No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Tawanan Evan


__ADS_3

Keira masuk ke dalam apartemen dengan hati bimbang. Sesungguhnya dia tak mengetahui apa rencana Evan, dia hanya menuruti Evan agar tidak menyakiti Dizza maupun Zea.


Seorang wanita menyambut kedatangan mereka, wanita itu memandangi Keira dengan takut.


"Dia Nona Keira." Evan mengenalkan Keira pada wanita itu.


"Mari Non, saya antar ke kamar."


Keira masih mematung.


"Dia Bibi Ani. Dia yang mengurus rumah ini."


Keira tak menjawab, ia mengikuti wanita itu berjalan ke kamar.


Ketika akan menutup pintu, Keira mendengar wanita itu bertanya pada Evan.


"Siapa gadis itu, Tuan?"


"Wanitaku," jawab Evan santai.


Keira menutup pintu lalu menumpahkan semua perasaanya. Ia menangis sendirian.


Evan memandangi kamar Keira lalu meninggalkan rumah, sebelumnya ia berpesan pada Bibi Ani untuk menjaga Keira dan tidak membiarkan siapa pun masuk ke dalam rumah.


"Non, saya sudah siapkan makan malam. Nona makan dulu, ya," Bibi Ani mengetuk kamar. Keira tak menjawab, ia malah naik ke atas tempat tidur.


"Non...."


Bibi Ani membuka pintu dan melihat Keira yang tertidur, wanita itu mematikan lampu lalu menutup pintu perlahan.


Keira membuka matanya kembali lalu mengingat masa kecil Zea.


Aku sangat membencimu!


Semalaman Keira bermimpi bertemu Zea yang mengucapkan kalimat itu berulang-ulang.


*


Evan kembali ke apartemen saat tengah malam, ia memeriksa kamar Keira dan menghela napas lega karena gadis itu sedang tertidur. Saat akan menutup pintu, Evan mengambil kunci yang menggantung. Ia melihat ke meja makan dan yakin bahwa Keira melewatkan makan malamnya.


"Kamu akan butuh tenaga untuk menangis," kata Evan dalam hati.


Sementara itu Ny Lestari, Bara dan Kusuma kehilangan kontak dengan Keira karena Keira mematikan ponselnya.


Kusuma ingin menanyakan pertemuan Keira dengan Grup Oshi yang belum sempat Keira jelaskan.


Bara ingin bertemu Keira untuk menyelesaikan masalah pertunangan mereka.


Ny Lestari khawatir pada Keira, anak buahnya tidak menemukan keberadaan Keira.


Hanya Dizza yang duduk merenung di kamar. Ia berbohong pada ibunya bahwa ia gagal menemukan Keira.


Sementara keluarga Kusuma resah memikirkan Keira, Baskoro bersiul-siul di meja kerjanya. Ia tertawa bersama Ny Leah.


"Sesaat lagi dunia akan menghancurkan Kusuma perlahan-lahan."


Ny Leah tersenyum, "Ini belum sepadan dengan sakitnya kehilangan anak." Ia memandangi foto Hans yang digenggamnya.


*

__ADS_1


"Kamu harus sarapan." Evan menarik paksa Keira untuk keluar kamar.


Keira duduk di meja makan tanpa menyentuh makanannya.


Bibi Ani yang melihat situasi itu merasa tak enak.


"Silahkan, Non." Bibi Ani menuangkan segelas susu.


Keira diam tak menjawab.


"Aku bukan ingin hidup dengan patung." Kata Evan tajam.


"Hiduplah dengan normal. Makan, tidur, berdandan, hiduplah seperti orang normal, apa itu sulit?" tanya Evan.


Keira menatap Evan. "Apa kamu pernah melihat tawanan yang bisa hidup normal?"


Evan meletakan gelasnya.


"Tawanan?"


"Lalu kamu pikir aku di sini sebagai apa?" tanya Keira.


"Kamu pikir aku bisa makan dengan tenang sementara aku tidak tahu apa yang kamu rencanakan!"


"Makanlah, kamu butuh tenaga untuk terus menangis." Evan meninggalkan Keira lalu ia kembali lagi membawa ponsel Keira.


"Kamu memberiku inspirasi sebagai tawanan. Mulai hari ini, kamu tak akan bisa berkomunikasi dengan siapa pun!"


Evan membanting ponsel itu di depan Keira.


"Sekarang, hiduplah sebagai tawananku. Kamu berjanji bersedia hidup bersamaku, maka lakukan dengan baik. Aku sudah menyuruh orang untuk mengirim semua perlengkapanmu. Mulai hari ini, kamu tidak bisa keluar dari rumah ini."


"Kamu hanya akan menungguku di sini!" lanjut Evan.


