
Keira memejamkan mata ia tak menyangka akan melakukan hal ini. Ia selalu berharap ia akan melakukannya dengan perasaan penuh cinta dengan orang yang ia cintai, bukan dalam keadaan berpura-pura bahagia sementara batinnya tersiksa karena melakukannya dengan terpaksa.
Keira mengira bisa melakukannya saat mereka menikah, saat itu ia berharap ia sudah terbiasa berpura-pura mencintai Bara. Tapi yang terjadi sekarang di luar kendalinya, ia tak bisa menolak Bara karena itu akan menyinggung hati Bara.
Bara masih mencium bibirnya dengan lembut. Ia telah menurunkan setengah atasan Keira, ketika ia berusaha membuka bagian sebelahnya, ponsel Keira bergetar. Mereka mengabaikan getaran ponsel itu karena Bara terlanjur memulai permainannya sementara Keira tak punya pilihan selain mengikutinya. Tetapi ponsel Keira terus bergetar, Bara melirik ponsel yang menampilkan foto Dizza.
"Dizza," Bara berkata singkat, kesal pada gangguan itu. Keira tak berani mengambil ponselnya, takut merusak suasana hati Bara, maka ia membiarkannya. Ponsel itu akhirnya berhenti bergetar.
Bara melanjutkan aksinya, tapi baru saja ia menunduk menatap wajah Keira, ponselnya yang masih di saku celananya berdering. Bara kaget, ia terpaksa berdiri dan mengeluarkan ponselnya. Ia berniat mengabaikan panggilan itu ketika ia melihat kontak Dizza yang memanggilnya.
Bara tak enak pada Keira maka ia terpaksa menjawab panggilan itu.
"Ya, Dizza ada ...."
"Di mana Kakak?"
Bara segera menyerahkan ponsel pada Keira. Keira segera duduk dan menerima ponsel Bara.
"Kak, Kakak di mana? Apa yang Kakak lakukan sampai mengabaikan teleponku?!" Dizza berteriak.
Keira melirik Bara, tak mungkin ia memberi Dizza jawaban yang sebenarnya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Cepat pulang! Ibu sakit!"
"Apa? Ibu sakit?" Keira menatap Bara yang ikut panik. Mereka bergegas merapikan diri dan berlari pulang.
Sepanjang jalan Keira terlihat gelisah.
"Ibumu sakit apa?" Bara berusaha mengemudikan mobil dengan cepat.
"Entahlah, Dizza hanya menyuruh kita segera pulang."
Keira terlihat gelisah, Bara memegang tangannya agar tenang.
Keira berlari-lari menuju kamar Lestari. Ia berpapasan dengan dokter yang baru saja keluar rumah. Bara menunggu di luar kamar.
"Bu, Ibu kenapa?" Keira masuk ke kamar dan melihat ibunya sedang berbaring di tempat tidur.
Keira terperanjat, ibunya sedang berbaring sambil melihat ponsel bersama Dizza, mereka tersenyum.
Keira melongo, ia buru-buru menutup pintu kamar dan menguncinya.
"Dizza, kamu bilang ...."
"Ibu memang sakit, memangnya kamu tak melihat dokter yang baru saja pulang?" Ibu terbatuk-batuk.
Keira mendesah kesal, ia merasa dibodohi.
"Dizza, kamu ...." Keira ingin memarahi Dizza tapi ia teringat bahwa telepon itulah yang meyelamatkan dirinya dari situasi yang menyiksanya di rumah Bara.
"Jangan kamu ulangi, lagi!" Keira berkata tajam lalu detik berikutnya ia tersenyum. Ia mendekat ke tempat tidur.
"Apa Ibu baik-baik saja?" tanya Keira.
__ADS_1
"Ibu hanya flu. Kamu lihat, kan? Kalau Dizza tak menelponmu, Ibu khawatir kamu tidak pulang malam ini."
"Mengapa aku harus tidak pulang?" tanya Keira, walau ia tahu bahwa itulah yang hampir terjadi.
"Saat kalian nanti sudah menjadi seorang ibu, kalian akan tahu apa yang dinamakan firasat orang tua. Ibu tadi baru saja melihat berita kecelakaan mobil yang mirip mobil Bara, Ibu mengkhawatirkanmu jadi Ibu meminta Dizza mengecek apa kamu baik-baik saja."
Keira menoleh melihat Dizza.
"Lalu mengapa kamu mendramatisir dengan menyuruh Kakak segera pulang?"
Dizza tersenyum bangga.
"Kalau itu adalah karena firasatku. Kakak tidak akan mengerti karena Kakak bukan seorang adik."
Keira mengacak rambut Dizza yang membantin.
Aku hanya tak suka Kakak bersama pria yang ibunya seperti nenek sihir.
Kamu benar, firasatmu benar.
"Aku baik-baik saja." Keira berkata dengan sungguh-sungguh.
"Lalu apakah kamu sudah bosan minggat?" tanya Keira. Dizza menyilangkan tangan.
"No, aku akan tetap tinggal di luar. Aku hanya pulang karena ibu memintaku menengoknya." Dizza segera berdiri.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Karena ibu sakit, Kakak harus menjaganya, jangan terlalu sering berpacaran." Dizza memberi ultimatum.
