
"Sementara ini istri Bapak harus istirahat di tempat tidur. Tidak boleh banyak beraktifitas dan pikiran. Tolong diperhatikan jangan sampai kelelahan."
"Oke, terima kasih, Dok." Jawab Evan sambil mengantar dokter yang memeriksa Keira pulang.
Di dalam kamar, Keira yang masih berbaring menatap Ny Lestari dan Dizza bergantian, menuntut penjelasan dari apa yang telah dia dengar.
"Kak, jangan dipikirkan," sahut Dizza mendahului pertanyaan Keira.
"Apa ..."
"Keira, ingat anakmu. Jangan memikirkan hal-hal yang ..."
"Aku terlanjur dengar!" jerit Keira dengan kesal.
"Keira, tenang!" Evan yang tiba-tiba masuk segera duduk di tepi tempat tidur untuk menenangkannya.
"Bisakah tinggalkan kami dulu?" pinta Evan pada Ny Lestari dan Dizza yang segera pergi dengan berat hati.
"Van, aku ...."
"Mereka sudah cerita, Kei. Jangan takut, jangan cemas, oke?"
"Tapi..."
"Sst, jangan biarkan dia menyakiti kamu bahkan walau dia nggak ada di depan kita. Kalau kamu begini terus, kasihan anak kita."
Keira terdiam, merasa serba salah. Dia jelas tidak mau membuat anaknya dalam bahaya tapi adakah cara untuk mengalihkan pikirannya?
"Kamu menahan sakit dari kemarin ya?" selidik Evan, teringat ucapan dokter saat di luar.
"Istri bapak sepertinya jenis yang nggak manja jadi mohon perhatikan baik-baik meskipun beliau tidak mengeluh. Istri bapak jelas butuh istirahat. Dia tidak cerita kalau perutnya kram?"
"Aku sudah bilang berapa kali, Kei, jangan disimpan sendirian. Kalau sakit atau ingin sesuatu, bilang ke aku. Jangan kamu pendam sendirian. Kalau kamu nggak ngeluh apa pun, aku nggak tahu apa yang kamu rasain, kan? Kalau ada apa-apa lagi, gimana?"
Keira menatap mata Evan yang jelas tampak kesal, dia juga menjadi lebih kesal karena pria itu seolah menyalahkan dirinya.
"Oke,maaf." Akhirnya Keira memilih meminta maaf pada Evan sembari memalingkan wajahnya.
"Kei, maksudku ..." Evan berusaha menenangkan Keira yang dia tahu pasti bertambah kesal karena ucapannya barusan.
"Aku tahu maksudmu," sela Keira malas, masih enggan menoleh.
Evan menarik napas lalu tiba-tiba naik ke tempat tidur dan memeluk Keira.
"Maaf, sayang. Aku nggak bermaksud menyalahkan kamu. Aku hanya khawatir. Aku tahu kamu nggak suka mengeluh tapi kalau kamu ..."
"Tapi kamu memang nyalahin aku! Kalau ada apa-apa sama anak kita, aku yang salah, kan?" sela Keira lagi tapi kali ini suaranya terdengar parau karena sambil terisak.
Mendengar Keira tiba-tiba menangis, Evan mendadak panik. Dia segera melompati Keira untuk melihatnya dari depan demi menatap matanya yang sudah basah oleh air mata.
Selama pernikahan mereka Evan tidak pernah melihat Keira menangis maka kali ini dia menjadi merasa sangat bersalah.
"Maaf, Kei, maaf. Bukan begitu. Kalau ada apa-apa, aku jelas salah. Maaf karena aku kurang peka. Aku nggak ngerti gimana merawat kamu, aku takut terjadi sesuatu bukan hanya pada anak kita tapi aku juga takut kamu celaka, Kei. Plis jangan nangis begini."
Evan mengusap air mata Keira yang masih mengalir.
"Aku nggak ada maksud apa-apa. Aku juga nggak mau anak kita celaka, aku cuma nggak mau ngerepotin kamu. Aku ..."
"Ya aku tahu. Maaf, sayang." Evan segera memeluk Keira agar wanita itu menjadi tenang.
"Maaf Kei, aku belum sempurna jadi suami dan calon ayah. Tolong ajari aku, ya?" Evan menepuk-nepuk lengan Keira dengan pelan hingga wanita itu perlahan tertidur.
Setelah memastikan Keira terlelap, Evan melepas pelukannya dengan hati-hati lalu mencium keningnya. Perlahan dia turun dari tempat tidur, keluar dari kamar untuk menemui keluarga Keira yang telah menunggunya di ruang keluarga.
**
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya?" tanya Kusuma yang baru sampai di rumah. Begitu mendengar kabar kalau Keira pingsan, pria itu segera pulang. Di perjalanan dia tidak berhenti mengumpat Baskoro yang membuat Kerira ketakutan walau hanya mendengar namanya.
"Dia baru saja tidur," jawab Evan sambil duduk di sofa.
"Apa pamanku memang sudah keluar dari penjara?" tanyanya menuntut penjelasan. Dia juga merasa kesal karena tidak diberitahu tentang keluarnya Baskoro dan perihal seseorang yang sempat menguntit Keira.
