
Keira menghentikan mobilnya di tepi jalan. Pikirannya benar-benar kacau. Ia meragukan bahwa adiknya benar-benar tewas dalam kebakaran, sebaliknya ia teringat pada luka di tengkuk Nada yang mirip dengan luka Zea. Lalu ia teringat ancaman Evan serta bagaimana akrabnya Nada memanggil Evan kala itu.
Pikirannya juga melayang saat Dizza bergelayut di lengan Evan. Keira mulai merasa pusing, selain karena dia lelah memikirkan semua masalah yang tak terpecahkan, ia juga seharian tidak makan. Tiba-tiba kaca mobilnya diketuk, Keira menoleh dan berseru kaget.
"K-Kamu?!"
Evan menatap Keira lalu dengan tak sabar memperintahkan Keira untuk menurunkan jendela.
"Kamu mengikutiku?" tanya Keira.
"Kamu harus turun dan masuk ke dalam mobilku. Kita harus bicara!" kata Evan lagi. Keira menolak dengan tegas.
"Tidak akan!"
"Kenapa? Takut?" tanya Evan.
Keira tak menjawab, ia segera menaikan kaca mobil, namun terlambat, Evan lebih dulu memasukan tangannya ke dalam dan mengambil kunci mobil. Lalu dengan satu gerakan ia membuang kunci mobil Keira ke dalam laut. Keira menatapnya tak percaya.
"Kamu?"
"Kita perlu bicara!" Kali ini Evan membuka pintu dan menarik paksa Keira. Tak peduli pada langkah Keira yang terseret, ia melempar Keira duduk di kursi mobilnya.
Keira memegang pergelangan tangannya yang terasa sakit.
"Mengapa kita harus selalu bicara?" tanya Keira.
"Mengapa kita tidak boleh bicara?" Evan balik bertanya.
"Sekian lama tak bertemu, kamu benar-benar menjelma menjadi putri Kusuma. Apa kamu benar-benar menjadi sama seperti mereka?"
"Kita memang tidak seharusnya bicara lagi!"
Evan mengerem mobilnya secara tiba-tiba hingga mereka berdua nyaris membentur dashboard.
"Kenapa?Apa karena aku anak wanita simpanan itu?"
Keira tak menjawab, ia meremas ujung roknya.
"Ingat, kalian yang membunuh ibuku!"
"Ibumu bunuh diri, " jawab Keira tegas.
Evan menatap jalanan lalu mulai mengemudikan mobilnya dengan kencang.
Keira sangat ketakutan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?Jangan bertingkah seperti ini, ini akan membahayakan kita berdua!" Keira berteriak.
"Terkadang aku merasa bahwa lebih baik jika kita berdua mati. Kita tidak perlu merasakan kehidupan seperti ini ...."
"Stoooop! Hentikan! Aku sudah merasa mati sejak tiga belas tahun lalu!"
"Aku tidak merasa kamu seperti orang mati! Kamu adalah orang yang bersenang-senang di atas mayat orang mati!"
"Hentikan!"Keira memohon
"Hentikan! Beri aku waktu untuk menemukan adikku lalu kamu bisa membunuhku kalau itu maumu!"
Evan kembali mengerem dengan mendadak. Keira terlihat sangat emosional, ia menatap Evan.
"Mengapa kamu tidak hidup dalam pengasingan yang ayah berikan? Mengapa kamu tidak berhenti mengusik masa lalu dan hidup dengan normal?" tanya Keira terengah-terengah.
Evan mencengkaram bahu Keira.
"Mengapa aku harus hidup seperti pengecut?"
__ADS_1
"Kau ...." Keira menangis, tak kuasa mengungkapkan kejadian 13 tahun lalu.
"Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Evan curiga. Keira menggeleng. Sekelebat kenangan pahit 13 tahun lalu berputar di kepalanya, tiba-tiba Keira menjerit.
"Lepaskan, lepaskan aku!"
