No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Perdebatan


__ADS_3

Keira mengunjungi Kusuma di rumah sakit. Ibu yang melihat dahinya diplester bertanya heran.


"Nggak apa-apa, Bu, biasa menabrak meja." Keira tak sepenuhnya berbohong, ia memang menabrak sudut meja di rumah Bara.


"Kok, menabrak meja sampe dua plester gitu? Beda tempat lagi." Lestari curiga.


"Lagi ngetren, Bu, main plester di jidat," jawab Dizza asal.


Keira tertawa, Lestari memeriksa dahi Keira. Ini yang membuat Keira ragu menemui orang tuanya, ibunya pasti akan mencari tahu seperti detektif. Keira mengelak dari Lestari.


"Udah nggak apa-apa, Bu. Biasa Dizza suka meletakkan kunci sembarangan di meja. Habis menabrak meja, aku kebentur kunci." Keira berimprovisasi.


"Setelah itu kejatuhan vas, ketimpa pot, terguling di tangga," sambung Dizza.


"Dizza ...." Kusuma menegur Dizza.


"Maaf, Ayah." Dizza tertawa.


"Bercanda, Kak." Dizza mengangkat kedua jarinya di depan Keira.


"Tapi Yah, kalau nggak dijagain, Kakak ini memang berpotensi luka-luka." Dizza menyambung lagi.


"Dizza, sudah." Keira tak ingin membahas lukanya.


Ia ingin melihat ayahnya. Kusuma memandang Keira.


"Coba Ayah lihat." Kusuma meminta Keira mendekat. Keira dengan canggung duduk di dekat Kusuma. Kusuma memeriksa dahi Keira. Ia tahu Keira berbohong.


"Jangan terluka lagi." Kusuma berkata pelan.


Sebuah kalimat bermakna ambigu yang dimengerti oleh semuanya. Keira memandang Kusuma.


"Apa Ayah baik-baik saja?" Keira berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Bisakah kamu kembali ke kantor dan menggantikan Ayah sementara?" pinta Kusuma.


Keira ingin menolak, tapi meminta Dizza yang menggantikan lebih tidak mungkin lagi. Dizza tak pernah berada di kantor, dia tak mengerti dan tak peduli.


"Baiklah Ayah."


"Jangan terluka lagi ...."Kusuma mengulang ucapannya.


Keira tersenyum lalu berpamitan.


Keira ragu kembali ke kantor, ia tahu para direksi pasti sedang mengamuk. Saham turun, investor kabur, bahkan ayahnya dirawat.


***


"Aku akan kembali ke rumah." Keira bicara pada Evan.


"Bagaimana Nada?" tanya Evan.


Keira tidak bisa membawa Nada pulang. Ia akan mencarikan Nada rumah.


"Aku akan mencarikan dia rumah."


"Kalau begitu tunggu sampai rumah itu dapat, sebaiknya kalian tinggal di sini dulu."


Keira merasa tak enak karena Evan harus tinggal di Lets Read.


"Tapi kamu harus tinggal di Lets Read ...."


"Apa kamu ingin aku tinggal bersamamu?" Evan menggoda. Keira langsung gusar, ia segera berdiri.


"Keira, kenapa kamu nggak pernah menyelesaikan pembicaraan kita?" tanya Evan.


"Apa yang harus dibicarakan?" Keira balik bertanya.


Evan kehabisan kesabaran.


"Apa? Apa kamu nggak ingin menyelesaikan segalanya? Luka hatimu, bagaimana aku harus menyembuhkannya?" tanya Evan frustasi.


"Aku bersalah, tapi haruskah kamu bersikap begini terus?"


Keira masih diam, dia sungguh ingin menyelesaikan perselisihan dalam hatinya tapi dia enggan membahasnya.

__ADS_1


"Aku tahu kamu terluka, tapi tolong, beri aku kesempatan sekali lagi ... Aku yang melukaimu, biarkan aku yang menyembuhkanmu."


"Aku membencimu." Keira menjawab.


Evan tertegun, tak menyangka selama ini Keira memendam perasaan benci pada Evan.


