No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
NRWT 2: Ayah?


__ADS_3

Saat terbangun, Nada merasa kepalanya pening. Perlahan dia berusaha menyesuaikan pandangannya yang masih kabur. Ketika kesadarannya hampir mencapai seratus persen, Nada terlonjak karena menyadari dia tidak sedang berada di dalam kamar rumah sewanya yang kecil, tapi di sebuah kamar besar yang lebih mewah.


Matanya mengerjap menatap tempat tidur besar tempatnya berbaring beberapa saat lalu, pandangannya teralihkan ke sekeliling ruangan. Kamar itu serupa dengan kamar Dizza dan Keira di rumah besar Kusuma.


Kamar yang tak pernah menjadi miliknya.


Perlahan Nada memutar kejadian yang membawanya terdampar di kamar ini tapi belum sempat merangkai semua kejadian, pintu kamar terbuka.


Nada sebenarnya tak terlalu terkejut menatap sosok pria yang berjalan terpincang mendekatinya. Dia mengenalnya melalui kisah yang melagenda di keluarga Kusuma. Pria yang menyakiti ibunya juga kakaknya, pria yang membuatnya terlahir ke dunia, Baskoro yang secara hukum alam merupakan ayah kandungnya.


"Sudah bangun, Nak? Kepalamu masih pusing? Maaf mereka terlalu kasar membiusmu!"


Nada terhenyak demi mendengar kata 'Nak' yang diucapkan penjahat kelas kakap di hadapannya. Sudah terlalu lama Nada tidak pernah mendengar sapaan hangat seperti itu. Dia masih kecil saat ayah Danny meninggal dan ayah angkatnya bukan tipe yang bisa memanggilnya dengan romantis.


"Mengapa menculik aku?" tanya Nada langsung pada inti permasalahan


.


Baskoro menarik kursi, memandangi wajah Nada lalu tertawa.


"Kamu benar anakku!" katanya tak mengacuhkan pertanyaan Nada.


"Aku harus memanggilmu siapa? Zea atau Nada?" tanya Baskoro santai.


Nada menatap tajam mata Baskoro lalu mengulang pertanyaannya, "Mengapa menculik aku?"


Baskoro menarik napas, mulai kesal pada Nada.


"Kamu anakku, aku nggak menculik kamu!"


"Ini penculikan! Aku nggak datang dengan sukarela!"


Baskoro tiba-tiba tertawa, "Kamu lebih senang tinggal bersama ibu dan kakakmu? Ah, tapi mereka bahkan nggak mengijinkan kamu tinggal bersama mereka, kan?"


Nada menggeram kesal lalu melompat dari tempat tidur dan bersiap pergi.


"Kamu mau kemana?" tanya Baskoro.


"Aku nggak punya alasan meladeni kamu!"


"Aku ayahmu!"

__ADS_1


Nada seketika menoleh menatap Baskoro yang ikut berdiri," Ayah?" tanya Nada dingin.


"Kamu penjahat yang menghancurkan hidup ibu! Menyakiti kakak dan membuatku hidup seperti di neraka!"


Baskoro tak berkedip menatap Nada lalu tiba-tiba tertawa, "Sudah waktunya kamu meninggalkan neraka itu."


Lalu Baskoro membuka pintu dan menatap Nada, "Kamu nggak bisa pergi, setidaknya sampai waktu makan malam. Aku mau merayakan ulang tahunmu."


Nada membeku di tempatnya berdiri. Seketika dia tertawa sendiri, merasa geli pada lelucon yang tengah terjadi di hidupnya. Ibu yang melahirkannya bahkan tidak mengingat hari ulang tahunnya, kini penjahat yang sudah membuat hidup keluarganya kacau balau menderita tiba-tiba datang dengan segala keramahan untuk merayakan ulang tahunnya.


Nada menoleh ke arah pintu tempat di mana Baskoro masih berdiri menatapnya.