Evan menatap Keira dengan heran, ia melepaskan cengkramannya lalu membiarkan Keira mengatur napas.
"Tolong, berhentilah seperti ini, " kata Keira lagi. Evan bersiap menyalakan mobil kembali namun Keira menahan tangannya.
"Aku mau muntah."
Evan berdiri di samping Keira yang benar-benar muntah. Mereka sedang berada di tepi jalan. Keira terlihat sangat pucat, ia beberapa kali muntah, matanya berair dan ia tak sanggup berdiri tegak. Evan terpaksa membantunya berjalan kembali ke dalam mobil.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Evan.
Keira menggeleng, dahinya mulai berkeringat. Evan memandang Keira dengan iba namun ia gengsi untuk melakukan sesuatu, maka ia membiarkan Keira bersandar tanpa daya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Keira lemah.
Tadinya Evan ingin membicarakan tentang adik Keira, namun melihat kondisi Keira ia mengurungkannya.
"Aku tidak suka bicara dengan orang sakit!"
Lalu ia mengemudikan mobil, mengembalikan Keira ke tempatnya semula.
Evan mengeluarkan kunci mobil Keira yang ternyata tidak dia buang.
"Kita akan bicara lain kali?" Kata Evan sambil melempar kunci ke pangkuan Keira. Keira tak menjawab, kepalanya terlalu berat untuk menanggapi Evan. Ia mengambil kunci, membuka pintu dan berjalan ke arah mobilnya.
Evan memandang Keira yang terseok-seok dari dalam mobil. Namun belum sampai membuka mobil, Keira jatuh. Evan nyaris keluar dari mobil untuk menolong Keira ketika dilihatnya beberapa orang yang melintas lebih dulu menolong Keira. Orang-orang itu segera memapah Keira pergi.
*
Bara mondar mandir di dalam kamar rumah sakit. Ia kesal karena setelah Keira pergi tanpa pesan ia malah diberi kabar bahwa tunangannya pingsan di jalanan.
"Kamu sudah sadar?"
Ia segera menghampiri Keira dan memegang tangannya.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Keira mengangguk, " Aku baik-baik saja."
Ia memandang keliling ruangan dan menyadari bahwa mereka berada di kamar rumah sakit kecil, itu artinya dia masih berada di kawasan pinggir kota, tempat panti asuhan Zea. Keira berusaha tenang walaupun hatinya gelisah.
"Siapa yang membawaku ke sini?" tanyanya khawatir.
Bara merapikan rambut Keira.
"Orang-orang yang melihatmu jatuh di jalan. Salah satu dokter di sini adalah temanku yang kita undang saat pertunangan. Ia menelponku."
"Kamu menghubungi ibu atau ayah?"
Bara menggeleng. "Aku harus memastikan kondisimu sebelum memberitahu mereka."
Keira menghela napas lega, Bara melihatnya. "Kamu pasti nggak mau mereka tahu, kan?" tanya Bara, Keira mengangguk.
Bara duduk di tepi ranjang lalu memandang Keira.
"Oke, aku nggak akan beri tahu mereka. Tapi kamu janji, setelah keluar dari rumah sakit ini, ceritakan semua yang menyebabkanmu hilang tanpa pesan."
Keira mengedipkan sebelah matanya, Bara tersenyum lalu berbaring di sebelah Keira.
"Dokter bilang kamu hanya lelah dan terlambat makan. Sebenarnya besok dokter memperbolehkan kamu pulang," kata Bara lalu ia memandang Keira yang menunggu kelanjutan ucapannya.
__ADS_1
"Tapi bagaimana ini? Aku terlanjur cuti tiga hari dari kantor." Bara mendesah.
"Hmm, lalu?" Keira bertanya setengah mengantuk.
"Lalu setelah besok kamu keluar dari rumah sakit, aku akan membuatmu kembali normal. Sungguh memalukan memiliki tunangan yang kekurangan makan."
Keira tertawa, "Lalu apa rencanamu?"
