
Nada mengemasi barang-barangnya ke dalam koper. Ia teringat pembicaraannya dengan Evan, sehari setelah Ny Lestari menemuinya. Nada mengadukan Ny Lestari yang tiba-tiba menyuruhnya pergi keluar negeri. Saat itu Evan terlihat sangat marah.
"Kamu pergilah ke luar negeri. Aku akan mengurus segala keperluanmu. Kamu teruskan saja belajar di sana, percayalah Aku sanggup membiayaimu." Evan menyakinkan Nada.
"Bukan biaya hidup yang kupikirkan. Entahlah, seakan-akan kalian semua menyembunyikan sesuatu."
Evan meraih tangan Nada.
"Nad, kali ini percayalah padaku. Kamu adalah satu-satunya keluargaku saat ini. Kamu akan aman kalau berada jauh dari kami."
Nada memandang Evan lalu memeluknya.
"Apa Kakak akan menyusulku? Apa Kakak akan menikah lalu meninggalkan aku di sana?"
"Aku akan menyusulmu segera setelah semua masalah di sini selesai."
Nada melepas pelukannya.
"Wanita itu.... apa Kakak masih mencintainya?" Nada bertanya ragu-ragu.
Evan tak menjawab. Nada tahu bahwa dugaannya benar dan ia semakin membenci Keira.
"Mengapa kamu membawa semua barang tak penting itu?" Evan mengagetkan Nada.
Ia memeriksa koper dan mengeluarkan barang yang menurutnya tidak penting. Nada mengomel lalu mengembalikan gelas bergambar kelinci.
"Ini akan mengingatkanku pada Kakak. Kakak pasti lama baru bisa berkunjung."
Evan mengacak rambut Nada lalu duduk di kursi. Kali ini giliran Evan yang teringat pembicaraannya dengan Baskoro.
"Paman, sudah kukatakan, jangan menganggu Nada!"
Baskoro tertawa.
"Kamu mengawasiku?" tanya Baskoro.
Evan mengepalkan tangannya. Ia tak menyangka bahwa pamannya mengikuti Nada dan menganggapnya sebagai ancaman.
"Dia tidak memiliki sangkut paut terhadap masalah kita." Evan berkata tegas. Ia menyembunyikan fakta bahwa Nada sebenarnya adalah Zea, anak kandung Lestari.
"Baiklah....." Baskoro menghisap rokok lalu menghembuskan asapnya.
"Paman tidak akan mengganggu dia. Singkirkan dia sementara waktu agar tidak menganggu rencana kita."
Evan memandangi wajah Nada yang tampak lugu, tak mengerti permasalahan yang sedang terjadi.
*
Keira berjalan dengan ragu. Ia tak memiliki tujuan. Ia mematikan ponselnya karena Bara berulang kali menelpon. Keira teringat penjelasan Evan.
Kebakaran itu menyebabkan sebagian wajahnya terluka, ia menjalani operasi plastik. Nada tinggal dengan orang tua angkat dan tak lama kemudian ia mengalami kecelakaan hingga kehilangan ingatan. Ketika orang tua angkatnya meninggal, bibinya membuang Nada ke panti asuhan yang sama dengan Evan.
Mengapa Ibu memastikan Zea menjadi korban?
Keira tak mendapatkan jawabannya, begitupun Evan.
Keira berdiri di depan rumah Nada, untuk terakhir kalinya ia ingin bertemu Zea sebelum Evan mengirim Nada ke luar negeri. Ia ingin masuk namun ragu.
Saat ini, dia sangat membenci kalian.
Keira seakan mendengar suara Evan di kepalanya.
Keira melihat Nada keluar dari dalam rumah, Keira bergegas pergi namun terlambat karena Nada melihatnya.
"Mau apa lagi ke sini?" tanya Nada marah.
"Aku....." Keira tak tahu harus berkata apa.
__ADS_1
"Apa kamu ingin memastikan apakah aku sudah pergi atau masih tinggal di sini?" tanya Nada ketus.
"Tidak."
Jangan pergi lagi.
Keira ingin meneriakan kalimat itu, namun tercekat di tenggorokannya.
"Aku hanya ingin melihat apa kamu baik-baik saja," jawab Keira tulus lalu ia berjalan pergi.
"Tunggu." Nada memanggil Keira.
Nada dan Keira duduk berhadapan. Keira memandangi wajah Nada dalam diam. Pikirannya melayang ke masa kecil mereka.
"Aku akan pergi." Nada membuka percakapan. Keira diam saja.
"Kamu pasti sudah mendengar dari ibumu."
"Ibuku salah paham." Keira mencoba menjelaskan.
Nada tertawa meremehkan."Salah paham? Baiklah anggap saja begitu, toh, aku nggak punya kepentingan dengan kalian lagi."
Nada menatap wajah Keira, dan entah mengapa ia seakan teringat sesuatu, Nada memegang kepalanya, berusaha mengingat.
"Kamu kenapa?" tanya Keira khawatir.
Nada menatap Keira tajam.
"Setiap kali melihatmu, kepalaku terasa sakit. Mungkin benar bahwa kita nggak boleh bertemu lagi."