Ketika tak ada yang memberinya jawaban, Evan kembali bersuara dengan nada sedikit tinggi.
"Tolong, sekarang aku suaminya. Aku bertanggung jawab menjaga dan melindungi keluargaku. Jangan jadikan orang yang tidak...."
"Dia kabur dari penjara," sela Kusuma.
Evan menoleh menatap ayah mertuanya.
"Kita belum tahu dia berada di mana." sambung Kusuma lagi.
Evan mengepalkan tangannya dengan kuat. Berbagai perasaan campur aduk dalam hatinya saat ini. Kecemasan Keira menular pada dirinya.
"Untuk sementara jangan biarkan Keira keluar rumah. Biarkan dia tinggal di sini, ibu mohon." Ny Lestari tiba-tiba bicara.
Evan menatap ibu mertuanya yang sekarang terlihat sangat gelisah. Evan tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Lestari saat ini, wanita itu pasti dalam dilema cukup besar mengingat Baskoro juga ayah dari putrinya yang lain.
"Ya, aku juga berpikir lebih aman Keira berada di rumah ini. Ayah, bisakah aku mohon sesuatu?" tanya Evan tiba-tiba.
Kusuma memandang Evan sembari mengerutkan dahinya, sementara Dizza dan Ny Lestari ikut menaikan alisnya.
"Keira nggak boleh tertekan. Dia harus banyak istirahat dan nggak boleh stres tapi dia terlanjur mendengar tentang semua ini. Jadi aku mohon jangan membuatnya memikirkan keselamatan Nada. Dia pasti nggak tenang karena ketakutan kalau terjadi sesuatu pada adiknya."
Nu Lestari dan Dizza terkesiap mendengar permintaan Evan. Kusuma memandangi wajah Evan lalu dia melepas dasinya perlahan-lahan. Tanpa menoleh ke arah Lestari, Kusuma bicara dengan lambat.
"Aku akan melakukan apa pun untuk melindungi Keira. Selama dia aman, aku nggak akan mencelakai orang lain!" kata Kusuma sebelum pergi meninggalkan ruangan itu untuk menjenguk Keira.
**
Suara samar TV memecah kesunyian di salah satu ruang rumah besar. Rumah yang berada di atas pekebunan teh itu kembali sepi ketika sebuah tangan menekan tombol remote tv untuk mematikan siaran yang menurutnya tak penting. Sambil menghisap dalam-dalam rokoknya, pria itu memejamkan mata seolah ingin menikmati kesunyian dan kesendiriannya.
"Apa rumah ini begitu menyenangkan hingga kamu tertidur nyaman seperti ini?"
"Meskipun rumahku jauh lebih nyaman tapi setidaknya ini lebih baik daripada lantai penjara. Jangan mengusik aku."
"Aku mengeluarkan kamu dari sana untuk bekerja sama bukan untuk melihatmu bersantai seperti ini, Baskoro!" kata seorang pria yang kini duduk di hadapan Baskoro.
Baskoro dengan senyuman liciknya perlahan membuka mata lalu semakin melebarkan bibirnya menyambut dua orang yang menatapnya dengan kesal.
"Aku belum mengucapkan terima kasih, ya?" tanyanya dengan nada memuakkan.
"Tunjukkan dengan hasil kerjamu!" bentak pria di hadapannya.
Baskoro tiba-tiba tertawa terbahak-bahak membuat pria di hadapannya semakin murka.
"Lihat kakiku!" Baskoro menunjuk kakinya yang tampak normal tapi sebenarnya cacat. Peluru yang dtembakkan Kusuma saat dia menusuk Keira membuatnya tidak bisa berjalan dengan normal lagi tanpa bantuan tongkat.
"Ini akibatnya kalau terlalu tergesa-gesa! Aku menyesal mengikuti kata-kata perempuan yang tak sabaran!" Baskoro menyindir Ny Leah yang duduk tak jauh darinya. Wanita itu hanya terkekeh sembari menuang alkohol, penampilannya sungguh merupakan perwakilan dari wanita kelas atas yang terhormat elegan dan ramah. Tapi bila diamati dengan seksama, Ny Leah jelas psikopat.
"Dan kamu nggak mau menjadi seperti perempuan tua yang tak sabaran, kan?" Baskoro menuding pria di hadapannya lagi.
"Aku bukan perempuan tua tak waras tapi aku juga tidak punya banyak stok sabar! Kalau akhirnya kamu hanya membuang waktuku, akan lebih baik kalau kakimu yang satunya ikut cacat!"
"Kamu tak lebih gila dari aku," sela Ny Leah.
Pria itu menyandarkan punggungnya lalu menatap Baskoro tajam.
"Jadi, apa pembelaanmu terkait anak buahmu yang tertangkap basah dan kini menghilang? Apa kamu menunggu polisi menemukannya dan menjaring keterlibatan kita semua?"
Baskoro meletakkan rokoknya lalu balas menatap dengan tak kalah tajam.
__ADS_1
"Itu bagian dari rencana. Tak ada yang perlu kujelaskan sebagai pembelaan."
"Bagian dari rencana gagalmu?" sindir pria itu.
