
Dizza pulang dengan gelisah, setelah mendengar informasi yang diberikan Bibi Sarti, ia segera berbelok ke perusahaan Kusuma.
Keira yang baru saja kembali dari ruangan Tuan Kusuma berjalan dengan pikiran dan beban memenuhi kepalanya. Ia bahkan tak melihat Dizza yang berdiri memperhatikannya. Keira masuk ke dalam ruangannya tanpa senyum, baru saja ia menjatuhkan diri di sofa, Dizza menghambur masuk.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Keira bertanya dengan heran. Dizza tak menjawab, ia duduk di sebelah Keira.
"Kakak dari ruangan ayah?"
Keira mengangguk.
"Apa ada masalah?"
"Hanya masalah kerja seperti biasa."
Keira tak membahas bahwa Kusuma menekankan padanya tentang seberapa pentingnya investasi Grup Oshi dan ia mengharuskan Keira berhasil, apa pun caranya.
Dizza menatap Keira.
"Kak, kalau Kakak lelah, mengapa Kakak tidak istirahat saja atau berhenti saja?"
"Heh?" Keira tak mengerti ucapan Dizza, lalu secara tiba-tiba Dizza memeluk Keira.
"Kalau Kakak lelah, berhenti saja bekerja."
Keira tertawa, "Apa yang kamu bicarakan."
"Kak, jangan menanggung beban sendirian."
Keira melepas pelukan Dizza.
"Apa kamu datang kesini hanya untuk ini?" tanya Keira heran.
Dizza mematung sekejap lalu tersenyum.
"Ya, mulai sekarang aku akan lebih sering datang dan lebih sering memeluk Kakak!"
"Hah?Apa kamu sehat?" Keira semakin bingung.
Dizza berdiri lalu berkata cepat,"Lupakan saja!"
Keira tak mengerti ucapan Dizza, ia hanya tertawa kecil.
"Kak, aku pergi dulu." Dizza tiba-tiba teringat sesuatu.
"Pergilah, hati-hati di jalan."
Keira melambaikan tangan, Dizza menatap Keira seakan enggan meninggalkannya.
**
Keira menemui Evan di sebuah apartemen. Evan menyambutnya dengan senyum lebar.
"Di mana Ny Leah?"
"Mengapa kamu mencarinya?"
"Jangan mempermainkan aku."
"Kamu yang bersedia dipermainkan, kamu punya pilihan untuk tidak datang, kan?"
Keira membenarkan ucapan Evan dalam hati.
"Aku sudah menyiapkan makan malam. Silahkan masuk." Evan bicara dengan serius.
Keira terpaksa mengikutinya.
Evan menata meja makan dengan suasana romantis, Keira hanya diam mengamati meja.
"Dulu aku selalu membayangkan bisa menikmati makan malam seperti ini bersamamu."
"Ah, pasti ini terasa biasa saja bagimu, kan?"
"Silahkan makan." Evan mempersilahkan Keira menikmati hidangan yang ia sajikan. Namun Keira hanya meminum air yang disajikan.
"Evan, kumohon, hentikan permainan ini."
"Katakan, apa maumu?"
"Aku mau kamu."
Evan meletakan garpunya lalu tertawa.
"Kalau aku mengatakan ini, apa kau bersedia berkorban demi proyek Kusuma?"
"Kamu, jangan kurang ajar." Keira merasa tersinggung.
"Aku yakin kamu akan menolak kalau untuk Kusuma, tapi kamu pasti tidak bisa menolak jika itu demi adik dan ibumu, kan?"
"Evan, aku lelah dengan semua ini. Katakan, apakah kamu memang tahu di mana adikku? Atau kamu hanya mengancamku?"
"Untuk apa aku memberi tahu musuhku?"
"Musuh?" Keira bertanya dengan pelan.
"Ya, musuh. Sekarang kita berdiri di pihak yang bersebrangan. Kita akan saling membunuh, bukankah begitu?"
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
Evan berdiri, mengambil amplop lalu melemparnya ke pangkuan Keira. Keira mengambil amplop berisi foto-foto ibunya yang sedang bicara dengan sesorang.
"Apa ini?"
