No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Lestari dan Resti


__ADS_3

Keira meminta Ny Lestari menemuinya di taman. Ia tak nyaman berbicara di dalam rumah. Ny Lestari datang dengan panik, mengira putrinya sedang dalam masalah.


"Apa yang terjadi?"


Keira melihat ibunya sekilas lalu menggeser duduknya di bangku agar ibunya bisa duduk.


"Bu, apa selama ini ibu bahagia?"


Ny Lestari menatap putrinya dengan heran.


"Apa maksudmu?"


"Selama ini aku mengira ibu terpaksa menikah dengan ayah. Bu, aku sudah dewasa, jelaskanlah padaku apa yang membuat ibu terikat dengan ayah."


"Tutup mulutmu Keira. Jangan membahas hal-hal tak masuk akal!"


"Mengapa kita harus masuk dalam kehidupan orang lain, Bu? Sementara kita pernah bahagia hidup bertiga."


"Keira, apa yang meresahkanmu? Apa ada hal tidak baik yang kamu dengar?"


Ny Lestari balik bertanya. Ia sangat mengenal putrinya yang memiliki perasaan sensitif. Sekalipun Tuan Kusuma memasukan nama Keira dalam kartu keluarga sebagai anaknya, Keira masih menganggap dirinya orang asing di keluarga itu.


"Keira, ibu menyuruhmu untuk menjalani hidup dan bahagia. Jangan merisaukan hal-hal tidak berguna."


"Apa kita bisa bahagia, Bu? Ibu mengambil posisi wanita itu,"


Plak! Ny Lestari menampar wajah Keira.


"Jangan kau sebutkan lagi tentang wanita yang sudah mati itu! Ibu tidak mengambil apa pun!"


Keira menahan rasa perih di pipinya karena hatinya jauh lebih perih.


"Dia kembali Bu, dia akan membalas kita."


Ny Lestari memandang Keira dengan bingung.


"Siapa yang kamu maksud?"


"Anak wanita itu kembali untuk membalas dendam."


Ny Lestari menggeram marah.


"Beraninya dia kembali! Setelah apa yang keluarganya perbuat, kau bahkan ...." Ny Lestari tak sanggup melanjutkan kata-katanya sebaiknya ia memeluk Keira dengan erat.


"Tak akan ibu biarkan dia mengusik kita!"


"Tapi dia nggak bersalah apa pun bu," Keira terisak.


"Dia bersalah karena terlahir dari keluarga yang sudah salah!"


Keira menghapus air matanya.


"Bu, sebenarnya apalagi yang ibu sembunyikan? Apa yang sebenarnya terjadi?"


Ny Lestari tak mau menjawab.


"Ibu tak akan mengalah. Ibu melakukan segalanya untukmu."

__ADS_1


"Untukku?" Keira bertanya heran.


"Kenapa ibu tidak melakukan segala hal untuk Zea? Kenapa ibu membiarkannya di panti asuhan itu?"


"Sudah ibu katakan jangan membahas adikmu! Dia pasti bahagia."


"Bagaimana ibu tahu dia bahagia? Bagaimana kalau dia mengutuk kita dari sana? Aku bahkan merasa dia masih hidup!"


"Jangan konyol, Keira!" Ny Lestari membuang wajahnya. Keira memandang ibunya dengan curiga.


"Mengapa ibu menguburkan Zea bersama anak-anak lain?"


"Kamu bahkan tahu bahwa jasad-jasad itu tak bisa dikenali!"


"Anak-anak itu memang tidak memiliki keluarga untuk mengenalinya, tapi tidak dengan Zea! Zea memiliki kita untuk mengenalinya. Mengapa ibu menerima saja keterangan mereka?"


"Karena kamu butuh perawatan segera! Ibu tak bisa berlama-lama menunda perawatanmu! Kita harus segera pergi"


"Lagi-lagi karena aku?! Kenapa tidak sekalian saja aku yang mati, Bu? Kenapa malam itu aku masih hidup dan harus hidup setengah mati seperti ini?"


Keira menangis dengan kencang. Ny Lestari juga menangis.


"Kenapa Ibu selalu mendahulukan aku. Dia juga anakmu, Bu!"


"Apa kamu berpikir ibu tak menyayanginya?"


"Kalau ibu boleh mengulang, ibu tak akan pernah melahirkan adikmu!" jerit Ny Lestari.


Keira tercengang, tak percaya ibunya mengatakan hal sekejam itu.


"Ibu hanya membuatnya terluka. Ibu tak bisa menjaganya. Ibu macam apa aku?" Ny Lestari menangis.


