No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Luka Tak Berdarah


__ADS_3

Dizza mendorong kursi roda Keira, mereka berjalan-jalan di taman rumah sakit. Dizza terus berjalan sambil sesekali membuat lelucon agar Keira tersenyum. Mereka berhenti di sudut taman. Keira merasakan sinar matahari yang hangat menerpa wajahnya.


"Kak...." Dizza menyenggol lengan Keira.


Keira membuka mata lalu melihat seorang wanita berdiri tak jauh dari mereka. Keira menoleh untuk memandang Dizza yang sedang berpura-pura bermain dengan seorang anak kecil.


"Ayah mengirim banyak penjaga di rumah sakit ini, aku hanya mencoba membantunya." Dizza bicara tanpa melihat Keira.


Wanita itu duduk di bangku di sebelah Keira dengan sikap biasa. Tanpa menoleh pada Keira ia bertanya. "Apakah Nona baik-baik saja?"


Keira tak menjawab, semenjak sadar dari koma, Keira berubah menjadi pendiam. Ia jarang bicara.


Wanita itu tersenyum, ia memaklumi Keira karena Dizza sudah mengatakan kondisi Keira.


"Bibi senang melihat Nona lagi."


"Maafkan Bibi ya Non, waktu itu lalai menjaga Nona Keira."


Keira masih diam.


"Bibi tahu Nona sudah menderita, Bibi berharap Nona dan Tuan akhirnya bisa bahagia. Tuan menitipkan ini."


Bibi Ani meletakkan sebuah surat di bangku.


"Jaga diri Nona, cepatlah kembali bahagia."


Keira tetap tidak bicara, ia bahkan tidak berniat mengambil titipan Evan yang dimaksud.


Keira menjalankan kursi rodanya, Dizza segera membantu mendorong, sebelumnya ia mengantongi surat itu. Saat melewati lorong rumah sakit, mereka mendengar sebuah berita di TV yang masih menayangkan berita mengenai Keira.


Putri Kusuma Grup dikabarkan menjalani perawatan di rumah sakit. Belum ada keterangan resmi terkait skandal wanita simpanan yang beredar, namun beberapa sumber mengatakan bahwa berita itu tidak benar.


Dizza kembali mendorong kursi roda agar Keira tak mendengar berita mengenai dirinya lagi. Melalui Dizza, Keira tahu bahwa Kusuma telah berusaha mengembalikan nama baiknya tapi Keira tak menanggapi, ia yakin Kusuma melakukannya demi kebaikan perusahaan, karena kasus penculikan dan penusukan Keira juga masih menjadi misteri di antara keluarga Kusuma Baskoro dan Wardana. Kusuma menggunakan kejadian itu untuk mengancam mereka, ia tidak melaporkannya kepada kepolisian.


Keira lelah mendengar semua kelanjutan kisah mereka, ia tertidur. Di dalam mimpinya ia bertemu dengan Evan. Evan tidak bicara apa pun, ia meninggalkan Keira dalam diam hingga Keira meneteskan air matanya.


Kusuma memperingatkan semua penjaga dan pihak rumah sakit bahwa tak ada yang boleh menjenguk Keira selain dirinya, Lestari, Dizza dan Bara. Siapa pun yang datang selain mereka, tidak diijinkan masuk.


Kusuma dan Lestari masih menyimpan dendam pada Evan yang menyebabkan perusahaan kehilangan investor, karena menyelamatkan Evan juga, Keira harus mengalami penculikan dan nyaris tak terselamatkan.


Evan merasa bersalah pada Keira juga Nada yang marah pada Evan karena menutupi kebenaran tentang Keira.


Setiap kali teringat Keira, Evan menangis penuh sesal. Ia teringat saat ia melampiaskan kemarahannya pada Keira, ia bahkan tega melecehkannya, menyakiti hatinya yang sebenarnya memendam luka karena perbuatan Hans. Ia tak bisa melupakan saat Keira mengorbankan dirinya dari pisau Baskoro.


"Kak, apa Kakak nggak bosan?" Dizza membuka tirai. Keira menggeleng.


"Ayah sungguh keterlaluan. Ia nggak memberi siapa pun kesempatan untuk melihat Kakak. Maaf aku gagal membawa dia. Wajahnya dikenal Ibu, aku takut melakukan hal seperti tadi."


Keira mengernyitkan dahi bingung.

__ADS_1


"Nada." sambung Dizza sembari duduk di tepi tempat tidur.


Keira terlihat kaget karena mengira Nada sudah berada di luar negeri. Keira teringat saat ia pertama kali membuka mata dari koma, ia merasa melihat Zea. Karena itulah ia menanyakan Zea saat pertama kali sadar.


"Dia datang ketika Kakak masih belum sadar."


Keira menjadi gelisah.


"Kak, aku sudah tahu segalanya. Sudah berapa kali aku katakan, Kakak jangan menyimpan beban sendirian. Kakak boleh membaginya denganku, atau sekarang Kakak bisa membaginya dengan Nada.".


Keira merasa sedikit lega karena rahasia yang selama ini ia sembunyikan telah diketahui Dizza.


