No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Kepingan Masa Lalu


__ADS_3

Keira pulang ke rumah dengan sambutan Dizza yang melayangkan sebuah album foto. Apalagi kalau bukan album pertunangannya. Keira letih namun masih bisa menanggapi semua celotehan Dizza yang manja. Ia bergelayut di lengan Keira dan mengomentari semua foto yang ada di album.


Keira menatap foto-foto itu sembari tersenyum sendiri. Ibu yang melihat keributan di kamar Keira segera masuk dan melihat keduanya sedang tertawa melihat-lihat album foto di pangkuan Keira.


"Dizza, ayah memanggilmu." Ibu menyuruh Dizza segera pergi ke ruang kerja Tuan Kusuma.


Dizza mengomel mengatakan bahwa ayahnya selalu menjadi orang yang merusak suasana. Ny Kusuma menasehati Dizza agar tidak mengatakan hal yang tidak masuk akal tentang ayahnya. Dizza tertawa lalu segera berlari mencari Tuan Kusuma.


Ny Kusuma mendekati Keira dan melihat Keira memandang foto keluarga mereka di pesta pertunangan yang lalu.


"Kita benar-benar terlihat seperti sebuah keluarga," ucap Keira lirih.


"Apa maksudmu? Kita memang keluarga." Ny Kusuma mendekati Keira dan meletakkan secangkir teh.


Keira masih memandang fotonya yang bersebelahan dengan Dizza.


"Kalau dia masih ada, pasti akan menyenangkan. Usianya sama dengan Dizza. Apa dia akan sama seperti Dizza? Suka berbelanja atau ...."


"Hentikan Keira!" Ny Kusuma setengah membentak Keira.


"Kenapa, Bu? Kenapa aku bahkan nggak boleh mengenangnya?!" tanya Keira marah.


"Berulang kali Ibu katakan, jangan lagi menyakiti dirimu sendiri. Lupakan masa lalu."


"Lupakan?" Keira bertanya dengan kesal.


"Tanpa Ibu perintahkan aku selalu berusaha melupakan, Bu. Melupakan semua masa buruk kita. Melupakan kalau aku yang menyebabkan adikku satu-satunya tewas terbakar!" Keira tak kuasa menahan tangisnya.


Ny Kusuma merendahkan suaranya.


"Pelankan suaramu. Jangan sampai ayahmu mendengar ...."


"Dia bahkan bukan ayahku!" pekik Keira marah.


"Keira!" Ny Lestari membentak Keira.


"Kenapa, Bu? Kenapa kita bahkan nggak boleh membicarakannya? Kenapa Ibu semudah itu melupakannya? Dia juga anak Ibu!"


Ny Kusuma memeluk Keira untuk meredakan amarah putrinya.


"Itu bukan salahmu. Kebakaran itu bukan salahmu. Adikmu pasti bahagia di sana. Dia pasti sudah bahagia. Jadi jangan lagi menyalahkan dirimu."


"Maafkan Kakak, maafkan Kakak ... Kamu pasti marah karena nggak bisa datang ke pesta pertunangan Kakak. Ah, kamu pasti sudah mengutuk Kakak sejak hari pertama Kakak mengingkari janji. Kakak bahkan nggak pernah tahu di mana jasadmu." Keira meratap dengan sedih.


Ny Kusuma menahan dirinya agar tidak tersulut emosi. Sudah berulang kali dia mengatakan pada Keira agar tidak pernah menyebutkan tentang adiknya di rumah ini.


"Dia sudah pergi dan biarkan dia pergi dalam damai tanpa perlu menyebut namanya di dunia kita yang setengah neraka ini." Begitu pesan Ny Kusuma setiap kali Keira mengingat tentang kemalangan adiknya.


Keira sudah berusaha melupakan masa lalu namun bayangan wajah adiknya tak mau hilang dari pelupuk matanya.


"Kakak benar-benar akan datang, kan?" tanya seorang gadis kecil pada seorang gadis perempuan yang lebih besar.


"Apakah kakak pernah ingkar janji?"


Gadis kecil itu tersenyum lalu menggeleng.


"Aku tahu Kakak akan selalu datang. Karena kau adalah Kakakku!" Gadis kecil itu melompat gembira.


Gadis besar itu mengangguk senang.


"Malam ini, tunggulah Kakak. Apa pun yang terjadi, kakak pasti akan datang walaupun terlambat. Jangan katakan apa pun pada Ibu!"


"Janji?" ulang gadis kecil itu.


"Janji!" Gadis besar memeluk adiknya.


