No Rose Without A Thorn

No Rose Without A Thorn
Kekacauan


__ADS_3

Evan meninggalkan Keira sendirian, ia tak menyadari bahwa Keira memiliki trauma. Semalaman gadis itu menjerit-jerit ketakutan hingga akhirnya pingsan di ruang tengah.


Bibi Ani yang datang pagi-pagi terkejut menemukan Keira tak sadarkan diri dalam keadaan berantakan. Ia menelpon Evan dan memberi kabar bahwa Keira sakit.


"Badannya panas Tuan.."


Evan tidak ingin menemui Keira. Ia meminta Bibi Ani untuk merawat Keira. Evan ingin menelpon dokter namun ia mengingat dokter di rumah Nada mengenali Keira, ia mengurungkan niatnya.


"Kita berhasil!" Ny Leah dan Baskoro tertawa.


"Selanjutnya kita akan menyingkirkan mereka semua."


Evan menatap Baskoro dan Ny Leah dengan kesal. Mengapa ia tidak bisa menikmati balas dendam seperti kedua orang di hadapannya. Evan meninggalkan kedua orang itu dan pulang ke apartemen.


Bibi Ani menutup pintu kamar dan melihat Evan duduk dengan gelisah.


"Apa yang terjadi Tuan, mengapa Tuan tidak memanggil dokter?"


"Dia sudah sadar, kan?"


Bibi Ani mengangguk.


"Tapi dia terus merenung, Tuan. Dia tidak mau makan."


"Kita nggam bisa memanggil dokter."


Evan menggumam.


"Bi, tolong malam ini Bibi tidur di sini ya."


Bibi Ani hanya mengangguk pasrah.


Keira menangis dalam hati, ia tak menyangka Evan tega merendahkan harga dirinya. Kini ia yakin bahwa Evan benar-benar membencinya.


Keira terus merenung, bila Evan benar-benar setega itu maka ia yakin Evan sanggup melakukan kejahatan lain pada keluarganya. Keira menutup matanya, Evan yang dikenalnya dulu ternyata telah mati. Ia meneteskan air mata walaupun tak bersuara.


Bibi Ani menjaga Keira dengan baik. Ia memberikan obat dan memaksa Keira memakan apa pun walau sedikit. Ia bahkan membuatkan bubur untuk Keira. Saat malam, Bibi Ani tak berani meninggalkan Keira sendirian di kamar maka ia tidur di sofa kamar itu.


Mulanya Bibi Ani seakan bermimpi mendengar suara minta tolong, lalu saat suara itu menjadi teriakan histeris, Bibi Ani terbangun. Ia melihat Keira berteriak dalam tidurnya.


"Non, bangun, Non...." Bibi Ani berusaha membangunkan Keira.


Keira tersadar, ia meminta maaf pada Bibi Ani karena menganggu tidurnya.


"Non Keira kenapa?" Tanya Bibi Ani khawatir.


"Saya nggak apa-apa, Bi. Hanya mimpi buruk."


Bibi Ani memeriksa suhu tubuh Keira yang masih panas.


"Non Keira demam." Bibi Ani panik. Ia segera menelpon Evan.


Evan berpikir lalu ia teringat pada seorang temannya yang dokter.


Evan menunggu Sarah memeriksa Keira. Sarah adalah seorang dokter yang tidak mengenali Keira. Sarah bahkan tidak membaca berita yang sedang heboh.


Sarah keluar dari kamar dan bicara pada Keira.


"Sepertinya pasien itu mengalami trauma."


Evan merasa ia yang meyebabkan trauma.


"Apa ia mengatakan sesuatu?" tanya Evan.


Sarah menggeleng.


"Sepertinya ia memiliki trauma masa lalu yang dipendam. Ia mengigau. Kata Bibi yang menjaga, ia sudah mengigau sejak semalaman. Saat sadar ia tampak biasa saja, tapi saat tidur ia bermimpi buruk."


"Trauma masa lalu?" Evan menggumam dengan heran.


Ia teringat saat Keira menjerit-jerit. Evan tampak memikirkan sesuatu.


*


Keluarga Kusuma sedang kacau. Kusuma berusaha mencari Baskoro dan mencari tahu hubungannya dengan Grup Oshi.


Dizza berusaha mencari tahu dimana Evan dan Keira tinggal.

__ADS_1


Bara terpuruk sedih karena orang tuanya terus memaki Keira.


Dizza akhirnya memutuskan mencari Nada di Lets Read.


"Dia tidak ada. Kudengar hari ini dia akan pergi ke luar negeri."


"Apa?"


"Jam berapa?"


"Jam 4."


Dizza melihat jam tangannya lalu bergegas menuju Bandara.


"Seharusnya aku melakukan ini demi pacarku, bukan mengejar gadis sinting itu."


Dizza celingukan di Bandara. Ia tidak berhasil menemukan Nada sementara waktunya semakin tipis.


"Maaf Nona, anda tidak bisa masuk kedalam. Hanya penumpang yang bisa masuk."


Dizza berteriak marah lalu ia menelpon seseorang.


"Carikan aku tiket kemana saja asal aku bisa masuk ke ruang tunggu internasional! SEKARANG!"


Lalu beberapa menit kemudian Dizza kembali menghadap petugas sambil menunjukan E-Tiket yang dikirim melalui Email. Petugas itu memandang Dizza dengan heran.


"Paspor anda?"


Dizza berteriak kesal, ia lupa bahwa ia tetap tidak bisa masuk tanpa paspor.


"Apa yang kamu lakukan di sini?"


Nada melihat Dizza seperti melihat hantu sementara Dizza melihat Nada seperti malaikat.


