No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Orang Kaya


__ADS_3

Lestari mengundang semua anaknya untuk pesta kebun di rumah.


"Pesta?" Keira bertanya heran.


Lestari mengangguk gembira.


"Ibu ingin mengenal pria itu, Adrian."


"Tapi Bu ...." Keira ingin memprotes.


Keira, Adrian, dan Dizza sedang dalam keadaan sibuk mempelajari proyek mega hotel. Meskipun Adrian yang merupakan pewaris Falcom ingin turut serta berinvestasi, mereka tetap harus berhasil meyakinkan direksi Falcom.


"Bawa juga pria tak tahu malu itu!"


Ibu memberi ijin Keira membawa Evan.


"Tapi, Bu ...."


Keira takut pada Kusuma.


"Ayahmu sudah tahu." Lestari berjalan keluar.


Keira terdiam sesaat lalu dengan semangat mengirim pesan pada Evan.


**


Pesta kebun yang dimaksud lestari adalah barbequa bersama di halaman belakang rumahnya. Ia hanya mengundang ketiga putrinya, Evan dan Adrian. Mereka tak banyak mengobrol karena canggung di dekat Kusuma, terutama Keira dan Evan.


Kusuma memanggil keduanya untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Aku mendengar tentang hubungan kalian ...."


"Maafkan aku, Ayah." Keira menyela degam cepat.


"Eheeem!" Kusuma terbatuk.


"Apa kamu tahu memilih bersamanya berarti terancam mengeluarkannya dari perusahaan dan daftar pewarisku?" tanya Kusuma pada Evan.


"Aku akan mengundurkan diri setelah menyelesaikan tanggung jawab investasi itu." Keira tiba-tiba menyampaikan keputusannya.


Evan terkejut mendengar keputusan Keira.


"Apa kamu tahu resikonya?" tanya Kusuma lagi.


Aku akan keluar dari perusahaan dan rumah ini tanpa uang sepeser pun.


Tapi itu cukup bagiku selama ayah tidak mengancam akan menganggu kehidupan


kami.


Tapi Keira tak menjawab apa pun selain mengangguk pasrah.


"Apa kamu benar-benar memilih menjalani kehidupan bersama pemilik toko ini?" Kusuma bertanya lagi.


"Ya, Ayah ...."


"Kamu yakin tidak menyesalinya?"


"Aku nggak akan menyesalinya." Keira menjawab pasti.


"Keluarlah. Aku sudah selesai denganmu." Keira pergi keluar meninggalkan Evan di dalam.


**


Keira mendatangi kedua adiknya yang tertawa lepas.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Keira penasaran.


"Apa yang ayah katakan?" tanya Dizza penasaran. Keira mengambil minuman.


"Apa ayah benar-benar akan mencoret nama Kakak?" tanya Dizza.


Keira memandang kedua adiknya, tak ingin menjawab agar tak membuat mereka resah.


"Kak, apa itu artinya aku yang akan menjadi lebih kaya dari Kakak?" tanya Dizza lagi.


Adrian memukul kepala Dizza yang sama sekali tak terdengar prihatin.


"Mengapa? Kamu pasti menyesal sekarang karena baru mengetahui seberapa kaya diriku, kan?"

__ADS_1


Keira dan Nada tertawa. Adrian melotot kesal.


Dizza membual tentang semua kekayaan yang dimilikinya yang sebenarnya memanglah kenyataan. Dizza memang seorang putri dan cucu konglomerat.


Berbeda dengan Keira, bila Dizza ditendang dari keluarga Kusuma tanpa harta sepeser pun, ia tak akan semelarat Keira. Ia akan tetap kaya raya. Dizza tidak membicarakan hartanya tanpa maksud, ia sedang menghibur kakaknya agar tidak khawatir.


"Tenang Kak, karena aku adalah direktur yang baik, aku akan tetap memberikan hadiah atas kerja keras Kakak selama ini."


Keira masih tertawa santai.


"Baiklah, terima kasih direktur!" Keira menunduk, seakan sangat berterima kasih.


"Selain direktur yang baik aku juga adik yang berbakti, jadi aku akan memberikan sebuah rumah sebagai hadiah pernikahan. Sebuah mobil sebagai hadiah bila Kakak melahirkan dan ...."


