
Keira kembali bekerja seperti biasa. Ia berusaha mengikuti kata-kata ibunya, melupakan masalah Evan dan Zea.
Ketika Keira mencoba kembali hidup normal, tanpa ia sadari orang-orang yang terkait dengan hidupnya mulai bergerak saling menyelidiki.
Ny Lestari sudah memerintah seseorang untuk mengamati Evan dan Nada.
Evan terus menyelidiki adik kandung Keira.
Baskoro mencari tahu tentang Nada yang selama ini bersama Evan.
Hanya Kusuma yang belum menyadari bahwa telah terjadi pergerakan di sekelilingnya, ia malah sibuk mencari tahu tertundanya investasi dari Grup Oshi karena itu siang ini ia memerintahkan Keira untuk segera menemui CEO Grup Oshi.
Ketika semua pihak berusaha lebih dulu mencari kelemahan pihak lain, seseorang yang tak diperhitungkan juga ikut memulai penyelidikan.
"Jadi, berapa yang Bibi butuhkan untuk biaya operasi itu?" Dizza melepas kaca mata hitamnya, menatap wanita tua yang duduk ketakutan di hadapannya.
"Maaf Nona saya tidak tahu apa-apa...."
Dizza mengamati wajah Bibi Sarti. Setelah berputar ke sana ke mari, akhirnya ia menemukan salah satu pekerja di rumah lama Ayahnya.
Dizza memang tidak tahu siapa saja yang bekerja di rumah lama mereka karena saat ia kembali ke Indonesia, ayahnya sudah mengganti semua pekerja kecuali Om Vick, asisten Kusuma.
"Bibi meragukan saya?" tanya Dizza.
Bibi Sarti menggeleng dengan cepat. Ia hanya sempat sekali bertemu dengan anak kandung majikannya ini. Ia bahkan tak ingat dengan jelas wajahnya, ia justru tak bisa lupa wajah anak tiri Kusuma, Keira.
Bibi Sarti sudah lama bekerja di rumah itu, jauh sebelum Ayuni memilih tinggal di Singapura dan akhirnya meninggal saat melahirkan Dizza. Dia dan semua pegawai lainnya diberhentikan Kusuma setelah Lestari tinggal di sana.
"Bibi mengenal ibu kandungku, kan?"
Bibi Sarti meremas roknya, bingung.
"Ah, aku tahu, Bibi takut aku berbohong, kan? Aku benar-benar Dizza, anak Ayuni dan Kusuma." Dizza mengeluarkan selembar foto.
Foto dirinya bersama Kusuma, Lestari dan Keira. Bibi Sarti mengambil foto itu dan mengamati wajah Dizza. Dizza yang kesal akhirnya mengeluarkan kartu identitasnya agar wanita itu mempercayainya
.
"Sekarang, ceritakan padaku apa yang Bibi ketahui tentang keluargaku."
"Gadis itu apa baik-baik saja?" Bibi Sarti mengembalikan foto Dizza.
"Siapa yang Bibi maksud?"
Bibi Sarti mengatupkan bibirnya kembali.
"Maaf Nona, saya tidak mengerti apa yang Nona cari. Yang saya tahu hanyalah Tuan Kusuma menikah dengan wanita beranak satu, tak lama setelah itu kami semua diberhentikan."
"Siapa yang memberhentikan kalian?Apa ibuku?"
"Ibu anda sudah meninggal, Nona.."
"Maksudku ibu sambungku..." Dizza mengamati wajah Bibi Sarti. Wanita itu perlahan menggeleng.
"Wanita yang dinikahi Tuan Kusuma hampir tidak pernah bertemu kami. Dia bukan tipe orang yang suka memerintah, tidak sama dengan wanita yang satunya..."
"Wanita yang satunya?" Mata Dizza membulat.
Bibi Sarti menepuk jidatnya.
"Maafkan saya Nona. Saya salah bicara."
"Siapa wanita itu?"
"Saya tidak tahu."
Dizza kehabisan kesabaran
.
"Anak Bibi dirawat di RS Kasih Ibu, kan?"
Dizza mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Cari pasien kecelakaan di RS Kasih Ibu yang bernama Rania. Kirim orang untuk mencabut semua alat bantu pernapasannya..."
"Nona saya mohon jangan lakukan itu!" Bibi Sarti berteriak panik, Dizza memandang wanita itu tanpa merasa bersalah.
"Pilih menceritakannya atau..."
"Baik... apa yang ingin anda tanyakan, Nona..."
Bibi Sarti menangis, Dizza menutup teleponnya.
"Mengapa ibu dan kakak tiriku menyusulku ke luar negeri, dan mengapa ayah memilih pindah rumah?"
