
Keluarga Keira kalang kabut mencari keberadaannya. Polisi belum memberikan hasil. Evan, Adrian, dan Kusuma mencari ke berbagai tempat yang memungkinkan.
Kusuma mengerahkan segala cara untuk melacak keberadaan putrinya.
Dizza berusaha menghubungi Bara, namun nomor telepon Bara sudah tidak aktif.
Dizza menggunakan segala cara mencari tahu keberadaan Bara. Ia mendapat informasi bahwa Bara berada di luar negeri. Dizza terus berusaha agar dirinya bisa bicara dengan Bara.
Kusuma nekat mendatangi rumah Wijaya.
Wijaya Dermawan yang tak mengetahui apa-apa tersinggung dengan kecurigaan Kusuma.
"Mengapa kamu mencari putrimu di sini?" Wijaya Dermawan merasa heran. Tapi Kusuma mengikuti kata hatinya.
"Bisakah aku bertemu dengan istrimu?" tanya Kusuma.
"Maaf istriku tidak ada di rumah."
"Sejak kapan?"
"Mengapa kamu ingin tahu? Istriku pergi ke ...."
"Tuan, Nyonya menelpon."
Wijaya memandang Kusuma. Ia mengangkat telepon istrinya di depan Kusuma agar pria itu tidak mencurigainya.
"Ada apa?" tanya Wijaya.
Tiba-tiba wajah Wijaya menegang.
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu gila?"
Wijaya mematikan telepon lalu segera berlari memerintahkan anak buahnya untuk mengambil mobil. Ia mengajak Kusuma pergi.
"Kumohon jangan melaporkan istriku. Kita akan pergi menyelamatkan mereka berdua!"
"Di mana putriku?!" Kusuma membentak.
Wijaya mengajaknya pergi bersama tapi Kusuma tetap memintanya memberi alamat berharap Evan dan Adrian bisa lebih dulu menyelamatkan Keira.
*
Evan dan Adrian segera memutar mobil beralih ke alamat yang diberikan Kusuma. Mereka juga menghubungi polisi meskipun Wijaya berulang kali memohon untuk merahasiakannya dari kepolisian.
Mereka memasuki kawasan yang sunyi dan gelap, tak ada pemukiman dan penerangan.
"Van, itu kebakaran! Jangan-jangan ...."
Adrian menginjak gas dalam-dalam. Mereka melompat dari dalam mobil.
"Van, cuma ini satu-satunya rumah yang dimaksud."
Mereka berkeliling memeriksa rumah yang sudah setengah terbakar sambil berteriak memanggil Keira. Evan dan Adrian berusaha mendobrak pintu.
Asap tebal sudah memenuhi rumah itu. Evan dan Adrian masih berusaha menemukan Keira, namun tak terlihat.
Mereka terbatuk-batuk.
Adrian sudah menelpon pemadam kebakaran. Polisi telah sampai di luar dan meminta keduanya segera keluar dari dalam rumah.
Api berasal dari arah belakang dan terus menjalar. Evan dan Adrian mencari di satu ruangan dan tak menemukan Keira, mereka terus menunduk melawan asap sampai akhirnya Adrian melihat sosok Keira merangkak di dekat pintu kamar.
"Kak!" Adrian berseru haru.
Keira melihat keduanya. Ia tak sanggup berteriak, ia mencoba merangkak.
"Cepat keluar, Kak!" Adrian berteriak. Evan ingin segera mendekati Keira tapi Adrian melarangnya.
"Bahaya, Van!"
Evan menepis Adrian, ia tak peduli, ia menembus asap dan meraih Keira yang tersenyum melihatnya.
"Keira!"
Keira tak bisa menjawab Evan karena detik berikutnya dia jatuh pingsan.
Evan bergegas membawa Keira keluar dari dalam rumah itu.
"Keira!Keira!" Evan menepuk-nepuk wajah Keira, berusaha menyadarkannya. Ia menangis melihat Keira penuh luka dan lebam.
"Kak, sadar, Kak!" Adrian ikut berusaha menyadarkan Keira.
"Keira!" Evan melepaskan tangan Keira dari tali yang mengikatnya dan berusaha membangunkan Keira.
"Apa?" tiba-tiba Keira menjawab lirih.
Evan memeluk Keira dengan haru.
