No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Tertangkap


__ADS_3

Kusuma membanting berkas-berkas di mejanya. Ia mendapat laporan bahwa Evan dan Nada kembali lagi.


"Apa mau mereka?" Kusuma memijat dahinya.


Ia takut kalau Evan bertemu Keira, mereka akan bersama lagi. Kusuma sudah tahu bahwa sejak masih sekolah, kedua anak itu sudah bersama.


Kusuma memandang foto Zea. Ia tahu hanya Zea senjatanya sekarang. Ia tahu bahwa putrinya tidak akan membiarkan saudaranya menderita.


Ia teringat permintaan Keira.


Untuk pertama kalinya aku memohon sebagai anak kandung Ayah, bisakah kita hentikan semua ini. Semua dendam tidak akan pernah berakhir kalau kita tidak menghentikannya.


Kusuma teringat Baskoro yang masih berada dalam penjara. Baskoro pria ******** yang menghancurkan keluarganya. Ia yang memisahkan dirinya dengan Lestari dan Keira selama bertahun-tahun. Memaksa Resti mendampingi Kusuma. Membohongi Kusuma bahwa Evan adalah anak kandungnya.


Kusuma merasa bersalah pada Resti yang telah menjadi alat keserakahan kakaknya. Resti dipaksa merawat Hans, sampai akhirnya ketika Hans menodai Keira, Leah dan Baskoro juga menyalahkan Resti. Sesungguhnya yang terjadi adalah saat itu Kusuma ingin mengakhiri hubungannya dengan Resti, ia ingin hidup normal dengan keluarganya. Hans mendengarnya. Ia menduga Kusuma lebih mementingkan Lestari dari pada ibunya.


Sepeninggal Kusuma, Baskoro marah besar. Ia memaki adiknya yang tidak becus dan mengompori Hans bahwa Keiralah penyebab segalanya. Resti menyalahkan Baskoro mengapa dulu tidak berhasil membunuh Keira dan Lestari, akibatnya mereka berdua menjadi bumerang.


Hans mendengar semuanya tapi tak memahami. Ia baru saja kembali dari luar negeri dan yang terpatri di hatinya segalanya terjadi karena Keira dan Ibunya. Hans mabuk. Saat itu, Hans mengunjungi rumah Kusuma, ia ingin menanyakan yang sesungguhnya pada Kusuma. Mengapa memilih meninggalkan ibunya.


Saat itu sudah tengah malam, Hans masuk ke halaman rumah tanpa pertanyaan dari penjaga. Mereka sudah terbiasa melihat Hans sejak anak itu kembali dari luar negeri.


Hans yang mabuk berpapasan dengan Keira yang mengendap-endap ingin keluar. Entah apa yang merasuki Hans, ia membekap Keira dan menyeretnya ke garasi lama yang menjadi gudang. Keira berteriak tapi tak ada yang mendengar. Kebencian Hans pada Kusuma membuatnya gelap mata. Ia ingin Kusuma merasakan kehancuran seperti ibunya.


Dan segalanya terjadi, ia tak ingat bahwa Keira adalah gadis yang selalu diceritakan Evan. Gadis yang disukai adiknya. Ia menyadari perbuatannya saat Keira yang sudah kehabisan tenaga, terisak di sudut gudang. Tapi terlambat, semua sudah terjadi. Ia berlari meninggalkan Keira yang menangis sejadi-jadinya.


Lestari adalah orang pertama yang menyadari Keira menghilang, ia keluar pintu dan berpapasan dengan Hans yang berlari ketakutan. Lestari yang heran mengajak penjaga memeriksa apa yang membuat Hans berlari ketakutan. Ia mendengar suara Keira menangis dari dalam gudang, Lestari segera membuka pintu dan melihat Keira meringkuk ketakutan dalam keadaan menyedihkan.


