No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Malaikat dan Iblis


__ADS_3

Kusuma termenung di kantornya, Baskoro telah mendekam di penjara atas penculikan dan percobaan pembunuhan terhadap Keira. Nama Ny Leah diselamatkan atas imbalan jasa Grup Oshi menjadi investor utama proyek mega hotel. Evan masih menjadi salah satu pemegang saham di perusahaan itu, ia berjanji akan meninggalkan negara ini setelah mereka menggelar konfrensi pers bersama Keira dan Bara untuk membersihkan nama Keira.


Kusuma sudah bertemu dengan keluarga Wijaya dan meyakinkan mereka bahwa rumor yang beredar tidak benar. Mereka tidak boleh menarik investasi di proyek itu. Keira harus tetap menikah dengan Bara.


Itulah salah satu alasan Kusuma melarang Keira keluar rumah, selain karena takut Baskoro kembali berulah melalui anak buahnya, ia juga takut Keira kembali bertemu Evan. Yang membuatnya heran adalah Keira terlihat biasa saja walaupun ia tahu maksud Kusuma.


"Bu, kami pergi dulu ya." Dizza berpamitan pada ibunya.


"Bu, kami pergi." Keira juga pamit.


"Jaga diri baik-baik. Jangan lupa minum obatmu. " Ny Lestari melambaikan tangan saat Keira dan Dizza masuk ke dalam mobil.


"Kalian tahu apa yang akan Tuan Kusuma lakukan kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka?"


"Kami mengerti, Bu." Beberapa pengawal menunduk lalu masuk ke mobil lain.


"Ah, sangat tidak menyenangkan. Pergi ke makam saja seperti iring-iringan mengantar jenazah!" Dizza menggerutu.


Keira tak menanggapi. Ia menatap ponsel barunya yang hanya memiliki kontak Kusuma, Bara, ibunya, Dizza, dan beberapa pengawal. Mereka sedang dalam perjalanan menuju makam Dany, ayah yang selama ini Keira kenal sebagai ayah kandungnya.


Setiap tahun Keira selalu berkunjung ke makam yang terletak di pinggir kota. Kusuma sebenarnya kali ini tidak mengijinkan Keira pergi, namun saat Keira memohon bahwa itu adalah satu-satunya cara ia berbakti pada ayahnya yang sudah tidak ada, Kusuma memberi ijin.


Mereka harus segera kembali walaupun sudah malam. Perjalanan itu memakan waktu lebih dari 3 jam karena pemakaman itu benar-benar terpencil.


Sepanjang perjalanan Dizza hanya bermain dengan ponselnya, menelpon teman-temannya atau mendengarkan musik. Ia berusaha membuat Keira kesal namun kakaknya hanya menatap jalanan tanpa bicara. Dua jam sisa perjalanan, Keira malah tertidur.


Dizza selalu senang bila ikut Keira berkunjung ke makam ayahnya. Suasananya dekat dengan sebuah desa kecil yang asri. Hampir tidak ada mobil, hanya sepeda dan motor yang lewat. Suasananya menjadi tenang, terlebih saat di makam.


"Kamu nggak harus ikut ke dalam." Keira berjalan pelan menyusuri makam-makam lain.


"Tidak, aku nggak mau menunggu di luar." Dizza menyilangkan tangannya di dada.


"Sedikit horor," katanya sambil menggandeng Keira.


"Kalian jangan ikut ke dalam!" Dizza mengancam beberapa pengawal.


"Tapi Nona ...."


"Apa kamu tidak bisa menghormati orang lain yang berdoa? Kalian pikir ini tempat wisata, beramai-ramai masuk?"


"Biarkan saja mereka." Keira terus berjalan.


"Kamu saja yang menemani kami, yang lain tunggu di sini!" Dizza menunjuk seorang penjaga yang paling tua.


Penjaga yang lain terpaksa menurut, setelah agak jauh mereka menggerutu.


"Mengapa Nona kecil itu lebih mengerikan dari ayahnya?"


