
Keira bangun dengan kepala yang terasa berat. Ia tertidur sambil memeluk kalung Zea yang dulu sempat ia buang ke tempat sampah. Keira menatap cermin, wajahnya berantakan. Semalam ia tidak mengganti baju dan membersikan muka, sebaliknya ia berpikir hingga ketiduran.
Beeep. Beep. Beep.
Ponsel Keira bergetar.
Keira mengambil ponselnya dan melihat nama Bara.
"Halo."
"Keira, maaf aku nggak sempat ke rumah. Aku harus ke Jepang hari ini."
"Ya,"Keira menjawab dengan suara serak.
"Apa kamu sakit?" tanya Bara khawatir.
"Aku baik-baik saja."
"Tidak. Aku harus melihatmu." Bara bersikeras.
"Hmm ...." Keira menjawab sekenanya.
Ia meletakan ponselnya lalu melirik jam di meja.
8.15.
Dia terlambat pergi ke kantor.
Keira mengambil ponselnya kembali dan menelpon sekretarisnya.
Hari ini saya tidak ke kantor.
Keira bangkit dari tempat tidur lalu bersiap membersihkan dirinya. Ia menatap wajahnya di cermin sekali lagi, kemudian ia menyadari jepit mawar itu masih melekat di rambutnya.
Perlahan ia melepas jepit itu, memandanginya, lalu dengan hati-hati ia menyimpannya di dalam laci.
****
"Kak, Kakak nggak ke kantor?" Dizza menatap Keira yang baru saja turun ke ruang makan.
"Kakak nggak enak badan." Keira duduk di sebelah Dizza lalu mengambil sepotong roti.
Baru saja ia memasukan sepotong roti ke perutnya, ia memuntahkannya kembali.
"Hey, Kakak kenapa?" Dizza memberi tisu.
Keira berlari ke kamar mandi sembari menggerutu. "Mengapa perut ini sensitif?"
Di dalam kamar mandi ia kembali muntah. Dizza yang mendengar usaha Keira mengeluarkan isi perutnya, berteriak mengingatkan Keira untuk berhati-hati pada jahitan di perutnya.
Keira kembali duduk di sebelah Dizza yang masih menikmati sarapannya.
Seorang pelayan memberi Keira minuman hangat sesuai instruksi Dizza.
"Masih mual?" tanya Dizza.
Keira diam saja. Ia kehilangan selera makan. Ibu tiba-tiba masuk dan melihat kedua anaknya masih sarapan, ia ikut duduk walaupun ia sudah sarapan menemani suaminya.
"Kamu nggak makan?" tanya Ibu heran melihat Keira hanya memandangi makanan.
"Kakak muntah-muntah." Jawab Dizza.
"Kamu kenapa?" tanya Ibu menatap Keira.
__ADS_1
Keira mengangkat bahu. Ia meneguk minuman hangat di depannya untuk meredakan rasa mual.
"Apa Kakak hamil?!" Tiba-tiba Dizza menjerit ketakutan.
Keira menyemburkan air yang belum ditelannya. Ibu berdiri menutup mulutnya lalu memandang Keira.
"Apa kamu gila?" tanya Keira marah.
Dizza mengangkat tangannya.
"Mengapa Kakak tiba-tiba mual?"
Keira memukul dahi Dizza.
"Apakah semua orang yang mual berarti hamil?" tanya Keira kesal.
Dizza tertawa tapi Ibu tidak.
Ia menatap Keira dengan tajam, Keira menyadarinya.
"Mengapa melihatku seperti itu, Bu?"
"Kamu tidak benar-benar hamil, kan?"
Keira mendesah kesal.
"TIDAK BU!"
Ibu terduduk di kursi, ia masih terdiam.
"Lagipula mengapa Ibu cemas? Toh kalau pun memang benar hamil, Kakak juga akan segera menikah." Dizza sengaja membuat ibunya gelisah.
"Dizza, hentikan kegilaanmu!" kata Keira kesal.
"Keira, apa kamu yakin?" tanya Ibu lagi.
"Bagaimana kamu begitu yakin kalau kamu tidak hamil?" tanya Ibu berhati-hati.
Keira menatap ibu dan adiknya bergantian lalu ia membanting gelasnya ke meja. Beberapa pelayan yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka melarikan diri ketakutan.
"Kalau aku bilang nggak ya nggak!" Keira berdiri dengan kesal.
"Apa aku harus menjelaskanya pada Ibu?" tanya Keira masih dengan kesal, lalu ia berjalan meninggalkan Dizza yang tertawa senang. Ibu memandangi Dizza dengan kesal.
"Mengapa kamu senang?" tanya Ibu.