"Keira ayo pergi," Ny Kusuma memanggil Keira lalu ia berlutut di hadapan gadis kecil bernama Zea.


"Zea, maafkan Ibu karena harus meninggalkanmu seperti ini. Ibu tak akan lama. Ibu akan segera menjemputmu. Dengarkan kata-kata ibu pengawas. "


Zea mengangguk lalu melirik Keira yang memberi isyarat untuk diam. Ny Kusuma memeluk anaknya.


"Kenapa bukan kakak yang tinggal di sini?" tanya Zea polos.


Pertanyaan yang selalu menghantui Keira. Ny Kusuma menatap Zea dengan iba lalu kembali memeluk putri bungsunya.


"Karena Zea akan lebih aman berada di sini."


Namun ternyata semua itu salah. Keira tahu ibunya berbohong pada Zea. Ia tahu ibunya sudah membeli tiket ke luar negeri untuk mereka berdua. Karena tak mau meninggalkan Zea, Keira bertekat akan membawa Zea lari malam itu tanpa sepengetahuan ibunya.


Malam itu adalah hari paling mengenaskan dalam hidup Keira, ia gagal menepati janjinya pada Zea. Keira tidak bisa menjemput adiknya sementara Zea telah menanti Keira dengan sabar.


Saat itu terjadi pemadaman listrik,Zea yang ketakutan, bersembunyi di luar panti untuk menanti Keira. Entah apa yang terjadi tiba-tiba terdengar ledakan yang menyebabkan kebakaran di panti. Api dengan cepat membakar bangunan panti asuhan. Beberapa penghuni sudah melarikan diri tapi Zea bertahan di tempatnya bersembunyi karena tidak mau Keira kesulitan menemukannya.


Keesokan harinya dikabarkan bahwa sebagian anak-anak menjadi korban dalam insiden itu, termasuk Zea.


*


Evan memandang Televisi dengan perasaan marah. Berita yang dilihatnya adalah pertunangan antara Keira Kusuma dan Bara Wijaya. Matanya tak lepas memandang sosok wanita yang selalu terlihat senyum. Di matanya, wanita itu masih sama seperti 13 tahun lalu.

__ADS_1


"Apakah kamu berpura-pura bahagia? atau kamu benar-benar bahagia dengan kehidupanmu sekarang?" sejuta tanya menghantui pikiran Evan. Saat itu ia tak menyadari bahwa Nada telah masuk ke dalam rumahnya.


"Baru kali ini aku melihat kakak serius menonton berita." Nada ikut mendengarkan berita sambari mengeluarkan beberapa belanjaan ke dalam kulkas.


"Oh, pertunangan orang kaya."


"Tunggu dulu, siapa namanya?" Nada tiba-tiba ikut duduk, tak menyadari Evan sedang mengepalkan tangannya.


"Astaga ini, kan, pasangan mesum!" seru Nada sambil menutup mulut. Sontak Evan terkejut.


"Pasangan mesum? Kamu mengenalnya?"


Nada menggeleng.


"Pasangan yang kuceritakan saat terakhir mengantar bunga."


Evan memutar ingatannya.


"Tunggu, aku bahkan masih menyimpan fotonya. Ahhh, aku tak menyangka mereka orang terkenal. Bisa-bisanya mereka berciuman di tangga darurat saat tamu-tamu lain masih di dalam gedung."


Nada yang terus mengoceh tak menyadari perubahan wajah Evan yang mengeras.


" Lihatlah ... Pantas saja aku merasa tak asing saat melihat wanita itu. Ternyata dia termasuk selebritis." Nada memerkan foto Bara dan Keira yang tersenyum bahagia memegang bunga. Evan memandang keduanya dan tak sengaja menggumam, "Ternyata kamu bahagia...."


Nada memandang Evan heran.


"Hooy apa maksud Kakak? Tentu saja pasangan seperti ini bahagia ... Kakak terlihat iri." Nada menertawakan Evan.


"Kamu!" Evan menggertakan giginya.


"Sebelum aku menghitung sampai 3, sebaiknya kamu segera pulang!" teriak Evan kesal.


Nada segera lari terbirit-birit.


"Ah, terlalu lama membujang membuat orang bisa terkena PMS tanpa sebab," gerutunya.


*


Evan bermimpi bertemu dengan Keira. Mereka mengenakan seragam sekolah, seperti dulu saat mereka sering bertemu.


Awalnya Keira tersenyum dan mengulurkan tangannya lalu tiba-tiba ia menarik Evan hingga terjatuh di tebing.


