
Keira duduk termenung di sudut restoran yang sepi. Pikirannya melayang ke banyak tempat. Ia gelisah menatap pintu masuk.
Semalam ia mendapat telepon dari nomor tak dikenal. Berulang kali ia mengabaikan hingga akhirnya ia menjawabnya.
"Kamu mengenali suaraku, kan?" tanya suara di seberang telepon.
Deg! Jantung Keira berdetak lebih cepat. Ia mengenal suara Evan. Ia nyaris mematikan teleponnya ketika didengarnya tawa Evan.
"Kamu pasti ingin menutup telepon ini."
"Apa maumu?"
"Aku ingin bertemu."
"Untuk apa?" tanya Keira putus asa.
"Aku merindukanmu."
Keira terdiam, tersihir oleh kata-kata Evan.
"Besok sore jam 4. La Pasta."
Evan menutup pembicaraan.
Dan di sinilah Keira akhirnya berada. La Pasta, restoran yang sepi pengunjung. Jam di tangan Keira telah melewati angka 4. Hampir setengah jam berlalu ketika ia akhirnya berdiri untuk pergi.
"Kamu terlihat tak sabaran." Evan tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Katakan apa maumu?Aku sedang sibuk."
Evan menarik kursi lalu duduk.
"Menjadi calon nyonya besar pasti membuatmu sibuk, " sindir Evan datar.
"Bagaimana persiapan pernikahanmu?" tanyanya ringan.
Keira tak menanggapi, ia bersiap pergi tapi Evan menahan lengannya.
"Aku bahkan belum mulai bicara, mengapa kamu sangat tergesa-gesa?"
"Segera katakan apa maumu!" Keira berseru dengan ketus.
"Aku ingin tahu mengapa dulu kamu meninggalkanku." Evan mengambil air minum lalu meneguknya.
Keira menatap Evan.
"Mengapa kamu membahasnya?" tanya Keira.
"Karena seumur hidup aku penasaran!"
"Dan seumur hidup aku nggak mau mengingatnya!" jerit Keira.
Namun ia tak mengucapkan sepatah kata pun.
"Bukankah dulu kita berjanji untuk selalu bersama?"
"Mengapa kamu bersikap bodoh?" tanya Keira. Evan menatap Keira tajam.
"Mengapa kamu percaya janji bodoh itu? Waktu itu kita hanyalah anak-anak. Mengapa kamu harus menyimpan janji anak-anak?" tanya Keira.
"Jadi bagimu aku hanyalah sepenggal kisah anak-anak dalam hidupmu?" tanya Evan.
Kamu adalah sepenggal kisah yang ingin kusimpan rapat dalam hatiku. Kamu adalah kisah yang ingin aku jaga seumur hidupku, tapi...
Keira merenung tapi tak menjawab apa pun.
Sebaliknya Evan justru tertawa. Tawa yang terdengar menyedihkan, lalu ia mengeluarkan selembar foto, memaksa Keira untuk melihatnya. Keira terperanjat. Itu adalah foto Dizza.
"Melihatmu sangat terkejut, aku menjadi penasaran apa yang akan kamu lakukan bila gadis ini ada dalam gengamanku."
"Apa maksudmu?" tanya Keira tak mengerti.
"Aku tak segan-segan membalaskan dendamku pada keturunan Kusuma!"
"Kamu tak akan mungkin melawan ayah," jawab Keira.
Evan tertawa.
"Kamu pikir orang yang kau panggil ayah itu selamanya sakti?"
Tiba-tiba ponsel Keira berbunyi menampilkan sebuah nomor telepon tak dikenal.
"Silahkan angkat." Evan mempersilahkan.
Keira menjawab telepon dengan ragu.
"Kakak, tolong aku!" Dizza menjerit di ujung telepon. Keira menatap Evan tak percaya.
"Tenanglah Dizza, kamu di mana? Apa yang terjadi?"
"Kakak, tolong aku ... Aku nggak tahu apa yang terjadi. Aku pergi seperti biasa, lalu tiba-tiba seseorang menyerangku. Aku pingsan dan begitu sadar aku berada di tempat ini."
"Apa kamu baik-baik saja?" Keira terlihat panik.
"Aku baik-baik saja. Hanya saja ponselku hilang. Kak, aku takut."
Keira nyaris jatuh, ia panik namun mencoba tenang.
__ADS_1
"Dizza tenangkan dirimu. Kamu ada di mana sekarang?"
"Aku nggak tahu. Ini di dekat pantai, entah di mana ...." Dizza mulai terisak.
Keira melirik Evan yang tertawa.
"Kakak akan menelpon ayah. Kamu bersabarlah."
Tiba-tiba telepon terputus.
"Dia baik-baik saja," kata Evan.