Dalam sekejap Lestari tahu apa yang terjadi. Tanpa bisa dicegah penjaga itu berteriak kaget, ia bergegas melapor pada Kusuma. Kusuma murka, ia segera mencari Hans dan mengamuk di rumah Resti. Baskoro yang sudah mendegar berita itu juga ketakutan. Ia memberi tahu Leah. Leah datang ke rumah Resti dan menyalahkan Resti. Resti yang baru saja mendapat ancaman Kusuma hilang kendali. Sepeninggal Leah, ia menelan semua obat tidur hingga tak tertolong.


Setelah berusaha menenangkan Keira, Lestari menyerahkan Keira pada dokter dan seorang pelayan untuk menjaganya. Dengan penuh amarah, Lestari mengerahkan semua penjaga untuk mencari Hans. Ia menemukan Hans menangis di tebing pantai.


"Bagaimana bisa ayah dan anak menjadi iblis?!"Lestari berteriak marah. Lalu ia menceritakan kebenaran pada Hans, tentang siapa sesungguhnya Hans dan seberapa jahatnya Baskoro.


"Aku tidak tahu ...." Hans menyesal.


"Putriku juga tidak tahu apa-apa. Mengapa kamu merusaknya? Bagaimana dia akan berjalan ke depan? Kamu setan berwujud manusia!"


"Aku minta maf ... maaf ...."


"Maaf? Apakah maafmu mengembalikan keadaan?Pergilah ke neraka dan tunggu aku di sana. Minta maaf di neraka!"


Lestari mengatakan bahwa Hans seharusnya mengakhiri hidupnya sendiri. Hans terpukul, ia benar-benar terjun ke laut.


*


Kusuma membuka laci untuk mengambil pistol lalu ia melihat foto Keira. Kusuma tertegun.


Dia putriku satu-satunya.


Kusuma terduduk di kursi.


Tapi aku harus melakukannya demi dia.


Kusuma mengambil pistolnya lalu menelpon seseorang.


***


Nada sudah keluar dari rumah sakit. Untuk sementara ia tinggal di Cafe Dizza, Evan tinggal di Lets Read. Dizza mengunjungi Nada dan meminta maaf karena tidak bisa membawa Keira.


"Terlalu banyak penjaga."


Nada mengangguk maklum. Dizza lalu menceritakan kejadian saat Keira muntah-muntah tadi pagi.


Evan yang baru saja datang, mendengar percakapan kedua gadis itu.

__ADS_1


Mereka menertawakan Keira yang marah karena dituduh hamil. Evan yang mendengarnya mendadak lemas.


"Apakah kalian sebenarnya kembar identik?Mengapa kamu muntah-muntah dan Kakak juga mengalaminya?"


Nada tertawa.


"Entah, Kakak memang seperti itu. Kalau dia ketakutan dia mual, kalau dia gelisah juga bisa mual. Kalau aku sakit, biasanya dia juga mual karena dia gelisah." Nada mengenang masa kecilnya.


"Ah, aku iri padamu. Kalau aku sakit, dia nggak pernah mual."


"Kamu hidup bersamanya selama ini. Ku tahu semua kebiasaanya, kamu bahkan lebih mengerti hatinya dari pada aku."


"Itu karena kamu keras kepala seperti Kakak!"


Mereka tertawa.


"Tapi, Kakak benar-benar tidak sedang hamil, kan?" tanya Nada.


"Tentu saja tidak. Kalau dia sudah mengatakan nggak, ya berarti nggak!" Dizza meniru ucapan Keira.


Tiba-tiba Evan merasa lega. Nada lalu menceritakan pada Dizza tentang supir yang menjadi mata-mata di rumahnya.


****


"Kak ...."


"Hmm ...." Keira menjawab Dizza dengan malas. Rasa tidak enak di perut membuatnya enggan bicara atau bergerak. Dizza sedang berbaring di sebelah Keira.


"Kak ...."


"Hmmm ...."


"Kak, apa Kakak nggak ingin menjenguk Nada?"


"Nggak." Keira menjawab tegas.


Keira tak menjawab.


"Tidak menjawab, berarti benar."


Keira masih diam.


"Ayo kita pergi ...."


"Kakak nggak akan pergi kemana-mana." Keira menolak.