"Saya tidak tahu alasan Tuan melakukan itu, Nona. Sungguh saya tidak tahu..."
"Siapa wanita yang Bibi sebut tadi?"
__ADS_1
"Saya tidak tahu namanya. Dia datang ketika ibu tiri anda pindah ke rumah itu. Dia sempat memaki kami dan mengatakan pada kami bahwa sejak Ny Ayuni meninggal dialah Nyonya di rumah itu. Lalu Tuan Kusuma datang dan mereka bertengkar. Sejak saat itu saya tak pernah melihatnya lagi."
"Hm, ayah memiliki istri lain?"
"Saya tidak berani menyimpulkan, Nona.."
"Apa kamu tidak mengenal baik ibu atau
kakak tiriku?"
"Sudah saya katakan, Ny Lestari jarang menemui kami, dan putrinya sekalipun tak pernah meminta bantuan pada kami. Dia selalu terlihat murung."
"Sampai sekarang juga sering terlihat murung..." Dizza tanpa sadar menggerutu.
"Benarkah? Kasihan sekali..."Bibi Sarti menerawang, mengingat Keira yang sering melamun.
"Pasti kejadian itu sangat membekas..."
"Kejadian apa?"
Bibi Sarti memandang wajah Dizza.
"Berjanjilah anda tidak akan membawa nama saya yang memceritakannya. Ayah anda sudah melakukan segala cara untuk menutup kasus itu, termasuk memecat kami semua."
Dizza mulai merinding, "Apa sesuatu terjadi?"
Bibi Sarti mengangguk lalu ia mulai menceritakan kejadian 13 tahun lalu yang ia ketahui. Dizza menutup mulutnya dengan tangan.
**
Keira menanti Ny Leah dengan gelisah. Ia datang lima menit lebih cepat dan kini sudah sepuluh menit berlalu, pimpinan Grup Oshi belum juga tiba.
Keira mencoba duduk dengan tenang, ia membaca papan nama di meja kerja Ny Leah. Leah Wardana. Keira bahkan tak mengenal silsiah keluarga wardana yang konon katanya semua tinggal di luar negeri.
"Maaf atas keterlambatan saya..." Tiba-tiba seorang wanita masuk kedalam ruangan dan duduk di hadapan Keira.
Seorang wanita yang lebih tua dari Ibunya, tidak cantik, namun berwajah hangat dan ramah.
Keira mencoba tersenyum, wanita itu menatap Keira dengan senyum ramahnya.
"Hm, benar kata orang, Tuan Kusuma memiliki putri yang cantik. Kamu, yang tertua, kan?"
Keira mengangguk, ia tak merasa perlu menjelaskan bahwa dirinya bukan putri kandung Kusuma.
"Berarti kamu bukan putri kandungnya, ya?" tanya wanita itu lagi.
"Jangan menatapku seperti itu, di dunia kita sudah biasa, kan mengetahui informasi semacam ini..."
Keira tak menjawab, ia mulai tak menyukai wanita di hadapannya.
"Aku memintamu datang bukan untuk membahas status keluargamu..."
Keira mencoba bersabar demi mengingat bahwa wanita di hadapannya ini memiliki peran penting bagi pembangunan hotel baru Kusuma.
"Kamu tahu, kan bahwa perusahaan kami tadinya akan menginvestasikan sejumlah dana yang sangat besar untuk hotel itu."
"Kami sangat berterima kasih atas kerjasama yang anda berikan," ucap Keira merendah.
"Nah, itu masalahnya..." Ny Leah meletakkan cangkir tehnya di meja lalu berdiri.
"Tiba-tiba saja salah seorang pemegang saham tak mau menandatangani persetujuan itu!"
Keira menatap Ny Leah dengan bingung.
"Kamu tentu datang ke sini tidak untuk mendengar berita buruk, kan?" Ny Leah menatap Keira. Tatapannya masih ramah tapi membuat Keira ingin memalingkan wajah.
"Tak bisa kubayangkan apa yang terjadi kalau perusahaan kami gagal menyetujuinya...ccckk" Ny Leah mondar mandir di ruangan itu.
"Apa kamu bisa membayangkannya?" tanyanya pada Keira.
Keira merasa wanita itu mulai mengancamnya.
"Maafkan saya Nyonya, bisakah anda menjelaskan lebih rinci apa maksud anda ingin menemui saya?" Keira memberanikan diri bertanya. Ny Leah menatap keira dalam diam lalu tertawa.
"Oh ya, apakah aku belum menjelaskannya?" Ny Leah balik bertanya.
"Anakku tidak menyetujui kerjasama itu!"
