
Nada merenung, sepanjang perjalanan pulang ia teringat pada Keira yang tak sadarkan diri, kekhawatiran ibunya dan Dizza. Lalu ia teringat keterangan dokter.
"Pasien mengalami pendarahan karena jahitan operasinya robek. Sepertinya pasien tidak menjaga aktifitas. Dan lagi, tolong jaga kondisi psikis pasien agar tidak stres. Stres menghambat penyembuhannya."
"Mengapa ia masih stres?" Nada bertanya pada Evan yang menyetir.
"Aku menemuinya. Dia bilang dia nggak mau lagi bertemu dengan kita. Mungkin itu memang keinginannya."
Nada mengangguk, mencoba memahami situasi Keira.
"Aku mengerti. Aku akan pergi. Dia benar, kita nggak bisa mengulang 13 tahun yang telah terlewati, tak ada gunanya kita di sini bersama dia. Dia nggak akan bisa melanjutkan hidupnya."
"Apa kamu bisa melanjutkan hidupmu?" tanya Evan.
"Aku sudah terbiasa hidup sendiri. Tapi kakak tidak bisa hidup sendiri tanpa keluarganya. Terlebih lagi ibu, ia tidak akan sanggup kalau harus kehilangan kakak. Ini adalah jalan terbaik untuk kita semua. Kak, maukah kakak meninggalkan Kak Keira?"
Evan tak menjawab, ia sudah berusaha melupakan Keira, tapi ia tak berhasil.
"Aku akan mencobanya. Ini salahku karena terlalu banyak menyakiti dia." Evan menjawab pelan.
*
Keira terbangun dan menyadari bahwa ia berada di rumah sakit.
"Kak, Kakak membuatku takut." Kata Dizza.
Keira melirik ibu yang tertidur. "Ayah ... Apa ayah tahu?"
Dizza menatap Keira kesal.
"Apakah penting ayah tahu atau tidak?Kakak hampir celaka, untung saja Nada mendonorkan darahnya."
"Zea?" Keira bertanya.
Dizza mengangguk, "Maaf aku terpaksa memanggil mereka. Apa Kakak ingin menemuinya atau menelponnya?"
Keira menggeleng.
"Sampaikan saja terima kasihku padanya."
"Kak ...." Dizza ingin mengumpat Keira yang menurutnya keterlaluan, tapi ia teringat perkataan dokter bahwa Keira tidak boleh stres.
"Baiklah, terserah Kakak!"
"Sebenarnya apa yang Kakak kerjakan sampai jahitan itu robek?"
"Robek?" Keira balik bertanya dengan heran.
"Dokter bilang Kakak tidak menjaga aktifitas. Bukankah Kakak sudah diingatkan untuk tidak berjalan jauh, berjongkok, bersimpuh,mengangkat barang ... Apa karena perjalanan kita ke makam? Tapi makam itu tidak jauh." Dizza mengomel.
"Bisa jadi," Keira menjawab sekenanya lalu ia mengingat saat ia berlutut cukup lama di hadapan Kusuma.
__ADS_1
Keira memang sudah merasakan sakit saat berlutut, Kusuma juga mengingatkan bahwa ia bisa terluka, tapi ia bersikeras berlutut hingga Kusuma berjanji mengabulkan permohonannya.
Saat ia meminta ijin untuk pergi ke makam, sebenarnya Keira memohon hal lain pada Kusuma. Keira memutuskan untuk mengakhiri semua rantai dendam yang ada. Ia memberanikan diri mengatakan yang sebenarnya tentang Zea pada Kusuma. Ia tahu Kusuma akan mengamuk, tapi ia sudah membulatkan tekad. Bila hidupnya harus berakhir hari itu, ia akan mengikhlaskan, dari pada mereka terus hidup dalam balas dendam yang tak berkesudahan.
"Mengapa kamu datang ke kantor? Aku sudah melarangmu ...."