"Apa kamu gila?" Keira memukul kepala Dizza yang mulai meracau. Nada terpingkal.


"Apa yang salah?Apa kebaikan hatiku membuat Kakak terluka?"


"Siapa yang akan menikah dan melahirkan?"


Tiba-tiba Evan muncul di antara mereka.


"Kakak." Jawab Dizza polos.


"Kamu!" Keira menjewer telinga Dizza.


"Siapa yang bilang Kakak akan menikah dan melahirkan?"


"Lepaskan, mengapa Kakak marah?" Nada melerai, ia membela Dizza.


"Mengapa sekarang kamu membelanya?Kalian bersekongko!"


"Aku akan membelanya karena sekarang dia adalah investorku!"


"Investor apa?!" Keira dan Evan bertanya heran.


"Kami bekerja sama akan mendirikan cafe di sebelah Lets Read. Aku yang mengelola." Nada menjawab. Keira menatap Dizza yang merasa tak bersalah.


"Mengapa melihatku seperti itu? Aku sekarang adalah orang kaya, jadi aku bebas melakukan apa saja, " jawab Dizza angkuh.


Keira menatap Dizza lalu tertawa.


"Kamu benar-benar orang kaya gila," kata Keira akhirnya. Yang lain tertawa.


Keira tersedak. Evan segera mengambil gelas Keira dan menepuk-nepuk pundak Keira yang terbatuk-batuk.


"Mengapa kamu kaget?Aku memberimu ijin menerima hadiah pernikahan adikmu itu. Sungguh memiliki ipar orang kaya adalah berkah!" Evan ikut bercanda, yang lain tertawa tapi tidak dengan Keira yang menatap Evan kesal.


"Ipar?"


"Apa aku salah?" tanya Evan.


"Kalau kita menikah, mereka akan menjadi saudara iparku, kan?"


Keira tak berkata lagi, ia pergi dengan kesal.


Dizza dan Nada tak sanggup menyembunyikan tawa mereka.


Keira mendengar tawa mereka dari belakang lalu tersenyum senang. Ia melihat Kusuma yang sedang memandangnya dari jendela ruang kerjanya. Keira lalu menoleh ke belakang, ia melihat ibunya sedang memarahi Nada dan Dizza. Lalu ia melihat Evan dan Adrian yang menertawakan kedua gadis itu. Tiba-tiba ia ingin sekali bersyukur.


Dizza, kamu salah..


Kakak mungkin sudah kehilangan hak waris dari keluarga ini..


Kehilangan pekerjaan di perusahaan..


Kakak akan mulai dari nol tanpa memiliki sepeser pun harta..


Tapi Kakak jauh lebih kaya..


Karena Kakak memiliki kalian semua...


***


Keira tak bersemangat menyusun pembelaan dirinya di depan komisaris. Ia tak ingin mempertahakankan posisi wakil direktur di perusahaan.


Evan datang membawakan segelas minuman.


Mereka sedang berada di Lets Read.

__ADS_1


Keira kembali tinggal di rumah bersama ibunya semenrara Nada tinggal di cafe, di sebelah Lets Read.


Cafe itu sudah hampir selesai, di belakanganya Dizza dan Nada membuat sebuah rumah tinggal mungil.


Keira tak bisa menghentikan kreatifitas kedua adiknya.


Beberapa hari ini Keira sering mengunjungi cafe itu, tapi kedua adiknya merasa kunjungan itu hanyalah alasan Keira untuk menemui Evan. Keira merasa tersinggung dengan tuduhan yang memang tidak sepenuhnya salah karena ia memang sekaligus ingin bertemu Evan.


Keira hampir tidak memiliki waktu bertemu Evan di siang hari karena terlalu sibuk dengan proyek mega hotel. Karena itulah di malam hari ia mengunjungi kedua adiknya sekaligus menengok Evan. Seperti malam ini.


Keira tak menemukan kedua adiknya di cafe, bukan salahnya kalau ia mampir ke Lets Read, kan? Keira beralasan ingin menyusun pembelaan tapi akhirnya ia tak jadi menyusunnya karena tak bersemangat.