"Aku membencimu dan diriku sendiri." Keira melanjutkan.


"Ketika aku mengingat bagaimana perlakuanmu saat kamu mengancamku, aku membenci diriku sendiri karena aku mencintai orang yang menyakiti hatiku. Aku membenci diriku karena walaupun aku sudah berusaha membenci dirimu, aku tetap nggak bisa melupakanmu."


"Keira, maafkan aku ...."


"Aku sudah memaafkanmu. Aku tahu yang terjadi di antara kita adalah kesalahpahaman. Tapi saat aku melihatmu malam itu di jendela rumah Bara lalu kamu pergi begitu saja ...." Keira terdiam.


"Keira, aku sangat terkejut melihatmu dan dia ... aku terluka ... apakah kamu nggak mengerti perasaanku?"


"Apakah kamu pikir aku nggak terluka? Apa kamu pernah melihat jauh ke dalam hatiku?!" Keira bertanya dengan emosi.


"Aku terus bertanya-tanya apakah selama ini kamu menilai berdasarkan penglihatanmu bukan hatimu? Di mana sebenarnya kamu meletakkan diriku? Di hatimu atau hanya di depan matamu?"


"Kamu ingin tahu? Aku bahkan membawamu dalam setiap mimpiku! Mimpi buruk atau mimpi indahku, kamu selalu ada. Mimpi indahku adalah menghabiskan waktu denganmu, mimpi burukku adalah kehilangan dirimu. Setiap malam aku bertemu dirimu. Lalu saat kita bertemu, aku melihatmu bahagia bersama orang lain ... lalu malam itu, aku nggak tahu kamu bersandiwara, yang kulihat ...."


"Cukup Van!" Keira merasa lelah meneruskan perdebatan mereka.


"Cukup! Aku sudah tahu bagaimana kamu melihatku dan di mana kamu menempatkan aku!" Keira berlalu pergi.


****


Nada mendengarkan curahan hati Evan. Mereka sedang berada di Lets Read.


"Kakak memang bodoh, Kak!" Nada mengumpat kesal.


"Bagaimana bisa Kakak meninggalkannya begitu saja? Perempuan mana yang tidak terluka hati dan harga dirinya? Belum lagi sewaktu Kakak mengancamnya, Kakak memperlakukannya tidak baik!" Nada membela Keira.


"Tak ada yang bisa Kakak lakukan selain meminta maaf. Berlutut, bersujud atau apa pun itu, bersungguh-sungguhlah meminta maaf!"


"Aku sudah meminta maaf ...."


"Itu bukan meminta maaf, tapi meminta perdebatan!"


"Kamu mendengar pertengkaran kami?" Evan mendadak malu.


Nada menutup mulutnya. Ia keceplosan.


"Tentu saja aku mendengarnya. Kakak sungguh memalukan!"


"Kakak mana yang memalukan?"


"Tentu saja KAU!"


***


Dizza membantu Keira melepas plester di dahinya. Alih-alih membuka perlahan, Dizza mencabutnya dengan keras. Keira mengerang kesakitan. Ia memukul Dizza.


"Maaf, tapi siapa tahu bisa sekalian melembutkan kerasnya kepala Kakak!" seru Dizza kesal.


"Apa maksudmu?"


"Kakak terlalu keras kepala."


Keira terdiam.


"Mencintai tapi nggak mau memaafkan, egois...."Dizza bersenandung.


Keira melempar Dizza dengan bantal.


"Aku sudah memaafkannya."


"Itu bukan maaf, tapi hukuman. Hukuman yang menghukum diri sendiri, sungguh menyedihkan!"


"Aku sendiri, adik yang mencintai Kakak sepenuh hati, kaget melihat Kakak malam itu! Apalagi Kak Evan?! Apa Kakak nggak bisa memahami pria?"


"Bukan dia nggak melihat Kakak dengan hatinya, tapi perasaan kaget seseorang itu berbeda. Sekilas pandang ia melihat wanita yang dicintainya sedang ...."


"Tak perlu kamu teruskan!" Keira mengingatkan. Dia sendiri sebenarnya merasa malu mengingatnya.

