
Adrian dan Dizza berhenti di sudut taman yang jauh ke dalam. Tak ada orang yang berada di sana.
"Gadis yang mereka bicarakan itu, Kakakmu?" tanya Adrian.
Dizza mengangguk.
"Kamu dari keluarga siapa?" tanya Dizza menyelidik.
"Siapa ayahmu?"
Adrian tidak menjawab, ia mondar mandir di hadapan Dizza. Dizza menebak-nebak, kalau sampai Adrian adalah kerabat dekat Wijaya, habislah dia. Tapi Dizza memberanikan diri, dia di posisi yang benar.
Perbuatan mana yang lebih bisa diterima di antara menguping pembicaraan orang lain atau melarang orang sakit ke rumah sakit.
"Dengar ya, kamu bisa mengadukan aku, tapi aku tidak akan gentar melawan ketidakadilan!"
Adrian menatap Dizza dengan bingung.
"Apa yang kamu bicarakan?"
"Kamu dari keluarga mana?" tanya Dizza kesal.
"Apakah penting mengetahui asal keluargaku?"
"Tentu saja. Aku perlu tahu kamu di pihak siapa?"
"Hey, memangnya kita sedang berperang?" Adrian semakin heran.
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita marah-marah diikuti langkah seorang pria. Adrian menarik tangan Dizza untuk bersembunyi di balik rimbunan tanaman.
"Jongkok, tak baik mendengar orang lain bertengkar." Adrian menekan kepala Dizza sambil berbisik. Dizza menepis tangan Adrian di kepalanya.
"Bu, tolong jangan bersikap berlebihan seperti ini."
Dizza mendelik heran, bukankah itu suara Bara.
Ia menaruh telunjuk di bibirnya, meminta Adrian tidak bersuara.
"Kamu yang sudah bersikap berlebihan. Sudah berapa kali ibu bilang, kamu tidak perlu menikah dengannya. Kalau kamu begitu menyukainya, mengapa tidak menjadikannya simpanan saja? Ibu tidak sudi mendapat cucu dari wanita seperti dia."
"Apakah para tamu sudah pulang?" Adrian berbisik heran. Dizza tak menimpali, tangannya mencabut rumput dengan geram.
"Bu, aku mencintainya ...."
"Bara dengar, kamu tak mengerti apa itu cinta. Gadis itu hanya menginginkan keuntungan dari keluarga kita. Dia membawa kesialan. Mengapa kamu memberikannya rumah tanpa sepengetahuan Ibu? Gadis itu bahkan sudah pergi ke rumah sakit tanpa sepengetahuan kita. Pasti sebentar lagi akan ada bencana. "
"Rumah sakit? Kenapa dia? Ibu tahu dari mana?" Bara panik.
"Bara, gadis itu tidak boleh ke rumah sakit, kau dengar? Bahkan ayahnya sudah tahu!"
"Bu, apa-apaan ini? Mengapa dia tidak boleh ke rumah sakit?" Bara frustasi mendengar ocehan ibunya.
"Rumah sakit akan membuat kejadian memalukan bagi keluarga kita, peramal itu yang bilang. Gadis itu harus dijauhkan dari rumah sakit. Dia akan bertemu masa lalunya di rumah sakit dan membuat keluarga kita malu. Tapi ia pergi ke sana tanpa sepengetahuan ayahnya!"
"Bu, apa yang ibu lakukan? Peramal?Mengapa ibu percaya omong kosong peramal?"
"Terserah kalau kamu tidak mempercayainya. Dulu Ibu memang menyetujui pernikahan kalian, sebelum ibu tahu wanita itu memiliki masa lalu menjijikan! Bukankah kamu tahu itu, dia anak haram dan pernah menjadi korban pemerkosaan bahkan memiliki skandal dengan petinggi Grup Oshi. Mengapa dia tidak menjadi simpanan pria itu saja? Kamu tidak usah menikah dengannya. Kamu boleh menyimpannya dalam rumah yang sudah kamu belikan untuknya, tapi kamu tak perlu menikahinya!"
"Bu, hentikan!"
__ADS_1
Dizza mengintip ke balik tanaman untuk melihat reaksi Ny Wijaya yang tiba-tiba terdiam, betapa terkejutnya ia melihat Keira di dekat mereka.
Bara dan Ibunya memang tidak melihat Keira yang berdiri di belakang mereka, tapi Keira pasti mendengar semuanya. Dizza bisa melihat tangan Keira bergetar.
Gadis itu tidak menyela keributan antara Bara dan Ny Wijaya, ia berbalik pergi. Dizza menahan air matanya, Adrian menatapnya lalu menggenggam tangan Dizza.
Ketika sudah tak terdengar suara lagi, Adrian meengintip.
"Mereka sudah pergi ...."
"Kamu sudah dengar, kan?" Dizza bicara sendiri.
"Bagaimana bisa seseorang menghina orang lain sedemikian rupa? Apakah dia malaikat? Tuhan?"
"Tenanglah ...." Adrian menenangkan.
"Dan bagaimana bisa ada orang sebodoh Kakak?"
Dizza menangis. Adrian kebingungan, ia menyodorkan tisu, tapi Dizza tak mengindahkan. Akhirnya Adrian memberanikan diri memeluk Dizza.
***
Bara ingin mengantar Keira dan Dizza pulang, tapi mereka menolak.
