No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Pengakuan


__ADS_3

Evan menggaruk kepalanya karena gagal mengajak Keira keluar.


"Kamu nggak jadi keluar?" tanya Keira.


"Ehhmm aku ...."


"Mengapa kamu nggak bilang saja kalau ingin mengajakku keluar?" tanya Keira masih membaca kertas-kertas di tangannya.


"Kalau kamu tahu mengapa pura-pura nggak tahu?" tanya Evan, tak sadar mulai menyulut perdebatan. Keira memandang Evan lalu menarik napas dan membuangnya.


"Lupakan saja." Keira kembali sibuk membaca kertasnya.


Evan segera berdiri karena kesal lalu saat ia membuka pintu dan suasana hening, ia tak jadi keluar.


Evan duduk kembali menemani Keira yang masih membaca kertasnya. Evan perlahan tersenyum sendiri, dia mengambil ponselnya lalu diam-diam mencuri foto Keira. Beberapa menit kemudian tiba-tiba Keira melempar kertas di tanganya.


"Aku nggak bisa berkonsentrasi! Baiklah, ayo kita keluar!" Keira menyerah.


Evan memandang Keira dengan bingung.


**


Keira dan Evan berjalan di pertokoan dekat apartemen Evan. Mereka berjalan tanpa bicara sampai akhirnya Keira berhenti di sebuah taman.


"Aku capek, " kata Keira lalu duduk di sebuah bangku.


"Baiklah, kita istirahat." Evan ikut duduk.


Keira memandang Evan yang juga menatapnya. Keduanya hanya diam sampai Keira menyerah lalu mulai bicara.


"Aku capek kita seperti ini," kata Keira serius.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Keira lagi.


"Ah? Apa?" Evan salah tingkah karena Keira langsung menebak sasaran.


"Kamu nggak berbelit-belit mengajakku keluar hanya untuk melihat jalanan, kan?" tanya Keira.


Evan menggaruk kepalanya, bingung menjelaskan maksudnya pada Keira.


"Jangan sia-siakan pengorbanan tiga anak itu memberi kita waktu bicara." Keira menatap jalanan.


"Kamu tahu?" Evan memandang Keira takjub.


***


"Mengapa aku melakukan ini? Mengikuti ide gila kalian!" Adrian mengumpat.


Mereka bertiga sedang berada di sebuah minimarket, berputar-putar memilih makanan tak jelas.


"Apakah mereka akan keluar?" tanya Nada sembari mengingat Evan yang sering bertindak bodoh.


"Bisa jadi Kak Evan gagal membujuk Kakak."


"Tapi Kakak nggak sebodoh itu. Dia pasti tahu kita sengaja meninggalkan mereka." Dizza bertaruh.


"Hey, jangan meributkan mereka, sekarang pikirkan perutku yang kelaparan!" Adrian protes.


Nada dan Dizza tertawa.


***


"Keira ...."


"Hm ...."


"Aku minta maaf. Aku sungguh minta maaf ...." Evan akhirnya memulai pembicaraan.


"Aku nggak seharusnya meninggalkanmu ..."


"Kamu nggak meninggalkanku. Kamu berada di sana dan menolongku." Keira menyela.


Evan memandang Keira yang menatap jauh ke depan.


"Kamu tahu, saat aku melihatmu, aku sungguh merasa malu. Aku tahu kamu pasti salah sangka dan terluka. Aku sungguh malu." Keira berkata lirih.


Evan memegang tangan Keira yang masih bicara.


"Aku takut kamu salah menilaiku. Aku takut kamu ...." Keira tak melanjutkan.


"Aku nggak akan meninggalkanmu, bodoh!" Evan memukul dahi Keira.


"Awww!" Keira menjerit karena pukulan Evan mengenai lecet di dahinya.


"Maaf-maaf...." Evan panik dan segera memeriksa dahi Keira.


Mereka berada dalam jarak yang sangat dekat. Evan memandangi wajah Keira, Keira balas menatapnya.


"Sebelum aku memeriksa, aku perlu memastikan sekali lagi, apakah kamu sudah memaafkan aku?" tanya Evan.

__ADS_1


"Aku memaafkanmu, apa yang ingin kamu periksa ...."