Keira terdiam.
Setiap kali melihatmu, aku juga merasa sakit dan berdosa. Aku bahkan tidak bisa meminta maaf.
Keira menunduk.
"Semoga kamu menemukan kebahagiaan di tempat yang baru, " ucap Keira pelan
Nada memandangi wajah Keira, lalu sekilas ingatan terlintas di benaknya.
"*Kak, tolong aku..."
"Kak, jangan tinggalkan aku*.. "
Nada menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, kita akhiri sampai di sini. Jika kelak suatu saat kita bertemu lagi, maka jangan saling menegur kembali."
Nada mengulurkan tangannya, Keira hanya melirik.
"Aku bukan memaafkan kalian. Aku membenci kalian terutama kamu."
Keira menatap wajah Nada yang dengan enteng mengucapkan perkataan yang bagi Keira serupa anak panah yang menusuk hatinya.
"Ka..mu. mem..ben..ci..ku?" tanya Keira terbata.
"Lalu apa aku harus menyukaimu?" tanya Nada.
"Kamu adalah orang yang merusak masa lalu Kak Evan bahkan hingga hari ini kamu selalu menganggu pandangannya hingga ia bahkan tak bisa menganggapku sebagai wanita."
Keira tercekat.
"Kamu menyukai Evan?"
"Aku mencintainya..."
Sekali lagi Keira merasa jantungnya seakan ditusuk panah tajam. Sakit walau tak berdarah dan membunuh.
__ADS_1
"Hah? Tapi bagaimana...." Keira menunduk.
"Aku nggak akan pernah memaafkanmu kalau kamu kembali di kehidupan Kak Evan!"
Nada menarik uluran tangannya lalu berdiri.
"Selamat tinggal!" seru Nada sambil berlalu meninggalkan Keira yang dipenuhi banyak pikiran.
Aku nggak akan pernah memaafkanmu kalau kembali ke kehidupan Kak Evan.
Kamu harus hidup denganku!
Aku akan hidup denganmu.
Kata-kata Nada dan Evan seakan mempermainkan Keira.
Aku mencintainya.
Keira tak percaya bahwa adik kecil yang disayanginya bisa mencintai orang yang sama, yang dulu pernah dia cintai.
*
Dizza sudah berkeliling mencari Keira. Ia nyaris putus asa namun ia mencemaskan Keira yang menurutnya tidak punya tujuan tempat tinggal. Ia takut Keira akan melakukan hal-hal berbahaya atau di serang bahaya.
"Non, ke mana lagi?" tanya supir yang mendampingi Dizza.
"Tak tahu. Cari saja kemungkinan tempat yang biasa didatangi Kakak. Memangnya kamu tidak ingat pernah mengantar kakak ke mana saja selama ini?"
"Non Keira hampir tidak pernah meminta saya mengantarnya, Non."
Dizza menggerutu sendiri.
"Non Dizza kenapa nggak istirahat saja? Bukannya Nona baru saja diculik?" Supir itu bertanya dengan heran.
"Bagaimana aku bisa istirahat kalau aku belum menemukan saudaraku??Aku bahkan tidak tahu dia sudah makan atau belum, apakah dia sehat atau tidak!"
Dizza berteriak histeris membuat supir mereka terdiam. Supir itu baru menyadari bahwa anak kandung Kusuma sangat menyayangi saudara tirinya.
"Non, itu di depan mirip Nona Keira.." tiba-tiba supir itu memperlambat laju kendaraan.
Mereka memasang mata dengan tajam untuk melihat lebih jelas. Benar saja, mereka melihat Keira berjalan sendirian.
Dizza meminta supirnya berhenti, ia baru saja akan membuka pintu saat dilihatnya sebuah mobil berhenti di sebelah Keira. Seorang pria keluar dari dalam mobil.
Mereka terlihat berbicara serius lalu pria itu menarik tangan Keira untuk masuk kedalam mobil.
Dizza meremas roknya.
"Non, kenapa nggak disamperin? udah ketemu..."
"Pulang pak." Dizza meminta supirnya untuk pulang.
"Tapi, Non..."
"Saya bilang, pulang!"
Dizza setengah membentak, supirnya ketakutan lalu segera menginjak gas tanpa bertanya lagi.
Dizza menatap jalanan di luar jendela.
Ia tak mungkin salah lihat. Pria itu adalah Evan.
Bagaimana bisa Kakak pergi bersama Kak Evan?
Dizza ingin membuang prasangkanya namun semakin ia ingin menyangkalnya, hatinya semakin cemas.
*
__ADS_1
Keira sedang tak ingin berdebat dengan Evan, dia hanya menurut ketika Evan memaksanya kembali ke apartemen. Hatinya terlalu lelah bahkan hanya untuk membantah. Ia tak punya tenaga bahkan untuk membayangkan bahaya apa yang sedang mengikutinya bila bersama Evan. Ia hanya memikirkan Zea. Hatinya benar-benar terluka.
Evan memandang wajah wanita yang pernah ia cintai. Kalau waktu bisa diputar, ia tak ingin kembali mengenal Keira agar ia tak perlu merasa bersalah ketika menyakiti wanita itu.