"Untuk pertama kalinya aku memohon sebagai putri kandungmu." Keira berlutut.
Kusuma terkejut karena Keira sudah mengetahui fakta yang ada dan lebih terkejut saat Keira menceritakan semua yang ia tahu tentang Lestari dan Baskoro.
"Dia adikku! Kumohon Ayah, berjanjilah untuk melepaskan Zea. Biarkan dia dan Evan pergi ke luar negeri. Biarkan mereka melanjutkan hidup dengan tenang. Tolong sudahi semua dendam yang ada. Aku juga ingin berbakti pada Ayah. Aku bersedia menikah dengan Bara."
"Keira, kamu tidak perlu ...."
"Ayah, kumohon berjanjilah. Aku akan hidup di sini, berbakti padamu. Lepaskan mereka."
Kusuma merasa marah. Ia memang berencana untuk membalas Evan yang telah menyakiti Keira, terlebih saat ia tahu Lestari membohonginya dan memiliki anak dari Baskoro. Ia ingin memusnahkan semua keluarga Baskoro.
Kusuma tak sudi melepaskan mereka. Keira tetap berlutut bahkan saat Kusuma meninggalkannya untuk mengikuti rapat direksi, Keira tetap berlutut.
"Mengapa kamu masih di sini? Bangun dan pulang, lukamu ...."
"Luka ini tidak sebanding dengan luka yang ada bila Ayah tetap ingin membalas dendam pada mereka. Untuk apa aku hidup bila terus merasa bersalah pada mereka?Kapan kita akan memulai hidup damai?"
Kusuma tak menjawab. Terjawab sudah rasa penasarannya mengapa selama ini Keira tidak lagi membantah ucapannya.
"Apakah aku benar-benar tidak berarti untukmu, Ayah?" Keira meneteskan air mata.
Tanpa mendongak Keira mengangguk.
"Termasuk memutus hubunganmu dengan mereka? Kamu tidak boleh bertemu mereka lagi. Jangan bertemu lagi dengan Evan, dan gadis itu bukan lagi adikmu."
Keira menahan air matanya lalu menjawab dengan suara lirih, "Aku bersedia."
*
"Ah, kenapa hidup kita penuh drama?" Dizza menggerutu lagi. Ia baru saja mengultimatum semua penjaga bahwa tidak ada yang boleh tahu kalau Keira pernah dirawat di rumah sakit ini. Mereka harus sepakat bahwa Ny Lestari menyusul mereka di penginapan dan alasan mengapa mereka tidak pulang selama dua hari adalah karena mereka sekaligus menjadi sukarelawan panti jompo, untuk menjaga reputasi dan nama baik Keira.
"Mengapa kita melakukan semua ini? Aku merasa akhir-akhir ini kakak menjadi seperti porselen. Tidak boleh sakit, tidak boleh keluar, tidak boleh stres, tidak boleh terlihat buruk, harus menjaga nama baik, harus diawasi. Sungguh menyebalkan." Dizza mengomel. Ia tak sadar bahwa Keira berada di belakangnya.
"Maafkan Kakak," Keira mengagetkan Dizza.
"Kak, jangan salah paham. Aku hanya merasa akhir-akhir ini Kakak sangat aneh."
Keira tersenyum. "Kamu hanya nggak menyadarinya selama ini. Ayo kita kesana!" Keira mengajak Dizza mendatangi orang-orang tua di panti jompo itu.
Mereka memberi banyak bantuan, mendengarkan cerita para orang tua, membantu membersihkan beberapa tempat dan lain-lain. Semua terekam sebagai pencintraan. Dizza yang paling kesal karena berpura-pura tertawa dan ikhlas membantu sementara Keira -yang dikarenakan tidak boleh melakukan aktifitas berlebihan- hanya duduk manis mendengarkan cerita orang tua itu, Dizza harus menyapu, mengangkat beberapa barang bantuan, bahkan membersihkan tempat tidur.