"Aku akan menelpon ayah."
"Tapi kalau kamu menelpon Kusuma, dia hanya akan menemukan jasadnya."
"Apa maumu?!" Keira menjerit panik.
"Aku mau kamu menjemputnya. Jemput dia dan rayakan ulang tahunnya di sana. Buat dia tak menyadari kalau ia adalah korban penculikan."
"Apa kamu gila?" tanya Keira marah.
Ia tak mengerti mengapa Evan sampai mengetahui hari ulang tahun Dizza.
"Aku akan memberimu alamat Dizza. Lakukan sesuai perintahku. Pergi ke sana, siapkan pesta, dan jemput adik tersayangmu. Berikutnya kamu harus mengikuti kata-kataku."
"Kalau sampai Kusuma mencurigai kejadian ini, berikutnya adikmu yang lain akan mati."
Keira mengernyitkan dahi.
"Adikku yang lain?"
Evan merasakan keheranan Keira.
"Adikmu yang hilang," sambung Evan.
Keira terperangah.
"Adikku yang hilang?" ia mengulangi.
Evan menatap Keira lekat-lekat.
"Kamu pasti tak pernah berpikir bahwa adikmu benar-benar sudah mati, kan?"
Evan menatap Keira yang kebingungan dengan senyum puas.
*
Keira terlihat gelisah. Ia sedang mengikuti skenario Evan. Berpura-pura merayakan pesta kejutan untuk Dizza.
Evan membawa Keira ke daerah pinggir kota. Ternyata Evan sudah mempersiapkan pesta ulang tahun Dizza lengkap dengan para tamu. Ia membuat segalanya terlihat biasa saja walau sesungguhnya pesta itu adalah ancaman untuk Keira. Sejenak Keira merasa aman karena banyak teman Dizza yang dikenalnya berada di pesta itu.
"Kamu akan menjemputnya." Jawab Evan datar.
Keira terpaksa tersenyum pada setiap tamu yang hadir. Menjelang senja, Evan memerintahkan Keira pergi menemui Dizza.
"Kamu harus berpura-pura menenangkannya dan membawanya ke sini."
Keira setengah hati mendengarkan. Tak mengerti jalan pikiran Evan yang merencanakan penculikan serumit ini.
"Aku memasang pelacak di mobilmu. Kalau kamu pergi menjauh dari tempat ini, aku akan meledakkannya."
"Kamu memasang peledak di mobilku?" tanya Keira tak percaya.
"Aku bahkan ingin memasangnya di tubuhmu!"
Keira terdiam, ia mengikuti semua keinginan Evan yang menurutnya tak masuk akal.
Keira berlari-lari menghampiri Dizza yang menangis seorang diri di tepi pantai.
"Aku tahu kakak pasti menjemputku," Dizza menangis.
Keira berkaca-kaca memeluk Dizza.
"Ayo, kita pergi. Nanti saja kamu ceritakan segalanya." Keira menggamit lengan Dizza.
"Kak, kita mau ke mana?" tanya Dizza saat Keira membawa mobilnya menuju tempat perayaan ulang tahun Dizza.
Keira diam saja, tak tahu harus menjawab apa. Ketika akhirnya mereka sampai di tempat semula, semuanya menjadi gelap. Keira panik. Ia segera memerintahkan Dizza untuk keluar dari mobil, refleks Dizza ikut panik.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan, kedua wanita itu berteriak histeris, lalu dalam hitungan detik terlihat kembang api berwarna warni dan detik berikutnya semua lampu menyala. Semua orang yang berada di tempat itu menyanyikan lagu happy birthday. Bukan hanya Dizza yang kaget luar biasa, tapi juga Keira.
"Kak, apa-apaan ini?" tanya Dizza tak percaya. Keira bahkan tak bisa menjawab, menurutnya ini adalah penculikan paling aneh di dunia.
Satu persatu teman-teman Dizza mendekat dan memberi ucapan selamat ulang tahun. Dizza berkaca-kaca, ia menatap Keira yang tak bergerak di sebelahnya.
"Kak, ini sungguh mengagumkan!" bisik Dizza. "Tapi apa perlu Kakak merencanakan penculikan?" tanya Dizza heran.
Ketika orang terakhir memberi ucapan, mereka terlihat membuka jalan untuk seseorang yang membawa kue ulang tahun. Kerumunan terbuka dan Evan, bagai seorang pangeran tampan, membawa kue dengan senyum sumringah. Dizza berteriak histeris.
"Kak Evaaaaaaan!" Dizza berlari mendekat dan tertawa bahagia. Keira shock luar biasa, apalagi ketika dilihatnya Dizza bergelayut di lengan Evan.