__ADS_1


"Aku tahu Kakak malu karena ia melihatnya. Aku mengerti perasaan Kakak. Bukankah memang hidup tempatnya kesalahpahaman. Kita bisa tersandung salah paham, tapi selama kita mau meminta maaf, mengakui dan memaafkan, tak akan menjadi masalah."


"Kak Evan sudah mengakui dan meminta maaf, apa Kakak akan terus menutupinya dengan kekerasan kepala Kakak?"


Keira memandang Dizza dengan kesal.


"Mengapa kamu begitu pandai bicara?"


Dizza tertawa lalu beranjak pergi.


"Dizza, kamu belum membantu Kakak membersihkan luka ini."


"Bersihkan sendiri atau kalau tak sanggup, minta bantuan kekasih Kakak membersihkan luka Kakak!"


Dizza berteriak meninggalkan Keira.


Keira mengutuk Dizza tapi kemudian tertawa sendiri.


***


"Bagaimana kabar baj*ngan itu?" Evan bertanya pada Adrian.


Seketika Nada dan Dizza melirik Evan. Evan menutup mulut lalu pura-pura batuk. Dizza dan Nada kembali melirik Keira, tapi yang dilirik tak peduli. Keira bersikap biasa saja, ia sibuk memeriksa laporan-laporan kantor.


"Kak, kita harus segera mencari investor." Adrian memberi saran.


"Direksi ingin memecatku." Keira memberi kabar.


Yang lain terkejut kecuali Adrian.


"Sudah pasti mereka akan memecat Kakak. Kakak harus mencari dukungan," kata Adrian lagi.


Dizza tak mengerti pembicaraan itu. "Kalau dipecat apa artinya? Itu toh perusahaan ayah, kalau dipecat, ya sudah, tidur saja di rumah."


Keira melempar pulpen ke arah Dizza, menyuruhnya diam.


"Aku akan bicara dengan ayahku untuk membujuknya menjadi investor," kata Adrian tulus.


"Jangan melakukannya karena alasan pribadi. Kamu harus meninjau proyek mega hotel dulu." Keira memperingatkan. Adrian tertawa.


"Aku sudah meninjaunya. Justru aku malah tidak akan mungkin melakukannya untuk alasan pribadi ...." kata Adrian terkekeh.


Dizza menendang Adrian. Keira dan Nada berpura-pura tak melihat.


"Kak, mengapa Kakak nggak kembali ke Grup Oshi?" tanya Nada.


"Aku sudah mengembalikan semua saham atas namaku di sana. Nyonya itu hanya menggunakan namaku untuk ...."


"Ehhhhemmmm..." Dizza terbatuk-batuk untuk mengingatkan Evan agar berhati-hati mengungkit masa lalu.


Semua melirik Keira yang lagi-lagi tak mendengarkan mereka. Keira menopang kepalanya dengan sebelah tangan, memandangi selembar kertas di hadapannya.


"Aku mau beli makanan," Dizza beranjak pergi.


"Nad, ayo ikut, nanti kalau aku salah beli makanan kamu masuk UGD lagi." Dizza menyeret Nada lalu ia menendang Adrian memberi kode.


"Ehh, ya ... aku akan mengantar kalian."


Ketiga orang itu segera berlarian keluar meninggalkan Keira dan Evan yang tak sadar ditinggalkan berdua.


"Keira ...." Evan memanggil Keira.


"Hmm ...." Keira masih sibuk membaca kertas-kertas di hadapannya.


"Aku mau pergi keluar, apa kamu mau ikut?"


"Silahkan pergi, aku di sini saja." Keira menjawab tanpa menoleh.


"Keira, kamu sendirian, apa kamu berani?" tanya Evan lagi.


Keira menoleh lalu tersadar tak ada siapa pun kecuali Evan.


"Apa kamu merasa aman sendirian di sini?" tanya Evan.


Keira memandang Evan lalu menyipitkan matanya.

__ADS_1


"Aku justru merasa terancam kalau berdua denganmu. Pergilah keluar!" Keira mengusir Evan.


__ADS_2