"Ah, kacamataku ketinggalan. Pak tolong ambilkan di mobil." Dizza memberi perintah pada penjaga tua yang mengawal mereka.


Penjaga itu segera pergi mengambilnya di mobil. Keira dan Dizza terus berjalan lalu langkah Keira terhenti ketika ia melihat seseorang lebih dulu mengunjungi makam ayahnya. Keira memandang Dizza yang merasa tak bersalah.


"Dia juga berhak berkunjung, kan?" tanya Dizza.


Keira diam mematung melihat Nada duduk menatap makam pria yang ia ingat sebagai ayahnya.


"Bagaimana keadaanmu?" Keira membuka percakapan sembari menaburkan bunga, ia hanya berdiri karena ia belum bisa duduk bersimpuh.

__ADS_1


"Apa Kakak baik-baik saja?" tanya Nada.


Keira mengangguk pelan.


"Zea ...." Keira ingin mengatakan sesuatu tapi Nada lebih dulu bicara.


"Aku ingat suatu hari ayah pulang membawa dua es krim. Coklat dan stroberi."


Keira diam mendengarkan.


"Aku menjatuhkan es krim stroberiku. Kakak masih ingat?"


Keira tentu saja mengingat semua kenangannya bersama Zea.


Es krim stroberi itu jatuh dan Zea menangis, dia tidak mau es krim yang jatuh. Keira menukarnya. Ia memberikan es krim coklatnya pada Zea lalu ia memakan es krim stroberi yang jatuh.


"Kakak bilang es krim stroberi itu enak. Aku jadi penasaran dan menginginkannya juga."


Keira masih mendengarkan.


"Tapi kakak malah menghabiskan es krim itu sendirian hingga aku marah pada Kakak, aku membuang es krim cokelat kesukaan Kakak."


Nada berdiri lalu menatap kakaknya.


"Waktu aku merengek meminta es krim stroberi itu kembali, mengapa Kakak tidak menjelaskan kalau es krim itu berbahaya? Mengapa Kakak menelan sampah itu sendirian hingga malamnya Kakak diare? Mengapa kakak harus memakan es krim itu?"


Keira terlihat tenang.


"Mungkin karena dulu Kakak bodoh," jawab Keira santai tanpa emosi sedikitpun.


"Kak, apa ada sesuatu yang Kakak sembunyikan lagi?"


"Kakak senang kamu masih hidup. Zea, teruskan hidupmu. Kembalilah ke luar negeri, teruskan mimpimu. Kakak akan melanjutkan hidup Kakak. Bisa, kan?"


Nada memandang Keira tak percaya.


"Kakak nggak ingin aku di sini? Apakah Ibu nggak mau mengakuiku?"


Keira memandang nisan ayahnya.


"Zea, setelah semua yang kita lewati, Kakak menyadari banyak hal. Waktu yang sudah kita lewati tak akan pernah kembali. Kita sudah menjalani kehidupan yang berbeda selama 13 tahun ini. Kakak bersyukur bahwa kamu masih hidup, itu membuang salah satu beban berat Kakak."


"Beban berat? Apa selama ini Kakak mencariku hanya karena merasa bersalah?"


"Zea, kita akan bahagia kalau kita kembali ke kehidupan masing-masing. Mari kita berhenti di sini. Sudah cukup bagi Kakak mengetahui bahwa kamu baik-baik saja."


Nada perlahan melepas tangan Keira, ia menahan air matanya.


"Ternyata aku telah kehilangan Kakak yang dulu selalu kuanggap sebagai malaikat."


Nada meninggalkan Keira setelah berkata pelan, "Semoga kamu bahagia."


Keira tak mau melihat kepergian Nada, ia hanya memandang nisan ayahnya.


Bukankah jarak antara malaikat dan iblis itu sangat dekat? Kau bisa menjelma menjadi malaikat, lalu berubah menjadi iblis. Tapi saat kau menjadi iblis, butuh ribuan waktu untuk mengubahmu menjadi malaikat. Saat itu terjadi, mungkin dunia ini sudah berakhir.