Kalimat Keira terputus oleh ciuman Evan. Evan menciumnya dengan lembut, Keira terkejut, ia mendorong Evan, tapi Evan tak melepaskannya.


"Aku ingin memeriksa tempatku di hatimu." Evan berbisik lalu mencium Keira lagi, Keira tak menjawab dan tak menolak. Ia membalas ciuman Evan.


***


Ketiga anak muda itu kembali ke apartemen yang kosong. Hanya ada berkas-berkas Keira yang ditinggalkan begitu saja.


"Mereka benar-benar pergi." Adrian takjub.


Nada dan Dizza membereskan kertas-kertas yang berserakan. Ia mengambil sebuah laporan lalu membacanya.


"Mengapa kamu terlihat serius?" tanya Nada.


Dizza mengernyitkan dahi.


"Aku nggak pernah ikut ke kantor. Aku sungguh nggak mengerti apa maksud laporan ini. Ah, mengapa Kakak sungguh hebat." Dizza berdecak kagum.


"Mengapa kalian berdua terlalu mendewakan Kakak kalian?" tanya Adrian kesal.


Nada dan Dizza menatapnya tajam.


"Kalau ada orang yang bersedia mengorbankan hidupnya untukmu, apakah kamu nggak memujanya?" tanya Dizza kesal.


"Baiklah, baiklah ... Sini aku ajari cara membacanya." Adrian menarik laporan itu.


Nada tertawa melihat mereka berdua lalu berlalu ke kamar.


"Kalian lanjutkan berdua ya, aku mengantuk!" teriak Nada.


Dizza tampak serius memperhatikan Adrian.


***


Keira dan Evan berjalan pulang. Kalau saat pergi mereka berjalan sendiri-sendiri dengan tergesa-gesa, kini saat pulang mereka bergandengan tangan dan berjalan pelan.


"Sesungguhnya aku harus berterima kasih pada Nada. Dia mengingatkan kebodohanku," kata Evan.


Keira tertawa lalu ikut menceritakan tentang Dizza.


"Dizza juga mengingatkan aku. Mereka berdua sudah bersusah payah."


Keira menghentikan langkahnya lalu menatap Evan. "Evan, terima kasih karena kamu telah menjaga Zea selama ini."


Evan tersenyum lalu menyentuh pipi Keir.


Keira terdiam memandang Evan yang masih menatapnya.


"Aku tahu kamu pasti sudah tahu tapi kamu berpura-pura tidak tahu, kan?" Evan salah tingkah.


Keira tersenyum lalu ia mencium Evan pelan dan sekejap, pipinya memerah.


Evan memandang wajah Keira.


"Apa artinya itu?" tanya Evan.


"Aku tahu kamu pasti sudah tahu tapi kamu berpura-pura nggak tahu, kan?" Keira mengulang kata-kata Evan lalu berlari meninggalkan Evan.


Evan tertawa lalu mengejar Keira dan memeluknya dari belakang.


"Jawab saja Kei, kamu cinta aku, kan?"


Keira masih tertawa lalu merangkul Evan dan berbisik di telinganya, "Hmm, masih banyak yang harus kamu lakukan kalau mau mendengar aku mengatakannya."


"Apa itu? Apa yang harus aku lakukan? Aku pasti melakukannya."


Keira tak menjawab, dia masih merangkul lengan Evan yang terus menganggunya.


"Apa, Keira?" tanya Evan sembari menggelitik pinggang Keira yang hanya menanggapinya dengan tertawa.


Dan inikah obat luka hati?


Aku bahkan tidak tahu bagian mana yang dia obati.


Dia hanya mengakui hatinya.


Dan entah mengapa itu membuatku lupa akan sakitnya terluka.


****


Nada sedang merenung di depan TV.


"Ada apa Zea?" Keira duduk di sebelah Nada lalu menyentuh tangannya.


"Apa kamu patah hati? Bukannya kamu nggak punya pacar?" Dizza bertanya dengan jahat.


Keira menyenggol Dizza lalu memelototinya.

__ADS_1


"Hatiku patah sejak aku tahu bahwa ternyata aku adalah anak haram." Nada berkata pelan.


Keira dan Dizza terdiam seketika.


"Aku nggak bersedih. Aku hanya merasa lucu." Nada menambahkan.


"Kita semua sama saja." Keira menghibur.