"Kita tetap di sini sampai waktu cutiku habis. Aku akan menelpon ayahmu dan memberitahu bahwa kita sedang berlibur. Bagaimana?"
Keira yang benar-benar mengantuk menjawab dengan asal.
"Ya, lakukan sesuai dengan rencanamu."
Sekejap Keira beralih ke dunia mimpi. Ia bertemu dengan Zea dan Evan. Mereka berjalan bergandengan bersama. Keira tersenyum dalam tidurnya, Bara menatap wajah Keira dengan penuh kasih sayang.
Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Bara berjanji dalam hati lalu mencium kening Keira.
*
Keira sudah keluar dari rumah sakit, namun seperti kata Bara, mereka tidak pulang. Bara membawa Keira ke hotel untuk beristirahat.
"Hmm, kupikir kita akan pergi ke suatu tempat yang menyenangkan," ucap Keira kecewa.
"Kamu harus minum obat dan istirahat, setelah itu kita akan keluar. Yah, walaupun bagiku pasti lebih menyenangkan berada di sini." Bara menoleh dan akan mencium Keira namun gadis itu memundurkan badannya menjauh.
"Maaf Tuan Bara, saya masih seorang pasien," kata Keira sambil mengatupkan kedua tanganya di dada. Bara tertawa, Keira menghempaskan tubuhnya di sofa.
Keira memandang Bara yang dengan sigap menyiapkan obat dan air minum.
"Silahkan diminum, tuan putri," Bara mempersembahkan obat dan segelas air.
Keira tertawa lalu meminumnya. Bara dengan sigap mengambil gelas yg kosong dan meletakkannya di meja lalu ikut duduk di sebelah Keira.
"Kamu mulai mengantuk?" tanya Bara.
"Hmm. "Keira menjawab malas.
"Tidurlah di tempat tidur, aku akan pergi agar tidak menganggu," Bara akan berdiri namun Keira menahan tangannya.
"Jangan pergi, di sini saja," pinta Keira memaksa Bara kembali duduk, lalu ia menyandarkan kepalanya di bahu Bara.
"Aku tidur di sini saja," Keira memejamkan matanya. Bara memandangi wajah Keira lalu menarik ponselnya untuk mengambil foto mereka berdua. Bara tersenyum senang memandangi hasil fotonya.
*
"Apa kamu senang?" tanya Bara saat mereka menikmati semangkuk es krim.
Keira mengangguk. Sejak kemarin mereka pergi ke berbagai tempat hiburan, mencoba berbagai permainan dan kuliner.
Mereka berada pada jarak lebih dari seratus km dari rumah, mematikan ponsel hingga tak ada satu pun keluarga atau orang kantor yang menganggu. Walaupun tak benar-benar mencoba semua permainan-karena untuk sementara Keira tak boleh terlalu lelah- Keira merasa sedikit terhibur. Sejenak ia lupa akan Zea, Evan, dan masa lalu ibunya yang masih menyimpan misteri.
"Keira, berjanjilah satu hal." Bara memandang Keira dengan serius.
"Jangan menyimpan masalahmu sendirian. Aku akan berusaha tidak bertanya apa pun bila kamu tidak menceritakannya," Bara memegang tangan Keira.
"tapi kumohon, bila kamu sudah nggak sanggup menahannya sendirian, ceritakanlah semuanya padaku."
Keira sangat tersentuh. Ia tahu bahwa selama ini Bara selalu menjaganya, selalu ada untuknya, namun entah mengapa ia tak bisa menceritakan segalanya pada Bara.
"Bara, aku ...."
Bara menghentikan ucapan Keira dengan mencium bibirnya. Keira terdiam.
"Jangan ucapkan apa pun," Bara berbisik. Keira memejamkan matanya dan membiarkan Bara kembali menciumnya.
__ADS_1
Sementara itu tak jauh dari mereka duduk, seseorang mengamati mereka sambil mengepalkan tangan.
Secepat itu kamu hidup bahagia?