Tak peduli pada teriakan Nada, Dizza menarik Nada.


"Beritahu aku di mana mereka tinggal."


"Untuk apa?" Nada menolak.


"Kumohon. Kakakku bukanlah wanita seperti yang disebarkan berita sampah itu!"


"Pasti ini hanya salah paham. Aku harus menemukan dia sebelum terlambat."


Benarkah ini hanya salah paham?


Nada terlihat berpikir lalu teringat saat Keira mencoba menjelaskan sesuatu namun ia malah menamparnya.


"Untuk apa aku menolongmu?" tanya Nada keras kepala lalu ia pergi.


"Tolonglah..." Nada menoleh dan terkejut melihat Dizza berlutut.


"Kamu...."


"Kamu mungkin tidak memiliki saudara hingga kamu tak tahu rasanya bila saudaramu disakiti. Kamu mungkin tidak tahu bahwa di antara saudara pasti akan merasakan hal yang salah bila sesuatu terjadi pada saudaranya."


Nada terdiam, ingatannya kembali datang.


*Kakak akan menolongmu.


Kakak akan datang.


Kakak tidak akan meninggalkanmu*.


"Kamu mungkin saja sama dengan orang lain yang tidak mengenal kakakku hingga berani mengatakan dia wanita murahan. Tapi aku mengenalnya, aku yakin bahwa dia tidak akan melakukan hal semacam itu."


Nada memandang Dizza yang mulai terisak.


"Kamu menghanguskan tiketku!"


*


Ny Lestari berhasil mendatangi Baskoro.


"Di mana kamu sembunyikan putriku?" Ny Lestari berteriak marah.


Baskoro tertawa.

__ADS_1


"Menyembunyikannya? siapa yang menyembunyikannya?"


"Teganya kamu melakukan semua ini!"


"Kalian yang lebih dulu berbuat ulah. Teganya kalian memasukan aku kedalam penjara."


"Kamu pembunuh!Seharusnya kamu membusuk di penjara!"


"Diam!" Baskoro membentak Lestari.


"Seandainya dulu kamu memilih aku, tentu kamu dan putrimu akan aman."


Ny Lestari membuang muka dengan kesal.


"Kamu memang tidak pantas memiliki anak! Aku menyesal pernah mengenalmu!"


Ny Lestari segera meninggalkan Baskoro.


Sepeninggal Ny Lestari Baskoro melempar asbak ke pintu.


*


Keira sudah pulih. Ia berusaha melupakan peristiwa malam itu dan kembali menghadapi Evan. Keira berjalan mendekati kamar Evan lalu tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan Evan dengan seseorang di telepon.


"Awasi ibu dan adiknya."


Keira kembali ke kamarnya dengan gelisah.


pada saat ia kembali ia tak mendengar bahwa Evan masih melanjutkan pembicaraan itu.


"Jangan sampai paman melakukan sesuatu pada mereka."


Malam semakin larut, Keira tak bisa memejamkan mata, ia masih berdiri memandang ke luar jendela.


Bibi Ani sudah tertidur karena kelelahan memindahkan barang-barang. Mereka baru saja pindah ke sebuah rumah yang jauh dari kota.


Keira baru saja akan keluar kamar ketika Evan masuk kedalam kamarnya.


Keira mundur perlahan.


"Apa kamu sudah sehat?" tanya Evan.


"Bisakah kita mulai semua dari awal?" tanya Keira terbata.


Evan memandang Keira dengan bingung.


"Tolong lepaskan Ibu dan adik-adikku. Aku akan mengikuti semua kemauanmu. Aku akan hidup bersamamu. Kamu boleh melampiaskan semua dendammu padaku. Aku tidak akan lari atau melawan."


Keira berusaha menguatkan hatinya.


"Apa kamu mengatakannya dengan sungguh-sungguh? Bagaimana aku tahu kalau kamu tidak membohongi aku. Dan hatimu, apa kamu bisa memberikan hatimu padaku?"


Sebenarnya hatiku selalu menjadi milikmu, tapi kamu telah menghancurkannya bersamaan saat kamu melecehkan harga diriku. Aku sudah tidak memiliki hati.


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya?"Keira mencoba berdiri dengan tegar.


Evan mendekati Keira lalu mendorongnya ke dinding. "Kamu benar-benar ingin menunjukkannya?"


Evan menyudutkan Keira, ia membelai wajah Keira lalu mencium kening dan bibir Keira. Keira hanya memejamkan mata dan berusaha menguatkan hatinya.


Apakah ini takdir kami untuk tidak lagi memiliki hati untuk cinta?


Evan masih mencium Keira, air matanya sendiri menetes. Tangannya perlahan membuka kancing baju Keira, Keira menahan tangan Evan. Sambil berusaha menahan tangisnya, Keira memandang Evan lalu ia sendiri yang membuka kancing bajunya.


Evan memandang Keira lalu ia menahan tangan Keira lalu menangis.


"Mengapa kamu melakukan ini?" tanya Evan dengan perasaan sedih.


Keira menangis, ia jauh lebih sedih.


"Apalagi yang harus aku lakukan?" air mata Keira menetes.


Evan tak sanggup melihatnya.


"Asal ka.u melepaskan mereka, aku akan melakukan apa pun yang kau mau. Bukankah ini yang kamu mau?" Keira masih membuka kancing bajunya. Evan menangis.


"Hentikan!" Evan berteriak lalu meninggalkan Keira.

__ADS_1


Keira bersandar di dinding lalu tangisnya pecah.


Entah mengapa hatiku merasa sakit. Tuhan, bisakah Kau cabut rasa cinta yang membunuh ini?


__ADS_2