"Ibu juga senang, kan? Mengakulah ibu sekarang lega." Dizza masih tertawa.
Seulas senyum terukir di wajah Lestari. Detik berikutnya mereka tertawa. Keira mendengar tawa mereka, ia menggerutu kesal.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" tiba-tiba Bara sudah berada di ruang tengah. Memastikan Keira benar-benar baik-baik saja.
Keira yang sedang dalam suasana hati tidak baik, merasa kesal karena ayahnya mengijinkan Bara keluar masuk di dalam rumah ini seenaknya. Ia sama sekali tidak bisa menjauh dari Bara karena pria itu bisa dengan leluasa mencarinya di dalam rumah ini kecuali kamar Keira.
Bila Keira berada di dalam kamar, Bara hanya berani mengetuk dari luar. Biasanya Keira akan pura-pura tidur agar Bara tidak menganggunya.
Keira duduk di sofa, ia memijat dahinya sendiri.
"Aku sedikit nggak enak badan." Keira menjawab jujur.
Bara ikut duduk di sebelah Keira.
"Mengapa kamu nggak ke rumah sakit?"
__ADS_1
Bara kemudian terdiam, Keira masih menunggu kelanjutan kata-kata Bara.
"Bukan rumah sakit, maksudku kamu seharusnya memanggil dokter." Bara meralat karena tiba-tiba ia teringat kata-kata ibunya dan termakan ramalan itu.
Keira memandangi wajah Bara, ia tahu Bara sudah mendengar rumor ramalan tak masuk akal itu.
"Kupanggil dokter, ya?" Bara bersiap menelpon seseorang. Keira menutup layar ponsel Bara hingga ia tak bisa menelpon.
"Aku nggak perlu dokter. Aku hanya perlu istirahat." kata Keira datar lalu ia berdiri.
"Bisakah aku ke kamar sekarang?" tanya Keira.
Bara mengangguk pasrah.
"Maaf aku nggak bisa mengantarmu." Lanjut Keira. Ia merapikan dasi Bara lalu tersenyum. Senyum palsu.
"Hati-hati di jalan."
Bara tersenyum, sebelum ia sempat mencium kening Keira, gadis itu sudah berlalu meninggalkannya.
****
Keira duduk bersandar di tempat tidur. Ia teringat kata-kata Dizza.
Apa Kakak hamil?
Keira memeluk lututnya, ia kesal karena entah mengapa ia sendiri merasa ketakutan.
Ia pernah bermimpi suatu saat ia akan hidup bahagia. Menikah, hamil, memiliki anak, dan mengurus keluarga kecilnya.
Sampai hari ini ia masih membayangkan impiannya tersebut. Tapi saat Dizza tadi menyebutkan kemungkinan tersebut, ia tidak merasa senang, justru ketakutan.
Apakah aku takut hamil?
Keira merenung. Ia tahu ketakutan yang sesungguhnya bukanlah ia takut hamil. Tapi ia takut mengandung anak Bara. Ia takut seumur hidup terikat pada pernikahan Bara.
Tapi bila ia menikah dengan Bara, tentu saja ia harus bersedia memberikan Bara keturunan.
Keira menghela napas lagi. Sudah cukup ia hidup bersama Bara, haruskah ia memberinya anak juga?
Keira teringat lagi kata-kata Ny Wijaya.
Ibu tidak sudi mendapat cucu dari wanita itu.
Mengapa tidak kamu jadikan saja dia wanita simpanan.
Kamu tidak perlu menikahinya.
Keira mendesah, wanita itu seperti mengetahui isi hatinya. Kalau boleh berteriak ia juga tidak ingin memberikan wanita itu cucu, juga tidak mau menikah dengan Bara. Lalu ia berdoa agar Tuhan tidak membiarkannya hamil.
Keira merenung lagi lalu meralat doanya. Dia bukan tidak mau memiliki anak. Kalau dia diberi anak, dia ingin memiliki anak dari orang yang dicintainya.
Keira memejamkan mata. Merasa gila dengan jalan hidup yang dipilihnya.
Apa sebaiknya aku mempertimbangkan perkataan wanita itu? Tidak perlu menikah dengan Bara, cukup menjadi simpanannya saja. Bara bisa memiliki anak dari istri sah pilihan Ibunya.
Keira menggeleng lagi.
Sejalang itukah aku?
Keira menghela napasnya.
Bagaimana bisa satu kata biasa memberi makna yang berbeda.
__ADS_1
Hamil adalah satu kata yang membahagiakan bagi banyak wanita namun juga menjadi kata yang menakutkan bagi sebagian wanita lain.
Bisakah aku menjadi bagian dari wanita yang bahagia mendengarnya?