No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Obat Luka


__ADS_3

Saat mendengar Bara membawa Keira, Evan kalut. Ia bergegas mencari keberadaan Keira. Dengan bantuan Adrian mereka menemukan rumah baru Bara. Mereka yakin Keira berada di rumah itu karena mobil Bara terparkir di sana.


Beruntung tidak ada penjaga di rumah itu.


Mereka mengendap-endap mengintai rumah. Evan berada paling depan, awalnya mereka ingin mendobrak pintu, tapi Adrian melarang. Karena mendengar suara-suara kecil dari dalam rumah, Evan curiga. Ia memilih mengintip melalui jendela yang terbuka.


Alih-alih ingin menyelematkan Keira yang dibawa paksa Bara, ia justru melihat keduanya sedang asik berciuman di lantai. Rambut dan pakaian Keira sudah berantakan, kemeja Bara terbuka.


Evan terkejut apalagi saat melihat Keira malah memeluk Bara. Ia mundur perlahan.


"Van, mereka di dalam?" Adrian berbisik.


Evan mundur dan mengajak Adrian pergi.


"Jangan menganggu kebahagiaan orang lain. Kita salah, dia tak perlu diselamatkan."


"Apa maksud Kakak?" Nada terlihat bingung. Evan tak menjawab, tapi dari raut wajahnya, Dizza bisa menebak yang terjadi. Ia malah mendekati jendela.


Keira sesaat membeku, ia mendapatkan kunci tapi Evan malah pergi meninggalkannya. Ia tahu Evan pasti salah sangka. Hilang sudah harapan Keira, ia nyaris putus asa, ia menoleh sekali lagi ke jendela dan saat itulah ia melihat Dizza. Dizza shock melihat Keira, ia menutup mata.


Dalam waktu sedetik, Keira mengangkat kunci yang didapatnya. Ia berdoa Dizza melihat kunci itu. Dan benarlah Dizza melihatnya. Dizza memberi tanda ok pada Keira.


Bara masih berusaha menyelesaikan hasratnya, ia tak menyadari Keira sedang menunda-nunda.


"Sayang ... aku cinta kamu ...."


"Bara, aku nggak nyaman di sini." Keira memberi alasan, ia mendorong Bara perlahan sembari menggenggam kunci.


Keira baru berdiri mendekati jendela tapi Bara menariknya. Keira seketika terjatuh di lantai.


"Keira, maafkan aku." Bara akan menarik Keira tepat saat itu Keira melempar kunci ke atas meja dekat jendela.


"Apa yang kamu lakukan sayang?" Bara kembali memeluk Keira. Keira kehabisan akal. Ia melirik meja.


Mengapa Dizza tidak mengambil kuncinya?


Apa aku tadi berhalusinasi melihatnya.


Dizza memasukan tangannya ke jendela untuk mengambil kunci tapi Bara melihatnya.


"Siapa itu?" Bara berdiri untuk melihat lebih jelas.


Dizza menarik kembali tangannya, Keira berdiri untuk menghalangi Bara tapi Bara mendorong Keira untuk menyingkir. Bara tak sadar mendorong dengan keras hingga Keira terjatuh dan membentur sudut meja.


"Awww!" Keira merintih. Bara melihat Keira terbentur, ia menunduk menatap Keira.


"Apa kamu terluka?" tanya Bara.


Keira berusaha berdiri. Ia melihat vas bunga.


"Maafkan aku..." Keira berkata pelan dan


PRANG!


Keira memukul kepala Bara dengan Vas tepat saat Dizza berhasil mendapatkan kunci.


"Aku berhasi!" Ia menjerit bersamaan dengan suara vas yang pecah, membuat Evan, Nada, dan Adrian yang sedang berdebat menoleh bersamaan. Mereka berlarian kembali.


"Kamu ... apa yang kamu lakukan Keira?" Bara memegang kepalanya. Bukan kepalanya yang sakit tapi hatinya yang terluka karena Keira tega memukul kepalanya dengan Vas.

__ADS_1


Keira ketakutan, ia pikir vas itu bisa membuat Bara pingsan tapi pria itu malah semakin murka.


Bara yang sudah dikuasai setan menjadi gelap mata, ia mendorong Keira dengan kasar. Ia bahkan tak peduli saat Keira terbentur sudut meja yang kedua kalinya.


"Bara, stop! Jangan begini!"


"Kamu bilang akan melakukannya!" Bara merobek lengan baju Keira lagi, Keira kesulitan melawan karena kepalanya berkunang-kunang.


Di luar pintu, Dizza dengan panik berusaha membuka pintu, tapi karena panik kuncinya tidak bisa masuk dengan cepat. Adrian mendorong Dizza dan menggantikannya memasukan kunci.


Pintu terbuka, Keira menatap ke empat manusia yang terpaku melihatnya. Ia tersenyum dan menghela napas lega.


"Brengs*k! Ban*s*t!" Evan menendang Bara, menyingkirkannya dari Keira.


Keira berusaha berdiri tapi kepalanya terasa pening, dia terhuyung dan di tangkap Mada yang segera mendekapnya.


Adrian melepas jaketnya dan memberikannya pada Dizza yang segera memakaikan pada Keira.


Adrian menyusul Evan yang masih memukuli Bara.


"Kak, kepala Kakak?" Nada melihat darah di kepala Keira.