Pria ini telah menodai ibunya hingga dirinya terlahir dan menjadi sasaran kekecewaan Lestari yang dipendam.


Pria ini juga yang dengan tega memprovokasi Evan untuk menyakiti Keira.


Pria ini juga yang menghasut Hans hingga tega menodai Keira yang saat itu bahkan masih sekolah.


Bahkan pria ini yang sudah menusuk Keira hingga berada dalam ambang kematian.


Pria ini jelas musuh besar Kusuma yang menghancurkan keluarganya. Menyakiti Keira lebih dari sekali bahkan hingga kini masih mengancam hidupnya


Tapi biar bagaimanapun, pria ini adalah ayah kandungnya.


Hari ulang tahun yang bahkan tidak diingat Lestari, ibunya yang sangat dia sayangi.


**


Nada duduk tanpa ekspresi menatap meja makan di hadapannya. Di seberangnya Baskoro sedang mengawasinya.


"Makanlah, tenang saja, tidak ada racun di dalamnya."


Tapi Nada bergeming, bisakah dia makan semeja dengan penjahat yang sedang diincar keluarga ibunya?


"Jangan tegang, nikmati saja."


Nada mendongak menatap Baskoro, dalam hati Nada menertawakan selera humor ayahnya. Bagaimana dia bisa tidak tegang dan menikmati makan bersama dengan orang yang jelas-jelas masih berniat mencelakai kakaknya.


"Mengapa membenci kakak?" tanya Nada memberanikan diri.


Baskoro mengamati Nada lalu makan seperti biasa.

__ADS_1


"Jangan membahasnya," jawab Baskoro santai.


Nada kembali terdiam, sama sekali tidak menyentuh makanannya.


"Untuk apa kamu berada di tengah keluarga yang tidak menganggap kamu? Kamu pasti juga merasa tidak nyaman berada di dekat mereka, kan? Apalagi di dekat Kusuma brengsek! Beraninya dia tidak menganggap kamu!"


Perlahan Nada menatap Baskoro yang tetap menikmati makan malamnya dengan santai.


Pria itu terus mengoceh, menggambarkan dengan jelas tentang perasaan tidak nyaman Nada selama ini diabaikan oleh keluarga Kusuma, yang entah mengapa membuat Nada menjadi berpikir ulang.


"Seberapa dahsyatnya kekuatan darah? Mengapa pria ini bisa mengetahui isi hatiku sedangkan ibu dan kakak saja tidak sedemikian rupa memahami aku?" batin Nada.


"Aku hanya ingin mengembalikan hakmu sebagai anakku, kamu nggak semestinya hidup menggelandang, mengikuti keluarga Kusuma. Hentikan Zea, tinggal bersama aku dan nikmati hidupmu."


Nada terpaku lalu Baskoro berdiri dan menarik kursi, sebelum pergi dia kembali menatap Nada.


"Aku panggil kamu sama seperti panggilan ibumu, karena dia yang memberimu nama itu. Nikmati makanannya selagi aku pergi, kamu mungkin masih merasa canggung di dekatku."


Lalu Baskoro pergi begitu saja dengan terpincang-pincang meninggalkan Nada yang terus mengamati punggungnya.


Haruskah aku berada di sini?


Di rumah Ayah kandungku yang jelas-jelas berencana ingin mencelakai kakakku?


Tapi, pernahkah mereka menganggapku ada di sana?"


Nada tak bisa berpikir karena perutnya semakin lapar, perlahan dia mengambil sendok dan memulai makan malamnya.


Makan malam pertamanya di rumah ayah kandungnya, Baskoro sang pejahat musuh bebuyutan keluarga Kusuma.


*Mengapa makan malam ini terasa nikmat?


Apa karena Baskoro menyewa koki terbaik di rumah ini?


Apa karena aku terlalu lapar?


Atau....


Apakah karena aku nyaman berada di sini?


Like father, Like daughter.

__ADS_1


Serupakah aku dengan ayah kandungku yang seorang *********?


__ADS_2