Baskoro tertawa meremehkan lalu memejamkan matanya lagi.
"Pria itu memang sengaja menguntit secara mencolok agar Kusuma bisa menangkapnya dengan mudah. Kini keluarga itu pasti sedang ketakutan."
"Dan apakah kau tidak takut kalau polisi menemukan pria itu?"
"Kalau beruntung Polisi mungkin menemukannya beberapa minggu lagi, di dasar sungai, tapi apa pentingnya? Pria itu juga tak bisa bicara apalagi menyebut namaku. Dia mati bunuh diri karena tertekan dituduh Kusuma mencelakai putrinya padahal dia hanyalah orang biasa yang terobsesi dengan Keira karena pernah melihatnya di televisi."
Ny Leah tertawa terbahak-bahak sementara pria di hadapan Baskoro terdiam membisu.
"Saat Kusuma group kembali bergoyang diterpa gosip menggunakan kekerasan gangster untuk menghadapi penguntit, saat itulah mereka akan lengah mengawasi keluarganya."
"Dan saat itu terjadi kau boleh mengambil kembali mantan tunanganmu tercinta!" sambung Ny Leah.
"Mereka tidak akan tahu kalau penguntit sesungguhnya adalah kamu, Bara Wijaya!"
kata Baskoro sambil membuka matanya menatap Bara yang duduk diam tak bereaksi.
"Jadi, kamu mau merebutnya dalam keadaan hidup atau mati? Atau dalam keadaan hidup tapi anaknya mati?" tanya Ny Leah tanpa rasa berdosa.
"Jangan sampai Keira terluka sedikitpun!" bentak Bara dengan emosi yang meledak.
"Tapi dia yang melukai ibumu hingga menjadi mayat di dalam penjara." kata Ny Leah memprovokasi Bara.
"Dan lagi anak yang ada di perutnya itu anak pria lain, bukan anakmu, " sambung Baskoro sengaja semakin membuat Bara marah.
Bara menatap tajam Baskoro lalu bicara dengan santai, "Pria yang membuatnya hamil yang harus mati. Tapi apa kamu sanggup? Dia keponakanmu, kan?"
Baskoro tertawa semakin kencang diikuti Ny Leah yang sudah menegak habis gelas kedua alkoholnya.
"Evan bukan keponakanku, dia hanyalah anak yang diadopsi adikku dari panti asuhan demi menunjukkan pada Kusuma kalau dia bisa memiliki anak. Sayang segala usahanya sia-sia, anak itu sama sekali tidak berguna! Sejak awal Kusuma bahkan tidak mempercayai anak itu sebagai anaknya."
Bara sedikit terperanjat tapi kemudian dia bersikap santai bahkan ketika Baskoro kembali bicara dengan nada berbeda.
" Tapi aku tidak habis pikir ternyata aku memiliki seorang anak. Kita lihat seberapa berguna anak itu nantinya."
"Putrimu tidak akan berguna, Baskoro. Dia mencintai keluarganya." Leah mengingatkan.
"Tapi Zea memiliki darahku. Mereka bahkan tega membuangnya saat masih anak-anak. Dia hanya belum bisa memahami mana yang lebih penting. Hidup dalam kepura-puraan keluarga yang menerimanya atau merebut kembali kebahagiaan yang pernah hilang darinya. Lestari luar biasa brengsek, beraninya dia mengabaikan darah dagingku!"
Bara tak berekasi, Ny Leah juga diam. Baskoro berdiri dengan terseok-seok lalu tiba-tiba tongkatnya dia pukulkan pada sebuah lampu meja hingga pecah berkeping-keping.
Ketika beberapa pelayan lari tergopoh karena kerasnya suara yang ditimbulkan oleh pecahan itu, Bara dan Ny Leah tampak santai. Mereka bahkan tetap duduk diam saat Baskoro kembali memukul TV hingga hancur berantakan.
Hati mereka seakan mengeras, tak terpengaruh bisingnya suara barang-barang yang dipecahkan Baskoro dengan emosi tak terkira. Mereka tak peduli pada ketakutan para pelayan yang berdiri gemetaran dengan bingung.
Bara menoleh menatap seorang pelayan perempuan yang tampak memucat.
Iblis tak akan mengambil pusing mengapa orang lain memandang mereka dengan ketakutan. Ketakutan mereka adalah kemenangan para iblis.
Lalu dengan santainya Bara menarik tangan pelayan itu, menyeretnya ke salah satu kamar.
Tak peduli pada jeritan wanita muda yang memekakan telinga, Bara melampiaskan hasratnya sembari menyebut nama Keira berulang-ulang.
"Aku akan datang menjemput kamu, sayang."
Malaikat nggak akan berubah menjadi iblis hanya karena seorang wanita, kan?
"Aku bukan iblis, Keira dan kamu bukan seorang wanita biasa. Kamu malaikatku, aku butuh malaikat untuk mengembalikan kebahagiaanku."
Tetaplah menjadi orang baik.
__ADS_1
"Aku akan selalu menjadi yang terbaik untuk kamu. Bahkan aku akan memaafkan kamu yang mengkhianati aku."