
Kusuma mengepalkan tangannya.
"Baskoro, ini pasti Baskoro!"
Ia berteriak marah.
Ny Lestari mondar mandir dengan gelisah.
"Apa mereka menculik Dizsa dan Keira?!"
Kusuma menggeleng.
"Keira tidak bersama mereka. Dia sedang bersama Ny Leah."
"Siapa Ny Leah? Mengapa ia juga tidak pulang?"
"Ny Leah salah satu investor, Keira pasti baik-baik saja."
"Bagaimana bisa kamu yakin?? Keira dan Dizza sama-sama tidak pulang dan sama-sama tidak bisa dihubungi..."
"Mengapa harus menghawatirkan Keira? Dia sudah dewasa, lagipula dia sedang dalam perjalanan bisnis."
"Tapi mengapa ia tidak bisa dihubungi?Tidak bisakah kamu menghubungi Ny Leah?"
"Kau gila? Dia bisa tersinggung."
Ny Kusuma kecewa, meskipun suaminya benar, namun ia memiliki firasat bahwa Keira tidak sedang baik-baik saja. Telepon berdering. Kusuma segera mengangkat teleponnya.
Ny Lestari berusaha mendengarkan pembicaraan di telepon, tapi ia tak memahaminya.
"Ny Leah akan datang ke kantor untuk menandatangani persetujuan investasi." Kusuma bicara sendiri. Ada nada heran dalam ucapannya.
"Lalu di mana Keira?"
"Dia tidak mengatakan apa pun. Dia bilang Keira pulang bersama anaknya."
"Pulang bersama anaknya?" Ny Lestari mengulang ucapanya suaminya dengan heran.
"Memangnya mereka dari mana hingga perjalanan pulang memakan waktu 2 hari?" Ny Lestari tampak gelisah.
"Maaf Nyonya, Tuan, Tuan Bara menunggu di luar." Seorang pelayam memberitahu kehadiran Bara.
Ny Lestari buru-buru meninggalkan Kusuma.
"Tante, apakah Keira bisa dihubungi?"
Ny Lestari menggeleng.
"Apa kita harus melapor polisi?"
"Jangan." Tuan Kusuma berteriak lantang.
Tiba-tiba ponselnya berdering kembali.
"Baik. Bawa ke rumah, jangan ke rumah sakit!" Kusuma menjawab singkat.
"Dizza sudah ditemukan."
"Bagaimana keadaannya?" Ny Lestari bertanya dengan khawatir.
"Ada sedikit memar-memar. Mereka akan mengantar Dizza pulang."
Bara dan Ny Lestari terlihat gelisah.
"Om, Tante lalu Keira....."
Tuan Kusuma mengangkat tangannya.
"Saya akan menemui Ny Leah dan mencari tahu."
Mereka akhirnya hanya menunggu dengan gelisah, tak lama kemudian Dizza pulang diantar anak buah Kusuma. Bibir Dizza berdarah, wajahnya tampak kusam, tangannya memar.
"Dizza... kamu...." Ny Lestari segera memeriksa kondisi Dizza.
"Aku baik-baik saja, Bu. Di mana Kakak?"
"Keira belum pulang."
Dizza tampak khawatir.
"Ayah tidak mencari kakak?"
__ADS_1
"Kakakmu baik-baik saja."
"Bagaimana Ayah tahu?" Dizza berteriak marah.
"Siapa yang menculikmu?" tanya Ayah.
"Dia baru kembali, tidak bisakah kamu menginterogasinya setelah dia sehat?" Ny Lestari terlihat marah.
"Aku baik-baik saja Bu. Aku nggak tahu siapa mereka..."
"Bagaimana kamu bisa kabur?" tanya Bara.
"Entahlah, mereka seakan sengaja membiarkan aku pergi. Apa mereka meminta tebusan?"
Kusuma menggeleng. Ia tampak cemas, begitupun Lestari. Seseorang yang menculik tanpa meminta tebusan pasti lebih berbahaya.
"Ini ancaman." Kusuma menggumam.
"Siapa Om?" Bara ingin tahu namun Kusuma dan Lestari enggan membeberkan masalah pribadi mereka pada Bara.
"Mari kita ke kamar..." Ny Lestari memapah Dizza.
"Kakak!" Dizza tiba-tiba berteriak. Ia segera berlari menghampiri Keira yang berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai.
"Kamu baik-baik saja?" Keira bertanya dengan panik melihat Dizza yang berantakan.
"Dari mana saja kau?" tanya Tuan Kusuma.
"Keira, kamu kemana saja?Apa yang terjadi?" Ny Lestari bertanya khawatir.
"Adikmu diculik. Kamu dari mana saja?" Tanya Tuan Kusuma setengah membentak.
Keira memandang Tuan Kusuma, "Ayah memintaku menemui Grup Oshi, kan." Keira berusaha mengingatkan.
"Apa mereka menahanmu di sana berhari-hari? Atau kamu pergi sendiri tanpa memberi kabar?" Tanya Tuan Kusuma lagi.
Mereka menculikku!
Keira ingin menjeritkan kata-kata itu namun ia hanya diam.
Bara mendekati Keira.
"Apa kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi?"
"Ayah, kita nggak tahu apa yang terjadi. Jangan memarahi Kakak."
"Kakak baik-baik saja," Keira merapikan rambut Dizza.