"Jangan pura-pura tidak tahu!"
"Aku tidak tahu!" Keira bersikeras.
"Ibumu menyewa pembunuh bayaran untuk membunuhku dan Nada."
"Apa?"
Keira lemas mendengar bahwa ibunya berencana membunuh Evan dan Nada.
Keira mengambil sebuah foto lain yang bergambar Dizza.
"Apa ini?"
"Tentu saja kami mengambil tindakan pencegahan dengan lebih dulu mengawasi adikmu!"
"Kalau sampai Ibumu melakukan sesuatu pada Nada, Dizza akan ikut menanggungnya."
Keira memijat dahinya yang tiba-tiba terasa pusing.
"Tolong hentikan semua ini. Kalau kamu menghentikannya, aku akan memohon pada ibuku untuk menghentikannya juga."
Evan tertawa. "Kau pikir aku bisa dua kali tertipu?"
"Van, kumohon... "Keira merasa kepalanya semakin pusing, pandangannya menjadi kabur, lalu ia tak sengaja menjatuhkan gelas. Evan hanya memandang Keira dalam diam. Keira menatap Evan, lalu ia menyadari sesuatu.
"Kamu memberiku apa?" tanya Keira dengan suara lemah.
Evan tak menjawab, ia mendekati Keira yang semakin pusing lalu tepat saat Keira jatuh, ia menangkapnya.
*
Keira membuka mata perlahan, seberkas cahaya matahari menyilaukan pandangannya. Kepalanya terasa berat, perlahan ia melihat sekelliling ruangan yang terasa asing baginya, lalu ia teringat saat makan malam dengan Evan.
Evan memberinya obat tidur.
Keira mencoba bangkit lalu keluar dari kamar yang ternyata dikunci.
Apa ini penculikan?
Seketika ia menjadi panik. Keira berusaha mencari jendela namun sia-sia, kamar itu berada di lantai 16.
Jeglek. Pintu kamar terbuka, Evan berdiri di depan pintu.
"Apa kamu mencoba membunuhku lebih dulu?" tanya Keira.
Evan tertawa mengejek.
"Ini penculikan, aku akan melaporkanmu!"
Keira berjalan keluar, Evan menahan tangannya. "Jangan keluar."
"Mengapa kamu harus bertingkah seperti ini?" tanya Keira.
Evan memaksa Keira kembali duduk.
"Dengarkan aku!"
"Ibumu mengancam Nada!"
Keira menatap Evan tak percaya.
"Kamu berbohong!"
"Ia menyuruh Nada kembali ke luar negeri."
"Tapi, mengapa?"
Kepala Keira dipenuhi berbagai pertanyaan, mengapa ibunya harus menyingkirkan Nada?
Evan memandang Keira dengan marah.
"Apakah mata hati kalian sudah dibutakan harta?"
"Apa maksudmu?"
"Bagaimana mungkin kalian tidak mengenali keluarga kalian sendiri?! Apa kalian memang tidak ingin mengenalnya lagi?" Evan berteriak dengan marah.
"Keluarga?keluarga apa?"
Evan mengeluarkan kalung Nada dan melemparnya ke pangkuan Keira.
"Kamu pikir aku membohongimu?Itu kalung adikmu, kan?"
Keira mengambil kalung yang sama persis dengan miliknya.
"Di mana kamu temukan ini?Katakan di mana?!" Keira berteriak.
Evan membanting vas di meja dengan keras.
__ADS_1
"Bagaimana bisa seorang ibu tidak mengenali anaknya sendiri?!"
"Van, apakah Nada.... tapi... bagaimana..."
Keira terisak. Ia memang mencurigai Nada yang memiliki bekas luka yang sama dengan Zea, tapi ia tak menyangka bahwa Nada adalah Zea.
"Kamu tahu, seumur hidup dia berusaha mencari keluarga kandungnya, mencari tahu mengapa dia terpisah. Dia bahkan yakin memiliki seorang kakak yang menunggunya." Evan bicara tanpa melihat Keira.
"Untuk pertama kalinya aku bersyukur bahwa ingatannya tidak kembali! Bagaimana perasaannya kalau dia tahu bahwa dia sengaja ditinggalkan dan dibuang?"