Evan bangun dari tidurnya dan mengambil minum. "Di antara semua yang berkhianat, kenapa kamu juga termasuk seperti mereka?!" Evan membanting gelasnya dengan marah.


Ia teringat saat ia dan Keira berjanji bahwa mereka akan menemukan jalan untuk selamat. Bahwa mereka akan melanjutkan hidup bersama, bahwa mereka tidak akan hidup dalam bayang-bayang Tuan Kusuma.


Tapi apa yang dilihatnya hari ini? Keira yang telah menyandang nama Kusuma bahkan tertawa bahagia. Bahagia di atas penderitaannya.


Bertahun-tahun Evan menyusun rencana balas dendam, namun beberapa kali harus kandas karena ia masih menyimpan perasaan untuk Keira. Ia tak ingin Keira terluka, karena ia masih mengira bahwa Keira adalah korban, sekalipun ia tak pernah mengerti alasan Keira menghianatinya.


Namun melihat Keira bertunangan dengan bahagia, membuatnya yakin bahwa ia harus segera balas dendam, termasuk pada Keira. Gadis yang pernah dicintainya, yang pernah mengisi hari-harinya dengan cinta, yang akhirnya menghancurkan hidupnya.


*


Keira dan Bara sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Sebenarnya Keira hanya sedang malas pulang kerumah, ia beralasan ingin mencari sebuah kado untuk temannya yang tak ada. Bara tahu Keira berbohong, namun ia bersikeras menemaninya.


Mereka berkeliling keluar masuk toko, hanya melihat lihat tanpa membeli. Bara berulang kali menggoda Keira dengan mencoba berbagai aksesoris lucu agar terlihat cute. Keira tertawa berulang kali.


Mereka sudah memasuki toko akaesoris remaja. Sebenarnya toko itu bukanlah tempat yang masuk akal untuk mencari kado di usia mereka. Mereka baru menyadari setelah berputar satu kali mengitari seisi toko.


"Kita salah tempat," kata Keira.


"Ini lucu." Bara mengangkat sebuah topi pantai yang lebar.


"Apanya yang lucu?" tanya Keira.


"Lihat aku!" Bara memakai topi itu.


"Nggak lucu!" tukas Keira kesal. Waktunya habis karena Bara banyak mencoba barang-barang tak masuk akal.


"Kalau begini, apa lebih lucu?" Tiba-tiba Bara mendekat ke Keira hingga Keira juga masuk ke dalam topi.


"Kita bisa membeli satu topi untuk berdua. Sangat hemat untuk biaya pernikahan." kata Bara pelan dan serius.


Keira tertawa. "Mundur, kamu membuat karyawan itu mencurigai kita."


Bara malah semakin dekat.


"Aku yakin sekarang dia akan memanggil temannya untuk melihat kita." Bara berbisik di telinga Keira. Keira melirik sekilas dan ya memang benar.


"Hentikan!" Keira mendorong Bara agar menjauh, tapi Bara malah merapat dan berbisik lagi.


"Sekarang apakah jumlah mereka bertambah?" tanya Bara. Keira tak mau melirik lagi, ia berkata dengan kesal. "Kurasa mereka semua termasuk manajernya akan berjejer di pojok itu kalau kamu nggak mau mundur sekarang."


"Itu yang kumau." Bara masih berbisik sambil menutup topinya. Keira melirik lalu tiba-tiba jantungnya serasa berhenti. Ia melihat sesosok pria yang sedang memperhatikannya. Keira membuang wajah karena kaget, lalu ia menoleh lagi. namun pria itu sudah menghilang.


"Ada apa?" tanya Bara curiga.


Keira tak menjawab namun ekspresinya mendadak berubah gelisah.

__ADS_1


Apa aku salah lihat?


Tapi, apakah dia benar Evan?


Keira mendadak linglung, Bara sigap menopang bahu Keira.


"Kamu kenapa?" tanya Bara keheranan. Keira tak bisa menjawab, sebagai alasan dia mengatakan mendadak perutnya sakit.


Pria itu memang Evan. Ia tak kebetulan bertemu dengan Keira, tapi ia memang mencari dan mengikutinya. Ia masih ingin memastikan bahwa Keira benar-benar telah hidup bahagia dan melupakannya. Evan menelpon seseorang dan berjalan keluar gedung perbelanjaan itu dengan hati terluka, ia terburu-buru hingga tak menyadari kehadiran manusia di hadapannya.


