
Kusuma menatap wajah Keira yang sedang menyuap bubur ke mulutnya. Ia belum bisa memakan sesuatu yang keras selain bubur.
"Apa kamu ingin makanan lain?" tanya Kusuma.
"Heh?" Keira mengangkat kepalanya dan menatap Kusuma.
Karena kamu adalah putri kandungnya.
Untuk pertama kalinya Keira berani melihat mata Kusuma, lalu ia bergumam dalam hati.
Bagaimana bisa ia tak mengatakan sepatah kata pun bahwa aku putri kandungnya?
"Apa kamu ingin makanan lain?" Kusuma mengulang pertanyaannya.
Keira menggeleng, sejujurnya ia bahkan tak ingin makan apa pun. Namun ia mencoba menghargai Ibunya yang telah menyiapkan makan malam untuk menyambut kepulangannya setelah hampir sebulan berada di rumah sakit.
"Kamu harus melanjutkan hidupmu." Kusuma berkata lagi, ia meilirik Bara yang juga terlihat tidak berselera menikmati makanan namun mencoba bersikap sopan.
"Ayah, jangan bicara yang terlalu berat. Kakak belum benar-benar sembuh." Dizza lagi-lagi berusaha menyelamatkan Keira.
"Aku akan kembali bekerja." Keira membuka suara.
"Keira ...." Ny Lestari memprotes. Skandal wanita simpanan itu belum berakhir. Sebagian pemegang saham dan direksi masih mempertanyakan dan ingin segera Keira mengklarifikasi. Ny Lestari tidak ingin Keira mendapat tekanan.
"Kamu belum boleh kembali kerja." Kusuma memberi perintah.
Ia akan membereskan skandal itu sebelum Keira kembali ke sana. Keira ingin membantah, namun Bara memegang tangannya dan memberi isyarat untuk tidak membantah.
Keira menghabiskan waktunya berkeliling rumah, sepanjang hari ia dan Dizza berputar-putar memeriksa tanaman-tanaman.
Keira tak bisa keluar rumah, Kusuma melarang Keira keluar sampai skandal tentang Keira berakhir. Ia bahkan menempatkan banyak penjaga agar Keira tak bisa melarikan diri.
Keira teringat pada tanaman-tanaman kering di rumah Nada, lalu ia tertawa.
Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya, Zea tidak akan bisa merawat satu tanaman pun.
"Mengapa Kakak tertawa?" tanya Dizza heran. Keira bersandar di dinding gazebo, memandang tanaman-tanaman di bawahnya.
"Apa Kakak nggak boleh tertawa?" Keira balik bertanya.
Dizza tersenyum, "Tertawalah dengan alasan. Jangan tertawa tanpa alasan, Kakak terlihat seperti tidak waras."
Keira tertawa lagi. Dari jauh Bara melihat Keira dan Dizza yang sedang bicara dan tertawa.
Melihatnya bisa tertawa adalah anugerah terindah untukku. Aku ingin wajah penuh tawa itu hanya untukku.
"Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya sangat seru." Bara bergabung. Keira tersenyum pada Bara lalu ia kembali menatap tanaman-tanaman di halaman. Dizza yang tahu diri segera meninggalkan kedua orang itu.
"Keira, aku ingin meminta maaf karena aku gagal menjagamu."
Keira tak menoleh pun tidak menjawab. Ia membiarkan Bara terus bicara.
"Aku ingin kamu memberikan kesempatan sekali lagi. Mulailah dari awal lagi, aku berjanji akan menjagamu."
Keira masih tidak menjawab walau ia mendengarkan setiap kata Bara.
Mengapa ia memiliki hati yang polos?
"Aku tahu bahwa hatimu masih terluka. Aku bahkan tidak tahu apakah kamu masih menyisakan ruang untuk orang lain di hatimu. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku menunggumu, sampai saat kamu bisa menerimaku, biarkan aku berada disisimu."
__ADS_1
Bara memberanikan dirinya untuk mengambil tangan Keira dan menggenggamnya, Keira terpaksa menoleh dan melihat ketulusan Bara.
Aku menyayanginya, tapi aku sadar aku tidak pernah mencintainya.
Bara menatap Keira dengan penuh kasih sayang lalu perlahan ia memeluk Keira. Keira tak bereaksi, hatinya seakan membeku, ia hanya diam tak membalas pelukan itu sampai ia melihat bahwa Kusuma ternyata sedang melihat mereka dari balkon kamarnya. Keira lalu mengangkat tangannya dan melingkarkan di pinggang dan punggung Bara. Ia balas memeluk Bara dengan erat. Kusuma masuk ke dalam kamar, Keira memandang Balkon itu dengan tatapan penuh kesal.
Dizza merasa iba melihat Keira yang terkurung di rumah. Lebih iba lagi karena ia merasa Keira menutupi sikapnya. Setelah kejadian yang hampir merenggut nyawanya, Dizza melihat Keira berubah. Ia seakan telah melupakan masalah itu, ia tak pernah mengungkitnya. Keira bahkan tak peduli pada Kusuma yang mengurungnya di rumah, tak peduli pada Bara yang terus datang mengusiknya. Ia bersikap seolah-olah yang terjadi adalah sesuatu yang wajar. Ia tidak berusaha memberontak atau melarikan diri ke luar rumah. Ia menerima kehidupan barunya.
