran, akhir-akhir ini ia merasa Dizza menjadi pemarah.


"Hey, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ibu.


Beeep.Beeep. Dizza mengabaikan pertanyaan ibu untuk membaca pesan yang masuk.

__ADS_1


Kami akan segera pergi. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.


Dizza membaca ulang isi pesan dari Nada lalu ia melompat berdiri.


"Bu, aku harus segera pergi?"


Dizza melesat bagai anak panah, ia menelpon Keira tapi tidak diangkat. Ia menelpon berkali-kali tapi Keira tetap tidak mengangkatnya. Akhirnya saat berhenti di lampu merah, ia mengirim pesan singkat.


Nada benar-benar akan segera pergi. Apakah Kakak tidak ingin bertemu dengannya?


Sepanjang jalan menuju Lets Read, Dizza menantikan telepon dari Keira, tapi hasilnya nihil.


Dizza sampai di depan Lets Read, ia mengambil ponsel dan ternyata ada pesan masuk.


Sampaikan salam Kakak padanya, terima kasih atas darah yang ia donorkan.


"Apa orang ini benar-benar Kakak?!" Dizza berteriak marah, ia menelpon Keira berulang-ulang. Sebuah pesan kembali masuk.


Maaf Kakak sedang rapat, nanti Kakak akan menelponmu.


Dizza menghela napas kesal lalu dengan langkah gontai ia masuk ke dalam Lets Read mencari Nada dan Evan.


"Kalian benar-benar akan pergi?"


Nada tersenyum pada Dizza, ia melihat ke belakang Dizza berharap Keira atau ibunya datang untuk terakhir kali.


Dizza melihat arah pandang Nada, ia tahu Nada kecewa. Ia memegang kedua lengan Nada.


"Ahhh mengingat bagaimana hubungan kita saat pertama kali bertemu, aku sungguh malu mengatakan ini. Aku akan merindukanmu."


Nada tertawa.


"Kita bukanlah teman dekat, tapi aku pasti akan mengenang waktu saat bersamamu."


Keduanya tertawa lalu berpelukan.


"Maafkan aku karena nggak bisa membantu memperbaiki hubungan kalian, ada sesuatu yang sepertinya merubah Kakak."


"Kamu lebih cocok jadi adiknya dari pada aku ...." Nada berkata lirih.


"Setelah bangun dari koma, ia memang menjadi sedikit aneh, aku akan terus memberimu kabar."


Nada menggeleng.


"Selama dia hidup dengan baik dan bahagia di sini, aku nggak perlu mendengar tentangnya. Aku percaya kamu akan menjaga dia dan ibu."


Dizza ingin menangis, tapi ia menahannya. Seumur hidup ia mengenal kakak dan ibunya sebagai orang baik. Ia menganggap mereka seperti malaikat, tapi hari ini malaikat itu seakan telah pergi.


Pria yang menusuk Keira memang tak berhasil membunuh raganya, tapi bagi Dizza ia telah membunuh jiwa Keira. Dizza beralih mendekati Evan.


"Kak, apa yang telah ayah lakukan padamu di masa lalu, kumohon maafkanlah dia."


Evan tersenyum.


"Maafkan aku karena pernah memanfaatkan kalian berdua sebagai alat untuk mengancam Keira. Mengingat dia dulu rela mengorbankan segalanya demi kalian, aku masih tak percaya dia tega berbuat seperti ini." Evan melirik Nada.


"Badai pasti berlalu. Aku akan berusaha mengagalkan pernikahan mereka, kalau mereka sampai menikah, aku akan membuat mereka bercerai." Dizza berkata lantang. Evan dan Nada tertawa.


"Kalau itu membuatnya bahagia, biarkan dia hidup bahagia." Kata Evan berusaha ikhlas.


Dizza teringat saat Keira mencium Bara. Dizza bukanlah gadis bodoh yang gampang tertipu.


"Dia hanya pandai berakting."


"Kami harus segera pergi." Nada mengingatkan.


Dizza memeluk mereka berdua.


"Aku merasa kehilangan kalian."

__ADS_1


Waktu berganti, musim berganti. Apakah hubungan kakak beradik juga bisa berganti?


__ADS_2