Adrian bahkan ikut menangis. Ia tak menyangka bertemu dengan orang yang berhasil selamat berkali-kali dari musibah seperti Keira.
Evan sama sekali tidak mau melepaskan tangan Keira meskipun tim medis sudah datang untuk membawa Keira yang kehabisan daya. Dia terus mengenggamnya sampai Keira dibawa ke ruang pemeriksaan di rumah sakit.
****
Keira mengalami memar di beberapa bagian tubuhnya dan luka di telapak tangan. Selebihnya ia baik-baik saja. Hanya lecet-lecet di beberapa titik.
Ia bahkan masih bisa bercanda bahwa wajahnya masih aman untuk melakukan foto prewedding.
"Prewedding? Kamu bercanda?" tanya Evan gusar. Ia hampir mati mengkhawatirkan calon istrinya yang nyaris terbakar di dalam rumah itu, dan Keira malah mengkhawatirkan sesi prewedding mereka.
"Apa kamu tahu kamu hampir mati?" tanya Evan.
"Tak ada prewedding! Yang terpenting adalah kesembuhanmu!"
Keira seketika merengut, "Aku nggak mau menikah tanpa foto prewedding!"
Seisi ruangan menatapnya dengan bingung terlebih Evan yang mendadak panik karena takut calon istrinya marah.
"Oke, nanti setelah kamu membaik." Evan mengalah sembari membelai rambut Keira membuat wanita itu tersenyum senang dan kedua adiknya saling memandang dengan muak.
"Mengapa Kakak menjadi manja?" bisik Nada.
"Hush, mungkin sebenarnya dia geger otak ringan," jawab Dizza.
Polisi masuk ke dalam ruangan untuk meminta keterangan Keira. Keira menjawab semuanya sesuai yang ia alami.
"Apakah wanita itu gila?" tanya Evan marah.
"Apakah polisi menemukannya?" tanya Keira.
__ADS_1
"Ya, dia sudah ditangkap."
Keira tak bereaksi, ia mengkhawatirkan Bara.
Kusuma tak mau berkompromi, ia tetap melaporkan Ny Wijaya. Kasusnya bahkan mencuat ke publik dan membuat para pelaku bisnis yang mengenal kedua keluarga itu heboh. Bagaimana bisa ada wanita sekejam itu membakar mantan tunangan putranya?
"Keira, jangan gelisah lagi." Ibu menenangkan Keira.
"Nggak, aku hanya agak ...."
"Jangan khawatirkan apa pun lagi." Evan seketika memeluk Keira, tak peduli pada kehadiran orang lain di ruangan itu.
"Ya, terima kasih sayang," jawab Keira lagi lagi membuat seisi ruangan saling pandang.
"Kak, apa Kakak sudah melakukan pemeriksaan luka dalam?" tanya Dizza khawatir karena dia merasa perilaku Keira mendadak berubah.
"Sudah. Kakak baik-baik saja."
Keira duduk bersandar di ranjang rumah sakit, di sebelahnya Evan yang sudah melepaskam pelukan, memotong apel dan menyuapkannya pada Keira.
"Aku nggak bisa membayangkan apa yang terjadi bila Kak Evan dan Adrian terlambat datang." Nada merinding.
"Tentu saja kalian sekarang sedang berkabung mengenang Kakak!" Keira menjawab asal. Evan memelototi Keira.
"Maaf ..." Keira menunduk.
"Wanita itu gila!" Nada mengumpat.
"Untung saja kamu tak menjadi menantunya!" Lestari bersyukur.
"Apa sekarang ibu bersyukur aku menikah dengannya?" Keira menggoda.
"Kamu!" Lestari merasa kesal lalu menatap Evan.
"Biar bagaimana pun kamu selalu menyelamatkannya. Terima kasih." Ibu berkata pada Evan. Keira tersenyum melihat ibunya.
"Apa rumah sakit ini tidak membatasi jumlah kunjungan?" Keira bertanya.
"Apa maksudmu?" tanya Lestari.
Keira tersenyum lalu memandang keluarganya satu per satu.
"Bisakah kalian semua pulang ke rumah dan tidak mengkhawatirkan aku?"
"Tidak!" Ibu masih mencemaskan Keira.
"Aku ingin bicara dengan Evan, " kata Keira mengusir yang lain.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Evan setelah semua pergi.
