No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
NRWT 2 : Orang Luar


__ADS_3

Dua minggu berlalu kondisi Keira dan janinya sudah jauh membaik. Dia sudah boleh beraktifitas normal walau tetap harus lebih banyak istirahat.


Kusuma masih tidak memperbolehkan Keira kembali ke kantor, karena bosan Keira akhirnya sering ikut Evan ke Let's Read. Hanya duduk-duduk atau menemui kedua adiknya di cafe sebelah Lets Read.


"Nad, masih patah hati?" Dizza menyenggol lengan Nada yang sedang menopang kepalanya.


"Nggak, kok."


Dizza meletakkan sepiring kentang goreng lalu memakannya, Nada ikut mencomot tapi tetap sambil merenung.


"Kalau masih cinta kenapa nggak balik aja lagi, sih? Itu Jack sehari tiga kali bolak balik ke sini nyariin kamu, kayak sales panci aja nggak mempan di usir!"


Nada seketika tertawa, Dizza selalu bisa melontarkan kalimat yang terkadang tak hanya gampang menyulut emosi tapi juga tawa.


"Masih cinta, kan, Nad?" tanya Dizza lagi.


"Males Za. Aku nggak tahan berjuang sendirian!"


"Berjuang sendirian gimana maksud kamu? Aku lihat Jack mati-matian memperjuangkan kamu. Bolak balik kamu putusin dia, tetap aja dia kembali."


Nada memanggil pelayan lalu meminta dibuatkan minuman. Dizza melakukan hal yang sama, meminta minuman dengan satu pesan tambahan.


"Buatkan Nada minuman yang bisa membuat otaknya berfungsi dengan baik."


Nada seketika melempar Dizza dengan kentang goreng hingga Dizza menjerit.


"Apa sih, kurangnya Jack, Nad?" tanya Dizza lagi ketika mereka sudah kembali dalam posisi duduk serius.


"Nggak ada. Aku cuma minta dia kerja yang bener bukan main-main."


"Loh, Jack memang udah kerja bener, kan? Apa yang salah Nad? "


Nada tak menjawab Dizza, dia tahu Jack sudah berusaha mencari pekerjaan yang setidaknya kelihatan lebih baik di mata Lestari. Tapi tampaknya bekerja di pengembang game terlihat tidak memiliki masa depan di mata wanita itu. Setelah Keira memilih menikah dengan Evan, manager toko yang tidak memiliki perusahaan selain sebuah toko buku yang baru akan membuka cabang, Lestari berharap Nada menikah dengan pria yang terhormat di pandangannya, setidaknya seperti Adrian.


"Nad, nggak usah dengerin orang lain. Ikutin kata hati kamu sendiri, kalau kamu bisa menerima Jack apa adanya, ngapain kamu putusin dia karena omongan orang lain?"


Nada memandang Diza kali ini dengan ekspresi yang sulit dilukiskan. Antara kesal bercampur kecewa dan cemburu.


"Masalahnya orang lain yang kamu maksud itu ibu. Ibu yang selalu kepengen punya menantu kayak pacar kamu! Selalu aja dia bandingin Jack sama Adrian, daripada sakit kuping aku, mending aku putus, biar Ibu puas."


Dan Dizza tak bisa berkata-kata lagi. Dia tahu ibunya memang terkadang keterlaluan. Seolah tak paham bahwa Nada adalah perempuan sensitif yang baperan, Lestari sering tanpa sengaja membuat putri bungsunya itu kesal karena dibandingkan dengan Dizza, anak tirinya.


Untung saja Dizza dan Keira bisa meredam kemarahan Nada yang meledak ketika Lestari tanpa sadar menyinggung hatinya.


Keduanya terdiam sampai Nada melihat bayangan Keira di dalam Lets read.


"Kakak masih nggak kerja? Kok, sering ke sini?"


"Ayah nggak ngebolehin kakak kembali kerja."

__ADS_1


"Kenapa? Masih sakit? kalau sakit harusnya di rumah aja ngapain keluyuran di sini?" tanya Nada heran.


Dizza tak bisa menjawab. Mereka semua sepakat untuk tidak memberi tahu Nada tentang keluarnya Baskoro dari penjara dan tentang penguntit yang menganggu Keira.


Dengan alasan bisa menyakiti perasaan Nada, akhirnya masalah itu dijaga agar tidak sampai ke telinga Nada. Tapi Nada bukanlah orang bodoh, dia merasa ada yang keluarganya sembunyikan.


"Za, apa terjadi sesuatu? Apa ayahmu marah lagi sama Kakak hingga nggak boleh kerja?"


"Nggak, mana mungkin ayah marah sama kakak. Dia malah khawatir banget sama keselamatan kakak." Dizza tak sadar telah membangkitkan saraf ingin tahu Nada.


"Keselamatan kakak? Apa ada sesuatu yang terjadi di kantornya?


"Nggak ada. Ya kamu tahulah kakak kan, kadang ceroboh, ayah cuma nggak mau kalau tiba-tiba..."


"Apa terjadi sesuatu pada kakak yang aku nggak tahu?" potong Nada dengan suara dingin.