"Dia bersedia memberikan persetujuannya jika kamu yang menemuinya dan memberikan penjelasanmu mengapa ia harus setuju."
"Saya?" Keira bertanya heran.
"Bukankah anda pimpinannya sudah menyetujuinya?" tanya Keira heran.
"Aku setuju. Tapi dia tidak. Sahamnya hanya sedikit di bawahku. Jika dia tidak setuju, maka perusahaan batal memberikan persetujuan..."
Ny Leah duduk kembali.
"Lagipula, dia adalah anakku. Jika kamu tidak bisa menyakinkannya untuk setuju, maka aku pun bisa berubah pikiran." Ny Leah menyandarkan tubuhnya di sofa.
__ADS_1
Keira mulai panik.
"Baiklah, saya akan bicara dengan beliau."
"Ya, kamu harus bicara dengannya ." Ny Leah melirik jamnya.
"Seharusnya dia sudah datang... "
"Maaf saya terlambat."
Pintu terbuka dengan tiba-tiba membuat Ny Leah dan Keira menoleh bersamaan.
"KAmU?!" Keira berdiri karena kaget.
Ny Leah tersenyum.
"Perkenalkan wakil pimpinan Grup Oshi, Evanders Pranata Wardana."
*
Keira diam tak bergerak saat Kusuma menanyakan hasil pertemuannya dengan Grup Oshi.
"Keira, katakan apa yang mereka inginkan."
Keira menatap wajah Kusuma lalu ia memutar ulang pertemuannya dengan Evan.
Evan dengan senyum manisnya duduk di hadapan Keira yang masih shock. Ny Leah meninggalkan mereka berdua dan memastikan pada Keira bahwa nasib pembangunan hotel itu berada di tangan Evan.
"Apa maumu?" Keira bertanya ketus.
"Hm, bukankah nada bicaramu terlalu tinggi untuk sebuah permohonan?"
"Aku tidak memohon!"
"Oh, ya? Lalu mengapa kau di sini?" tanya Evan.
Keira berdiri dan mengambil tasnya, bersiap untuk pergi.
"Hey, tidakkah ayahmu mengajari cara bertemu rekan bisnis?" tanya Evan.
"Seorang pengusaha yang baik tidak akan bertindak gegabah hanya karena masalah pribadi."
Keira memandang Evan yang menyuruhnya duduk.
"Kamu pasti tahu apa yang terjadi kalau kamu pulang dengan tanpa hampa. Kusuma akan segera menendangmu, anak tidak berguna yang dibesarkannya dengan sia-sia." Saat mengatakan itu Evan mengepalkan tangannya.
"Dia akan membunuhmu jika melihatmu!" kata Keira tajam. Evan tertawa.
"Dia tidak akan membunuh investornya, sebaliknya dia mungkin membunuhmu, ibumu, dan adikmu yang hilang."
"Kenapa kamu terus membahas adikku?!"
"Kau mungkin tidak keberatan mati. Tapi apakah kamu rela ibumu mati? atau kamu rela mati sebelum bertemu adikmu?"
"Apa yang kamu tahu tentang adikku?!"
"Adikmu masih hidup!"
Keira menatap Evan tajam.
"Jangan menggunakan adikku yang sudah tidak ada!"
"Adikmu masih ada!"
Evan bersiul, "Lalu mengapa kamu masih mencari orang yang sudah mati?"
"Apa maumu?"
"Aku akan memberi tahu di mana adikmu."
"Aku tidak mempercayaimu!"
"Lalu apa kamu percaya ini?" Evan mengeluarkan sebuah kalung.
Keira tersentak.
"Di mana kamu menemukannya?! Jangan mempermainkan aku!"
Evan tertawa.
"Kalau kamu mengikuti kata-kataku, kamu akan bertemu adikmu. Pertama, jangan beritahu Kusuma bahwa akulah anak pimpinan Grup Oshi. Kedua, temui aku malam ini. Katakan pada ayahmu bahwa Ny Leah mengundangmu makan malam untuk membahas lebih lanjut investasi tak berguna ini!"
"Aku akan memberi tahu ayah bahwa kamu masih hidup!"
"Silahkan. Ny Leah akan membatalkan kerja sama. Ayahmu akan bangkrut perlahan-lahan karena hotel itu akan menyeretnya ke dalam jurang kehancuran bila kami tidak memberikan investasi. Kamu dan ibumu akan disalahkan. Kalian akan mati sebelum bertemu adikmu. Atau..."
Evan mendekati Keira, ia berlutut di sebelah Keira.
"Atau ayahmu memberi kesempatan kalian hidup untuk melihat kematian adikmu!"
__ADS_1