"Kami tidak membuangnya... apa yang terjadi padanya?" Keira masih menangis.
"Van, tolong biarkan aku bicara padanya."
"Untuk apa? kamu hanya akan menambah lukanya. Ibumu bahkan mengusirnya kembali. Biarkan dia hidup seperti ini, tak ingat pada keluarganya."
"Mengapa dia tak mengingat kami?"
"Itu anugerah untuknya!"
"Van, tolong, aku ingin bertemu dengannya....." Keira menangis sejadi-jadinya.
"Aku bahkan tidak tahu dia masih hidup.. bagaimana dia hidup selama ini?"
"Aku akan membawa Nada ke luar negeri, menjauh dari kalian!"
"Van, kumohon..."
"Seperti yang ibumu minta, aku akan mengambil satu anaknya, sama seperti kalian dulu mengambil nyawa Hans!"
"Van, apa yang akan kamu lakukan pada Zea?"
"Tenang, aku tidak akan membunuhnya. Aku akan membiarkannya hidup tenang tanpa kalian, seumur hidup dia akan membenci kalian. Kamu dan Ibumu!"
Keira menangis.
"Toh, kalian juga tidak menginginkan kehadiran Nada, kan? aku yakin ibumu juga tidak akan keberatan ditinggalkan anaknya untuk kedua kali. Bukankah dia yang meminta Nada untuk menjauh dari kehidupan kalian? Aku tidak akan menyakiti Nada, tapi berdoalah paman tidak mengenalinya sebagai adikmu.."
"Ibuku tidak mengenalinya..."Keira terisak.
"Tapi, aku penasaran, apa yang akan dilakukan ibumu jika anak yang lain menderita."
"Apa maksudmu?"
Evan mengeluarkan ponselnya dan memberikan pada Keira. Keira mengambil ponsel yang membuka sebuah video.
"Apa kamu lakukan padanya?!" Keira berteriak marah.
"Aku nggak melakukan apa pun, pamanku yang melakukannya."
"Tolong lepaskan Dizza.....kumohon..."
Keira memohon pada Evan. Evan mengambil ponselnya dan menelpon seseorang, ia menyalakan loudspeaker dan membiarkan Keira mendengar teriakan Dizza yang dibentak seseorang.
Keira menyeka air matanya.
"Paman menyekapnya dari kemarin."
"Dizza nggam tahu apa-apa... Kumohon Van, lepaskan mereka. Kalau kamu ingin membalas dendam, lakukan padaku. Biarkan Dizza dan Zea pergi. Lepaskan mereka."
Evan duduk di sebelah Keira.
"Apa kamu akan melakukan segalanya demi mereka?"
Keira masih menangis.
"Jawab aku!" Evan membentak.
"Lakukan apa maumu! Tapi tolong jangan sakiti mereka...." Keira ikut berteriak.
Evan memandang wajah Keira.
"Tinggalkan mereka semua...." Kata Evan pelan.
"Tinggalkan tunanganmu."
Keira memandang Evan dengan takut.
"Kamu... "
"Aku harus yakin bahwa kamu ada di pihakku. Tinggalkan mereka semua dan hidup denganku." Kata Evan pelan.
Keira menyeka air matanya.
"Bagaimana bisa kamu menjadi seperti ini.....??"
"Apa hidup bersamaku adalah pilihan sulit bagimu?" tanya Evan lirih. Ia menahan tangisnya.
"Apa kamu akan tetap memilih kehidupanmu dan mengorbankan kedua adikmu?" Evan berdiri dan memalingkan wajahnya.
Keira menarik napasnya.
"Baiklah kalau itu keinginanmu. Lepaskan mereka, aku akan mengikuti kemauanmu..."
Evan tak menjawab, ia berjalan keluar dengan pelan. Keira kembali menangis.
__ADS_1
Seumur hidup aku bermimpi bisa mengulang kehidupan bersama pria ini. Seumur hidup aku merindukannya dan berharap suatu saat dia kembali. Tuhan, tapi mengapa Kau mengembalikannya menjadi orang yang berbeda?