"Apa kamu bahagia?" tanya Keira pelan.


"Apa kamu bahagia melakukan ini?" lanjut Keira.


Evan menatap Keira dengan sinis.


"Sejak kalian menghancurkan keluargaku, aku tidak akan pernah bahagia."


Evan mendekati Keira lalu berlutut di sebelahnya.


"Karena itu kamu juga tidak akan bahagia bersamaku."


Evan berlalu meninggalkan Keira dan Bibi Ani yang terpaku melihat segalanya.


"Apa Nona baik-baik saja?" Bibi Ani mendekati Keira.


"Saya nggak apa-apa, Bi." Keira menjawab pelan, walau sesungguhnya hatinya terasa sakit. Bukan hanya karna perlakuan Evan, ia sakit karena Evan telah berubah.


"Nona sebaiknya makan, ya..." Bibi Ani mengoleskan selai pada roti Keira.


"Maafkan saya Nona, saya tidak tahu permasalahan kalian. Yang saya tahu Tuan Evan adalah orang baik, Nona juga kelihatannya orang baik..."


Keira menatap Bibi Ani yang memaksanya memakan roti. Keira terpaksa menerimanya.


"Nona harus sehat agar bisa berpikir jernih untuk menyelesaikan masalah kalian."

__ADS_1


"Terima kasih, Bi." Untuk pertama kalinya Keira tersenyum pada wanita itu.


*


Keira menghabiskan waktunya untuk berkeliling apartemen. Ia mondar mandir mencari penyelesaian masalah yang terjadi. Ia ingin menghubungi asistennya, tapi ia tak memiliki ponsel. Keira menyalakan TV tepat saat itu ia melihat siaran berita entertainment.


Keira hampir menekan tombol untuk mencari berita bisnis ketika pembawa acara membacakan berita terbaru mereka.


Berita mengejutkan datang dari keluarga pengusaha ternama, Kusuma. Demi melancarkan proyek Mega Hotel milik Grup Kusuma, putrinya diduga menjadi wanita simpanan dari pewaris Grup Oshi.


Keira tercekat. Apa ini??


Sementara itu di saat bersamaan, Dizza dan Ny Lestari juga menyaksikan tayangan yang sama.


Sampai saat berita ini diturunkan, kedua belah pihak belum dapat dimintai keterangan. Banyak foto yang merupakan bukti dari perselingkuhan Keira dengan pewaris Grup Oshi. Sangat disayangkan, karena seperti diketahui Keira merupakan tunangan dari putra Wijaya Dermawan.


Keira terduduk di lantai. Matanya nanar menatap deretan foto yang memperlihatkan dirinya dengan Evan. Keira memutar ingatannya. Semua foto itu memang foto asli saat dirinya bertemu dengan Evan belakangan ini.


Jadi ini rencana Evan sesungguhnya??


Keira merasa jantungnya ingin berhenti saat tayangan itu menampilkan gambar dirinya yang berjalan dengan Evan di sekitar apartemen ini.


Mereka bahkan diduga telah tinggal bersama.


Bibi Ani yang tanpa sengaja mendengar berita itu melihat Keira menangis di lantai.


Bibi Ani segera mengambil remote dan mengganti channel, namun channel lain juga menyiarkan berita serupa.


Putri Grup Kusuma diduga merupakan wanita simpanan dari pewaris Grup Oshi.


Bibi Ani segera mematikan TV dan menenangkan Keira.


"Tenang, Non."


Ny Lestari memandang televisi dengan shock.


"Pria itu, Evan!" Ny Lestari memegang dadanya lalu jatuh pingsan. Dizza berteriak-teriak memanggil ibunya.


Sementara itu Kusuma yang belum menyadari berita itu, masih menanti kedatangan pihak Grup Oshi hingga sekretarisnya datang dengan tergopoh-gopoh menyampaikan rekaman berita yang sudah terlanjur tersebar.


"********!" Kusuma melempar laptopnya dan bergegas pulang ke rumah.


*


Bara sedang berada di rumah ketika ibunya berteriak memanggilnya.


"Wanita macam apa dia?!" Ny Wijaya berteriak marah.


Bara melihat rekaman berita itu dengan tatapan tak percaya.


"Nggak mungkin. Ini pasti salah, Bu!"


"Salah? Apa kamu nggak melihat foto-foto itu? Memalukan!" Ny Wijaya segera menelpon suaminya dengan marah.


Bara menatap deretan foto itu, hatinya seketika menjadi sakit.


Jangan memaafkan aku.


Kata-kata Keira terngiang di telinganya.

__ADS_1


Evan menonton tayangan berita itu berulang-ulang.


"Aku ingin tahu reaksimu saat putrimu menjadi wanita simpanan, sama seperti ibuku!"


__ADS_2