"Tidak mungkin!" Ny Lestari memotong.


"Adikmu sudah tidak ada," lanjutnya.


Keira menatap ibunya. Untuk pertama kalinya ia merasa bahwa ibunya menyembunyikan banyak hal. Keira tak membantah namun ia bertekad untuk menyelidiki ulang kebakaran itu.


*


Evan menatap lembaran-embaran foto di meja. Ia sedang berada di sebuah apartemen rahasia miliknya. Ia tak pernah memberitahu Nada tentang apartemen itu. Nada hanya tahu bahwa ia sedang mencari seorang gadis dari masa lalunya, ia bahkan tak pernah memberitahu bahwa gadis itu adalah Keira.


Evan menatap foto-foto keluarga kusuma dan merasa heran. Tak ada satupun foto yang menunjukan anggota keluarga lain selain Tuan Kusuma, Ny Lestari, Keira dan Dizza. Di manakah adik kandung Keira? Apa Ny Lestari masih menyembunyikannya? Untuk apa?"


Pertanyaan itu menari-nari di benaknya.


"Nyonya, kita mau ke mana? Ini sudah ketiga kalinya kita berputar di jalanan ini." Supir Ny Lestari bertanya dengan takut-takut.


"Sudah kukatakan terserah kamu mau berputar ke mana. Aku hanya tidak ingin pulang!" seru Ny Lestari marah.


Supir itu tak menjawab. Ia melirik Ny Lestari dari kaca mobil, tak mengerti mengapa majikan yang biasanya sangat elegan bisa sangat emosional seperti ini.


Ny Lestari meremas roknya sendiri dengan gelisah.


"Wanita terkutuk!" umpatnya marah.


Ingatannya melayang ke masa lalu.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya ia duduk berhadapan langsung dengan Resti, simpanan Kusuma.


"Katakan yang ingin kamu katakan, lalu jangan pernah menemuiku lagi!" Lestari berkata tegas.


Resti tertawa kecil, lalu meminum tehnya dengan sangat lambat, semakin membuat Lestari muak.


"Kau tak perlu menunjukan keahlian dramamu padaku," kata Lestari tajam. Resti tertawa lagi.


"Kamu pikir kamu sudah menang?" tanya Resti.


"Lalu apa kamu pikir kamu yang menang?" Lestari balik bertanya.


Resti mengambil sebatang rokok lalu menghembuskan asapnya kuat-kuat. Lestari berusaha menahan dirinya agar tidak batuk.


"Kamu masih munafik seperti dulu," kata Resti datar. Lestari tak menjawab.


"Kamu, enyahlah dari kehidupanku seperti janjimu dahulu."


"Janji? Apa yang kamu janjikan padaku?"


Resti menatap Lestari yang menahan marah.


"Bukan aku yang membunuh mantan suamimu!"


"Bukan kamu, tapi Baskoro!"


"Dia tak sengaja."


"Aku tak percaya omong kosong kalian!"


"Jangan buat aku kehilangan kesabaran."


"Aku yakin kamu orang paling sabar, mengingat kesabaranmu hanya menjadi simpanan bertahun-tahun!"


"Kau!" Resti merasa direndahkan.


Lestari berdiri, tak peduli pada kemarahan Resti.


"Kesabaranku yang sudah habis. Kamu sudah memiliki kesempatan dan aku tak akan memberimu yang kedua!"


Lestari beranjak pergi lalu ia berhenti sejenak.


"Apa aku sudah mengatakan padamu bahwa suamiku mengatakan ingin menyingkirkan simpanannya?"


Resti menggengam erat cangkir teh lalu melemparkannya. Tanpa mereka sadari, seorang anak laki-laki mendengar percakapan mereka.


*


"Kak, aku sudah tidak tahan lagi!" Resti berteriak pada Baskoro. Kakaknya sedang mondar-mandir di ruang kerja. Evan menguping pembicaraan mereka dari luar.


"Aku sudah mengorbankan hidupku untuk Kusuma. Aku meninggalkan karirku dan membiarkan mereka merendahkanku dengan status 'Simpanan'!"


"Diamlah Resti!" Baskoro membentak adiknya.


"Apa aku harus menembak pria itu?" tanya Baskoro.


"Kak, kumohon jangan sakiti Kusuma." Resti mulai menangis.

__ADS_1


Baskoro memandang Resti dengan kesal lalu ia membuka pintu, ia memandang Evan yang tertangkap basah menguping. Baskoro tak mengatakan apa pun. Ia pergi meninggalkan Evan sambil bersiul.


__ADS_2