Keira tertawa lalu ia memanggil Dizza.
"Dizza ...."
"Terima kasih," ucap Keira tulus.
**
Bara menunggu Keira di balkon. Keira menyusulnya setelah memberi ibunya obat.
"Bagaimana ibumu?"
"Saat ini baik-baik saja. Dokter memintanya istirahat, ia memintaku menjaganya." Keira berbohong.
"Hmm, soal tadi ... maaf ... aku tadi terlalu mengkhawatirkan ibu, aku minta maaf ...." Keira berusaha menjelaskan.
Bara tersenyum lalu mendekati Keira.
"Jangan membahasnya." Bara merangkul Keira.
"Kita, kan, akan segera menikah, jangan khawatir." Bara tersenyum salah mengartikan kekhawatiran Keira. Keira memaksakan diri ikut tersenyum. Ia tak punya pilihan lain.
**
"Ibu tidak bisa hadir di acara ini, maafkan ibu." Ibu masih terbatuk-batuk.
Keira mengangguk mengerti. Mereka akan melakukan makan malam bersama dengan keluarga Wijaya. Dizza dipaksa untuk ikut serta.
__ADS_1
Dizza awalnya tak sudi mengikuti ritual makan malam membosankan, namun karena ia ingin melihat Ny Wijaya, ia setuju.
Makan malam itu sebenarnya adalah makan malam untuk merayakan hari ulang tahun Ny Wijaya. Selain keluarga Kusuma, ada keluarga-keluarga lain yang datang. Keira dan Dizza sedang berada di dalam toilet, Keira merapikan rambut Dizza yang tidak rapi.
"Pusat perhatian di sini adalah Kakak, semua orang pasti ingin melihat lebih dekat menantu Wijaya yang penuh drama." Dizza mendesah.
"Hush, jaga bicaramu. Rambutmu kenapa jadi berantakan?" Keira melepas jepit rambut miliknya kemudian memakaikannya pada Dizza, ia menatap wajah Dizza di cermin lalu tersenyum bangga.
"Kamu semakin cantik dan sudah dewasa. Semoga malam ini kamu bertemu pria baik-baik yang menyayangimu." Keira berdoa dengan tulus.
Dizza mencemoh, "Pria baik-baik?Semua pria di kalangan kita tak ada yang baik. Kalau prianya baik, ibunya yang seperti monster." Dizza berkata pelan.
"Apa katamu?" tanya Keira tak mendengar karena ia sedang merapikan rambutnya sendiri. Dizza memandang Keira lalu ia teringat sesuatu.
"Ke mari Kak, berapa kali aku bilang, jangan menjadi malaikat untuk orang lain. Rambut Kakak tadi sudah bagus, sekarang malah berantakan. Aku sebenarnya membawa jepit sendiri, tapi tak apa, kita bertukar." Dizza terus bicara sambil mengeluarkan jepit bunga mawar.
Keira melihat jepit itu, hatinya seketika membeku. Tanpa bisa dicegah, Dizza sudah memasangkan jepit bunga mawar di rambut Keira.
"Cocok dengan baju Kakak, sekarang mari kita keluar."
Keira tertegun. Ia memandang wajahnya di cermin. Ia memakai jepit bunga mawar pemberian orang yang dicintainya, di rumah calon suaminya. Ia tak ingin melukai dirinya sendiri, ia ingin melepasnya, tapi Ny Wijaya menggedor toilet dan meminta Keira segera keluar.
Dizza mengelilingi kolam renang dengan bosan. Keira sedang bicara dengan beberapa teman Bara, ayahnya sudah lebih dulu pamit dengan alasan menemani istrinya yang sakit.
Tadinya Dizza ingin mengamati Ny Wijaya, tapi ia tak memiliki kesempatan karena wanita itu sibuk dengan tamu-tamunya.
"Hey, mengapa kamu disini?"
Dizza dikejutkan sebuah suara, ia menoleh dan terkejut melihat pria di Paris Love berdiri sambil cengar cengir.
"Kamu mengapa kamu disini?" Dizza bertanya panik.
"Aku diundang."Jawab pria itu polos.
"Lalu kamu?" Pria itu balik bertanya.
"Bukankah Nyonya ini yang kamu intip ketika ...."
Dizza membungkam mulut pria itu. Pria itu meronta berusaha membebaskan diri, tapi Dizza tak mau melepaskannya, ia menyeret pria itu untuk menjauh.
"Dizza ...." Sialnya Dizza bertemu Keira.
Dizza melepaskan pria itu.
"Siapa dia?" tanya Keira. Pria itu menatap Keira.
"Kak, ini ... aku ...." Dizza kebingungan.
"Saya Adrian, Kak." Pria itu mengulurkan tangan. Keira tersenyum.
"Keira, kakak Dizza. Kamu teman Dizza?" tanya Keira heran.
"Eh iya ... ka-mi tem-an." Mereka menjawab terbata-bata.
Keira memandang keduanya dengan curiga lalu menatap Dizza dengan tajam.
__ADS_1
"Kak, kami pergi dulu ...."Dizza menyeret Adrian.
Keira tertawa melihat keduanya. Bara yang menyusul Keira segera merangkulnya. Adrian sempat menoleh dan melihat Keira pergi bersama Bara.