Keira berjalan meninggalkan makam dalam diam, tak peduli pada Dizza yang terus menatapnya dengan heran.

__ADS_1


*


"Stooop!" Dizza memerintahkan supir untuk berhenti, mobil iringan pengawal ikut berhenti. Dizza menyeka keringat dingin di dahi Keira.


"Kak, Kakak nggak apa-apa?" tanya Dizza khawatir. Keira menggeleng. Ia membuka kaca mobil dan membiarkan udara luar masuk. Perutnya mendadak terasa mual.


"Ada apa, Nona?" tanya supir dengan gelisah.


Dizza melihat ke sekelilingnya, mereka sedang berada di pintu masuk sebuah desa.


"Kita ke sana dulu, tanyakan apa ada tempat yang bisa digunakan untuk istirahat, sepertinya Kakak tidak enak badan."


"Baik, Nona."


Rombongan Dizza berhenti di sebuah rumah kepala desa. Wanita pemilik rumah menyambut mereka dan memberikan satu kamarnya agar Keira dan Dizza bisa beristirahat.


Dizza menelpon ibunya dan mengabarkan bahwa mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan pulang. Keira meminum obatnya lalu tertidur. Ia terbangun saat malam hari, para penjaga sedang tertidur karena kelelahan. Keira berjalan-jalan di sekitar desa untuk menenangkan diri.


"Apa kamu akan mengorbankan diri lagi?"


Keira tersentak, ia mengenali suara itu.


"Kamu mengikuti kami?" Keira menatap Evan.


Evan tak menjawab, ia mendekati Keira.


"Aku memohon padamu untuk melanjutkan hidup dan melupakan aku, tapi haruskah kamu berbuat setega itu pada Nada?"


Keira tak menanggapi Evan, dia berjalan melewati Evan.


"Tunggu." Evan mencegat Keira.


"Aku minta maaf, aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk melupakanmu, tapi aku tidak bisa. Keira, apakah kamu membenciku? Kumohon jangan lakukan hal buruk pada Nada, apa salah dia hingga kamu tega mengusirnya jauh darimu?"


"Kita semua salah. Kita semua terlahir ke dunia yang salah. Dunia ini bukan tempat kita bersama. Aku sudah memaafkanmu dan melupakan semuanya. Aku akan memulai lembaran baru dan aku tidak ingin mengenang apa pun dari masa lalu!"


"Tapi Nada ...."


"Tolong jangan campuri urusan pribadi kami. Aku nggak bisa melanjutkan hidup dengan baik bila kalian terus menjadi bayang-bayang!"


"Apa yang membuatmu berubah?" tanya Evan.


Keira tak menjawab, ia berjalan pergi.


"Mengapa kamu menyelamatkan aku?" tanya Evan.


Keira berbalik lalu memandang Evan.


"Mungkin karena aku bodoh. Maafkan aku mengatakan hal ini, tapi ketika aku tidak sadar, aku berjanji bahwa jika aku punya kesempatan hidup, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."


Evan terkejut mendengarnya. Keira berjalan tanpa menoleh lagi. Meninggalkan Evan yang tak menyangka Keira telah berubah dengan cepat.


Ketika kamu memilih menjadi iblis, akan sulit kembali menjadi malaikat. Tapi bukankah dunia akan lebih mudah membenci iblis dari pada malaikat?


Keira berjalan dengan tegar, tanpa air mata sedikit pun tapi ketika sudah agak jauh, dia terjatuh ke tanah. Perutnya terasa sakit bahkan mengeluarkan darah.


Keira mencoba berdiri tapi terjatuh kembali. Akhirnya dia hanya duduk menahan sakit sembari menangis sendirian.

__ADS_1


Perutnya memang sakit tapi hatinya jauh lebih sakit. Segalanya menjadi lebih rumit karena dia tidak bisa mengatakan isi hatinya pada siapa pun.


Dengan sisa kekuatannya, Keira berdiri lalu berjalan tertatih kembali ke rumah kepala desa.


__ADS_2