"Ya, kita bertiga sama-sama anak haram." Dizza salah mengartikan kata-kata Keira.


Yang Keira maksud adalah anak haram atau bukan adalah sama. Tapi Dizza mengira hal lain, Keira agak terkejut.


"Kakak lahir di luar nikah. Ayah dan ibu belum menikah saat Kakak lahir, kan? Ibuku melahirkan aku saat sudah menikah, tapi aku bukan anak dari pria yang dia nikahi."


Dizza mengucapkan fakta sambil tertawa.


"Yah, itulah hidup. Kita nggak bisa memilih dari siapa kita lahir, bagaimana kita lahir. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita melanjutkan hidup!" Keira menyemangati kedua adiknya.


"Contohnya kembali menjalin hubungan percintaan yang terputus!" Dizza menyambung.


Keira melempar bantal ke kepala Dizza.


"Nad, sepertinya kamu butuh hiburan." Dizza berkata serius.


"Temani aku ke Singapura ya, kita berlibur, sekalian kamu ambil beberapa barangmu yang tertinggal."


"Perusahaan sedang kritis, kalian pergi berlibur?" tanya Keira berpura-pura kesal.


"Apa peduliku dengan perusahaan. Aku punya uang sendiri, bukan dari perusahaan." Dizza menjawab angkuh.


"Baiklah, aku setuju." Nada mengulurkan tangan pada Dizza, Dizza menjabatnya.


Keira memegang tangan kedua adiknya.


"Kalian nggak mengajak Kakak?"


"NGGAK!" Keduanya serempak menjawab.


"Kakak nggak butuh hiburan, kan, sudah ada Kak Evan." Dizza menjawab.


Keira memukul lengan Dizza dengan keras hingga Dizza berteriak.


"Kakak juga harus mengurus perusahaan, kan?" Nada menimpali.


"Oke, baiklah. Tapi apa kalian yakin kalian tidak akan bertengkar sepanjang hari?" Keira mengingat bagaimana kedua manusia di dekatnya ini saling membenci.


"Kalau Kakak dan Kak Evan yang kadar masalahnya lebih besar saja bisa bersatu kembali, mengapa kami tidak?"


Keira mulai naik darah karena mereka terus menyinggung hubungannya dengan Evan. Ia merasa malu. Ia baru akan memberi ultimatum ketika Evan datang membawa makanan. Keira salah tingkah.


Nada dan Dizza menertawakan mereka.


"Kak, selama kami pergi Kakak tinggal di rumah ya." Dizza mengingatkan.


"Iya." Keira menjawab santai.


"Serius, Kak. Jangan tinggal di sini kalau nggak ada aku!" Nada mengancam.


Keira memandang kedua adiknya dengan frustasi. Ia mengangkat sebuah buku lalu bertanya.


"Masih mau bicara lagi?"


Nada dan Dizza segera berlari ketakutan.


Evan memandang ketiganya dengan bingung.


"Kamu nggak mau makan?" tanya Evan.


Keira memandang Evan lalu menjawab kesal.


"Aku nggak mau makan!"


"Kenapa kamu marah padaku?" tanya Evan heran sembari meletakkan makanan di meja.


"Maaf." Keira menarik napas, dia sadar meluapkan kemarahannya pada orang yang salah.


"Kemarilah. Kita makan." Evan mengulurkan tangannya untuk mengajak Keira duduk.


Keira dengan ragu menerima uluran tangannya tapi karena Evan tak sabar dia menarik Keira hingga wanita itu kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpa Evan di sofa.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Dizza dan Nada dengan nada datar tapi menusuk Keira dan Evan. Keira bergegas berdiri lalu berlalu meninggalkan Evan yang menggaruk kepalanya.


"Egh, nggak sengaja." Evan menjawab pertanyaaan kedua adik Keira yang menatapnya dengan tajam.


"Awas kalau Kakak mengambil keutungan saat kami nggak ada!" Nada mengancam Evan lalu menarik Dizza.


"Kecuali dia memang suka rela ...." lanjut Dizza yang seketika menghentikan ucapannya karena dipukul Nada yang mendesis kesal.


Evan terdiam di ruang tengah menenangkan dirinya sendiri sementara di kamar Keira juga sibuk menenangkan jantungnya yang berdebar kencang.

__ADS_1


***


__ADS_2