"Nggak ada, " jawab Dizza cepat tapi terlambat, Nada terlanjur menangkap ada sesuatu yang tidak beres dan Dizza tak bisa terus berkelit.


Akhirnya, Dizza menceritakan segalanya, mengkhianati Keira yang memintanya berjanji untuk tidak memberi tahu Nada apa yang sebenarnya terjadi.


"Oh, jadi begitu?" reaksi Nada sungguh membuat Dizza sedikit bingung.


"Jadi cuma aku yang nggak tahu kalau Kakak sedang dalam bahaya?"


"Nad jangan marah. Maksud kami itu ...."


"Kok, kamu marah sih?" tanya Dizza tak kalah kesal.


"Kalau kamu jadi aku, kamu bakal marah nggak?" Nada balik bertaya.


"Oh kamu nggak mungkin bisa ngerasain karena kamu bukan aku, orang luar yang sama sekali nggak dianggap sebagai bagian dari keluarga!"


"Nad, kamu ngomong apaan sih?"


"Memang benar, kan? Cuma aku yang nggak punya hubungan kekerabatan sama ayah kamu itu, aku bahkan anak dari musuh besarnya!"


"Nad, nggak begitu!"


"Kalian kenapa?" tanya Keira yang tiba-tiba sudah berada di antara kedua adiknya.


Dizza terdiam berusaha menutupi keributan tapi Nada sebaliknya. Terang-terangan Nada menendang kursi dengan keras hingga Keira terlonjak kaget.


"Zea, kenapa?" tanya Keira bingung sambil mensejajari langkah Nada yang berlalu dengan marah.


"Nggak usah deket-deket aku, Kak!"


"Loh, kamu marah sama Kakak? Jelasin ada apa?"


Nada menghentikan langkah kakinya lalu berbalik menatap Keira dengan kesal.

__ADS_1


"Kakak yang harusnya jelasin ke aku, kenapa cuma aku yang nggak tahu kalau ayah kandungku berusaha mencelakai Kakak lagi?"


Kali ini Keira terdiam tapi Dizza yang balik marah.


"Nad kamu apa-apaan sih? Kamu nggak tahu kalau kakak nggak boleh banyak pikiran? Jangan begini."


Nada tertawa sinis lalu menghardik Dizza. "Kamu puas, kan? Aku nggak tahu apa pun tentang kakak. Cuma kamu yang tahu segalanya. Kak, sebenernya adikmu itu aku atau Dizaa?"


"Nada!" Dizza audah sangat kesal.


Keira menarik napas lalu meminta Dizza pergi meninggalkan dia bersama Nada tapi Dizza tak mau pergi.


"Kakak yang pergi, jangan dengarkan Nada, dia cuma lagi sensi." Dizza bersiap membawa Keira pergi tapi Nada semakin kesal.


"Lihat, kan, kamu selalu bertingkah jadi lebih baik daripada aku. Kamu selalu menjadi yang terbaik di mata ibu dan kakak. Apa sih, salahku sampai aku nggak boleh tahu apa yang terjadi pada Kakak? Apa aku nggak pantas tahu? Apa karena aku anak banjingan itu jadi kalian takut kalau aku juga akan menyakiti kakak?"


"Zea!" kali ini Keira yang membentak nada.


"Jangan sembarangan bicara. Kakak nggak ada maksud apa pun. Kakak cuma..."


Keira tiba-tiba merunduk karena merasa kram di perutnya.


Dibentak Keira semakin membuat Nada murka, dengan kesal dia berjalan ke tangga meninggalkan kedua saudaranya.


Keira yang melihat Nada pergi dalam keadaan marah berusaha mengejarnya hingga ke atas tangga, ketika hampir dekat Keira menarik tangan Nada tapi Nada menepisnya hingga Keira kehilangan keseimbangan.


"Kakak?!" Nada memekik kaget karena Keira nyaris jatuh bila Dizza tak cepat menangkap Keira.


Keira dan Dizza shock, begitupun Evan yang tak sengaja datang.


"Nad, kamu apa-apan sih?!" Evan membentak Nada yang hampir membuat Keira celaka.


"Aku nggak sengaja, maaf, Kak. Aku ...."


"Kak, kakak nggak apa-apa, kan?" Dizza yang panik memeriksa Keira yang memucat dan tidak bisa bicara, mengabaikan Nada yang sebenarnya masih ingin bicara.


Evan segera membawa Keira untuk duduk di kursi, Dizza menyusul setelah mengumpat Nada.


"Puas kamu hampir bikin Kakak celaka?!" bentak dizza.


Nada hanya berdiri terpaku melihat Keira yang sama sekali tidak membelanya. Ditatapnya Evan dan Dizza yang sibuk menenangkan Keira.


Sejak awal aku memang hanya orang luar


Tapi, Kak, aku masih adikmu, kan?


Atau aku sudah bukan adikmu lagi?


Nada berpaling lalu perlahan pergi dengan hati kecewa. Dia tidak melihat Keira yang gemetaran karena shock.

__ADS_1


__ADS_2