Yang paling mengusik Dizza adalah Keira tampak tidak peduli pada Evan dan Nada.
"Kak, apa Kakak nggak bosan?" Dizza menggandeng Keira yang baru saja mengantar Bara ke depan pintu.
"Hmm ...."
"Kakak bosan, kan?"
Dizza membisikkan sesuatu di telinga Keira.
"Aku akan membawa Kakak menemui Nada."
Keira terdiam lalu menggeleng.
"Kakak nggak ingin keluar rumah."
Dizza terkejut.
"Kak ...."
Keira memandang Dizza, tanpa mengatakan apa pun ia meninggalkan Dizza yang kebingungan.
*
"Ini aneh!" Dizza berkata dengan marah.
Mereka kembali bertemu karena sebelumnya Dizza berjanji akan membawa Keira menemui Nada. Ia sudah membuat rencana untuk mengecoh para panjaga, tak disangka malah Keira yang menolak. Akhirnya Dizza keluar sendiri tanpa perlu mengecoh penjaga.
"Kamu lihat? Ayahku membiarkan aku pergi ke mana saja, tapi ia melarang Kakak keluar. Bahkan ke rumah sakit pun sudah tidak boleh, ayah yang meminta dokter memeriksa Kakak di rumah."
Nada mendengarkan dengan setengah hati.
"Tapi mengapa Kakak seakan menerima saja diperlakukan seperti itu?"
"Mungkin dia lelah." Nada menjawab dengan sedih.
Sejak ia mengetahui bahwa sesungguhnya ia adalah adik Keira, ia tak pernah sekalipun menerima kunjungan dari Keira atau
ibunya.
Mereka berdua seakan-akan tak peduli pada kehadirannya. Justru Dizza yang kerap kali menemukan alasan untuk menemui Nada.
"Apa kamu tak ingin bertemu dengannya? Sejak ia sadar, kamu belum bicara dengannya. "
Nada menggeleng. "Kalau Kakak nggak ingin menemuiku, ya sudah."
"Tidak mungkin! Dia sudah berulang kali mengorbankan diri untukmu. Tak mungkin dia mengabaikanmu."
Dizza memijit kepalanya.
Nada mengeluarkan kalung dari dalam tasnya.
__ADS_1
"Tolong berikan padanya, aku sudah nggak membutuhkannya."
Nada meninggalkan kalung itu di meja dan pergi begitu saja.
*
Keira menatap kalung yang dilempar Dizza ke atas tempat tidur.
"Kamu bertemu dia lagi?"
"Mengapa? Nggak boleh?" tanya Dizza kesal.
"Dizza, dengarkan Kakak ...."
"Dulu aku selalu mendengarkan Kakak, tapi sekarang aku sudah dewasa. Aku tidak akan mendengarkan kata-kata orang lain yang bertentangan dengan hatiku!".
"Aku harap Kakak juga begitu."
Dizza membanting pintu lalu meninggalkan Keira.
Tanpa sadar Kusuma sedang melintas di depan kamar Keira.
"Jangan berbuat kasar. Apa kamu tidak tahu bahwa Kakakmu masih sakit?" Kusuma membentak Dizza.
"Memangnya kenapa?" Dizza menantang Kusuma.
"Kamu ...." Kusuma hampir memukul Dizza kalau saja Lestari tidak datang melerai.
Dizza menatap kedua orang tuanya.
"Mengapa tiba-tiba Ayah memperlakukan Kakak seperti ini? Mengapa dia menjadi lebih penting dari aku?"
"Dizza!" Ny Lestari meminta Dizza pergi tapi Dizza tak ingin pergi. Keira mendengarkan semua kata-kata Dizza dari dalam kamar.
"Bukan karena dia nyaris mati, kan? Apa Ayah pernah peduli Kakak hidup atau mati? Ayah hanya peduli pada bisnis Ayah!"
PLAK!
Kusuma tanpa sadar memukul Dizza. Keira masih mendengarkan dari balik pintu kamarnya.
Dizza memegang pipinya.
"Mengapa Ayah menyelamatkan Kakak, membawanya ke rumah sakit, meminta dokter terbaik untuk menyelamatkan nyawanya kalau akhirnya Ayah mengubur Kakak hidup-hidup di rumah ini?! Ayah hanya takut kehilangan Kakak karena Ayah takut kehilangan keluarga Wijaya, kan?"
"Dizza, hentikan!"
Ny Lestari menyeret Dizza pergi.
Kusuma memegang dadanya.
Keira menatap ke pintu seolah-olah ia melihat pertengkaran itu, tapi ia tak bereaksi walau ia tahu Kusuma memukul Dizza. ia mengambil kalung Nada, memandangnya sebentar.
Ayah kandung Zea adalah Baskoro, orang yang menghancurkan ibunya, memisahkannya dengan ayah kandungnya bertahun-tahun. Anak laki-lakinya bahkan menodainya.
Keira menarik napas panjang lalu kembali menatap kalung di telapak tangannya.
Baiklah, kita akan mengubur semua masa lalu. Mari kita mulai lembaran baru.
Lalu tanpa berpikir dua kali Keira melempar kalung itu ke dalam tempat sampah.
__ADS_1