"Kalian berdua pergilah ke kamar." Ny Lestari berusaha menengahi.
"Maaf Tante, bisakah aku bicara dulu dengan Keira." Bara merangkul Keira.
"Sebaiknya kalian segera menikah. Ayah akan minta orang tua Bara untuk memajukan tanggal pernikahan kalian."
Bara, Keira dan Ny Lestari tersentak kaget. Keira menatap Bara lalu menjauhkan dirinya.
"Ayah, maafkan aku.. "
"Om, saya rasa nggam perlu memajukan pernikahan kami.."
"Tidak, kalian harus segera menikah!"
"Maaf, aku nggak bisa menikah dengan Bara." Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Keira.
Kusuma, Lestari dan Dizza tersentak kaget, Bara menatap Keira tak percaya, tangannya bergetar.
"Keira, apa yang kamu bicarakan... kamu nggak serius, kan?"
Keira memandang Bara dengan sedih.
"Maafkan aku, aku nggak bisa meneruskan pertunangan ini."
PLAK.
Kusuma menampar wajah Keira.
"Ayah!" Dizza berteriak histeris.
"Keira... jangan bicara sembarangan." Ny Lestari menegur Keira.
"Aku serius. Maafkan aku..."
__ADS_1
PLAK.
Kusuma menampar wajah Keira kedua kali. Ny Lestari langsung menarik Keira untuk menghindari amukan Kusuma.
"Om, jangan lakukan itu." Bara juga menghalangi Kusuma yang sangat ingin memukul Keira.
"Ayah, jangan lakukan itu!" Dizza menarik ayahnya.
Keira melepas tangan ibunya lalu berlutut di depan Kusuma sembari menahan tangisnya.
"Tolong, maafkan aku Ayah."
Bara mengajak Keira untuk berdiri.
"Keira, jangan lakukan ini. Kita bicarakan baik-baik."
"Kalian akan tetap menikah!" Kusuma berteriak lalu meninggalkan Keira.
Ny Lestari memegang dadanya yang terasa sakit, Dizza segera menolong ibunya yang nyaris jatuh. Keira masih duduk bersimpuh sambil menahan air matanya. Bara duduk di hadapan Keira.
"Keira, aku nggak tahu apa yang terjadi padamu tapi kumohon jangan lakukan ini. Kita nggak akan segera menikah, aku akan menunggu sampai kau siap." Bara berusaha meyakinkan Keira.
"Keira, tenangkanlah dirimu..."
"Bara, maafkan aku...." Keira mulai menangis lalu menggeleng.
"Nggak, jangan maafkan aku. Pergilah, kamu pantas mendapatkan wanita lain yang lebih baik dari aku." Keira berusaha melepas cincin pertunangannya namun Bara menahannya.
"Nggam. Aku hanya ingin bersamamu. Mengapa Keira? Apa yang terjadi? Apa aku membuat kesalahan? Katakan padaku!"
"Kamu sangat baik. Aku yang bersalah. Maafkan aku."
"Aku akan selalu memaafkan kamu. Tapi jangan pergi... "
Keira menggeleng, ia berhasil melepas cincinnya. Keira memberikan cincin itu pada Bara sambil menangis.
"Kamu nggak perlu memaafkan aku."
Keira berdiri lalu berlari keluar rumah meninggalkan segalanya.
**
Dizza menatap wajah Ny Lestari yang diam membeku lewat kaca meja rias. Ia sedang mengobati lukanya sendiri sambil berpikir.
"Dizza, maafkan Ibu." Ny Lestari melihat Dizza yang sedang menempelkan obat pada tangannya.
"Kemarilah." Ny Lestari memanggil Dizza, memintanya untuk duduk di tepi tempat tidur.
"Apa kamu benar baik-baik saja?" tanya Ny Lestari sambil memperhatikan memar-memar di tangan Dizza.
"Apa yang mereka lakukan padamu?" tanya Ny Lestari khawatir.
Dizza mencoba tersenyum.
"Aku baik-baik saja, Bu. Mereka hanya memukulku karena aku berteriak."
"Di mana Kakakmu?" Ny Lestari mencari Keira.
"Dia pergi. Nggak mungkin Kakak bertahan di sini. Lebih baik kalau dia pergi dulu sebelum ayah tenang."
Ny Lestari mengangguk.
"Apa yang terjadi pada Kakak?" tanya Dizza.
"Ibu tidak tahu...Ibu khawatir." Ny Lestari terlihat sangat gelisah.
"Bu, sebenarnya apa yang terjadi pada keluarga ini?" tanya Dizza lagi.
Ny Lestari menggeleng. "Tidak ada apa-apa."
"Lalu mengapa seseorang menculik aku, Bu?"
"Itu hanya persaingan bisnis ayahmu. Mulai sekarang, kamu harus berhati-hati. Jangan keluar sendirian."
"Lalu bagaimana dengan Kakak?" tanya Dizza panik.
Ny Lestari menahan napasnya. "Ibu harus mencarinya."
"Ayah akan marah kalau Ibu pergi keluar di saat seperti ini. Biar aku yang mencari Kakak. Aku akan minta salah seorang anak buah ayah untuk menemaniku."
Ny Lestari menatap Dizza,"Dizza, terima kasih."
__ADS_1
Dizza tersenyum menatap ibunya.