"Jadi, apa kamu suka pesta kejutan ini?" tanya Evan dengan senyum lebar. Keira tak kuasa melihat kedekatan keduanya, ia bahkan tak sanggup melihat Dizza meniup lilin karena detik berikutnya ia jatuh pingsan.
*
Keira terbangun saat tengah malam, ia melihat Dizza tertidur di sebelahnya. Keira memandang ruangan kamar yang asing. Keira masih merasa pusing dan shock, bagaimana mungkin Dizza sangat dekat dengan Evan?
__ADS_1
Keira bergegas memeriksa ponsel, khawatir pada ibunya.
Ada banyak pesan yang belum sempat ia baca.
10 pesan dari Bara.
Sayang, kamu di mana?
Apa kamu sibuk?
Aku akan menjemputmu.
Sayang, apa kamu baik-baik saja?
Sayang, mengapa kamu meninggalkan aku untuk merayakan pesta Dizza?
Sayang, kamu sungguh luar biasa merencanakan pesta gila seperti itu, tapi hey tak bisakah kamu menjawab teleponku dulu?
Sayang, kamu lelah?
Keira, kamu mendengarku?
Baiklah, Dizza bilang kamu kelelahan dan ketiduran.
Sayang, kalau kamu sudah bangun, segera telepon aku.
Keira mengabaikan pesan Bara. Ia beralih pada pesan dari Ny Lestari.
Jangan pulang terlalu malam, ibu mencintaimu.
Baiklah, selamat bersenang-senang. Jaga dirimu
Keira melihat jam dan mengurungkan niatnya untuk menelpon Bara atau ibunya. Semua orang tampak baik-baik saja, tak ada yang menghawatirkan dirinya atau Dizza yang sebenarnya dalam bahaya.
Keira membuka pintu kamar. Ia akhirnya menyadari sedang berada dalam Villa. Keira memutuskan untuk keluar mencari Evan. Banyak yang ingin ditanyakannya.
"Kamu mencariku?" Evan mengagetkan Keira yang baru saja membuka pintu keluar Villa.
"Kita harus bicara!"
Evan berjalan meninggalkan Keira lalu menoleh ketika menyadari gadis itu hanya diam.
"Kamu tak ingin bicara di sini dan didengar adikmu, kan?"
Keira tak punya pilihan lalu mengikuti langkah Evan menyusuri pantai. Ia kedinginan, namun ia terpaksa mengekor di belakang Evan.
"Apa maksudmu dengan adikku yang lain?" tanya Keira.
Evan menghentikan langkahnya lalu berbalik.
"Tidak ada. Aku juga penasaran, " jawab Evan jujur.
"Pastikan kamu mendapatkan jawaban lebih dulu dari aku, karena kalau aku yang lebih dulu ...."
"Stop Evan!" Keira berteriak.
"Hentikan omong kosong ini!"
Evan mendekat, "Aku bahkan nggak memaksamu mempercayai omong kosong ini. Kamu punya pilihan untuk mengabaikan telepon Dizza, kan?"
Keira mundur untuk menjauhi Evan.
"Kamu, jangan macam-macam padanya." Keira teringat bagaimana Dizza bergelayut di lengan Evan.
"Apa kamu cemburu?" tanya Evan lagi.
"Aku bilang hentikan semua permainan gilamu. Kembalilah hidup normal."
"Apa kamu sudah hidup normal? Apa kamu benar-benar sudah melupakan aku?" Evan mendekat lalu mencengkram lengan Keira. Keira menahan sakit.
"Sejak malam itu, hidupku sudah tak normal. Setiap malam aku bermimpi wajah ibu dan kakakku!"
Keira merintih, "Lepaskan!"
Evan semakin kuat mencengkram.
"Sekali lagi kutanyakan padamu, apa aku memang tidak berarti apa-apa untukmu?"
Evan mendekatkan wajahnya pada Keira yang terdiam.
Apakah aku masih memiliki arti untukmu?
Keira balik bertanya dalam hati.
Evan memandangi wajah Keira lalu ia semakin mendekatkan wajahnya, semakin dekat, dan ketika semakin dekat Keira memejamkan matanya.
Evan hampir mencium Keira ketika gadis itu membuang wajahnya, menolak ciuman Evan.
"Tolong lepaskan, aku punya tunangan," ucap Keira pelan.
Evan terdiam tapi tak melepaskan cengkraman tangannya.
"Kumohon ...." Keira memohon.
Evan perlahan melepaskan cengkraman tangannya, namun tak melepaskan genggamannya.
"Permainan kita baru dimulai. Sampaikan pada Ibumu, ia akan merasakan bagaimana ibuku menderita sebagai perempuan simpanan."
__ADS_1
Evan melepaskan tangannya lalu tersenyum.
"Sampaikan pada ayahmu, anaknya telah kembali!"