"Mengapa kamu nggak bersemangat?" tanya Evan.


"Aku hanya merasa nggak perlu menjelaskan segalanya pada mereka."


"Tapi mereka butuh penjelasanmu agar nggak salah memecatmu."


"Apa kamu sekarag takut aku menjadi miskin?"


Evan tertawa.


"Kalau pun kita miskin, aku akan tetap bahagia."


"Omong kosong." Keira merasa sensitif


"Kita nggak boleh miskin. Kalau pun aku nggak bekerja lagi, kamu harus bekerja keras. Mengerti?"


"Baiklah, Nyonya ..."


"Kemarilah, kalau kamu lelah, istirahat, jangan dipaksa." Evan menarik Keira untuk mendekat.


Keira berbaring di pangkuan Evan.


"Setidaknya kamu menyusun pembelaan untuk dirimu, bukan untuk mempertahankan posisimu." Evan menasehati.


"Hmm ..." Keira berbaring menyamping sambil memainkan kertas-kertas di meja.


Evan menatap wajah Keira. Terkadang ia masih tak menyangka bahwa ia bisa bersama Keira lagi. Evan kemudian teringat pembicaraannya dengan Kusuma.


"*Apa kamu sungguh mencintai anakku?"


Evan mendongak menatap Kusuma. Dulu dia selalu menganggap Kusuma adalah ayahnya.


"Keira memang anak kandungku, jadi kamu sudah tahu, kan mengapa aku sangat murka waktu itu?"


"Aku mencintai dia," jawab Evan dengan jujur.


"Kamu mungkin tidak bisa memaafkan aku tapi aku tidak membunuh ibumu. Salahku memang membuatnya berharap bisa menjadi istri sahku tapi aku tidak akan pernah bisa melakukannya karena aku tahu aku memiliki Keira, anakku satu-satunya, pewaris sahku. Dia darah dagingku dan aku akan melakukan apa pun untuk dia."


Evan terperanjat, dia tak menyangka Kusuma mengungkapkan isi hatinya tentang Keira.


"Aku pernah salah mengira kalau dia akan bahagia bersama pria itu. Aku harap kali ini pilihannya tidak salah. Tolong jaga dia, jangan pernah kamu berpikir untuk menyakiti Keira lagi!"


"Aku tahu." Evan menjawab singkat.


Dalam hati dia mengutuk Kusuma yang menyembunyikan hatinya selama ini. Bila dia memberi tahu perasaannya pada Keira, wanita itu tentu akan bahagia*.


"Sayang, kamu mau minum kopi?"


Tak ada jawaban dari Keira.


"Apa kamu tak mendengarku?" tanya Evan.


"Mengapa kamu nggak menjawab apa pun? Ada apa dengan bibirmu? Aku harus memeriksanya ...."


Tanpa memberi peringatan Evan menunduk mencium bibir Keira. Jantung Keira berdegup lebih cepat. Evan menciumnya dengan lembut dan...


Keira memejamkan matanya.


"Apa kamu tidur?" tanya Evan.


"Hmm ... aku mengantuk." Keira menjawab pelan.


Evan tertawa, ia menghentikan ciumannya agar tidak menganggu Keira, sebagai gantinya ia mencium kening Keira. lalu membiarkan Keira tertidur di pangkuannya.


Keira sebenarnya tidak mengantuk. Ia hanya takut Evan mengulang kejadian di apartemen. Bila ia menanggapi ciuman itu. ia tahu mereka akan berakhir seperti apa. Keira tak benar-benar tertidur. Hatinya menjadi tak tenang.


Ternyata ada benarnya perkataan banyak orang, bahwa terkadang orang kaya tak tahu bagaimana cara menggunakan kekayaannya.

__ADS_1


Saat ini aku adalah orang kaya yang tak mengerti cara menikmati kekayaanku, harta yang sedang bersenandung sambil membelai rambutku, mengantarku tertidur.


Ya Tuhan, jangan biarkan ia tahu aku berpura-pura. Segeralah buat aku tertidur, agar aku berhenti berpikir untuk menikmati kekayaan malam ini.


__ADS_2