"Kemarilah, agar kamu mendengarnya lebih jelas." Keira berkata dengan serius.
Evan mendekat ke sisi ranjang, tegang menunggu kata-kata Keira.
Keira menatapnya lalu ia meraih kepala Evan menciumnya dengan tiba-tiba.
"Apa kamu nggak merindukan aku?" tanya Keira sambil mengedipkan mata lalu kembali mencium Evan yang shock.
"Hey, kamu masih sakit!" Evan melepaskan diri.
"Kamu menolakku?!" tanya Keira. Evan memandangnya lalu tersenyum.
"Bagaimana bisa aku menolakmu?" Evan balas mencium Keira yang seakan tidak mau melepaskan diri.
"Aneh bagaimana?" tanya Keira, kini dia malah memeluk lengan Evan.
"Ya ... nggak biasanya kamu bertingkah seperti ini."
"Nggak suka?"
"Bukan!" Evan buru-buru meralat.
"Siapa yang nggak suka dipeluk-peluk begini? Hanya saja ...."
"Waktu aku terkepung asap dan berpikir akan mati, aku teringat semua keluargaku dan kamu. Aku hanya merasa sedih karena kita belum lama kembali dan ... seketika aku sangat merindukan kamu."
Evan tersenyum lalu dia kembali menatap Keira. "Aku juga rindu kamu. Hmm, sekarang juga masih kangen, jadi ..."
Keira tak menunggu kelanjutan kalimat Evan, dia melingkarkan tangannya di leher Evan lalu kembali menyesap bibirnya.
Mereka hanya terpisah kurang dari 24 jam, tapi entah mengapa Keira merasa sangat merindukan Evan. Begitupun Evan. Mereka masih saling mengobati rindu, tak peduli pada seorang suster yang terkejut dan berlari keluar.
***
Evan berdiri dengan salah tingkah sementara Keira duduk menunduk di ranjang. Kusuma berdiri melipat tangan di dada di antara keduanya.
"Sejauh penglihatanku Keira masih sakit, bisanya kamu ...."
"Maafkan aku... aku...."
"Egh ... Ayah ...." Keira memberanikan diri menyela tapi Kusuma kembali bicara.
"Keluar! Aku mau bicara dengan Keira."
Evan memandang Keira yang mengangguk kecil, walau gelisah dia perlahan meninggalkan Keira dengan Kusuma.
Keira memilin jari-jari tangannya, masih merunduk. Sejujurnya dia sedikit malu pada Kusuma karena mereka masih berciuman ketika Kusuma tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya dan memekik kaget. Keduanya saling melepaskan diri setelah mendengar jeritan Kusuma. "Apa yang kalian lakukan?!"
"Hmm ... Ayah ... Maaf ...."
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kusuma.
Keira mendongak menatap Kusuma yang berdiri di dekatnya.
"Aku nggak apa-apa. Aku ...."
"Bagaimana bisa nggak apa-apa?" Kusuma perlahan menyentuh tangan Keira yang memar.
"Sudah nggak sakit, kok."
Kusuma terdiam lalu menatap Keira ketika gadis itu melanjutkan kata-katanya lagi, "Sakit, sih, sedikit, tapi nggak apa-apa. Aku baik-baik saja."
"Ayah sentuh begini, kamu nggak apa-apa?" tanya Kusuma tiba-tiba.
Keira diam tak menjawab tapi ketika Kusuma menarik tangannya, Keira tiba-tiba mengenggamnya. Kusuma menatap mata Keira yang sedang memandangnya.
"Boleh, kan, sekali-sekali aku pegang Ayah seperti ini?" tanya Keira.
Kusuma terdiam lalu duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Waktu aku merasa akan mati untuk yang kedua kali, aku ingat Ayah. Aku nggak pernah memeluk ayah kandungku."
Kusuma terdiam, lalu teringat peristiwa yang terjadi tiga belas tahun lalu.
Sejak awal bertemu kembali dengan Lestari dan Keira, Kusuma tak memiliki kesempatan mendekati Keira yang menjaga jarak dengannya.