"Kamu, masuklah ke dalam." Keira meminta Bara masuk ke dalam rumah.
Bara tak ingin meninggalkan Keira, ia sendiri terluka mendengar kata-kata ibunya, ia tak membayangkan bagaimana bila Keira mendengarnya. Yang ia tak tahu adalah Keira memang sudah mendengarnya.
"Mobil sudah datang." Dizza pergi mendahului Keira tanpa pamit pada Bara.
Keira melambaikan tangan pada Bara lalu mengikuti Dizza.
Apakah masa laluku sebuah kutukan?
"Non, sepertinya kita tidak bisa sampai dengan cepat." Supir memberi informasi, tetapi kedua putri majikan di belakangnya tidak ada yang menjawab. Keduanya merenung sendiri. Supir itu menoleh ke belakang.
"Non, kita tidak bisa melewati jalan ini untuk sementara waktu."
"Oh ya, ada apa?" Dizza tersadar. Ia menoleh dan melihat jalanan di depannya ditutup.
"Ada kecelakaan, truk besar terguling dan menutup jalan."
Dizza menoleh pada Keira yang masih merenung, lalu ia melihat sebuah kedai kecil di luar.
"Kak ...." Dizza menyenggol lengan Keira.
"Kita tunggu di sana saja." Dizza mengajak Keira keluar dari mobil dan pergi ke kedai kecil itu.
"Tapi Non, Tuan sudah berpesan ...."
"Bapak bisa mengawasi kami, kan? Kami hanya pergi ke kedai itu!" Dizza menjawab ketus, tak peduli pada supir yang ketakutan.
*
Evan dan Nada sudah kembali ke Indonesia lagi. Seperti Dizza, Nada tak berhenti mengumpat wanita yang melarang Keira ke rumah sakit. Evan cenderung diam memikirkan cara membebaskan Keira dari ancaman Tuan Kusuma.
"Kak, aku lapar." Nada merengek. Mereka sedang berkeliling menggunakan motor.
"Ah, jalanan ditutup." Nada mengumpat lalu ia melihat sebuah kedai kecil.
__ADS_1
"Kita ke sana saja ya, aku lapar."
***
Ketika memutuskan untuk menunggu di kedai kecil itu, Dizza tidak memperhitungkan pakaian yang mereka pakai. Mereka dengan santai masuk ke dalam kedai sederhana dengan gaun dan dandanan pesta.
Semua orang yang ada di kedai memandang mereka dengan takjub. Seandainya mereka masuk ke dalam restoran besar, tentu tidak menjadi aneh, tapi masuk ke dalam kedai dengan penampilan pesta akan membuat kegaduhan. Dan parahnya, akibat masih shock mendengar perkataan jahat Ny Wijaya, kedua gadis itu tak menyadarinya.
Mereka berpikir pelayanan kedai itu sangat ramah hingga keempat pelayan bersamaan menawarkan menu makanan.
Mereka duduk di sudut yang dekat pendingin karena Dizza tak tahan panas. Ia mengipas-ngipas badannya sendiri dan membuat kasir kedai itu terpana.
"Kak, jangan bersedih." Dizza membuka pembicaraan.
"Mengapa Kakak sedih?Apa Kakak terlihat sedih?" Keira balik bertanya.
Dua pelayan mengantar minuman dan berebut ingin meletakkannya di meja. Dizza kesal lalu mengambil gelas itu sendiri.
"Kakak terlihat menyedihkan." Dizza menyeruput minumannya.
Keira tertawa. Dizza semakin kesal.
"Apakah mereka artis?" tanya seorang pelayan.
"Aku belum pernah melihat seseorang sedemikian rupa berdandan hanya untuk makan ke kedai mie ini." sahut kasir.
Dizza dan Keira mendengar percakapan kedua orang itu, mereka menoleh sedikit dan sadar bahwa mereka telah menjadi bahan pembicaraan. Dizza memperhatikan penampilan Keira, begitu juga sebaliknya, lalu mereka tertawa terbahak-bahak.
"Astaga, kita nggak menyadarinya." Keira tertawa. Dizza ikut tertawa.
"Sepertinya kita menjadi tontonan."
"Kak, akhirnya aku bisa melihat kakak tertawa lagi." Dizza kembali serius. Keira mengernyitkan dahi.
"Mulai hari ini, berhentilah bersandiwara. Ceritakan padaku yang sebenarnya lalu kita selesaikan bersama. Jangan menanggung sendirian."
"Kakak nggak mengerti ...."
"Jangan berbohong lagi."
"Dizza ...."
"Aku mendengarnya." Dizza berkata lirih.
"Aku mendengar ucapan wanita jahat itu ...."
Keira membuang muka, tak menyangka Dizza juga mendengarnya.
Dizza menggengam tangan Keira.
"Tinggalkan keluarga Wijaya, aku akan membantu kakak menemukan investor lain. Aku akan ...."
"Dizza, nggak semudah itu ...." Keira merenung, ia memikirkan Evan dan Zea.
Lalu seakan keluar dari benaknya, kedua orang yang ada dalam pikirannya benar-benar berada di hadapannya. Evan dan Nada masuk ke dalam kedai. Keira terperanjat.
"Apa aku bermimpi?" Keira memegang pipinya.
Evan yang pertama kali bertatap muka dengan Keira. Mereka saling berpandangan.
__ADS_1
Apa aku bermimpi?