Dizza menoleh menatap Keira.


"Kakak nggak bisa menemuinya," akhirnya Keira mengakui.


Dizza masih menatap Keira.


"Kata siapa?" Ia menjentikan jarinya lalu menarik Keira.


"Pak Yadiiiiiiiii...." Dizza berteriak di luar rumah. Penjaga yang berada di luar berlarian.


"Ada apa, Non?"


"Aku mau pergi dengan Kakak. Ke mana Pak Yadi?"


Seseorang segera berlari mencari Pak Yadi dan bernapas lega. Lebih baik tidak berurusan dengan Nona Kecil.


"Ada apa, Non?" tanya Pak Yadi.


"Kami mau keluar."

__ADS_1


"Ke mana?" tanya seorang penjaga melirik Keira.


Dizza menendang kaki penjaga itu.


"Haruskah aku menjelaskan padamu?"


"Maaf Non, tapi Nona Keira tidak boleh...."


Dizza kehabisan rasa sabar.


"Kalau kamu nggak percaya, kamu boleh ikut!"


Dizza masuk kedalam mobil bersama Keira. Penjaga dan Pak Yadi mengikuti mereka setelah menelpon Kusuma yang memberi iijin Keira ke luar.


"Mau ke mana, Non?" Pak Yadi bertanya sopan.


"Royal Spa. Menenangkan diri dari kegilaan kalian!" Jawab Dizza setengah mengumpat. Penjaga itu mendelik takut.


Pak Yadi menunggu di mobil, tapi penjaga itu mengikuti Dizza dan Keira masuk ke dalam gedung Royal Spa.


"Selamat datang, perawatan apa yang ingin Nona ambil, kami sedang ...."


Dizza mengangkat tangan meminta petugas itu untuk diam agar tak menganggu konsentrasinya membaca pilihan perawatan.


"Ini. Ini. Ini ... dan Ini ...." Dizza menunjuk sembarangan.


Petugas itu mengernyitkan dahi bingung.


"Untuk berdua?"


"Bertiga kalau dia boleh masuk!" Dizza menyindir penjaga di belakangnya.


"Maaf Nona, kami hanya menyediakan perawatan untuk perempuan."


"Tapi Nona, kalau memilih semua perawatan ini kira-kira membutuhkan waktu lebih dari 3 jam ...."


"Kalau begitu tambah yang ini dan ini."


Dizza menyeringai, petugas itu segera mencatat di komputer.


"Kami nggak suka pergi bolak balik. Alangkah lebih efesien kalau sekali pergi untuk semua perawatan?"


Petugas itu mengangguk ragu sementara Keira menahan tawanya.


Penjaga mereka duduk menunggu di ruangan itu sementara Keira dan Dizza mengikuti petugas itu masuk ke dalam ruangan lain.


****


Dizza dan Keira keluar lewat pintu samping, setelah mengancam petugas spa agar tidak memberi tahu penjaga yang menunggu mereka.


Mereka memanggil taksi dan pergi ke Cafe milik Dizza.


Sepanjang jalan Keira hanya diam, ia mendadak gelisah. Perutnya semakin terasa tak nyaman.


"Kakak kenapa lagi, Kak?" tanya Dizza curiga.


Keira menggeleng, ia sendiri tak tahu alasannya gelisah.


Mereka sampai di Cafe Dizza. Dizza memandangi pintu Cafe yang terbuka, seharusnya pintu itu tertutup rapat karena cafe itu memang tidak buka.


Mereka mendengar suara-suara dari dalam. Keduanya merasa ada sesuatu yang janggal. Ketika mereka akan melangkah masuk, mereka menjerit bersamaan.


Dua orang pria sedang menyeret Nada yang mulutnya sudah dibekap.


"Siapa kalian?" tanya Dizza panik. Ia refleks memegang tangan Keira. Belum sempat mendengar jawaban, keduanya dipukul dari belakang.

__ADS_1


Nada menjerit-jerit walau suaranya tertahan, Dizza dan Keira jatuh pingsan.


__ADS_2