"Jangan katakan yang sesungguhnya pada Keira tentang siapa sebenarnya ayah kandungnya. Aku ingin lebih dulu dekat dengannya." Kusuma memberi tahu Lestari yang menyetujui saran Kusuma karena dia pun tahu Keira kesulitan menerima keadaan. Keira bahkan tidak mau menerima kenyataan kalau ibunya menikah lagi. Bila dia tahu bahwa ibunya telah berbohong perihal ayah kandungnya, Lestari takut Keira akan mengamuk dan pergi.
Namun Kusuma gagal mendekati Keira karena baik Kusuma maupun Keira sama-sama bersikap dingin satu sama lain. Kusuma tak tahu bagaimana cara mendekati putrinya yang terlanjur mengira dia sebagai pria jahat yang gemar memainkan hati perempuan.
Tiap kali Kusuma memberikan hadiah atau fasilitas mewah, Keira terlihat tidak peduli.
Beberapa bulan kemudian terjadi peristiwa yang merenggut kehormatan Keira yang saat itu masih terlalu muda.
Melihat Keira menangis histeris dan pingsan berulang kali saat mendapat perawatan dokter membuat Kusuma sangat sedih dan marah tak terkira. Dia jauh lebih terpukul ketika berusaha memeluk untuk menenangkan Keira tapi putrinya itu menjadi lebih histeris dan tak berhenti menjerit. Dokter mengatakan Keira masih trauma disentuh pria asing.
"Aku bukan pria asing. Aku ayah kandungnya!" Kusuma menjerit marah.
"Kusuma, tenanglah. Keira tidak tahu kalau kamu ayahnya. Tolong jangan begini. Dia trauma, mengertilah!" Lestari menangis.
"Aku hanya ingin menenangkannya ... aku ayahnya ...." Kusuma tanpa sadar terduduk dan menangis bersama Lestari yang tak tahu bagaimana cara menyembuhkan luka hati Keira.
Tanpa Keira tahu, Kusuma melakukan segala cara untuk menyembuhkannya. Mereka akhirnya sepakat membawa Keira ke luar negeri untuk mendapatkan perawatan.
Kusuma bahkan memecat semua pegawai mereka di rumah itu lalu ketika Keira kembali, mereka semua pindah ke rumah baru agar Keira bisa melupakan traumanya. Kusuma juga menyingkirkan Evan karena tidak mau Keira kembali teringat pada perbuatan Hans yang merupakan kakak Evan.
Keira perlahan bisa hidup normal tapi dia tetap menjaga jarak dengan Kusuma karena masih menganggapnya sebagai orang lain. Karena tak mau menambah beban pikiran Keira, Kusuma mengalah, dia membiarkan identitas aslinya sebagai ayah kandung tetap menjadi rahasia.
"Bolehkah kalau sekali ini aku memeluk Ayah?" pinta Keira membuyarkan lamunan Kusuma.
Dua puluh sembilan tahun berlalu sejak Keira lahir, dia tidak pernah sekalipun memiliki kesempatan untuk sekedar memeluk putri kandungnya
Laki-laki itu kembali menatap Keira lalu perlahan dia mendekat dan memeluk Keira dengan erat.
"Keira, maafkan Ayah." Kusuma menggumam.
"Untuk?" tanya Keira heran.
"Untuk semua yang terjadi di hidupmu. Semua salah Ayah."
Keira tersenyum tapi Kusuma tak melihatnya, gadis itu mengeratkan pelukannya.
"Ayah, maaf karena selama ini aku selalu mengira Ayah adalah orang jahat."
Kusuma terdiam, relung hatinya seakan ditusuk besi panas. Putri kandungnya menganggapnya sebagai orang jahat.
"Tapi akhirnya aku tahu kalau aku salah. Ayah adalah ayah kandungku yang sudah berusaha melindungi aku. Maafkan sikapku selama ini. Bisakah kita mulai segalanya dari awal?"
Kusuma masih terdiam.
"Aku menyayangi Ayah. Terima kasih atas semua yang Ayah lakukan untuk aku dan ibu."
Kusuma mengeratkan pelukannya lalu pria berhati dingin itu meneteskan air matanya. Hatinya seketika menghangat, perlahan dia mengusap kepala Keira.
"Maafkan Ayah, Nak." Kusuma menggumam pelan. Dia masih memeluk Keira bahkan saat Lestari tiba-tiba masuk dan terkejut melihat keduanya, Kusuma belum juga melepaskan Keira.