"Di mana dia?" tanya Keira.


Dizza tersenyum melihat Keira bicara.


"Kalau hanya mendengar namanya saja membuat Kakak bicara, aku yakin Kakak akan segera pulih kalau bertemu dengannya." Dizza mengucapkannya dengan ceria walau hatinya sedikit terluka.


Hampir setiap waktu ia berada di sisi Keira, namun Keira tetap tidak bersuara. Kini hanya mendengar nama Nada, Keira bisa bicara. Ia sadar bahwa Keira sangat menyayangi Nada.


"Aku akan mencari cara agar Kakak bisa bertemu dengannya. Kakak harus mendengar kisah kami saat ingin menyelamatkan Kakak."


"Menyelamatkan Kakak?" Keira bicara lagi.


Dizza tahu kalau ia terus bicara tentang Nada, Keira akan menanggapinya dan akan bicara. Ia menceritakan bagaimana Nada membatalkan kepergiannya, saat mereka diusir keamanan apartemen Evan, saat mereka terpaksa menginap di Cafe Dizza yang belum jadi, saat Nada menjenguk Keira dan Ibu datang.


Keira menatap wajah Dizza lalu ia menggengam tangan Dizza.


"Dizza, terima kasih." Keira mengucapkannya dengan tulus.


Dizza menatap Keira.


"Terima kasih kamu selalu melindungi Kakak."


"Karena aku adikmu, tentu saja aku akan melindungi Kakak."


Keira meneteskan ai mata, ia meminta Dizza mendekat dan memeluknya.


"Maafkan Kakak karena selalu menyusahkanmu."


"Kembalilah Kak, kembali normal. Aku merindukan Kakak yang dulu." Dizza memeluk Keira dengan erat.


"Apa yang kalian lakukan?" Ibu tiba-tiba masuk kedalam kamar.


"Luka kakakmu belum benar-benar sembuh." Lestari mengomel karena melihat Dizza merangkul Keira. Seketika atmosfer ruangan kembali menjadi beku karena Keira kembali diam tak bicara.


Dizza memperhatikan wajah Keira yang memilih tidur daripada harus bicara dengan ibunya.


Begitu dahsyatnya luka hati manusia. Ia bisa bertahan hidup meski dua kali di tusuk pisau, tapi ia seakan tak bisa menghapus luka yang dibawanya bertahun-tahun lalu. Luka itu tak terlihat dan tak berdarah, tapi aku yakin perih mengiris terlalu dalam hatinya.

__ADS_1


Dizza menyelimuti Keira dan berpura-pura ceria di depan Ibunya.


Keira memejamkan mata, ia bermimpi bertemu dengan Zea di masa kecil.


Kakak, pasti menjemputku, kan?


Kakak janji akan membawamu pergi


"Zea ... Zea ...." Keira mengigau di tengah malam.


"Keira... Keira ..." Kusuma menepuk pelan lengan Keira.


"Zea!" Keira menjerit dan seketika terbangun. Matanya membesar melihat Kusuma berdiri di depannya.


"Ayah?"


"Kamu mengigau." Kusuma berkata dengan suara datar.


"A ... pa ... aku ... mengigau apa?" tanya Keira cemas. Dia melirik ibunya yang masih tertidur.


Kusuma mengambil segelas air lalu membantu Keira duduk agar bisa minum. Keira agak kaget dengan perlakuan Kusuma yang biasanya dingin dan terkesan tak begitu peduli padanya.


"Tidurlah, kamu butuh banyak istirahat." Kusuma tidak menanggapi pertanyaan Keira tentang apa yang dia sebutkan saat mengigau.


Keira kembali berbaring dengan gelisah. Dia kembali melirik Kusuma yang duduk di sofa membuka ponselnya.


"Ayah, bolehkah aku ...."


"Kamu nggak boleh ke mana- mana. Jangan pernah menerima kunjungan siapa pun!" Kusuma menyela permintaan Keira yang bahkan belum diucapkan seluruhnya.


Keira memejamkan matanya, memilih tidak mendebat keputusan Kusuma yang dia tahu tidak bisa dibantah.


Setetes air jatuh dari sudut mata Keira yang terpejam, Kusuma yang mendekat untuk melihat infus Keira, melihat air mata Keira yang menetes.


Tangan Kusuma hampir terulur untuk menyentuhnya tapi ditariknya kembali tangannya karena Ny Lestari terbangun.


"Kapan kamu datang?" tanya Ny Lestari sembari beranjak berdiri dan menghampiri Keira.


"Baru saja."


Pasangan suami istri itu memandang Keira yang sudah tertidur lagi.


"Dia mirip denganmu saat tidur seperti ini." Kusuma bicara dengan pelan membuat Ny Lestari tersenyum sedikit.


"Dia anakku, tentu saja mirip denganku."


Kusima tak menjawab, dia berbalik pergi tapi Ny Lestari kembali bicara yang membuatnya berhenti sejenak.


"Tapi sikap dinginnya mirip denganmu."

__ADS_1


__ADS_2