"Aduuh!" Wanita yang ditabraknya menjerit kesal. Ia baru saja akan menyumpah tatkala melihat Evan yang terburu-buru meminta maaf.


"Kak Evan?!"


Evan mendelik, tak mengenali gadis bersuara cempreng di hadapannya.


"Kak Evan fotografer, kan?"


Evan mengganguk pelan.


"Wow, sebuah kebetulan sekali. Saya adalah pengangum Kak Evan, sudah lama sekali saya ingin mengenal dan bekerja sama dengan kakak!" seru gadis itu riang.


Evan mengernyitkan dahi.


"Bagaimana? Apa Kakak setuju?"


Evan semakin heran. Gadis itu tak mengatakan perjanjian kerjasama apa pun lalu menginginkan persetujuan.


"Maaf, sepertinya saya terlalu banyak bicara sampai lupa mengenalkan diri. Nama saya Dizza Kusuma, saya ingin Kak Evan memotret saya. Apakah Kakak ada waktu?"


Evan memandangi wajah gadis di hadapannya.


Dizza Kusuma, putri bungsu Tuan Kusuma, adik tiri Keira.


"Hallooooo!" Dizza melambaikan tangan di wajah Evan. Evan tersenyum lalu mengulurkan tangannya.


"Maaf saya sedikit terkejut tertabrak gadis cantik. Sungguh sebuah kebetulan yang manis, saya juga sedang mencari seorang model."


Dizza tersenyum lebar, namun senyum Evan di dalam hati dua kali lebih lebar.


Lihatlah Kusuma. Aku juga bisa menghancurkan hartamu yang paling berharga!


Malam ini giliran Keira yang bermimpi bertemu Evan. Evan berlari mengejar mobil Keira yang terus melaju. Ketika akhirnya mobil berhenti, Keira membuka jendela dengan angkuh.


"Lupakan aku," katanya sembari menutup jendela mobil.


Keira terbangun, tak percaya bagaimana bisa memori 13 tahun itu masuk sebagai mimpi. Ia membuka laci kamarnya dan mengambil kalung berbentuk bintang.


"Zea, kamu tahu, Kakak selalu merindukanmu dan dia. Kalian bahkan belum sempat saling bertemu," ucap Keira lirih. Lalu ia kembali mengingat masa-masa indah saat bersama Evan.


Hampir setiap hari ia pulang bersama Evan, tertawa bahkan menangis bersama.


"Keira, kamu bersungguh-sungguh akan melarikan diri?" tanya Evan.


Keira menggangguk.


"Aku nggak akan pergi tanpa adikku!"


"Aku juga nggak akan pergi tanpa ibuku!"


"Mari kita pergi bersama ...." usul Keira.


"Apa kamu yakin bisa meninggalkan ibumu?" tanya Evan.


Keira menggeleng pelan.


"Aku tak tahu bagaimana hidup tanpa dia ...."


"Apa ibumu bahagia di sana? ibuku tidak," kata Evan lagi.


Keira menggeleng "Aku nggak melihatnya bahagia ...."


"Pembohong!" Evan kembali melempar gelas. Ia baru saja mengingat kejadian yang sama dengan yang diingat Keira. Bila Keira menangis mengenangnya, sebaliknya Evan mengutuk kenangan itu. Evan mengeluarkan sebuah foto keluarga lalu berbicara sendiri.


"Aku akan membalas mereka untuk kalian!"


Evan bertekat untuk segera menyelesaikan balas dendamnya. Evan meletakan kembali fotonya didalam laci.


Foto seorang Wanita dengan dua anak laki-laki.


Evan memejamkan matanya lalu menangis. Sudah sangat lama ia tak menangis, terakhir kali adalah 13 tahun yang lalu. Saat ia menemukan kenyataan ibunya meninggal karena over dosis obat dan berikutnya Hans kakaknya terjun dari tebing.


Lalu ia teringat saat Tuan Kusuma mengusirnya dari rumah.


"Kamu, menghilanglah dari negara ini sebelum kesabaranku benar-benar habis!" kata Tuan Kusuma dengan mata berkilat-kilat.


"Apa salahku, Ayah?" tanya Evan waktu itu.


"Aku bukan Ayahmu! Pergi!" Tuan Kusuma memerintahkan para anak buahnya untuk menyeret Evan keluar rumah, tak peduli pada teriakan Evan yang memohon meminta penjelasan.

__ADS_1


"Tuan Kusuma, Lestari Kusuma, Keira! Kalian harus merasakan penderitaan yang sama!" teriak Evan dengan sangat marah.


__ADS_2