Air mata Lestari perlahan jatuh melihat pemandangan langka di hadapannya, tiga belas tahun lamanya dia menunggu Keira bisa membuka hatinya untuk menerima Kusuma sebagai ayahnya. Jangankan sebagai ayah kandung, sebagai ayah tiri pun selama ini Keira enggan menerima Kusuma.
"Ayah merindukan kamu, Keira. Dua puluh sembilan tahun lamanya Ayah menunggu kesempatan untuk bisa memeluk kamu seperti ini." Kusuma akhirnya mengakui perasaannya pada Keira yang ikut meneteskan air mata.
Perlahan Kusuma melepaskan Keira lalu menatap matanya, ia tersenyum. Ditepuknya lengan Keira dengan pelan lalu ia beranjak berdiri tapi Keira masih menahan tangannya.
"Ayah, terima kasih." Keira mengucapkan kalimatnya dengan tulus sembari tersenyum manis. Kusuma menunduk lalu tiba-tiba mencium kepala Keira sesaat sebelum akhirnya pergi tanpa berkata apa pun lagi.
Kusuma meninggalkan ruangan dalam diam bahkan melewati Lestari begitu saja tapi senyumnya perlahan mengembang. Hatinya seketika merasa lega dan menghangat. Untuk pertama kalinya dia menyadari bahwa dia lebih butuh senyuman Keira, anak kandungnya, daripada perusahaannya.
**
Keira memandang dirinya di cermin yang sedang berdiri dalam balutan gaun pernikahannya yang sederhana. Segalanya telah berjalan dengan lancar dan begitu saja.
Begitu saja dan sekarang kita sudah resmi menikah.
Keira menertawakan dirinya sendiri yang telah melewati banyak hal menyakitkan untuk sampai ada di tahap ini. Menikah dengan Evan. Dan saat Tuhan mengabulkan doanya agar pernikahannya berjalan lancar, ia agak sedikit terkejut, saking terbiasanya dengan banyak petaka yang silih berganti.
"Hey, kamu merenung lagi?" Evan memandang Keira yang di matanya terlihat luar biasa cantik.
Evan mendekat lalu memegang tangan Keira.
"Apa kamu sedang merasa seperti mimpi?" tanya Evan.
"Hmmm ... yaaah seperti itulah ..." Keira mengakui.
"Aku juga. Setelah semua yang terjadi, aku merasa ini seperti mimpi." Evan tersenyum.
Keira memandang Evan lalu seperti biasa, Evan tak sanggup memandang wajah Keira tanpa menciumnya.
"Untuk memastikan ini bukan mimpi!" Evan berkilah.
Keira tertawa tapi tak menolak, mereka meneruskannya sampai Keira tersadar bila tak berhenti Evan bisa merusak penampilannya dan acara mereka.
"Mereka pasti mencari kita." Keira mendorong Evan.
"Ayo kita menemui mereka."
"Tunggu sebentar." Keira membuka laci nakas lalu mengeluarkan jepit bunga mawar.
"Masih ingat janji kita, kan?" tanya Keira.
Evan tersenyum lalu mengambil jepit bunga itu, menyematkan di rambut Keira, memandangnya sejenak lalu mencium keningnya.
"Aku akan selalu ingat kalau hidup itu penuh duri, tapi aku akan selalu bersabar demi mawar di hadapanku."
Keira mendongak lalu tersenyum kemudian membalas ucapan Evan, "Aku mencintai kamu."
"Aku lebih mencintai kamu." Evan mengulurkan tangan, Keira menatapnya lalu mengulurkan tangannya juga untuk saling mengenggam. Mereka bergandengan tangan dan keluar menemui para tamu undangan.
Tak ada yang bisa menyangkal bahwa mereka terlihat sangat bahagia.
Semua ikut bahagia menyaksikannya.
Setelah semua yang kami lalui, akhirnya kami benar-benar menikah.
Aku tahu aku bahagia, tapi aku tahu ini bukanlah akhir cerita.
Karena kami masih menjalani kehidupan, cerita kami tak akan berhenti hanya karena menikah.
Jauh di depan sana, akan ada banyak rintangan.
Aku tahu dan aku masih tetap takut.
__ADS_1
Tapi saat aku melihatnya di sampingku, aku aku rasa aku akan baik-baik saja.
Karena apa pun yang akan terjadi, dia ada bersamaku.