"Maafkan, Kakak." Keira berkata sambil tersenyum, senyum yang selalu meluluhkan hati Dizza.
"Apakah kalian tidak merasakan hal aneh?Belakangan ini Nona Besar sangat berbeda. dan apakah kalian tidak kasihan melihat Nona Kecil?"
__ADS_1
Beberapa penjaga bergosip di sela-sela waktu istirahat mereka.
"Nona Kecil lebih terlihat seperti dayang-dayang. Bukankah harusnya Nona Kecil yang lebih disayang karena ia anak kandung Tuan Kusuma?"
"Itu hanya karena Nona Besar baru saja selamat dari kematian. Wajar bila ia lebih dijaga."
"Tapi mengapa Nona Besar menjadi lebih pendiam dan selalu mengabaikan kita?Biasanya dia bersikap ramah."
"Sebentar lagi Nona Besar akan menjadi Nyonya Wijaya. Hati-hati bicara."
"Apakah Nona Besar sudah merebut posisi pewaris Nona Kecil?"
"Hush, apakah kalian tidak tahu bahwa Nona Besar yang menyelamatkan perusahaan?" Yang lain menimpali.
"Apakah kalian tidak punya kegiatan selain bergosip seperti perempuan?" Supir Dizza membentak.
"Maafkan kami."
"Jangan membahas Nona Besar dan Nona Kecil lagi. Kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka."
Supir itu teringat saat Keira memaksa untuk pulang dari pada harus ke rumah sakit padahal ia sudah tidak sanggup menahan sakitnya.
"Di dunia ini malaikat tak harus menggunakan sayap." Katanya lalu pergi.
*
Keira melihat jalanan yang dilaluinya, ini adalah terakhir kali ia berkunjung ke sini. Ia telah berjanji pada kusuma untuk melupakan semua masa lalunya. Evan, Zea, bahkan ayah yang dulu ia anggap sebagai ayah kandungnya.
Ayah, di duniamu yang berbeda apakah kamu bisa melihat kami? Kumohon jangan maafkan aku karena aku tidak akan bisa mengunjungimu lagi. Aku hanya akan mendoakanmu dalam hati, sama seperti aku mendoakan Evan dan Zea.
Mobil terus melaju seakan ikut membantu Keira meninggalkan kenangan masa lalunya. Dizza menyerahkan jepit bunga mawar pada Keira sembari menyampaikan pesan pemilik rumah.
Keira mengambil jepit itu, ia tak pernah meninggalkan jepit itu di sana. Jepit itu adalah miliknya, hadiah dari Evan. Terakhir kali mereka bertemu saat masih sekolah. Ketika itu Keira menitipkan jepit mawar itu pada Evan.
"*Ini hadiah dariku, mengapa aku yang harus menyimpannya?" Evan menolak.
"Ini hadiah berharga milikku. Kamu harus menyimpannya sampai saatnya tiba. Bila kita berhasil melewati hari-hari kita, bila kita bebas dari lingkaran kehidupan Kusuma, kamu harus memakaikannya di rambutku."
"Sampai saat itu tiba, kamu harus menjaganya."
"Tapi mengapa kamu memilih bunga mawar?" Keira penasaran.
"Karena seperti katamu, tidak ada mawar tanpa duri. Ini akan mengingatkan kita bahwa kita harus bertahan melewati rintangan seperti duri agar hidup kita seindah mawar*."
Keira mengembalikan jepit itu pada Dizza.
"Kakak nggak merasa meninggalkan jepit ini. Ini bukan milik Kakak"
Dizza menatap Keira tak percaya. Ia yakin, Keira menyembunyikan sesuatu.
Keira kembali menatap jalanan tanpa memperdulikan Dizza.
__ADS_1
Tak ada mawar tanpa duri. Tak ada kebahagiaan tanpa pengorbanan. Aku tidak berkorban, aku hanya mencabut duri agar mereka menjadi mawar tanpa rasa sakit. Hanya dengan cara itu aku mencintai mereka.