"Nggak apa. Ini bukan apa-apa. Yang di perut bukankah lebih parah?" Keira mencoba mencairkan suasana.


"Kak, Kakak baik-baik saja?" tanya Dizza.


"Kakak nggak apa-apa, tapi sepertinya dia yang nggak baik-baik saja." Keira menoleh pada Evan yang berteriak-teriak karena Adrian melarangnya memukul Bara yang sudah babak belur.


"Sudah, kita tinggalkan saja dia." Adrian mengajak mereka pulang.


Keira menolak ikut bersama Adrian. Ia meminta Dizza memanggil Pak Yadi.


Nada dan Dizza mengerti perasaan Keira yang tak ingin semobil dengan Evan.


****


Kusuma mengalami serangan jantung, kondisinya tidak parah tapi tetap harus dirawat. Karena alasan itu Keira meminta kedua adiknya merahasiakan kejadian yang menimpanya.


"Mengapa kita nggak melaporkannya ke polisi?" tanya Adrian.


"Jangan melaporkannya." sahut Keira.


Evan menatap Keira yang tidak melihatnya karena Nada sedang memberi obat di dahinya. Keira merintih lalu memukul tangan Nada.


"Pelan-pelan!" katanya memperingatkan.


Nada hanya tertawa.


"Mengapa kau membelanya?" tanya Evan sengit. Keira terperanjat. Nada ingin memasang plester di dahi Keira, tapi Keira menahan tangan Nada. Keira berdiri menatap Evan.


"Membelanya?" Keira balik bertanya, ia menendang kursi di depannya lalu berjalan ke kamar meninggalkan para penolongnya.


Evan memandang Keira dengan bingung.


"Apa Kakak sungguh bodoh?" tanya Nada.


"Kak Keira bukan sedang membela Bara."


"Lalu mengapa dia nggak mau

__ADS_1


melaporkannya?" Sejenak Evan teringat saat pertama kali menemukan keduanya berciuman. Evan mengepalkan tangan.


"Apakah karena ...."


Dizza melempar segulung tisu ke wajah Evan.


"Keluarkan pikiran bodoh dari otak Kakak!" Kata Dizza kasar.


"Kalau kita melaporkan Bara, polisi akan menyelidiki segalanya. Polisi akan bertanya segala hal, mengorek informasi sampai ke akar-akarnya. Apa Kak Evan mau nama Kak Keira kembali terseret ke publik?"


"Sudah cukup dia mengalami segala hal yang merusak namanya," sambung Dizza.


"Walau kebenaran terungkap, rumor akan berjalan. Lagipula kebenaran tidak menjamin keadilan untuk manusia seperti keluarga Wijaya." Adrian menimpali.


"Apa Kakak paham?" tanya Dizza.


Evan terduduk, ia mengerti tapi tidak menjawab apa pun.


"Sekarang aku tahu mengapa hubungan kalian berdua tidak berjalan lancar." Nada memandang Evan dengan kesal.


***


Keira berdiri merenung di balkon. Suasana sepi karena Nada sudah tertidur, Dizza menemani Ibu di rumah sakit. Keira memegang dahinya lalu teringat Nada belum selesai mengobatinya. Ia baru akan kembali mengambil kotak obat ketika ia bertatap muka dengan Evan yang membawa kotak obat. Keira kesal melihat Evan, ia berjalan melewati Evan tapi Evan menarik tangannya.


"Maafkan aku ...." ucap Evan sungguh-sungguh tapi Keira tak menjawab.


"Kamu nggak mungkin bisa memplester dahimu sendiri, kan?"


"Aku bisa melihat cermin." Keira bersikeras.


Evan memaksa Keira duduk lalu mempersiapkan peralatan pengobatannya. Dengan sigap ia membuka kotak obat lalu ia terdiam, ia tak tahu bagaimana caranya mengobati luka.


Keira memandangnya dengan kesal.


"Kamu benar-benar nggak tahu cara mengobati luka," ucap Keira.


Ia tidak sedang membicarakan luka di dahinya, Evan pun tahu Keira sedang berusaha menyindir dirinya. Keira akan berdiri tapi Evan menahannya.


"Kalau begitu tolong ajari aku bagaimana caranya mengobati luka," kata Evan lirih.


"Karena kamu juga nggak bisa mengobati luka sendirian, kan?"


Keira terdiam lalu ia duduk kembali.


"Ambil botol kuning itu, teteskan di kapas ...."


Evan memandangi wajah Keira, ia mengerjakan semua perintah Keira dengan semangat.


"Nah, selesai...." Evan memplester dua luka di dahi Keira lalu tanpa sengaja dia melihat bekas kemerahan di pundak Keira yang terbuka.


Keira masih diam hingga dia menyadari arah pandang Evan, sekejap dia merasa malu. Ditariknya bajunya untuk menutupi pundaknya yang terbuka lalu ia berdiri.


"Terima kasih," ucap Keira beranjak pergi.


"Aku akan belajar mengobati luka lainnya, " ata Evan. Keira terdiam, tanpa berkata apa pun ia meninggalkan Evan.


Apakah kau tahu obat hati yang terluka?


Kalau kau tahu, tolong segera bawa padaku.

__ADS_1


Karena aku pun tak tahu bagian mana dalam hatiku yang terluka.


Aku tak bisa menebak, karena semuanya terasa menyakitkan.


__ADS_2